
Dafri belum mendapatkan kepastian apa - apa baik dari orang tua Chayra maupun Chayra sendiri. Meskipun keluarga Chayra telah memaafkan atas kebohongan dirinya. Tapi, untuk membuat Chayra kembali lagi pulang bersamanya belum bisa terlaksana dengan mudah.
Dafri masih berada dikota tempat Chayra tinggal. Ia menginap dipenginapan dalam 2 hari kedepan, sebelumnya ia sudah minta izin kepada pimpinan Rumah sakit tempat ia bekerja. Untung saja Ia memperoleh izin tersebut.
Dafri menginap dipenginapan yang tidak jauh dari rumah Chayra, dengan begitu ia bisa lebih leluasa memantau istrinya. Seperti pagi itu, Dafri melihat Chayra dari kejauhan yang baru saja keluar dari rumahnya bersama Arman. Chayra dan Arman naik keatas motor dan detik kemudian meluncur menjauh dari rumah mereka. Melihat kepergian Chayra, Dafri langsung memanggil tukang ojek yang kebetulan mangkal disana dan menyuruh untuk mengikuti motor Chayra bersama dirinya.
Setelah 10 menit kemudian, Motor Yang dikendarai Arman berhenti disebuah Puskesmas. Dafri pun juga berhenti agak jauh dari mereka. Setelah Chayra turun, Arman pun pamit dan pergi meninggalkan Chayra di puskesmas tersebut.
Perasaan Dafri malah tidak enak melihat Chayra berhenti dipuskesmas. Apakah dia sakit? Maka Dafripun bergegas menghampiri wanita itu.
"Chayra..." panggil Dafri dengan berlari kecil sebelum Chayra masuk kedalam Puskesmas. Mendengar namanya dipanggil, sontak saja membuat Chayra langsung menoleh dan betapa kaget dirinya saat melihat orang yang memanggilnya itu adalah Dafri.
"Dafri...?? Kamu.. Kok masih ada disini?" tanya Chayra seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Padahal Chayra sudah beranggapan Dafri langsung kembali pulang kerumahnya setelah dirinya dan orang tuanya menolak untuk kembali kesana.
"Iya, aku memang masih disini. Aku Gak akan pulang tanpa kamu, Chayra." kata Dafri. Chayra langsung mendengus kesal melihat kekerasan hati suaminya itu.
"Kamu.. Ngapain ada disini? Kamu sakit ya? Mau berobat?" tanya Dafri dengan cemas.
"Ngak, Dafri.. Aku disini mau kerja." jawab Chayra dengan ketus.
"Kerja..? Kerja sebagai apa Chayra?" tanya Dafri dengan bingung.
"Itulah kamu Dafri, yang gak pernah cari tahu tentang aku. Tentang apa profesi aku jauh sebelum aku menikah sama kamu. Tapi, ya.. Wajar sih.. untuk Apa juga kamu harus cari tahu, aku kan bukan siapa - siapa saat itu." kata Chayra dengan menyindir Dafri.
"Chayra, aku minta maaf karena tidak peka dan peduli dengan kehidupan kamu saat itu, tapi sekarang sudah beda Chayra. Jika aku tidak peduli, tidak mungkin aku mau repot - repot mengikuti kamu sampai kesini. Dan akupun rela menginap di penginapan dekat rumah kamu demi untuk dapat bertemu kamu lagi." kata Dafri dengan kesungguhan hatinya.
Lagi - lagi Chayra hanya bisa menghela nafas panjang. Dia diam, tidak tahu harus berkata apa lagi. Sekarang.. keadaan seakan berbalik, Dafri sudah membuat sebuah pengakuan ke orang tuanya saat itu bahwa ia telah merasa nyaman dengan Chayra. Kenyamanan yang membuat dirinya tidak mau menceraikan Chayra.
Tapi, benar kata Ayahnya.. Nyaman saja tidak cukup membuat keadaan menjadi stabil. Karena ada dua hati manusia yang harus dijaga dan juga harus diperjuangkan.
__ADS_1
"Dafri, aku harus masuk sekarang." kata Chayra akhirnya bermaksud untuk undur diri.
"Jam berapa kamu selesai kerjanya? Aku akan kesini lagi menemui kamu."
"Untuk apa?" tanya Chayra dengan gusar.
"Ada banyak hal yang harus kita bahas, Chayra." kata Dafri. Dan Chayra terpaksa memberitahu jam berapa ia selesai kerjanya...
