
"Chayra, terimakasih ya karena kamu kembali dan mau menerima aku lagi menjadi suami kamu. Padahal, tadi aku sempat putus asa karena kamu tidak mengangkat telpon dari aku. Aku pikir kamu tidak lagi mempedulikan aku, begitu kacau dan kalut nya aku tadi itu, Chayra. Tapi, syukurlah.. setelah melihat kamu datang dan mengatakan hal tadi benar - benar membuat aku bahagia. Sangat bahagia." ungkap Dafri sembari mencium tangan Chayra yang sejak tadi dipegangnya. Saat itu mereka sedang berbaring diatas tempat tidur, Chayra meletakkan kepalanya didada bidangnya Dafri sedangkan lelaki itu mengelus - elus rambut Chayra dengan tangannya yang satu lagi.
"Iya, Dafri. Maaf, HP aku ketinggalan dirumah kak Hilma. Hhmm.. Dua hari ini sebenarnya aku merasa galau juga, aku takut saja dengan harapan yang kamu dan Clarissa berikan untuk aku. Aku.. Takut kecewa lagi jika ternyata itu tidak seperti yang aku harapkan." ujar Chayra dengan menghela nafas pendek.
"Apa kamu kurang yakin dengan perubahan sikap Clarissa yang tiba - tiba saja mau mengalah itu ya Chayra?" tanya Dafri. Dan Chayra langsung menganggukkan kepalanya.
"Chayra, dengarkan aku ya.. Kamu harus percaya Sama aku ya bahwa Clarissa benar - benar sudah mengalah dan sudah melepaskan aku untuk kamu sayang." kata Dafri dengan yakin.
"Bagaimana jika itu tidak berlangsung lama, Dafri? Maaf, bukannya aku meragukan atas perubahan sikap Clarissa. Tapi, aku bisa melihat dan merasakan bahwa dia begitu sangat mencintai kamu Dafri. Aku khawatir saja jika perasaan Clarissa yang masih labil itu bisa goyah dan berubah - ubah." kata Chayra yang masih saja menggalaukan hal itu.
"Chayra... " panggil Dafri dan kemudian berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang.
"Jadi, apa yang mesti aku lakukan ataupun Clarissa lakukan lagi agar bisa membuat hati kamu tenang dan yakin tentang ini semua?" tanya Dafri.
"Aku juga gak tahu, Dafri. Aku bingung. Disatu sisi akun bahagia kita bisa kembali bersama - sama lagi, tapi disisi lain.. Aku merasa khawatir dan juga tidak enak dengan Clarissa.. Aku juga gak bisa bahagia diatas kesedihan orang lain. Aku yakin Clarissa pasti merasa hancur dan sedih saat ini setelah kamu menceraikan dan meninggalkan dia. Aku yakin itu Dafri." jelas Chayra dengan raut kesedihan yang tergambar diwajahnya.
Dafri terdiam sejenak. Didalam hati, ia merasa salut dengan Chayra yang selalu mengedepakan perasaan orang lain ketimbang perasaannya sendiri. Chayra bilang, dia tidak bisa bahagia diatas kesedihan yang Clarissa rasakan setelah diceraikan oleh Dafri. Tapi, benarkah demikian? Clarissa saat ini sedang bersedih? Sedikitpun pikiran Dafri tidak sampai kesana.
"Dafri... Aku rasa, aku perlu bertemu dengan Clarissa lagi lah." Ujar Chayra yang membuyarkan pikiran Dafri tentang Clarissa.
"Untuk apa sayang?" tanya Dafri.
"Ya.. Untuk lebih memastikan lagi, aku mau bicara dari hati ke hati sama Clarissa. Kamu mau kan antarkan aku kerumah Clarissa?" tanya Chayra dengan memandang Dafri dengan tatapan penuh harap.
"Oke, baiklah Chayra. Aku akan antar kamu kerumah Clarissa nantik sore." kata Dafri dengan senyuman khasnya itu.
__ADS_1
"Terimakasih, Dafri." ucap Chayra dan kemudian memeluk tubuh suaminya itu.
"Sama - sama Sayang ku," jawab Dafri yang semakin erat membawa tubuh Chayra didalam pelukannya.
"Aku sangat merindukan kamu, Chayra." bisik Dafri tepat di telinga Chayra. Sedangkan Chayra hanya diam dan pasrah dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh suaminya itu selanjutnya.
...💞💞💞💞...
Saat sore Hari...
