Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
Eps 40 // MELEPASKAN


__ADS_3

"Kenapa kamu, Sayang? Kepala kamu.. Sakit lagi ya?" tanya Siska dengan panik ketika ia baru sampai di rumah sakit, dan saat itu pula ia melihat wajah Clarissa yang meringis seperti menahan rasa sakit.


"Kali ini bukan kepala aku yang sakit, Ma. Tapi, hati aku." jawab Clarissa setengah menjerit.


"Kenapa? Emang ada apa, Clarissa? Apa yang terjadi?" tanya Siska bertubi - tubi. Saat itu ia sudah berada di sebelah anaknya dengan tatapan bingung juga penasaran.


"Dafri... Dafri mencintai wanita itu, Ma." kata Clarissa dan setelah itu tangis Clarissa pun pecah di pelukan Mamanya.


"Apa? Mencintai siapa maksud kamu, Sayang?" tanya Siska.


"Istrinya itu, Ma. Chayra!!" jawab Clarissa yang sudah menangis terisak - isak. Siska langsung ternganga kaget dengan mata yang melotot.


"Wanita kampungan yang dijodohkan Dina? Dafri mencintai wanita itu.." desis Siska seakan tidak percaya. Clarissa hanya menganggukkan kepalanya dengan terus menangis.


"Gak mungkin Clarissa. Kamu pasti salah, kamu jangan berpikiran seperti itu cuman karena gara - gara Dafri yang pergi menemui wanita itu kerumah orang tuanya. Gak Clarissa.. Pasti itu cuman prasangka kamu saja," elak Siska dengan menyanggah perkataan Clarissa barusan.


"Ini bukan hanya prasangkaan Clarissa semata, Ma. Tapi, Dafri sendiri yang telah mengakuinya. Dafri dengan lantang mengatakan bahwa ia sudah mulai mencintai Chayra. Makanya, sampai saat ini dia gak mau menceraikan wanita itu." jelas Clarissa yang kali ini dengan nafas yang memburu.


"Lalu, mana sekarang Dafri itu? Mama mau bicara dengan dia." kata Siska dengan gusar.


"Dafri sudah pulang, Ma." lirih Clarissa seraya menghapus sisa - sisa butiran air mata yang menempel di pipinya.


"Ya sudah, Clarissa. Kamu tenangkan diri kamu dulu ya? Keadaan kamu baru saja mulai membaik sayang, kata dokter pun besok kamu sudah boleh pulang. Kamu yang sabar ya, bagaimana pun Mama akan mencari cara agar Dafri segera menceraikan istrinya itu dan menikah sama kamu. Ya?" bujuk Siska dengan mengelus - elus rambutnya Clarissa.


Clarissa hanya mengangguk - anggukkan kepalanya, kendatipun demikian tetap saja rasa sakit dihatinya ini sudah terlampau dalam ia rasakan. Bagaimana mungkin hubungan mereka yang sudah lama terjalin bisa hancur begitu saja karena kehadiran Chayra yang baru satu bulan ini dinikahi oleh Dafri? Clarissa merasa tidak masuk akal Dafri bisa mencintai wanita lain dengan begitu cepat. Padahal Dafri sudah berjanji akan selalu setia dengan dirinya, tapi apa sekarang? Dengan seenaknya dia mengatakan bahwa telah mencintai wanita itu. Clarissa benar - benar tidak bisa menerima ini semua.


Rasa sakit dikepalanya kemarin itu tidak sebanding dengan rasa sakit dan ketidakrelaan dihatinya saat ini. Ia merasa telah dikhianati, dibohongi dan diduakan oleh Dafri.


"Apa salah aku, Daf? Sampai kamu tega berkhianat seperti ini?" batin Clarissa yang berteriak - teriak seakan tidak bisa menerima kenyataan yang telah jelas di matanya.


Sedangkan Siska, hanya bisa menatap Clarissa dengan rasa iba. Padahal.. Baru saja Clarissa mulai menemui kebahagiaannya kembali dengan Dafri, setelah Mama Dafri yang begitu menentang hubungan mereka, meninggal dunia.

__ADS_1


Tapi, kini.. Cobaan malah datang kembali ke Clarissa. Dia harus bisa menerima lelaki yang dicintainya itu malah terjebak dengan rasa cinta terhadap wanita lain. Siska bisa merasakan kesedihan dan kepedihan yang menimpa Clarissa. Dan ia seakan tidak sanggup melihat anak satunya - satunya tersebur menderita seperti itu.


"Ini semua gara - gara wanita kampung itu. Pasti dia yang telah menggoda Dafri sehingga menjadi cinta dengan dirinya." ucap Siska dengan geram didalam hatinya.


"Aku harus kasih pelajaran ke dia." lanjut Siska lagi yang masih mendumel didalam hatinya. Dan Sesaat kemudian, Sebuah rencana jahat sudah mulai tersusun rapi di pikirannya untuk memusnahkan Chayra.


...๐Ÿงก๐Ÿงก๐Ÿงก๐Ÿงก...


Dafri membuka pintu kamarnya perlahan - lahan, matanya langsung menyelusuri kamarnya yang tampak kosong.


"Mana Chayra?" tanya Dafri dan kemudian langsung melihat kedalam lemari pakaian. Ia memastikan apakah pakaian Chayra masih ada disana atau jangan - jangan, sudah tidak ada.. Dafri seakan trauma ditinggal pergi lagi oleh Chayra.


