
Dafri setia menemani Chayra yang menjaga Ayahnya dirumah sakit. Seperti yang pernah dilakukan oleh Chayra dikala Mamanya Dafri dirawat diruang ICU rumah sakit waktu itu, seperti itu jugalah yang dilakukan oleh Dafri saat ini.
Hari ini adalah hari ketiga Ayah Chayra dirawat dirumah sakit, dan sudah tiga hari pula Dafri menemani Chayra bergantian dengan adiknya - adiknya dalam menjaga Ayah mereka yang dirawat disana.
Ayah Chayra dirawat karena penyakit lamanya kambuh lagi. Waktu itu, Ayah Chayra sempat terkena penyakit radang paru - paru yang membuat tubuhnya menjadi lemah dan sangat kurus. Ditambah lagi Ayah Chayra selalu sesak dan kesulitan untuk bernafas.
Dihari ketiga itu pula, Chayra menyarankan kepada Dafri untuk pulang saja kerumahnya karena Chayra tidak mau Dafri terlalu lama tidak masuk kerja.
"Dafri, kamu pulang duluan saja besok ya? keadaan Ayah sudah berangsur membaik kok, palingan dalam 2 hari ini Ayah sudah diperbolehkan pulang sama dokter." kata Chayra ke Dafri. Malam itu adalah giliran Chayra dan Dafri yang menjaga Ayahnya dirumah sakit.
"Kenapa kita gak sama - sama saja pulangnya sayang?" tanya Dafri yang seakan tidak mau pulang sendirian.
"Sepertinya aku masih lama disini, sayang. Karena kalau lagi kambuh sakit Ayah, biasanya Ayah sangat manja sama aku. Ya.. sebab aku ini anak paling tua, dan sejak dulu aku memang yang paling dekat dengan Ayah. Makanya saat sakit seperti ini, Ayah menyuruh aku untuk pulang dan merawatnya." jelas Chayra.
"Hhhmmm... Gitu ya, Tapi benaran tidak apa ni aku pulang duluan? Rasanya aku gak relalah harus berpisah sama kamu untuk beberapa waktu kedepan Chayra." kata Dafri dengan berlebihan.
"Dafri, aku juga gak mau sebenarnya jauh - jauh dari kamu. Tapi, bagaimana lagi jika keadaannya seperti ini. Aku minta doanya saja dari kamu ya, semoga Ayah aku bisa cepat sembuh dan akupun bisa segera pulang." kata Chayra dengan tersenyum lebar.
"Iya.. Tentu sayang, aku akan selalu mendoakan untuk kesembuhan Ayah." kata Dafri dengan tersenyum juga.
"Jadi kamu izinkan aku untuk tinggal beberapa hari disini kan?" tanya Chayra lagi untuk memastikan.
"Ya.. Oke sayang, aku izinkan kamu." ucap Dafri akhirnya dengan sebelumnya menarik nafas panjang.
"Terimakasih ya, Dafri.." ucap Chayra lalu memeluk suaminya itu. Dafri hanya menganggukkan kepalanya.
Maka dihari itu pula Dafripun pamit kepada keluarganya Chayra untuk kembali pulang kerumahnya. Dan saat Dafri berjalan di koridor rumah sakit menuju keluar, tiba - tiba saja ada seseorang yang menepuk pundaknya dengan kuat dari belakang. Dafri lantas menoleh kebelakang dan seketika itu pula melihat Farhan sudah berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
"Farhan?" ucap Dafri yang sedikit kaget melihat Farhan yang lagi - lagi menampakkan wajah dingin dan datarnya kepada Dafri.
"Hebat ya! Berpura - pura baik dan peduli dengan keluarga aku, tapi padahal kamu sudah tega menyakiti Chayra lagi." kata Farhan dengan nada sinis.
"Apa maksud kamu, Farhan?" tanya Dafri yang memang tidak paham apa yang dikatakan oleh adik iparnya itu.
"Pakai tanya lagi, Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu itu sudah mempermainkan Chayra ha? Kamu sudah menjatuhkan pilihan kamu ke Chayra dan menceraikan istri siri kamu yang bernama Clarissa itu, tapi ternyata apa? Kamu malah menikahi Clarissa lagi karena wanita itu sudah kamu hamili kan?" tutur Farhan dengan menyunggingkan senyumnya. Dafripun langsung tersentak. Memang benar, Keluarga Chayra belum tahu mengenai ini. Bukan Dafri yang tidak mau memberitahu, namun Chayra sendirilah yang melarangnya karena Chayra tidak ingin membuat keluarganya terbebani dengan permasalahan dirinya. Apalagi setelah Ayah Chayra sakit seperti ini, tentu akan membuat keadaan Ayahnya semakin ngedrop jika mendengar kabar tersebut.
Dafri menjelaskan apa alasan dirinya dan Chayra tidak memberitahu mereka semua, tapi Farhan ternyata tidak peduli dan tidak mau tahu dengan alasan yang diberikan oleh Dafri. Malahan ia mengancam akan memberitahu perihal ini kepada keluarganya terutama ayahnya yang sedang dirawat.
