Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
EPISODE 49


__ADS_3

"Clarissa kamu jangan menyerah begitu saja, kamu harus berjuang sayang untuk mendapatkan Dafri kembali." kata Siska kepada Clarissa yang curhat ke Mamanya bahwa ia mulai putus asa untuk mengejar cinta Dafri kembali. Saat itu mereka sedang berada didalam kamar Clarissa. Clarissa bercerita tentang pertemuan nya dengan Dafri dan Chayra semalam. Dan ia juga merasa sakit hati saat Dafri malah menuduhnya telah mecelakai Chayra.


"Tapi, Ma. Percuma saja.. Dafri sudah tidak lagi mempedulikan Clarissa." kata Clarissa dengan terisak - isak.


"Mungkin memang seperti inilah jalan takdirnya, kami memang harus berpisah." lanjut Clarissa lagi dengan putus asa.


"Kamu jangan putus asa seperti itu, Clarissa. Emang kamu mau melihat Chayra bahagia diatas penderitaan kamu. Emang kamu rela membiarkan wanita kampung itu memiliki Dafri untuk selama - lamanya? Tidak kan? Kamu yang duluan kenal dan memiliki Dafri, jangan mau kalah dan menyerahkan Dafri begitu saja ke wanita itu." kata Siska yang berusaha memberikan suntikan ke Clarissa untuk terus berjuang mendapatkan hati Dafri kembali.


"Ya.. Clarissa gak mau, Ma. Clarissa gak rela. Tapi, Clarissa bisa apa? Dafri tidak lagi mencintai Clarissa, Ma." kata Clarissa.


"Kita cari cara, Clarissa. Terkadang untuk mendapatkan sesuatu yang sulit kita jangkau, kita butuh cara yang licik untuk mendapatkannya." kata Siska dengan tersenyum getir. Clarissa langsung saja mengerutkan keningnya tanda bingung.


"Maksud Mama apa?" tanya Clarissa.


"Kamu tenang saja, Clarissa. Mama sudah memikirkan sesuatu untuk membuat Dafri agar kembali lagi ke kamu. Mama tahu caranya bagaimana." kata Siska masih dengan senyum misteriusnya itu.


"Bagaimana caranya, Ma?" tanya Clarissa dengan penasaran.


Siska menatap Clarissa dalam - dalam sebelum akhirnya ia mendekatkan wajahnya ketelinga Clarissa dan ketika itu pula ia membisikkan sebuah rencana licik yang sudah tersusun rapi didalam hati dan pikirannya. Clarissa mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Mamanya dengan seksama dengan mata yang melotot dan setelah selesai Clarissa pun langsung tersenyum dengan lebar.


...💦💦💦💦...


Malam itu Dafri yang baru saja pulang dari rumah sakit lalu masuk kedalam kamar dan mendapati Chayra yang sudah siap - siap akan tidur. Lelaki itupun langsung membaringkan tubuhnya disamping Chayra. Kedatangan Dafri yang tiba - tiba itu, tentu saja membuat Chayra sedikit kaget.


"Dafrii.. Kenapa masuk gak ucapkan salam dulu sih?" tegur Chayra, bukannya merasa bersalah Dafri malah senyum - senyum sembari tangannya menyentuh lembut perut Chayra yang masih diperban.


"Bagaimana lukanya? Apa masih sakit sayang?" tanya Dafri dengan penuh perhatian.


"Masih sakit juga sekali - sekali, cuman gak sesakit kemarin sih." jawab Chayra apa adanya.

__ADS_1


"Syukurlah, Oya.. besok pagi jadwal kita kontrol kerumah sakit ya sayang," kata Dafri mengingatkan Chayra, karena memang sudah tiga hari setelah kepulangan Chayra dari rumah sakit, Dan dihari keempat Dokter memang menyarankan untuk kembali datang lagi memeriksakan keadaan lukanya.


"Iya, kamu temankan aku kerumah sakit kan besok?" tanya Chayra dengan berpura - pura bertanya, padahal ia sudah tau apa jawabannya.


"Tentu saja donk sayang, aku akan setia menemani kamu.." kata Dafri lalu merangkul Chayra dari belakang. Dirangkul erat seperti itu, membuat perasaan anehpun mulai menjalar diseluruh tubuhnya. Dan Dalam posisi yang seperti itu membuat Dafri lebih leluasa menyentuh tubuh Chayra dari belakang.


"Dafrii...." ucap Chayra yang mulai tidak bisa menguasai dirinya akibat dari sentuhan - sentuhan yang diberikan oleh suaminya itu.


"Iya, kenapa Chayra? Kamu gak risih kan dengan sentuhan aku ini?" tanya Dafri tepat dibagian belakang telinga Chayra. Chayrapun dapat merasakan hembusan nafas Dafri dibagian lehernya sehingga membuat Chayra seakan merinding, belum lagi getaran serta debaran didadanya yang saling bersahut - sahutan, semua itu seakan tidak mampu ia bendung.


"Atau mungkin.. Kamu mulai merasa nyaman aku peluk seperti ini?" tanya Dafri lagi yang semakin erat memeluk Chayra dari belakang.


"I-Iya, nyaman.. Tapi, jangan terlalu kuat juga Dafrii.." kata Chayra dengan memegang tangan Dafri yang berada diperutnya.


"Nantik lukanya sakit lagi.." lanjut Chayra. Dan Dafri langsung melonggarkan pelukannya.


