Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
Eps 36 // PENJELASAN DAFRI


__ADS_3

Chayra berusaha menahan rasa gejolak dihatinya yang semakin membara, disaat Dafri mendekati dirinya dengan tatapan yang begitu dalam. Setelah mengatakan hal itu, Dafri menunggu Chayra menanggapi perkataannya. Tapi, yang ditunggu tidak kunjung juga mengeluarkan suara.


"Chayra, aku tahu kamu juga merasakan seperti yang aku rasakan, kan?" tanya Dafri masih dengan tatapan mautnya itu.


"Kalau kamu diam saja, berarti jawabannya iya." putus Dafri akhirnya lalu tersenyum penuh kemenangan. Chayra langsung melotot protes, karena tidak setuju Dafri yang mengambil keputusan sepihak.


"Aku diam bukan berarti membenarkan apa yang kamu katakan itu ya Dafri, jadi jangan kepedean kamu." Kata Chayra lalu menggeserkan posisi tubuhnya agak menjauh dari Dafri.


"Aku diam, karena sedang berpikir saja." lanjut Chayra lagi.


"Apa yang kamu pikirkan emangnya?" tanya Dafri dengan penasaran. Ditanya seperti itu, membuat Chayra langsung mendengus kesal.


"Aku memikirkan Clarissa.. Bagaimana perasaan dia jika tahu kamu datang kesini. Pasti dia sedih dan kecewa, Dafri." kata Chayra dengan wajah pilunya.


"Clarissa sudah tau aku kesini, Chayra." kata Dafri. Chayra langsung memandang Dafri.


"Jadi Clarissa sudah tahu? Dafri, lebih baik kamu pulang saja sekarang dan temui Clarissa. Aku gak mau Clarissa malah memikirkan yang tidak - tidak tentang kita." kata Chayra yang malah mengusir Dafri.


"Tidak Chayra, aku gak akan pergi dari sini kecuali jika kamu ikut juga dengan aku pulang kerumah." tegas Dafri.


"Apa? Kenapa aku harus ikut pulang ke rumah kamu lagi?" tanya Chayra dengan heran.


"Pertanyaan apa ini, Chayra? Ya.. Jelas kamu harus ikut aku, karena kamu masih istri sah aku Chayra. Aku datang kesini selain mau ketemu dengan orang tua kamu, aku juga mau menjemput kamu untuk kembali pulang kerumah." jelas Dafri.


"Dafri, aku gak mau lagi kembali kerumah kamu. Bukankah kita akan bercerai? Jadi untuk apa aku kesana lagi, sudahlah.. Ceraikan saja aku sekarang Dafri." kata Chayra lalu mengarahkan pandangannya keatas, entah kenapa ia merasakan butiran - butiran air mata sudah mulai menumpuk disana.

__ADS_1


"Siapa yang mau menceraikan kamu Chayra? Mengapa kamu berpikiran aku akan menceraikan kamu? Kamu jangan termakan omongan Clarissa, Chayra!!' kata Dafri dengan kesal karena Chayra yang menyinggung masalah perceraian.


"Dafri, aku gak paham lah dengan kamu ini. Seharusnya kamu bisa bernafas lega karena aku yang pergi dari kamu tanpa kamu suruh, dengan begitu kamu dapat kembali lagi dengan Clarissa. Dan yang terpenting Tidak ada lagi yang menjadi penghalang hubungan kalian.." ujar Chayra.


"Bukan begitu konsepnya, Chayra..!!" Dafri langsung memotong ucapan Chayra dengan rasa geram.


"Lalu apa??" tanya Chayra setengah berteriak.


"Kamu.. Kamu jangan berpura - pura, kamu sebenarnya paham kan maksud aku apa?" kata Dafri dengan geram.


"Aku gak paham apa - apa, Dafri." sahut Chayra kembali mengalihkan pandangannya.


"Coba Lihat kesini, biar aku jelaskan sejelas - jelasnya." pinta Dafri seraya menyentuh lengan Chayra.


Namun, tiba - tiba saja.. bersamaan dengan itu pula Ayah dan Ibu Chayra pun pulang. Mereka berdua masuk dengan tatapan heran dan juga kaget melihat ada Dafri disana. Apalagi ketika melihat Dafri dan Chayra sedang bersitegang seperti itu.


Setelah itu, Dafri membuka pembicaraan dengan mengucapkan permintaan maaf kepada kedua orang tua Chayra. Dan selanjutnya barulah ia menceritakan semua yang telah terjadi. Kedua orang tua Chayra mendengarkan penjelasan Dafri dengan seksama. Mereka terlihat tenang, dan sedikitpun tidak menampakkan wajah marah ke Dafri karena mereka cukup bisa menghargai Dafri sebagai menantunya.


"Begitulah, Saya harap ibuk dan bapak mau memaafkan saya dan juga Clarissa. Saya datang kesini karena rasa tanggung jawab saya terhadap Chayra, bagaimanapun juga Chayra masih istri sah saya. Karena Saya belum sama sekali menceraikannya. Dan sekaligus kedatangan saya kesini juga mau menjemput Chayra." tutur Dafri dengan perlahan - lahan seraya menatap ibu dan Ayah Chayra secara bergantian.


