
"Ahamduliah sayang, calon debay kita sehat.. Berkembang dengan baik dan sesuai dengan usia kehamilan kamu.." ucap Dafri dengan kebahagiaan tergambar diwajahnya.
Saat itu Dafri dan Chayra berada dirumah sakit, tepatnya diruang praktiknya Dafri. Seperti keinginan Dafri tadi pagi, ia ingin memeriksa dan melihat langsung janin yang ada didalam rahim Naisha. Janin yang merupakan buah cinta mereka yang dianugerahkan oleh Allah.
"MasyaAllah, Alhamdulilah... Syukurlah Dafri.. Aku senang mendengarnya." kata Naisha dengan penuh rasa syukur.
"Tapi, walau bagaimanapun di trimester pertama ini masih rentan sayang, jadi kamu harus istirahat yang cukup. Jangan kecapean dan banyak pikiran, Nantik aku resep kan kamu vitamin yang paling bagus dan juga obat penguat kandungan untuk kamu. Oke?" kata Dafri.
"Siap pak Dokter, Oke.." jawab Chayra dengan tersenyum lebar.
Setelah dari rumah sakit, Dafri mengajak Chayra makan diluar karena sudah lama juga mereka tidak jalan dan makan di luar. Mereka singgah di restoran yang lumayan terkenal dengan makanan yang enak - enak dikota itu.
Setelah sampai dan duduk didalam sana, pelayan langsung bergegas menghampiri mereka dan memberikan menu andalan yang ada di restoran tersebut. Chayra dan Dafri pun memesan makanan secara bergantian.
"Mual muntah kamu bagaimana sayang? Sudah berkurang?" tanya Dafri setelah mereka memesan makanan masing - masing.
"Mual muntahnya kadang masih ada sih, cuman lebih kuat dipagi hari. Ini aja aku agak ragu apakah aku bisa makan atau tidak, takutnya malah mual." kata Chayra lalu mengigit bibir bagian bawahnya.
"Hhhmm... Mudah - mudahan tidak ya sayang, tapi andai pun mual kamu makan sedikit - sedikit saja. .. Yang penting makan, karena kasihan dong debay kita, dia kan butuh nutrisi juga sayang. Jadi kamu harus sabar dan tahan ya kalau mual sedikit - sedikit, demi calon bayi kita , oke sayang ku?" tutur Dafri dengan lembut seraya memegang erat kedua tangannya Chayra.
"Iya, Dafri.. Demi bayi kita aku akan berjuang melawan rasa mual ini." kata Chayra dengan tersenyum lebar.
Beberapa menit kemudian, makanan pesanan mereka pun datang. Tanpa basa - basi lagi, mereka langsung menikmati makanan yang lezat tersebut. Dan untungnya Chayra tidak merasa mual, ia makan dengan lahap. Dafri senang melihat Chayra makan dengan berselera seperti itu, karena apa yang Chayra makan saat ini bukan hanya untuk dirinya saja tapi ada sosok janin yang juga membutuhkan nutrsi terbaik dari ibunya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, mereka istirahat sejenak disana karena mau langsung bergerak pun mereka seakan tidak sanggup karena merasa kekenyangan.
"Setelah ini, kita langsung pulang
atau jalan - jalan dulu, Dafri?" tanya Chayra. Dafri langsung melirik jam tangannya dan kemudian berujar, "Sudah hampir jam 10 malam ni sayang. Gak baik bumil pulang larut malam, lebih kita pulang saja ya, istirahat.. Besok kita sambung lagi jalan - jalannya."
Chayra langsung mengangguk menyetujui saran dari suaminya itu, maka akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Saat keluar dari restoran, Dafri berjalan disamping Chayra dan menggandeng tangan Chayra dengan erat. Chayra merasakan kasih sayang Dafri semakin besar dan dalam terhadapnya apalagi setelah tahu bahwa Chayra mengandung anaknya. Perhatian dan kepeduliannya semakin bertambah - tambah. Tentu saja Chayra merasa sangat bahagia, kebahagiaan tiada tara. Karena penghalang untuk hubungan mereka pun tidak ada lagi, mereka sudah bisa bernafas dengan lega saat ini.