"Oh ya, aku lupa. Maaf ya sayang" kata Dafri akhirnya dan Chayrapun hanya menganggukkan kepalanya.


"Dan aku juga minta sama kamu, Chayra. Jangan mudah terpengaruh dengan kata - kata orang lain tentang kita, termasuk juga perkataan dari Papa. Kamu tutup telinga kamu dari ucapan mereka yang tidak suka dengan pernikahan kita ini. Oke sayang? Bisa dimengerti?" tanya Dafri dengan masih memeluk Chayra.


"Iya, Dafri. Aku mengerti. Oya, Aku boleh tanya satu hal sama kamu?" tanya Chayra.


"Tentu boleh, kamu mau tanya apa, Chayra?"


"Hhhmmm.... Pertanyaan ini sebenarnya sudah lama ingin aku tanyakan, Dafri. Namun, aku selalu mengurungkan niat aku untuk bertanya. Tapi, kali ini aku benar - benar ingin tahu jawaban dari kamu Dafri." ujar Chayra lalu membalikkan badannya kearah Dafri. Dan kini mereka saling berhadapan.


"Tanyakanlah sayang, apa yang ingin kamu tanyakan. Jangan bikin aku penasaran." kata Dafri dengan menyentuh rambut - rambut halus diwajahnya Chayra.


"Yang ingin aku tanyakan, Apa alasaan kamu mencintai aku, Dafri??" tanya Chayra.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Chayra itu membuat Dafri langsung tersenyum lebar.


"Sebenarnya tidak ada alasan dalam mencintai seseorang itu sayang. Perasaan cinta terkadang datang tanpa kita rencanakan, begitulah yang terjadi pada aku. Aku yang mungkin tidak pernah berniat untuk mencintai kamu tapi ternyata aku yang malah terjebak dalam cinta itu sendiri. Seperti sebuah kata mutiara yang mengatakan bahwa 'Karena mencintai seseorang tanpa alasan adalah sebuah ketulusan'. Jadi, saat ini aku merasa sangat tulus mencintaimu, tanpa alasan apapun.." jawab Dafri dengan suara yang lantang.


Mendengar jawaban Dafri tersebut, membuat Chayra terpana lalu iapun tersenyum puas atas jawaban yang diberikan oleh Dafri.


"Terimakasih atas jawabannya, Dafri." ucap Chayra. Dafri hanya menganggukkan kepalanya.


"Dan sekarang... Apakah boleh aku tidur? Aku sudah ngantuk sekali," kata Chayra meminta izin ke suaminya.


"Boleh, tapi.. Sebelum kamu tidur, Izinkan aku berbuat sesuatu ke kamu." kata Dafri lalu melihat Wajah Chayra dengan tatapan penuh arti.


"Maksudnya??" tanya Chayra yang tidak mengerti maksud dari ucapan Dafri tersebut. Namun, Dafri tidak menjawabnya dengan kata - kata, ia hanya menjawabnya dengan sebuah tindakan.


...💓💓💓💓...


Keesokan harinya, Dafri membawa Chayra untuk kontrol ulang kerumah sakit. Setibanya dirumah sakit, Dokter Rey lalu memeriksa luka dibagian Perut Chayra yang ternyata sudah mulai kering dan berangsur membaik. Chayra dan Dafripun senang mendengarnya, apalagi Chayra sudah tidak lagi merasakan nyeri yang berlebihan pada luka tersebut.


"Syukurlah sayang, luka kamu sembuh dengan cepat diluar dugaan dokter. Ini suatu hal yang patut kita syukuri." kata Dafri saat mereka sudah diperjalanan pulang menuju kerumah.


"Iya, Dafri. Aku juga sangat bersyukur sekali, ini juga berkat kamu yang tiada henti mengingatkan aku untuk selalu berhati - hati dan tidak banyak melakukan aktifitas dulu, padahal aku ini tipenya yang gak mau diam. Selalu ingin bergerak dan melakukan sesuatu." kata Chayra lalu tertawa dengan lepas, Dafripun ikut tertawa melihat kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah istrinya itu.


"Oya, sayang.. Kemarin kamu sempat mengatakan ingin mengajak aku ke suatu tempatkan? Aku jadi penasaran, kamu mau mengajak aku kemana." kata Chayra mengingatkan Dafri atas ajakan dia waktu itu.


"Kita tunggu sampai minggu depan ya sayang, jika keadaan kamu sudah pulih sempurna. Aku pasti akan mengajak kamu ketempat yang aku maksud itu." janji Dafri kepada Chayra.


Beberapa saat kemudian, merekapun sampai dirumah Dafri. Dan ketika mobil Dafri memasuki halaman rumahnya, ia melihat sebuah mobil yang ia kenali sudah terparkir disana. Perasaan Dafri tiba - tiba menjadi tidak enak. Iapun kemudian buru - buru turun dari mobil Dan bergegas masuk kedalam rumah. Chayra yang merasa heran hanya bisa mengikuti langkah kaki Dafri dari belakang.


Kemudian, saat Dafri sudah berada diambang pintu masuk.. Matanya langsung saja menangkap tiga orang sedang duduk dan berbicara serius diruang tamu. Mereka adalah Papa Dafri, Mama Clarissa dan juga Clarissa...

__ADS_1


...💓💓💓💓...


BERSAMBUNG...


__ADS_2