"Iya, Nak Dafri. Bapak paham sekarang duduk permasalahan diantara kalian berdua, cuman yang tidak bisa kami terima sebagai orang tua adalah kamu yang tidak berterus terang jika sudah menikah sebelumnya, walaupun cuman nikah siri. Tapi, tetap saja Kamu sudah membohongi keluarga besar kami." kata Ayah Chayra.


"Iya, Pak. Saya tahu, saya salah.. Tapi, saya juga punya alasan mengapa melakukan itu. Jangankan Bapak dan ibuk, keluarga saya sendiri saja tidak tahu tentang pernikahan siri yang saya lakukan dengan Clarissa. Saya terpaksa berbohong, demi Mama saya yang memiliki penyakit jantung. Dan saya tidak ingin membuat kesehatan Mama terganggu karena memang Mama gak menyetujui hubungan saya dengan Clarissa." jelas Dafri panjang lebar kemudian berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang.


"Memang awalnya saya pernah mengatakan ke Chayra bahwa saya tidak akan serius menjalani pernikahan ini. Pernikahan kami ini hanyalah sementara, itu yang saya tekankan ke Chayra dimalam pernikahan kami. Tapi, dengan berjalannya waktu meskipun pernikahan kami ini baru seumur jagung, saya sudah mulai menemukan sebuah kenyamanan tersendiri didalam hati saya saat bersama Chayra. Makanya setelah Mama meninggal, saya tidak serta merta meninggalkan Chayra ataupun menceraikannya. Tidak Pak..!! Niat awal saya dulu itu benar - benar sudah hilang.." sambung Dafri lagi dan kali ini memandang kearah Chayra yang juga memandang Dafri dengan kening yang berkerut.

__ADS_1


"Terus.. Mau kamu apa sekarang, Nak Dafri?? Ini sekarang bukan perihal kenyamanan kamu sendiri saja yang harus dipenuhi, Tapi juga kenyamanan masing - masing pasangan kamu. Kamu juga harus memikirkan bagaimana perasaan Chayra maupun istri siri kamu itu." kata Ayah Chayra yang kali ini dengan agak kesal. Dafri langsung menunduk, karena ia cukup tahu kemana arah pembicaraan Ayahnya Chayra.


"Jadi intinya, kamu tetap mempertahankan Chayra namun di satu sisi kamu tetap menjalani pernikahan dengan istri sirimu itu? Kamu gak bisa memilih salah satunya? Atau.. Meninggalkan salah satunya?" kali ini giliran Ibu Chayra yang mengeluarkan suara. Sebenarnya ia sejak tadi tidak tahan untuk berbicara, rasa gemuruh dihatinya pun semakin memuncak karena keegoisan Dafri yang ingin memiliki kedua - duanya.


Dafri terdiam dengan cukup lama, tidak tahu harus menjawab apa. Karena apa yang orang tua Chayra katakan benar adanya. Apakah dirinya memang egois yang ingin memilki kedua wanita itu menjadi istrinya? Entahlah.. Dafri belum kepikiran sampai kesana, yang jelas hati Dafri sangat kuat untuk tetap mempertahankan Chayra tanpa harus meninggalkan Clarissa.


...💓💓💓💓...


Sedangkan ditempat kediaman Clarissa, wanita itu tampak menangis tersedu - sedu di atas ranjangnya. Pikirannya tengah kalut saat ini, sejak tadi ia berusaha menghubungi nomor Dafri namun lelaki itu tidak kunjung mengangkat telpon darinya. Chatnyapun tidak juga dibaca - baca.


Tidak pernah sebelumnya Dafri bersikap seperti ini. Kalaupun mereka bertengkar Dafri paling tidak suka mendiamkan Clarissa, Pasti dia yang akan memulai pembicaraan duluan. Tapi, sekarang seakan beda. Clarissa merasa ada perubahan besar pada diri Dafri semenjak ia kenal dengan Chayra. Mengingat hal itu, mampu membuat hati Clarissa meradang.


"Ini semua gara - gara Chayra!!" gumam Clarissa dengan masih terisak - isak sedangkan kedua tangannya sudah menggepal erat menahan rasa sakit di dadanya.


Clarissa tidak rela jika hal yang ditakutinya akan terjadi juga, ia takut.. Dafri berpaling darinya. Bagaimana jika Dafri meninggalkannya dan lebih memilih Chayra sebagai istrinya? Apa yang harus ia perbuat jika hati lelaki itu tidak lagi seutuhnya miliknya?


"Tidak.. Tidak.. Tidak..!!!" jerit Clarissa panik dengan apa yang barusan ia bayangkan itu. Sebisa mungkin ia buang jauh segala pikiran buruk yang berkecamuk dibenaknya.


Clarissa menghabiskan malam itu dengan menangis sembari menunggu Dafri membalas chatnya. Namun, tiba - tiba saja Clarissa merasakan kepalanya sakit, rasa nyeri yang semakin kuat. Clarissa memegang kepalanya, ia yakin rasa sakit dikepalanya ini karena dirinya yang tidak berhenti menangis sejak tadi ditambah lagi perutnya yang sudah keroncongan.


Maka, beberapa saat kemudian dengan perlahan - lahan Clarissa mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Ia hendak mengambil minuman yang berada diatas meja, namun naasnya.. Belum sempat Clarissa menyentuh minuman itu, dirinya sudah keburu ambruk dilantai dan setelah itu tidak sadarkan diri...


...💓💓💓💓...


BERSAMBUNG....

__ADS_1


.


.


__ADS_2