Akan tetapi, ada satu hal yang Chayra lupakan. Yaitu.. Tentang restu dan sikap mertua laki - lakinya, yaitu Papanya Dafri. Ya.. Chayra pun ingat bahwa Papa Dafri sempat bersikap tidak baik terhadapnya saat itu, Papa Dafri yang menginginkan Chayra berpisah dengan Dafri dan menyuruh Dafri untuk menikah dengan Clarissa. Apa kabar dengan mertuanya itu saat ini? Apakah sikapnya masih tetap sama? Tidak suka dengan Chayra ataukah malah sebaliknya, lagi pula saat Chayra datang kerumah Dafri pagi tadi, ia tidak ada melihat ataupun bertemu dengan Papanya Dafri. Jika seandainya mereka bertemu, entah bagaimana responnya? Chayra tidak tahu.
Lima belas menit kemudian, akhirnya mereka berdua sampai dirumah. Saat mereka masuk dan membuka pintu, tiba - tiba saja Papa Dafri sudah berdiri didepan mereka. Seperti memang sedang menunggu kepulangan mereka berdua.
Papa Dafri menatap Dafri dan Chayra secara bergantian dengan sorot mata nya yang tajam, dan kedua tangannya dilipatkan diatas dadanya. Perasaan Chayra mulai tak enak, pikiran buruk pun merayapinya. Ia takut Papa Dafri akan menentang hubungan pernikahan mereka, ataupun melarang Dafri untuk kembali rujuk dengan Chayra.
"Dafri dari menjemput barang - barang Chayra, Pa. Chayra akan kembali tinggal dirumah ini." jawab Daftri.
"Jadi kalian sudah rujuk?" tanya Papa Dafri dengan nada tidak senang.
"Iya, Pa. Alhamdulillah kami sudah rujuk." kata Dafri yang semakin kuat menggenggam tangan Chayra yang sejak tadi ia pegang.
"Bagaimana dengan Clarissa? Apa Clarissa sudah tahu?" Papa Dafri lagi.
"Dafri sudah menceraikan Clarissa Pa,"
__ADS_1
"Apa?" Belum sempat Dafri menyelesaikan ucapannya, Papanya langsung memotong dengan setengah berteriak.
"Kamu menceraikan Clarissa, Dafri? Tega kamu Ya!!" Papa Dafri terlihat marah dan memandang Chayra dan Dafri dengan tajam.
"Iya, Pa. CLarissa sendiri yang minta Pa, Clarissa sendiri yang mau mengalah karena ia tahu Dafri dan Chayra saling mencintai." jelas Dafri.
"Itu bukan mengalah, tapi terpaksa. Kamu yang tidak bisa lagi mencintai Clarissa, yang ada dipikiran kamu cuman Chayra dan Chayra saja." umpat Papa DafriDafri masih dengan nada yang sama. Chayra hanya diam dengan menarik nafas panjang.
"Pokoknya Papa gak mau tau, Dafri. Kamu harus kembali lagi dengan Clarissa dan tinggalkan Chayra." tegas Papa Dafri.
"Pa, tolonglah Terima Chayra lagi dirumah ini sebagai menantu Papa. Jangan paksa kami untuk berpisah, sedangkan Clarissa sendiri sudah menyetujui Dafri kembali dengan Chayra. Clarissa sudah ikhlas Pa, kalau Papa tidak percaya, Papa bisa tanya langsung ke Clarissa." ujar Dafri.
"Tidak perlu Papa bertanya dengan Clarissa, karena Papa sudah tahu jawabannya.." kata Papanya lagi.
Setelah itu, Papa Dafri berjalan perlahan - lahan mendekati mereka masih dengan wajah garangnya itu. Dafri dan Chayra masih tetap diam ditempat merekadan tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Papa Dafri terhadap mereka selanjutnya...
...💕💕💕💕...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1
.