Sedangkan dirumah Clarissa, tampak Mama Clarissa yaitu Siska sedang mengintrogasi Clarissa dengan ekspresi marahnya yang siap akan meledak.
"Jadi Dafri sudah mentalak kamu?" tanya Siska lagi yang seakan tidak yakin dengan penjelasan dari Clarissa yang panjang lebar tadi.
"Clarissa, kamu sadar gak sih dengan apa yang kamu lakukan ini? Kenapa kamu mau begitu saja mengalah dan membiarkan Dafri kembali lagi dengan wanita itu ha?" tanya Siska dengan gusar. Dia sungguh tidak habis pikir mengapa Clarissa bisa semudah itu menyerah dan mengalah.
"Ma, Clarissa tidak bisa terus - terusan bertahan dengan sesorang yang tidak lagi bisa mencintai Clarissa Ma." kata Clarissa.
"Mama kan sudah pernah bilang sama kamu, Clarissa. Suatu saat rasa cinta Dafri ke Kamu pasti akan muncul lagi, kamu hanya butuh bersabar dan menunggu. Jangan malah menyerah dan membiarkan Dafri kembali dengan wanita yang sudah jelas - jelas merusak hubungan kalian." kata Siska lagi dengan geram.
"Tidak Ma, Mama salah. Dafri tidak akan pernah bisa lagi mencintai Clarissa, cinta Dafri hanya untuk Chayra." tutur Clarissa dengan suara yang pelan, beda dengan Mamanya yang sejak awal sudah membesarkan volume suaranya.
"Kamu jangan lemah begini donk Clarissa. Seharusnya kamu memperjuangkan cinta kamu ke Dafri, Mama gak suka melihat kamu lemah dan mengalah seperti ini. Pokoknya, kamu harus kembali lagi menjadi Clarissa yang dulu, yang tidak gampang menyerah dengan keadaan. Yang berani melakukan apapun demi mewujudkan keinginannya." kecam Siska dengan wajah marahnya itu.
"Ma, sudahlah.. Jangan paksa Clarissa lagi untuk kembali dengan Dafri. Mama gak tahu bagaimana diposisi Clarissa kan? Clarissa merasa tertekan Ma, hidup bersama laki - laki yang kita cintai namun kita tidak bisa memiliki hatinya, dekat dengannya tapi pikiran dia tidak tertuju kediri kita. Itu sangat menyakitkan Ma..." ungkap Clarissa dengan terisak - isak.
__ADS_1
"Sakit mana dengan melihat dia kembali dengan wanita itu ha?" tanya Siska dengan tatapan tajam.
"Apa kamu rela membiarkan mereka bahagia diatas penderitaan kamu?" sambung Siska lagi yang semakin menyudutkan Clarissa. Ditanya seperti itu, membuat Clarissa terdiam sembari menundukkan kepalanya.
"Kalau tau begini jadinya, mending si Chayra itu mati saja sejak dulu. Tapi, sayang sekali dia bisa selamat saat orang suruhan Mama menyerang dia waktu itu." kata Siska dan kemudian langsung menutup mulutnya karena sadar ia sudah keceplosan dengan berkata demikian.
"Apa Ma?Apa Mama bilang tadi, orang suruhan Mama? Menyerang Chayra? Maksudnya apa, Ma?" tanya Clarissa dengan bingung. Mamanya langsung diam membisu dengan wajah yang panik.
"Apa jangan - jangan... Itu perbuatan Mama ya? Mama menyuruh orang untuk mencelakai Chayra waktu itu?" tanya Clarissa dengan tatapan curiganya.
"Ee.. Clarissa, Mama bisa jelaskan ke kamu. Bukan begitu sebenarnya,.."
"Ma, Mama sadar gak sih perbuatan Mama itu sudah termasuk perbuatan kriminal? Bagaimana jika orang suruhan Mama itu tertangkap dan dia mengatakan bahwa Mama yang menyuruh dia, Mama akan terseret ke dalam penjara juga Ma. Memang Mama mau masuk penjara?" kata Clarissa dan kali ini dengan suara yang keras. Siska kembali terdiam dengan menundukkan wajahnya.
Bersamaan dengan itu pula, tanpa mereka sadari ada dua orang yang sejak tadi sudah berdiri didepan pintu masuk dan yang pastinya mendengar pembicaraan mereka yang terakhir itu...
...💕💕💕💕...
BERSAMBUNG...
.
.
.
__ADS_1