
Mendengar tuduhan dan semprotan kata - kata kasar dari Clarissa barusan itu benar - benar membuat Chayra tersentak. Chayra yang tidak menyangka bahwa Clarissa yang biasanya bersikap lemah lembut namun ternyata bisa juga berkata kasar dengan penuh emosi seperti ini terhadap dirinya.
Clarissa masih terus melanjutkan perkataannya, tanpa memberi kesempatan bagi Chayra untuk berbicara ataupun sekedar menyanggah tuduhannya yang bertubi - tubi tersebut.
"Aku sudah percaya sama kamu Chayra, aku pikir kamu gadis yang baik dan polos. Yang bisa memahami posisi aku saat ini. Tapi, ternyata apa? Kamu sudah mengkhianati kepercayaan aku itu. Bisa - bisanya kamu berpikiran untuk merebut Dafri dari aku, Dafri itu suami aku. Aku yang lebih duluan menikah dengannya dan yang jelas kami saling mencintai." Tutur Clarissa lagi dengan berapi - api.
"Clarissa.. Dengar dulu, kamu sudah salah paham. Aku.."
"Kamu yang harus dengar aku, Chayra!!" potong Clarissa langsung dengan setengah membentak. Padahal Chayra belum menyelesaikan ucapannya. Chayra hanya bisa mengelus - elus dadanya setelah dibentak Clarissa seperti itu. Tuduhan tersebut benar - benar menyakitkan bagi dirinya. Dan bersamaan dengan itu pula, Dafri pun terbangun dari tidurnya. Dengan mata yang berat ia memandang Chayra dengan tatapan bingung.
"Ada apa, Chayra? Siapa yang nelpon?" tanya Dafri terheran - heran setelah melihat Chayra sedang menelpon seseorang menggunakan ponselnya. Sedangkan Clarissa masih terus saja menyerocos panjang lebar. Tentu saja suara nyaring Clarissa tersebut terdengar sampai ketelinganya Dafri. Lalu Dafripun mengambil ponselnya dari tangan Chayra.
"Clarissa, kamu kenapa marah - marah dengan Chayra? Ada apa ini?" tanya Dafri ke Clarissa.
"Oh, sudah bangun kamu ya? Bagaimana rasanya tidur bareng dengan Chayra, wanita pelakor itu." ketus Clarissa. Dafri langsung saja mengerutkan keningnya tanda bingung, karena dia yang baru bangun tidur malah dituduh macam - macam oleh kekasihnya sendiri.
"Apa maksud kamu, Sayang? Siapa yang tidur dengan Chayra? Kamu kenal aku kan, gak mungkin aku melakukan hal itu." bela Dafri.
"Terus kenapa Chayra yang angkat telponnya? Emang kamu lagi tidur dimana?" tanya Clarissa dengan helaan nafas yang berat.
"Clarissa, sekarang ini kami lagi dirumah Aku. Dan sekarang ini lagi dikamar, kami gak dimana - mana." lirih Dafri setelah itu menatap ke Chayra yang masih berdiri disebelahnya.
"Kenapa kamu ngangkat telpon dari Clarissa, Chayra?" tanya Dafri dengan tatapan curiga. Ditatap seperti itu, membuat Chayra semakin terhenyak. Tatapan Dafri mengisyaratkan seolah - olah dirinya yang mencari kesempatan untuk mengusik Dafri ataupun membuat Clarissa menjadi salah paham.
__ADS_1
"Awalnya aku cuman mau antarkan makanan untuk kamu, Dafri. Bukannya kamu yang nyuruh agar membawa makananya kekamar kamu. Tapi, gak sengaja aku lihat Clarissa menelpon kamu berkali - kali tapi kamu gak mendengarnya. Makanya aku berinisiatif mengangkat telpon dari Clarissa." jawab Chayra. Dan Clarissa juga mendengarnya.
"Kamu dengar sendiri kan apa kata Chayra, Clarissa? Jadi tolonglah.. Kamu percaya sama aku, jangan berpikiran yang tidak - tidak. Aku saat ini tengah risau dengan keadaan Mama, gak masuk akal rasanya kalau aku malah berbuat yang tidak - tidak." kata Dafri. Clarissa diujung telpon sana langsung terdiam dan detik kemudian Clarissa pun meminta maaf ke Dafri dengan suara yang memelas.
Kemudian, entah apa yang diucapkan oleh Clarissa lagi. Chayra tidak begitu jelas mendengarnya, karena merasa tidak punya kepentingan lagi disana, maka Chayra pun keluar dari kamar Dafri. Namun, saat Chayra sudah berada diambang pintu, Dafri kembali memanggil Chayra.
"Lain kali kamu jangan sembarangan mengangkat telpon siapapun dari handphone aku, Chayra." ujar Dafri dengan nada dingin.
