Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
Eps 20 // KEKHAWATIRAN CLARISSA


__ADS_3

Dafri masih memegang kedua tangan Chayra dan kali ini malah mengelus - elusnya Dengan lembut. Tentu saja perlakuan Dafri yang tiba - tiba itu membuat Chayra seakan terpana namun tetap menikmatinya, terbukti dari Chayra yang sama sekali tidak menolak perlakuan manis yang sedang dilakukan suaminya itu.


Namun, Tiba - tiba saja sebuah langkah kaki terdengar begitu kuat berjalan menuju mereka. Suara langkah kaki dibarengi dengan suara lengkingan seorang wanita yang begitu mengagetkan mereka berdua.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN..??!!" jerit seorang wanita cantik yang ternyata adalah Clarissa.


Spontan saja Dafri yang sejak tadi menunduk lalu buru - buru melepaskan tangan Chayra yang ia pegang sedangkan Chayra membalikkan badannya dan seketika itu pula melihat Clarissa dengan ekspresi marahnya.


"Clarissa, kamu kesini? Kenapa gak beritahu aku?" tanya Dafri seraya berjalan mendekati wanita itu.


"Kenapa emangnya harus beritahu kamu, Daf? Biar kamu gak ketahuan ya lagi bermesra - mesraan dengan Chayra?" tanya Clarissa dengan nada sinis.


"Kamu jangan salah paham, Clarissa. Aku.. Aku gak ngapain - ngapain dengan Chayra." ujar Dafri yang langsung menyanggah tuduhan dari Clarissa itu.


"Oh ya? Jadi, Barusan itu apa ha? Kenapa kamu pegang - pegang tangan Chayra segala?" ketus Clarissa dengan emosi.


Dafri terdiam, diapun juga tidak dapat mengelak lagi karena memang seperti itulah kenyataannya. Dafri sendiripun merasa heran, apa maksud dirinya yang tiba - tiba saja memegang tangannya Chayra? Semua itu terjadi begitu saja, hatinya yang membisikkan untuk melakukan itu. Tapi, lagi - lagi dirinya tidak tahu untuk apa dan karena apa ia melakukannya?


"Jawab, Dafri...!!" desak Clarissa dengan suaranya yang nyaring.


"Clarissa, aku mohon. Jangan berteriak seperti itu, ini dirumah sakit. Dan didalam sana Mama aku lagi diwarat, jadi tolong hargai Mama yang ada didalam." ujar Dafri dengan menasihati Clarissa yang tidak bisa menahan emosinya.


"Makanya jawab pertanyaan aku, jangan diam." katanya lagi tapi sudah menurunkan volume suaranya.

__ADS_1


"Aku Gak tahu kenapa, Clarissa. Aku minta maaf. Oke, sudah ya lupakan itu." kata Dafri dan kemudian membawa Clarissa untuk duduk di kursi panjang tersebut. Sedangkan Chayra masih berdiri mematung disana dengan perasaan yang serba salah. Bagaimanapun dia merasa tidak enak dengan Clarissa. Dan Chayrapun yakin, setelah kejadian ini Clarissa akan semakin berpikiran buruk terhadapnya.


"Aku mau bicara serius dengan kamu, Dafri." kata Clarissa setelah Dafri berhasil membujuknya untuk lebih tenang.


"Ya, bicaralah Clarissa. Apa itu?" tanya Dafri. Clarissa langsung memandang sinis kearah Chayra yang langsung saja menundukkan wajahnya saat Clarissa melihat kearahnya.


"Aku mau bicara berdua saja sama kamu, tanpa ada orang ketiga." ucap Clarissa dengan sorot matanya yang tajam melirik kearah Chayra.


"Ya sudah, kalau begitu.. Aku turun kebawah aja." kata Chayra yang langsung sadar diri bahwa kehadirannya disana tidak diinginkan oleh Clarissa. Tanpa berkata apapun lagi, Chayra lalu berlalu dari sana. Dan Dafri melihat kepergian Chayra dengan tatapan agak lain hingga wanita itu hilang diujung jalan sana.


"Daf, Kamu dan Chayra.. Kalian gak sedang menyembunyikan apa - apakan dari aku?" tanya Clarissa dengan wajah yang cemas. Entah mengapa perasaan Clarissa belakangan ini agak aneh, ia merasa takut dan khawatir jika Dafri berpaling darinya dan malah menjalin suatu hubungan dengan Chayra. Padahal sebelum - sebelumnya Clarissa tidak pernah mencurigai Dafri dan selalu percaya dengan kesetiaan laki - laki itu.


