
Tiga hari sudah berlalu setelah Dafri mengatakan bahwa ia akan meminta waktu untuk menentukan pilihannya, namun sampai hari ini belum juga ia memberikan keputusan apa - apa.
Chayra masih tetap tinggal dirumah Dafri, meskipun ia merasa serba salah jika bertemu ataupun tidak sengaja berpapasan dengan Argantara. Karena Papa mertuanya itu selalu menampakkan ketidaksukaannya terhadap Chayra. Namun, Sekalipun Chayra tidak pernah mengadukan perihal ini kepada Dafri.
Selama tiga hari ini pula Chayra selalu ditinggal Dafri untuk dinas malam dirumah sakit, karena kemarin Dafri sudah banyak libur maka ia menggantikan jadwal dokter yang satunya lagi. Kebetulan juga beberapa hari ini banyak pasien operasi SC dimalam hari, sehingga membuat Dafri mau tidak mau stay di rumah sakit dan tidur disana. Dan iapun baru pulang diwaktu subuh hari.
Seperti subuh itu, Dafri masuk kekamarnya dengan membuka pintu yang memang tidak terkunci itu dengan perlahan - lahan. Karena ia tidak mau membuat Chayra terbangun atas kepulangannya. Namun, ternyata Chayra sudah bangun dan saat itu sedang sholat. Dafri kemudian masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.
"Chayra, Maaf ya beberapa hari ini aku selalu pulang subuh dan tidak menemani kamu tidur malam." ujar Dafri setelah sesaat ia keluar dari kamar mandi dengan sudah membersihkan dirinya.
Chayra yang sedang melipat mukenanya langsung menoleh sejenak ke Dafri lalu tersenyum tipis.
"Gak apa - apa, Aku sudah biasa tidur sendiri dan lebih senang malahan karena gak ada yang ganggu." jawab Chayra dengan dingin.
"Jadi kamu merasa terganggu ya kalau ada aku?" tanya Dafri dengan tersinggung. Chayra hanya mengangkat bahunya. Tapi, bukannya marah Dafri malah menggoda Chayra dengan kata - katanya.
"Emang kamu gak rindu tidur bersama aku, Chayra??" tanya Dafri lalu tersenyum simpul. Ditanya seperti itu, membuat Chayra langsung menjadi salah tingkah. Mungkin saja wajahnya sudah bersemu merah tapi sebisa mungkin ia bersikap biasa saja.
"Ngak!!" jawab Chayra tanpa memandang Dafri lalu ia berdiri dan menjauh dari Dafri namun Dafri malah memegang tangan Chayra.
"Chayra, gak bisa ya kamu bersikap manis sedikit saja sama suami mu ini. Jangan jutek seperti ini terus donk.." pinta Dafri dengan wajah memelasnya.
"Ngak bisa Dafri, Maaf.." ujar Chayra lalu berlalu dari sana meninggalkan Dafri.
Chayra keluar dari kamar, sebisa mungkin ia berusaha menghindar untuk berlama - lama didalam satu ruangan dengan Dafri apalagi didalam kamar. Chayra seakan takut hatinya malah terlena lagi sehingga membawa dirinya hanyut dalam bujukan lelaki itu.
Namun, Chayra juga tidak tahu harus ngapain dirumah ini. Terkadang ia merasa suntuk juga, apalagi jika ia harus berhadapan lagi dengan Papa Mertuanya. Chayra benar - benar bingung dalam bersikap.
Sedangkan Dafri masih saja menggantungkan hubungan mereka bertiga ini. Sebenarnya Chayra ingin mengalah dan pergi dari kehidupan Dafri juga Clarissa. Biarlah mereka hidup bahagia berdua, karena Chayra merasa Clarissa lebih berhak atas diri Dafri ditimbang dirinya. Mereka yang sudah lama saling mencintai, Chayra mearsa hanya sebagai belenggu saja didalam hubungan mereka tersebut. Tapi, Dafri bersikeras untuk tetap mempertahankan Chayra sampai - sampai ia datang kerumah orang tua Chayra dan menjemputnya. Jadi tidak salah jika Chayra mengatakan Dafri egois, sama saja dia ingin memiliki dua - duanya. Tanpa bisa memilih. Chayra tidak bisa seperti ini, dia gak mau menyakiti hati Clarissa karena sama.. Dirinya juga pasti sakit jika terus - terusan seperti ini.
Chayra kini duduk ditaman belakang rumahnya Dafri seorang diri. Hari masih gelap, tapi Chayra lebih memilih untuk tetap disini dari pada harus berdua - duaan didalam kamar bersama suaminya itu.
...💓💓💓💓...
__ADS_1
"Bang Dafri... Bisa bicara sebentar?" tanya Dika saat melihat abangnya itu baru keluar dari kamarnya.
"Bicara apa? Oya, kamu lihat kakak ipar kamu gak?" tanya Dafri. Karena setelah pulang dari rumah sakit tadi, ia langsung tertidur. Memang ia melihat Chayra keluar tapi karena ia sangat mengantuk, Dafri tidak begitu menghiraukan Chayra yang entah kemana.
"Ngak lihat, memang gak ada di kamar ya bang?" tanya Dika.
"Kalau ada dikamar gak mungkin abang bertanya sama kamu, Dika." ketus Dafri. Dan Dika hanya cengar - cengir saja.