"Iya, aku minta maaf." lirih Chayra sambil menundukkan kepalanya. Karena bagaimanapun Chayra juga merasa bersalah karena sudah lancang mengangkat telpon dari Clarissa. Setelah itu, Chayra pamit keluar namun Dafri lagi - lagi memanggilnya.
"Temanin aku makan dulu, kita makan sama - sama disini." ujar Dafri dengan datar. Chayra terdiam, tapi tidak juga menolaknya. Apalagi yang bisa ia lakukan selain menuruti perintah suaminya itu.
...💞💞💞💞...
Hari masih pagi sekali tapi Chayra dan Dafri sudah bersiap untuk pergi kerumah sakit. Saat diperjalanan, Clarissa kembali menelpon Dafri dan mengatakan ia akan pulang hari ini dan meminta Dafri untuk menjemputnya ke bandara. Namun, Dafri menolaknya dengan alasan dirinya yang akan menemani Mamanya dirumah sakit. Alih - alih bisa memaklumi, Clarissa malah marah - marah dan menuduh Dafri yang tidak mempedulikan dirinya lagi. Mereka sempat berdebat panjang melalui telpon. Chayra hanya diam mendengar perdebatan sengit pasangan sejoli tersebut.
"Aku heran dengan Clarissa, kenapa dia jadi aneh? Sedikitpun dia gak mau mengerti posisi aku saat ini." umpat Dafri dengan kesal setelah Clarissa mematikan sepihak telponan mereka.
"Seharusnya dia paham, menghibur aku, memberi semangat. Bukan malah marah - marah tidak jelas dan merajuk seperti ini." lanjut Dafri lagi masih dengan nada bicara dan wajah yang kesal.
Sedangkan Chayra hanya diam saja, dia juga tidak tahu harus berkomentar apa.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka berdua sampai dirumah sakit. Mereka langsung saja menuju ke lantai atas tempat Mama Dafri dirawat. Sesampainya disana, Argantara dan Dika sudah menunggu mereka dan setelah itu bersiap untuk pulang kerumah karena mereka memang bergantian dalam menjaga Mama Dafri.
__ADS_1
Sepeninggalan Argantara dan Dika, Dokter spesialis Jantung yang menangani Mama Dafri memanggilnya, dan Dafripun langsung beregegas menemui dokter tersebut yang juga merupakan temannya. Sedangkan Chayra tetap berada disana.
Tidak berapa lama kemudian, Dafri pun datang dengan wajah yang sedih.
"Dafri, kenapa? Dokter bilang apa?" tanya Chayra dengan nada khawatir.
"Dokter masih berusaha memberikan pengobatan dan penanganan yang terbaik untuk Mama, Chayra. Namun, sampai saat ini Dokter mengatakan bahwa belum ada kemajuan apapun yang terlihat dari keadaan Mama." jelas Dafri dengan suara yang parau.
"Aku khawatir, Chayra. Terkadang pikiran buruk itu terlintas dibenak aku. Aku takut.. Dan belum siap jika harus kehilangan Mama untuk selamanya. Karena sedari dulu, aku itu lebih dekatnya ke Mama ketimbang Papa. Sejak kecil, Mamalah tempat aku berbagi cerita.. Hingga sekarang sudah dewasa pun aku masih sering cerita segala hal ke Mama." cerita Dafri dengan mata yang berkaca - kaca.
"Kecuali tentang satu hal tentunya, yaitu.. Tentang pernikahan siri diam - diam yang aku lakukan dengan Clarissa." lanjut Dafri lagi dengan pandangan lurus kedepan.
"Entahlah... Aku juga seakan merasa bersalah karena sudah merahasiakan ini semua ke Mama. Aku.. Aku juga gak tahu harus apa setelah ini." kata Dafri dan kemudian menunduk dengan memijit keningnya yang mulai berdenyut.
"Dafri, sebisa mungkin kamu jangan berpikiran buruk seperti itu ya. Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah berdoa, serahkan semuanya kepada Allah. Yang penting kita sudah berusaha, dokter juga sudah memberikan penanganan yang terbaik untuk Mama. Anggap saja ini ujian dari Allah untuk menguji kesabaran dan keimanan kita. Semoga saja Allah memberikan kesembuhan untuk Mama, buah dari kesabaran dan keikhlasan kita itu." tutur Chayra dengan memberikan nasihat terbaiknya kepada Dafri.
"Ya, semoga saja Chayra." ucap Dafri setelah itu mengalihkan wajahnya dengan memandang Chayra.
"Terimakasih ya, Chayra... Sudah mau peduli dan menemani aku dirumah sakit beberapa hari ini," ujar Dafri masih menatap erat wajah Chayra, dan tak disangka tiba - tiba Dafri malah memegang kedua tangan Chayra dengan lembut, sehingga membuat Perasaan Chayra menjadi tak karuan. Dan bersamaan itu pula, seseorang datang dan melihat adegan tersebut dengan wajah dan mata penuh amarah yang siap akan meledak...
...💤💤💤💤...
BERSAMBUNG...
__ADS_1
.