"Tidak ada Clarissa, apa yang aku sembunyikan dari kamu emangnya? Gak ada sama sekali" elak Dafri dengan yakin.


"Entahlah, Daf.. Aku khawatir aja, aku takut.. Kamu berpaling dari aku dan memiliki perasaan ke Chayra." lirih Clarissa dengan mata yang mulai berkaca - kaca. Melihat kegundahan yang dirasakan oleh Clarissa tersebut, Dafri lantas merangkulnya dan Clarissa pun menyandarkan kepalanya di bahu Dafri.


"Kamu jangan khawatir, Clarissa. Selagi aku masih mencintaimu, aku tidak akan berpaling dengan siapapun itu termasuk Chayra." ujar Dafri dengan setengah berbisik tepat ditelinga Clarissa. Kendatipun ucapan itu sudah terlontar dari lisannya, entah kenapa Dafri seakan tidak yakin dengan perkataannya barusan itu.


...💓💓💓💓...


Chayra duduk dengan hati yang gundah dikantin rumah sakit, ia sudah memesan makanan dan minuman namun sedari tadi makanan dan minuman tersebut tidak kunjung disentuh dan dicicipinya.


Chayra tampak melamun, pikirannya kembali membawanya membayangkan disaat Dafri menyentuh tangannya tadi. Chayra tidak habis pikir, mengapa Dafri melakukan itu. Bukan hanya itu saja malahan, Dafri sempat juga menangis dalam pelukannya. Meskipun Chayra tahu itu salah satu luapan rasa sedihnya semata tapi tetap saja membuat perasaan Chayra terasa seakan diaduk - aduk.

__ADS_1


Chayra berusaha menepis perasaan yang tidak seharusnya ia rasakan ini, apalagi mengingat ada Clarissa. Ya.. Chayra seharusnya sadar bahwa Dafri hanya mencintai Clarissa dan sampai kapanpun ia tidak akan bisa memiliki Dafri seutuhnya. Siapa lah dirinya yang tidak lebih seorang istri yang tidak dicintai. Jangankan untuk dicintai, dianggap saja tidak pernah. Chayra hanya bisa tersenyum kecut meratapi nasib pernikahannya ini.


Beberapa saat kemudian, tiba - tiba saja sebuah pukulan yang lumayan kuat mendarat dipundaknya. Chayra yang tengah melamun tadi, spontan saja merasa kaget luar biasa dan reflek menoleh kebelakangnya. Dan kedua mata Chayra seakan terbelalak setelah tahu siapa orang yang telah memukul pundaknya barusan itu.


"Clarissa...??" desis Chayra setelah tau bahwa orang itu adalah Clarissa.


Tanpa menyahut rasa keterkejutan Chayra tersebut, Clarissa pun duduk didepan Chayra dengan wajah yang tak berdosa.


"Chayra... Aku mau buat suatu kesepakatan sama kamu." ucap Clarissa dengan wajah yang serius.


"Kesepakatan apa, Clarissa?" tanya Chayra dengan bingung.


"Kamu sudah tahu kan apa kata Dokter mengenai keadaan Mamanya Dafri? Dimana kemungkinan Tante Dina untuk sadar itu sangat kecil sekali." tutur Clarissa masih dengan ekspresi yang sama.


"Iya, Tapi terlepas dari itu semua gak ada yang tidak mungkin Clarissa. Kita jangan pesimis, tetap percaya dan yakin dengan kekuatan doa. InshaAllah, Mama Dina akan sadar dari komanya." kata Chayra berpendapat.


"Bukan itu maksud aku, Chayra!!" kata Clarissa terdengar kesal.


"Maksud aku, jika terjadi sesuatu ke Mamanya Dafri.. Berarti tidak ada halangan lagi bagi aku dan Dafri untuk membawa pernikahan kami ini ke publik. Karena selama ini yang jadi tombak penghalang hubungan kami ini adalah Tante Dina, sedangkan Papanya Dafri saja tidak melarang sebenarnya bahkan sangat mendukung hubungan kami ini. Dan kalau Mama aku sendiri masih bisa diberi pengertian. Sekarang ini, cuman Tante Dina lah penghalangnya." jelas Clarissa dengan antusias. Chayra diam, ia menunggu lanjutan penjelasan dari Clarissa yang ia yakini belum selesai.


"Jadi, aku mau buat kesepakatan sama kamu. Jika terjadi sesuatu terhadap Tante Dina, kamu.. Chayra.. Harus pergi jauh meninggalkan hidup Dafri. Kamu harus bercerai dengan Dafri...!!!" tegas Clarissa dengan suara yang lantang.


...💞💞💞💞...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2