Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
Eps 30 // TELAH DIRESTUI


__ADS_3

Setelah pembicaraan singkat antara Dafri dengan Papanya tadi itu, Dafripun kembali masuk kekamarnya dengan hati dan perasaan yang masih tidak tenang.


Dafri tidak habis pikir mengapa Papanya malah mendukung Chayra untuk pergi dari rumah ini dan malahan Ia menyuruh Dafri untuk menceraikan Chayra. Memang Dafri tidak banyak berkomentar ataupun menyanggah semua yang disuruh Papanya. Ia hanya menyimak saja tapi tidak juga langsung mengiyakannya.


"Selama ini Papa tahu Dafri jika kamu masih sangat mencintai Clarissa, kamu terpaksa menikahi Chayra atas desakan Mama kamu dan kamu pun menerimanya karena tidak mau membuat kesehatan Mama kamy terganggu bukan? Papa tahu semua itu, Dafri." ujar Argantara.


"Dan sekarang, setelah Mama meninggal... Papa kembalikan lagi ke kamu Dafri, karena Papa tidak pernah menuntut kamu harus bagaimana - bagaimana, apalagi itu terkait dalam memilih pasangan hidup. Jika cinta kamu hanya untuk Clarissa, ya sudah.. Kamu menikah dengan Clarissa dan ceraikan Chayra." perintah Argantara saat itu.


"Papa mengerti jika kamu mungkin tidak sampai hati menceraikan Chayra tiba - tiba tanpa ada sesuatu. Pasti kamu memikirkan perasaannya juga kan?" lanjut Argantara lagi dan Dafri langsung menganggukkan kepalanya.


"Cuman, satu hal yang harus kamu ketahui Dafri bahwa Chayra sama halnya dengan kamu juga. Ia terpaksa menerima perjodohan ini karena desakan dari Mamanya. Mama Chayra punya utang yang lumayan banyak dengan Mama kamu, makanya untuk menebus hutang - hutang itu, Mama kamu menyuruh Chayra menikah dengan kamu, Dafri. Entah mungkin dia juga sudah ada kekasihnya sebelumnya atau tidak, kita kan tidak tahu? Kalau pun ada, pasti dia ingin juga berpisah secepatnya dari kamu dan kembali lagi dengan kekasihnya itu." jelas Argantara panjang lebar. Dan penjelasan dari Argantara barusan itu, membuat Dafri sedikit tersentak.


Ternyata ada banyak hal yang Dafri tidak ketahui tentang Chayra, bukan karena apa.. Dafri sendiri yang tidak pernah cari tahu dengan bertanya kepadanya secara langsung. Itulah salah satu bukti jika Dafri begitu cuek terhadap Chayra. Tapi, saat Chayra sudah pergi darinya, barulah ia seakan menyesal. Waktu disaat ia masih bersama Chayra tidak di gunakan sebaik mungkin untuk mengenal wanita itu lebih dalam. Dan Papanya juga sempat menyinggung mengenai kemungkinan Chayra yang telah memiliki kekasih juga. Membayangkan jika kemungkinan itu benar, malah membuat ketidakrelaan di hati Dafri.


Dafri kini sudah membaringkan badannya diatas ranjang kamarnya, ia bermaksud untuk merehatkan sejenak badan dan pikirannya yang begitu lelah dengan tidur. Namun, saat matanya mulai terpejam, wajah Chayra kembali menari - nari dipelupuk matanya. Dafri langsung terduduk dengan menghela nafas panjang. Ia pandangi sekeliling kamarnya yang telah menjadi saksi bisu akan kebersamaannya dengan Chayra. Meskipun belum genap satu bulan ia tinggal bersama Chayra disini, namun sudah cukup membuat ia merasakan kehilangan sosok Chayra. Dan tidak bisa dipungkiri lagi, Bahwa Hati Dafri benar - benar sudah terpaut kepada Chayra.


Tapi, Apa lagi yang harus ia perbuat? Selain memendam perasaan ini, walaupun Dafri tidak yakin dirinya mampu untuk melakukan itu. Beberapa saat kemudian, Dafri mencoba lagi untuk memejamkan matanya, dan tidak lama kemudian diapun tertidur dengan membawa Chayra didalam mimpinya.


...๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™...