...💓💓💓💓...
Tepat jam 2 siang Chayra keluar dari Puskesmas. Dan seketika itu pula, Chayra melihat Dafri sudah menunggunya sambil duduk dibawah pohon rimbun yang ada didepan Puskesmas. Chayra langsung saja menghampiri Dafri.
"Chayra, sudah pulang ya?" tanya Dafri yang langsung berdiri setelah melihat Chayra dihadapannya.
"Sudah.. Jadi, sekarang mau bahas apa?" tanya Chayra masih terdengar ketus.
"Ngak mungkin kan kita membahasnya disini, Chayra sayang.." kata Dafri dengan lembut. Itu adalah kali pertamanya Dafri menyebut dirinya dengan kata Sayang. Tidak dipungkiri, hati Chayra tersentuh juga.
Setelah sampai dan memesan minuman, Dafri kemudian bersiap - siap akan membuka pembicaraan dengan sorot matanya yang tajam itu tidak lepas memandang Chayra dengan penuh arti.
"Chayra, aku menyayangimu dan bahkan.. Sudah mulai mencintai mu.." lirih Dafri tiba - tiba sehingga sontak saja membuat Chayra yang sedang minum langsung tersedak dan terbatuk - batuk.
"Kamu gak apa - apa, Chayra? Pelan - pelan donk minumnya, jangan buru - buru" kata Dafri dengan sedikit panik melihat Chayra yang tersedak seperti itu.
"Ini bukan masalah minum buru - buru atau gimana, masalahnya.. pernyataan kamu barusan itu yang membuat aku tersedak, Dafri...!!" ketus Chayra dengan gusar. Dan bukannya merasa bersalah, Dafri malah tersenyum dengan sangat manis. Melihat suaminya itu senyum - senyum sendiri, membuat Chayra semakin terheran - heran.
"Dafri, Sudahlah.. Aku gak suka dipermainkan seperti ini. Jangan buat aku merasa tambah bingung Dafri." ucap Chayra dengan nada memelas.
"Aku gak sedang mempermainkan kamu, Chayra. Aku serius dengan apa yang aku katakan." kata Dafri dan lagi - lagi matanya itu menatap Chayra tanpa berkedip.
__ADS_1
"Jangan lihat aku seperti itu, Dafri.." kata Chayra dan langsung menundukkan pandangannya.
"Kenapa gak boleh? Angkat wajahmu dan lihat kesini, Chayra. Padahal aku sedang mencari cinta juga dimata mu itu Chayra " kata Dafri setengah memaksa. Namun, Chayra sedikitpun tidak mengangkat wajahnya. Ia masih tetap menunduk. Sampai akhirnya, Dafri malah menyentuh lembut dagu Chayra dan mengarahkan wajah Chayra keatas. Dan dengan terpaksa, Chayra melihat juga kearah Dafri.
"Ternyata, aku benar.. Kamu juga mencintai ku kan Chayra?" ujar Dafri dengan sangat yakin.
"Aku gak pernah mengatakan itu, Dafri." Chayra langsung mengelaknya.
"Ngak perlu dikatakan, karena sudah terlihat jelas dari sorot matamu itu." kata Dafri lagi Lalu tertawa kecil. Sedangkan Chayra semakin kesal melihat tingkah Dafri yang kepedean itu.
"Sudah kan ngobrolnya? Boleh aku pulang sekarang?" tanya Chayra dan siap - siap akan pulang.
"Siapa bilang sudah selesai? Bahkan aku belum memulainya." kata Dafri datar. Chayra langsung melotot gusar.
"Aku serius Chayra, aku sudah membuat pengakuan tentang apa yang aku rasakan. Sekarang.. giliran kamu, aku mau mendengar juga dari mulutmu langsung Chayra." pinta Dafri setengah memohon. Chayra langsung menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin membuat pengakuan apapun." tegas Chayra.
"Kalau begitu, aku tunggu sampai kamu mengakuinya." kata Dafri lalu tersenyum tipis.
"Dafrii... Aku..." Chayra berhenti berucap saat mendengar deringan dari handphonenya Dafri, lelaki itu langsung mengangkat telpon dari seseorang.
"APA?? Clarissa masuk rumah sakit..??" teriak Dafri dengan wajah yang panik.
...💓💓💓💓...
BERSAMBUNG...
.
__ADS_1
.