Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
EPISODE 76


__ADS_3

"Sebenarnya aku dilarang oleh Chayra untuk mengatakan ini semua, tapi aku gak tahan melihat Chayra dipersalahkan dan dituduh seperti ini Terus - terusan. Chayra sudah cerita semuanya tentang pernikahannya dengan suaminya dan juga tentang kamu, Clarissa." kata Rama dengan geram. Sedangkan Clarissa masih diam membisu.


"Ada apa sebenarnya sih ini?" Shera yang bingung sejak tadi akhirnya bertanya juga.


"Ceritanya panjang Shera, tapi intinya teman kamu ini sudah salah sangka dengan Chayra, Wanita yang telah rela mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagian wanita lain." jelas Rama yang membuat Shera semakin mengernyitkan keningnya karena bingung.


"Clarissa, aku sebenarnya tidak ingin ikut campur tapi aku merasa harus bertanggung jawab untuk meluruskan ini semua. Karena sekarang nama aku sudah dibawa - bawa." lanjut Rama lagi.


"Aku tegas kan sama kamu ya Clarissa, bahwa aku tidak ada hubungan apa - apa dengan Chayra. Dan Chayra tinggal dirumah kakak aku atas saran dari kakak aku, bukan aku yang mengajaknya. Kenapa Chayra diam saja dituduh sudah selingkuh dengan aku, kamu tahu kenapa? Itu karena dia ingin membuat kamu bisa memiliki apa yang seharusnya jadi milik Chayra, paham kamu sekarang?" ucap Rama masih dengan hati yang geram dengan melontarkan kata - kata tersebut.


"Sekarang kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan jadi stop menghakimi Chayra, cukup suaminya itu saja yang menuduh Chayra dan sudah mengusir dia dari rumah." Rama masih melanjutkan ucapannya.


"Chayra itu peduli sama kamu tau tidak? Dia mengalah seperti ini karena dia tidak mau melihat gangguan mental yang kamu alami itu semakin parah. Jika dengan kamu memiliki lelaki itu dapat membuat kamu sembuh, maka Chayrapun rela memberikannya. Begitulah pedulinya Chayra sama kamu. Tapi, sedikitpun kamu gak sadar dengan itu semua. Malahan kamu malah memaki dia habis - habisan," tutur Rama yang masih antusias membongkar semuanya. Itulah kalimat yang terakhir diucapkan oleh Rama, dan setelah itu ia berlalu dari sana tanpa menunggu tanggapan dari Clarissa.


"Clarissa, apa maksud semua ini? Aku benar - benar gak paham lah. Dan.. Gangguan mental apa yang kamu alami?" tanya Shera setelah Rama pergi. Shera melirik kearah Clarissa yang sejak tadi tak bergeming.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Shera, Clarissa pun berlari kecil menuju tempat mobil Shera diparkirkan. Shera mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mobilpun melaju meninggalkan rumah tersebut. Didalam mobil, Clarissa masih juga diam. Sepatah katapun tidak ada keluar dari mulutnya. Berkali - kali Shera mengajukan pertanyaan ke Clarissa namun tidak dijawabnya. Sampai akhirnya Sherapun menyerah dan tidak lagi bertanya.


"Terimakasih ya Shera sudah mengantarkan aku pulang." akhirnya Clarissa mengeluarkan suaranya juga sesaat setelah mobil Shera masuk ke dalam halaman rumahnya Dafri yang luas.


"Iya, sama - sama. Oya, Clarisaa.. Mungkin sekarang kamu belum mau cerita ke aku tentang yang tadi. Gak apa, aku gak maksa kok. Tapi, aku cuman menyarankan jika masalah kamu ini sudah begitu berat dan kamu butuh teman untuk berbagi cerita, aku siap kok mendengarkan cerita kamu dan membantu kamu semampu aku." kata Shera dengan menawarkan dirinya.


"Iya, Shera. Maaf aku belum bisa cerita sekarang. Aku butuh waktu sendiri untuk berpikir dulu." imbuh Clarissa.


"Oke, Clarissa." sahut Shera dengan tersenyum lebar. Setelah itu, Clarissa pun turun dari mobilnya Shera dan dengan langkah gontai ia langsung menuju kekamarnya.


Ketika Clarissa membuka pintu kamar, ia mendapati Dafri didalam sana dan hendak keluar kamar. Mereka berpapasan, dan saling pandang untuk persekian detik.


"Dari rumah teman." jawab Clarissa cuek lalu masuk kedalam kamarnya.


"Oya, aku 3 hari kedepan ada kegiatan dari rumah sakit dan kegiatannya diadakan diluar kota. Jadi, besok aku berangkat kesana. Tidak mengapa kan kamu tinggal sendiri dirumah?" tanya Dafri dengan melihat kearah Clarissa yang sudah duduk ditepi ranjangnya.


"Selama ini aku juga merasa sendirian kok Daf dirumah" sindir Clarissa dengan nada ketus.

__ADS_1


"Maksud kamu apa?" tanya Dafri yang tidak senang atas jawaban dari Clarissa tersebut. Clarissa lalu berdiri dan menoleh ke Dafri.


"Seharusnya kamu paham maksud aku Dafri. Kehadiran aku disini, tidak berarti apa - apa kan bagi kamu? Aku seperti istri yang tak dianggap. Beda ceritanya kalau Chayra yang ada disini." ujar Clarissa dengan hati yang dongkol.


"Kamu mulai lagi, sudahlah aku gak mau berdebat sama kamu Clarissa. Aku pergi dulu." kata Dafri yang langsung mengakhiri pembicaraan mereka yang belum selesai.


"Kenapa kamu selalu menghindar jika aku mulai membahas tentang Chayra, Daf?" tanya Clarissa dengan setengah berteriak sehingga membuat Dafri tidak jadi keluar dari kamar.


"Karena aku gak mau lagi membahasnya, Clarissa." sahut Dafri dengan cepat dan tegas.


"Iya, Kenapa? Apa kamu tidak lagi mencintai Chayra?" todong Clarissa langsung. Dafripun terdiam.


"Apa kamu sudah bisa melupakannya Daf? Apa kamu memang benar - benar tidak peduli lagi dengan Chayra?" tanya Clarissa bertubi - tubi.


"Kenapa diam? Kamu gak bisa jawab kan? Karena apa? Karena kamu itu sebenarnya masih sangat mencintai Chayra!! Kamu hanya berpura - pura seakan tidak peduli lagi dengan dia, tapi sebenarnya di hati kamu masih memikirkan dia kan? Dan juga mencari - cari keberadaan Chayra dimana saat ini kan?" kecam Clarissa masih menyudutkan Dafri.


"Iya, Iya benar. Aku masih mencintai Chayra, puas kamu!" jawab Dafri dengan marah dan kali ini ia benar - benar keluar dari kamarnya. Tidak peduli Clarissa yang kembali memanggilnya.

__ADS_1


...💟💟💟💟...


__ADS_2