
"Chayra, Clarissa masuk rumah sakit. Dan mau tidak mau, Aku harus berangkat sore ini juga.." kata Dafri sesaat setelah mengakhiri telepon dari Mamanya Clarissa yang mengabari bahwa Clarissa dirawat dirumah sakit.
"Clarissa sakit apa emangnya, Dafri?" tanya Chayra dengan rasa khawatir.
"Belum jelas secara detil Clarissa sakit apa, Tante Siska cuman bilang Clarissa tiba - tiba pingsan semalam dan karena kondisi badannya yang tidak stabil makanya dirawat." jelas Dafri dengan wajah yang sedih.
"Mungkin saja, sakitnya Clarissa yang mendadak ini ada hubungannya dengan aku." ujar Dafri dengan tertunduk lesu.
"Hah? Memang apa yang sudah kamu perbuat ke Chayra, Dafri?" tanya Chayra dengan penasaran dan juga rasa curiga.
"Ya..Karena semenjak kemarin aku gak menjawab telepon dari dia dan juga tidak membalas chat dari dia. Aku sengaja tidak mengabari dia gimana - gimananha aku disini." ungkap Dafri dengan wajah bersalah.
"Apa? Dafri, kamu kok tega sih berbuat seperti itu sama Clarissa?" tanya Chayra dengan wajah protesnya. Bagaimanapun dia tidak suka Dafri malah seakan tidak mempedulikan Clarissa seperti itu.
"Ya bukan apa - apa, Chayra. Aku cuman ingin memberi sedikit pelajaran saja ke dia agar dia tidak memperlakukan orang lain dengan semena - mena, apalagi orang lain itu kamu." kata Dafri dengan beralasan.
"Aku? Memang apa yang telah diperbuat Clarissa ke aku? Ada pun itu, mungkin memang sepantasnya dan seharusnya aku menerima perlakuan itu. Tidak ada yang salah menurut aku, Dafri. Clarissa sudah melakukan hal yang benar dengan menyuruh aku pergi dari kehidupan kalian. Agar kalian bisa menjutkan pernikahan kalian sebagaimana mestinya." sanggah Chayra dengan membela Clarissa.
"Chayra, aku sedang tidak ingin berdebat sama kamu ya. Lebih baik sekarang kita pulang kerumah kamu dan setelah itu, kamu kemasi kembali baju - baju kamu. Kita akan berangkat sore ini juga." perintah Dafri sehingga membuat Chayra langsung melongo.
"Kenapa aku harus ikut kamu, Dafri?" protes Chayra dengan pandangan bingung.
"Karena kamu masih istri sah aku, dan sebagai istri yang baik dan shaliha harus nurut ke suaminya. Sudah ya, jangan tanya - tanya lagi." kata Dafri lalu menarik tangan Chayra keluar dari warung tersebut.
__ADS_1
"Tapi, Dafri.. Bagaimana dengan kerja aku? Ini adalah hari pertama aku kembali bekerja Di puskesmas ini, masak aku harus izin?" kata Chayra memberi alasan agar Dafri tidak memaksanya untuk ikut.
"Memangnya Siapa yang mengizinkan kamu bekerja, Chayra? Aku gak mau kamu kerja, karena aku masih bisa mencukupi semua kebutuhan kamu bahkan keluarga kamu. Dan mengenai sisa hutang yang belum dibayarkan Mama, kemarin sudah aku titipkan uangnya ke Arman. Jadi kamu gak usah risau lagi memikirkan utang - utang itu." jelas Dafri sambil mereka berjalan menuju keseberang jalan sana.
"Apaa..?? Tapi, Dafri..." Chayra masih ingin mengucapkan kata - kata untuk menolak ajakan Dafri yang terkesan sangat memaksa itu. Namun, belum sempat Chayra mengeluarkan kata - katanya, Dafripun malah duluan berujar.
"Aku mohon, Chayra. Ikutlah dengan aku, dan jangan menolak lagi..!! Pliss.. Aku benar - benar mintak tolong ke kamu, menurutlah.. Iya? Oke?" ujar Dafri seraya memohon dan dengan wajah yang memelas. Melihat Dafri yang memohon seperti itu, Chayrapun akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki suaminya tersebut menuju kerumah orang tuanya Chayra..
...💦💦💦💦...
Akhirnya Chayra ikut berangkat juga bersama Dafri, dan dengan atas izin orang tua Chayra juga tentunya. Sebenarnya Orang tua Chayrapun tidak bisa banyak berkomentar ataupun melarang Chayra untuk ikut bersama Dafri. Selain karena Dafri masih suaminya Chayra yang memilki hak penuh atas diri anaknya itu, ditambah lagi Dafri juga sudah melunasi sisa utang orang tua Chayra yang ia titipkan uangnya ke Arman. Jadi, Ayah dan Ibu Chayra hanya bisa pasrah namun tetap berharap yang terbaik untuk Chayra dan juga pernikahannya dengan Dafri.