__ADS_1


Dua hari sudah berlalu setelah Chayra pergi meninggalkan rumah Dafri, tanpa kabar dan tanpa pesan. Ia benar - benar menghilang dari kehidupan Dafri. Dan selama itu pula, Dafri masih merasakan kegalauan yang teramat dalam. Ingin rasanya ia menyusul Chayra kerumah orang tuanya yang berada dikota lain. Tapi, diurungkannya niat tersebut karena ia masih ingin menjaga perasaan Clarissa. Tentu saja Clarissa dan juga Papanya pasti akan melarang Dafri jika ia tetap nekat pergi menyusul kesana.


Seperti malam itu, Clarissa mengajak Dafri untuk makan malam diluar. Namun, setelah sampai ditempat tujuan, Dafri tampak tidak semangat. Ia terkesan lebih pendiam belakangan ini, tidak banyak bicara dan malahan Dafri lebih sering melamun. Clarissa yang menyadari perubahan kekasihnya itu langsung saja bertanya.


"Dafri, kenapa? Kamu lagi gak enak badan ya? Atau.. Ada masalah ya?" tanya Clarissa seraya menyentuh lembut tangan Dafri.


"Tidak, Aku tidak kenapa - napa kok, Clarissa." sahut Dafri lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang agak terpaksa ia berikan kepada Clarissa.


"Jangan bohong, Daf..!! Kamu kalau bohong kelihatan lo dari wajah kamu." kecam Clarissa dengan menatap tajam kearah Dafri. Ditatap seperti itu, tidak lagi membuat Dafri terus - terusan mengelak dengan berpura - pura mengatakan bahwa ia baik - baik saja. Namun, Dafri memilih untuk diam.


"Perubahan sikap kamu ini, apakah ada hubungannya dengan Chayra?" selidik Clarissa dengan rasa curiga.


"Okey, aku gak akan bahas tentang Chayra. Hhhmmm... Bagaimana jika kita membahas tentang pernikahan kita saja Dafri? Kapan kamu akan kerumah untuk menemui Mama Aku?" tanya Clarissa dengan penuh harap.


"Emangnya Mama kamu masih mau menerima aku?" tanya Dafri dengan kurang yakin.


"Tenang saja Dafri sayang... Jauh - jauh hari aku sudah membicarakan ini semua ke Mama, dan syukurlah Mama bisa memakluminya dan menerima kamu dengan senang hati. Malahan Mama gak sabar menunggu kedatangan kamu kerumah untuk melamar aku." kata Clarissa dengan antusias.


"Oya? Benar begitu?" tanya Dafri dengan rasa ragu dihatinya. Padahal terakhir kali ia bertemu dengan Mama Clarissa, ia bisa menilai bagaimana Mama Clarissa yang bersikap jutek terhadapnya.

__ADS_1


"Iya, Dafri.. Percayalah sama aku, Mama sudah gak marah lagi sama kamu. Hubungan kita sudah direstui, kita akan benar - benar menikah sayang. Pernikahan yang akan kita publikasikan ke orang - orang, bukan pernikahan diam - diam seperti saat ini." ujar Chayra dengan mata yang berbinar - binar. Tergambar jelas kebahagiaan tiada tara dari wajah cantiknya itu.


"Dafri.. Kamu kok diam saja? Kamu bahagia juga kan seperti yang aku rasakan saat ini? Iya kan Sayang?" tanya Clarissa dengan memegang kedua tangan Dafri.


"I-Iya, Clarissa. Aku bahagia juga." jawab Dafri yang berusaha menampilkan senyuman yang seikhlas mungkin. Padahal, apa yang tampak dari luar tidak selaras dengan cerminan didalam hatinya saat ini.


"Syukurlah, Jadi.. Kapan kamu akan kerumah, Daf?" tanya Clarissa lagi yang seakan tidak sabar Dafri segera datang kerumahnya.


"Hhhmm..." Dafri tampak bergumam dan berpikir keras.


"Malam besok bagaimana?" tanya Clarissa lagi.


"Yah.. Oke, Boleh.." jawab Dafri akhirnya yang lagi - lagi hanya bisa pasrah mengikuti kemauan istri sirinya itu.


Clarissa langsung melonjak kegirangan, senyuman lebar sudah mengembang di bibirnya, tidak ada yang lebih membuat ia senang saat ini selain drinya yang telah berhasil memiliki Dafri seutuhnya. Hanya untuk nya, tanpa ada lagi orang ketiga...


...๐Ÿงก๐Ÿงก๐Ÿงก๐Ÿงก...


BERSAMBUNG....

__ADS_1


.


__ADS_2