"Memang benar kata Chayra tentang kamu yang tidak pernah peduli dengan keluarga kamu sendiri. Buktinya kamu tega memberitahu hal ini disaat kondisi Ayahnya kamu lagi ngedrop. Bagaimana jika beliau tambah drop jika mendengar berita ini?" kata Dafri seraya menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Aku tidak peduli, sekarang gini saja.. Kita buat kesepakatan. Aku akan tutup mulut, jika kamu mau memberi aku sejumlah uang sebagai tutup mulutnya." kata Farhan lalu tersenyum dengan begitu liciknya. Dafri hanya bisa tercengang dan tidak habis pikir dengan kelakuan adik iparnya yang satu ini. Bisa - bisanya dia mengambil kesempatan dalam keadaan seperti ini.
"Oke, baiklah." jawab Dafri akhirnya karena dia pikir si Farhan ini mungkin memang lagi membutuhkan uang.
"Ya. Oke." jawab Farhan dan kemudian tersenyum puas karena ia sudah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.
Setelah Farhan meninggalkan nomor rekeningnya, ia pun berlalu dari sana. Tanpa ucapan terimakasih ataupun basa - basi, lelaki itu langsung saja melenggang meninggalkan Dafri yang hanya bisa menghela nafas panjang.
...🧡🧡🧡🧡...
Dafri sampai dirumah langsung disambut dengan wajah garang Papanya didepan teras bersama Clarissa juga tentunya. Dafripun yakin, Clarissa pasti sudah menceritakan tentang kepergiannya ketempat Chayra kepada Papanya.
"DAFRII..!!" Panggil Argantara dengan setengah membentak.
"Ya, Pa." sahut Dafri dengan mencoba setenang dan sesantai mungkin. Meskipun ia tahu sebentar lagi dirinya pasti akan dimarahi oleh Papanya.
__ADS_1
"Kamu pergi selama 3 hari meninggalkan Clarissa, padahal kamu tahu bahwa kondisi kandungan Clarissa sedang tidak baik - baik saja. Kemana pikiran kamu itu ha?" ucap Argantara dengan berdecak pinggang.
"Maaf, Pa. Dafri menemani Chayra karena Ayahnya saat ini sedang dirawat dirumah sakit, Pa." kata Dafri dengan membela diri.
"Mana yang lebih prioritas sekarang? Menjaga Ayah Chayra yang sakit atau menjaga istri kamu dan juga janin yang dikandungnya itu yang kamu sendiri tahu ada masalah pada kandungannya Clarissa?" tanya Argantara dengan garang. Dafri langsung terdiam, sedangkan Clarissa yang disebelah Dafri sejak tadi hanya menunduk saja seraya memegang bagian perutnya.
Argantara masih terus mengomeli Dafri. Namun, Dafri memilih untuk diam dan tidak banyak berkomentar apa - apa. Dafri banyak belajar dari Chayra tentang sifat sabar dan mengalah, apalagi dengan orang tua sendiri. Lagi pula, disatu sisi Dafri menyadari juga bahwa dia sudah salah karena kurang peduli dengan kandungan Clarissa yang padahal itu adalah darah dagingnya sendiri.
Setelah puas memarahi Dafri, Argantarapun kemudian pergi kekantor. Maka tinggalah Dafri dan Clarissa disana. Dan tanpa berkata apapun kepada Clarissa, Dafri berlalu dari sana menuju kamarnya. Melihat Dafri pergi, Clarissa pun mengikutinya dari belakang.
"Dafrii..." panggil Clarissa saat mereka sudah berada dikamar.
"Ya" jawab Dafri.
"Bagaimana keadaan Ayahnya Chayra?" tanya Clarissa tiba - tiba yang tentu saja membuat Dafri heran atas pertanyaannya itu.
"Tumben kamu peduli dengan Chayra?" sindir Dafri dengan nada ketus.
"Daf, Kenapa sih apa yang aku katakan dan yang aku perbuat selalu salah dimata kamu? Aku mencoba untuk peduli dengan Chayra, kalau itu yang membuat kamu bisa sedikit saja peduli sama keadaan aku." kata Clarissa dengan kesal. Padahal ia sudah berniat untuk bersikap baik dengan Dafri dan tidak lagi meledak - ledak seperti kemarin - kemrarin itu, tapi niat dan usahanya ini seakan tidak dihargai oleh Dafri sehingga membuat Clarissa menjadi kesal dan jengkel.
"Aku sedang tidak ingin berdebat sama kamu, Clarissa. Aku mau istirahat dulu. Nantik kita sambung pembicaraan kita ini. Oke?" kata Dafri setelah itu akan masuk kedalam kamar mandi. Namun, belum sempat Dafri masuk kesana, tiba - tiba saja Clarissa langsung meringis kesakitan dengan memegang perutnya. Awalnya Dafri mengira Clarissa hanya berakting lagi, makanya ia tidak menggubrisnya. Namun Dafri sadar jika Clarissa tidak berakting saat melihat darah segar mengalir dikakinya...
...💦💦💦💦...
BERSAMBUNG...
.
__ADS_1