Saat diperjalanan dan didalam kapal, Chayra lebih banyak diam dan memilih untuk mengarahkan wajahnya ke jendela sebelah kirinya ditimbang melihat Dafri yang sejak tadi selalu mencuri - curi pandang untuk sekedar melirik Chayra.
"Hhmm..." gumam Chayra dengan malas - malasan.
Didalam hati sebenarnya Chayra tidak berhenti memarahi dirinya sendiri karena tidak mampu menolak ajakan Dafri untuk kembali kerumah lelaki itu. Seharusnya ia tidak berada disini, dengan kembalinya ia kerumah itu sama saja Chayra telah mempasrahkan dirinya untuk merasakan sakit hati lagi. Ya.. Bagaimana tidak? Sebentar lagi Dia akan menyaksikan suaminya itu langsung menemui Clarissa, wanita yang duluan dicintainya. Meskipun Dafri juga sudah mengatakan cinta kepada Chayra, Tapi.. tetap saja Chayra merasa cinta Dafri kedirinya tidak sebanding dengan rasa cintanya kepada Clarissa. Jika mengingat itu, mampu membuat hati Chayra bergumuruh hebat.
"Chayra, terimakasih ya sudah mau ikut aku pulang kerumah.." ucap Dafri seraya tersenyum manis dan terlihat sangat tulus sekali. Namun, Chayra tidak serta merta membalas senyuman Dafri tersebut.
"Ya...Aku tahu kamu pasti masih bingung dengan situasi kita saat ini. Tapi, biarlah seperti ini dulu ya?" lanjut Dafri lagi. Chayra tersenyum kecut. Apa maksud Dafri dengan mengatakan itu? Chayra hanya bisa bertanya - tanya didalam hati nya tanpa bermaksud mengutarakannya secara langsung. Karena Chayra seakan malas untuk kembali berdebat panjang jika dirinya banyak bertanya kepada suaminya itu.
Setelah 4 jam di kapal, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan. Mereka kini sudah berjalan menuju ke parkiran dan ternyata disana sudah ada adik Dafri yang menjemputnya. Melihat abangnya datang bersama Chayra membuat Dika langsung tersenyum lebar seperti sangat bahagia sekali. Karena sejak awal Dika memang lebih senang melihat Dafri dengan Chayra ditimbang dengan Clarissa.
__ADS_1
"Kak Chayra pulang kerumah orang tua kakak kok gak kasih tahu kami kak?" celetuk Dika saat mereka sudah dalam perjalanan pulang. Ditanya seperti itu, membuat Chayra langsung gelagapan. Ia melihat kearah Dafri sejenak, meminta Dafri untuk menjawabnya.
"Sudahlah.. Jangan banyak tanya kamu, Dika, kamu fokus nyetir saja sana." perintah Dafri tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Dika.
"Pasti bang Dafri nih yang bikin kak Chayra kabur dari rumah." tebak Dika yang langsung diprotes oleh Dafri dengan memukul pundak adiknya itu dari belakang.
"Aduuh.. Sakit," rintih Dika.
"Bercanda kok bang, Jangan dibawa serius kali." lanjut Dika lagi seraya memegang bahunya yang dipukul oleh abangnya itu.
Beberapa saat kemudian, Merekapun sampai di rumah. Dafri kemudian mengeluarkan koper Chayra dari bagasi mobil dan setelah itu membawanya masuk kedalam hingga sampai didepan pintu kamar mereka. Namun, langkah kaki Chayra seakan melambat saat sudah berada diambang pintu kamar. Ia seakan ragu untuk masuk. Hal itu karena sekelebit bayangan saat kebersamaan mereka malam itu seakan muncul lagi dihadapannya. Chayra sungguh merasakan malu juga canggung.
"Kenapa, Chayra?" tanya Dafri karena melihat Chayra malah berhenti didepan pintu.
"Masuklah Chayra, kamu istirahat saja malam ini dikamar ya. Gak apa kan kamu sendirian malam ini? Aku.. Aku mau kerumah sakit menemui Clarissa. Gak apa kan Chayra???" tanya Dafri dengan suara yang lembut. Meskipun dengan kata yang lembut namun bagi Chayra tetap terdengar menyakitkan ditelinganya...
...💓💓💓💓...
BERSAMBUNG...
"Tetap ikuti terus kisah Chayra dan Dafri ya , semoga tidak bosan dengan alurnya. Dan Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberi like dan koment ya, terimakasih sudah membaca.."
.
__ADS_1