"Syukurlah masih ada." ucap Dafri dengan perasaan lega setelah melihat baju Chayra masih ada didalam lemari. Tapi, kemana istrinya itu? Dafri kemudian mengambil handphonenya untuk menghubungi Chayra, namun belum sempat ia menelpon, tiba - tiba saja Chayra keluar dari kamar mandi.


"Oh.. Chayra, syukurlah.. Aku pikir kamu...."


"Kabur lagi?" potong Chayra langsung seraya tersenyum tipis. Chayra kemudian berjalan kearah sofa dan duduk disana. Dafripun mengikuti Chayra.


"Bagaimana keadaan Clarissa?" tanya Chayra tanpa menanggapi kekhawatiran Dafri itu.


"Alhamdulillah, keadaan Clarissa sudah mulai membaik dan besok juga sudah dibolehkan pulang." jelas Dafri.


"Syukurlah.." kata Chayra.


"Terus.. Apa Clarissa tahu aku datang lagi kesini?" tanya Chayra seraya menoleh kesampingnya, dan ia pun melihat jelas Dafri yang tiba - tiba jadi salah tingkah ditanya begitu.


"Clarissa belum tahu kamu ada disini, Chayra." kata Dafri akhirnya.


"Ya... Memang seharusnya Clarissa tidak boleh tahu aku ada disini. Pasti itu akan malah mengganggu kesehatannya, dan Karena itulah.. Aku mohon kamu izinkan aku untuk pulang lagi ke rumah orang tua aku sebelum Clarissa keluar dari rumah sakit, Dafri." pinta Chayra dengan memohon.


"Tidak Chayra!!" tolak Dafri langsung dengan tegas.

__ADS_1


"Aku sudah bersusah payah menjemput dan membawa kamu kembali kerumah ini, Tapi.. Kenapa kamu malah minta pulang lagi? Tolonglah hargai usaha aku ini, Chayra. Hargai keputusan aku untuk tetap mempertahankan pernikahan kita." kata Dafri dengan memohon juga.


"Lalu bagaimana dengan Clarissa, Dafri??" tanya Chayra yang seakan tidak puas dengan jawaban Dafri. Ditanya seperti itu, membuat Dafti terdiam dengan cukup lama. Dafri juga teringat akan pengakuannya kepada Clarissa tadi, pengakuan yang sudah dapat dipastikan telah menyakiti hati dan perasaan Clarissa.


Tapi, meskipun Dafri tahu konsekuensi yang akan dia terima dengan pengakuannya itu tetap tidak membuatnya serta merta menyembunyikan apa yang ia rasakan saat ini. Dafri akui entah kenapa hatinya memang lebih condong ke Chayra saat ini, walaupun ia masih sangat menyayangi Clarissa. Dafri pun sadar bahwa ada dua hati yang sudah tersakiti oleh dirinya. Tapi. Dafri bisa apa sedangkan dirinya sendiri masih saja dilanda kebingungan dengan hatinya itu. Hati manusia yang ada didalam genggamanNya, yang mudah sekali berbolak - balik.


"Dafri.. Kenapa kamu gak melepaskan aku saja, dan kembali ke Clarissa?" tanya Chayra yang lagi - lagi membahas hal itu.


"Ngak bisa Chayra, mau berapa kalipun kamu menyuruh aku untuk melepaskan kamu. Aku gak bisa." kata Dafri.


"Jadi, sekarang apa? Kamu tetap mempertahankan kami berdua?" tanya Chayra dengan gusar. Dafri langsung memandang Chayra dengan tatapan curiga.


"Kamu mau aku meninggalkan Clarissa ya?" tanya Dafri tiba - tiba sehingga membuat Chayra langsung tersentak kaget.


"Aku gak berkata begitu, Dafri..!!" sanggah Chayra langsung dengan menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Jika seandainya aku meninggalkan Clarissa, apakah kamu mau tetap bersama aku Chayra dan tidak memaksa aku untuk meninggalkan kamu kan?" tanya Dafri lagi dengan menatap erat wajah wanita itu.


"Dafri, sekali lagi aku tegaskan ke kamu ya.. Aku gak pernah menyuruh kamu untuk meninggalkan Clarissa, malah sebaliknya.. Aku berharap kamu hidup bahagia dengan Clarissa, tanpa ada aku sebagai orang ketiga didalam pernikahan kalian nantinya. Makanya, Dafrii.. Aku mohon kamu lepaskan sajalah aku.." pinta Chayra lagi masih dengan memohon.


"Kalau aku gak mau?" kata Dafri masih tetap mempertahankan egonya itu.


"Kalau begitu, kamu harus memilih salah satunya. Jangan egois!!" kata Chayra dan kali ini agak meninggikan nada suaranya.


"Ya.. Emang egois Chayra. Kamu benar.." kata Dafri lalu tertawa kecil sehingga membuat Chayra semakin heran dengan tingkah laki lelaki itu.


"Oke. Aku akan terima saran dari kamu itu, Chayra. Tapi, beri aku waktu untuk menentukan pilihan aku." putus Dafri akhirnya lalu berjalan menuju kekamar mandi. Sedangkan Chayra hanya bisa terdiam dan terpana ditempatnya...


...๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2