"Oya, kamu mau bicara apa tadi?" lanjut Dafri lagi dengan bertanya.
"Bicara serius ini bang, ini tentang Mama.." kata Dika setengah berbisik.
"Kenapa dengan Mama?" Dafri bertanya dengan penasaran. Dika terlihat celingak celinguk melihat kesekeliling mereka, ia seakan takut jika ada yang datang tiba - tiba dan mendengar pembicaraan mereka.
"Bang, sebenarnya sudah lama aku mau mengatakan ini ke bang Dafri. Cuman, belum menemukan waktu yang pas aja." kata Dika memulai pembicaraan dengan suara yang pelan.
"Iya, katakanlah Dika. Jangan berbasa - basi lagi." kata Dafri dengan tidak sabaran.
"Sebenarnya waktu itu, aku ngak sengaja mendengar Mama telponan dengan seseorang sebelum jatuh pingsan." kata Dika lalu berhenti sesaat untuk menarik nafas.
"Kak Clarissa." jawab Dika dengan pelan.
"Apa yang mereka bicarakan?" tanya Dafri dengan gusar.
Dika berhenti sejenak, ia seperti sedang menimbang - nimbang lagi ketika melihat ekspresi abangnya yang semakin penasaran tatkala nama Clarissa disebutnya. Tapi, Dikapun sadar bahwa hal ini harus secepatnya ia katakan sebelum semuanya terlambat. Abangnya juga harus tahu masalah ini. Masalah yang menjadi pemicu Mama mereka terkena serangan jantung saat itu.
...💜💜💜💜...
"Clarissa.. Kamu mau kemana?" tanya Siska saat melihat anaknya itu sedang bersiap - siap, seperti akan pergi keluar.
"Clarissa mau kerumah Dafri, Ma." jawab Clarissa dengan masih sibuk merias wajahnya yang cantik itu.
"Kamu pergi dengan siapa?" tanya Siska lagi
__ADS_1
"Sendiri saja Ma." sahut Clarissa.
"Emang kamu sudah bisa bawa mobil Sendiri? Kamu kan belum sembuh betul Clarissa. Atau kalau tidak biar Mama yang menemani kamu kesana." kata Siska dengan menawarkan diri untuk mengantarkan Clarissa. Namun, Clarissa malah menolaknya.
"Kenapa kamu gak nyuruh Dafri saja yang datang kesini, sayang?" tanya Siska lagi seakan tidak rela membiarkan anaknya itu untuk pergi.
"Ya gak apa - apa, Ma. Biar saja Clarissa yang kesana." jawab Clarissa. Dan akhirnya, dengan berat hati Siskapun membiarkan Clarissa untuk pergi.
Beberapa saat kemudian, Clarissa kini sudah berada dijalan dengan mengendarai mobil. Jarak rumah dia dan Dafri memang tidak begitu jauh, masih berada didalam lingkungan komplek yang sama cuman beda blok saja. Namun, saat Clarisa sudah memasuki blok rumah Dafri, Ia melihat seorang wanita yang ia kenal sedang berjalan dipinggir trotoar. Clarissa langsung memberhentikan mobilnya tepat disebelah wanita tersebut. Ia lalu turun dari mobil dengan buru - buru.
"Chayra....!!" jerit Clarissa setelah yakin dengan apa yang ia lihat. Wanita itu memang Chayra.
Sama seperti Clarissa, Chayra juga tidak kalah kagetnya saat namanya dipanggil oleh Clarissa.
"Clarissa..?" lirih Chayra dengan wajah yang sedikit cemas.
"Kamu.. Kenapa kok ada disini?" tanya Clarissa dengan menatap tajam kearah Chayra.
Chayra tidak langsung menjawab pertanyaan dari Clarissa tersebut, karena memang Dafri belum memberitahu Clarissa bahwa lelaki itu sudah membawa Chayra pulang kembali kerumah Dafri. Jadi wajar saja Clarissa kaget dan bertanya - tanya kenapa dia ada disini.
"Aku benar - benar gak nyangka, Chayra. Kamu sudah berani mengkhianati kepercayaan aku ke kamu. Kamu balik kesini lagi untuk menemui Dafri bukan? Mencari perhatiannya dan mengemis cinta dari nya kan?" tuduh Clarissa asal - asalan. Chayra langsung menggeleng - gelengkan kepalanya mendengar tuduhan dari Clarissa tersebut.
"Ngak, Clarissa..!! Aku gak pernah mau balik lagi kesini, Tapi.. Dafrilah yang telah memaksa aku, Clarissa." kata Chayra dengan membela dirinya.
"BOHONG...!!!" Bentak Clarissa dengan mata yang melotot marah.
"Chayra, kenapa kamu begitu tega menghasut Dafri ha? Kamu sudah membuat Dafri berubah, Apa yang kamu lakukan, Chayra? Apa yang kamu katakan ke Dafri sehingga hatinya bisa berubah dan berpaling ke kamu? APA CHAYRA?" tanya Clarissa dengan meninggikan nada suaranya.
Lalu bersamaan dengan itu pula, sebuah mobil berhenti juga tepat didepan mobil Clarissa. Dan kemudian, Seorang lelaki tampan keluar dari mobil tersebut..
...💓💓💓💓...
BERSAMBUNG...
__ADS_1
.
.