Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
Eps 33 // KEMARAHAN DAFRI


__ADS_3

"Assalamu'alaikum.." ucap Dafri tiba - tiba dengan mengucapkan salam. Clarissa dan Mamanya langsung menoleh berbarengan kearah pintu.


"Wa'alaikumussalam.."Jawab Clarissa dan Siska hampir bersamaan dengan ekspresi wajah yang kaget.


"Dafri, silahkan masuk.." ujar Siska dengan mempersilahkan Dafri untuk masuk. Sedangkan Clarissa langsung tersenyum kecut dan didalam hatinya menduga - duga apakah Dafri mendengar pembicaraannya dengan Mamanya tadi.


Dafri lalu melangkah masuk dengan gaya santainya dan kemudian menyalami tangan Mama Clarissa.


"Bagaimana kabarnya, Tante?" tanya Dafri dengan ramah.


"Alhamdulillah, sehat Dafri. Kamu sendiri bagaimana? Pastilah sehat dan bahagia kan karena sebentar lagi akan menikah dengan Clarissa." ujar Siska dengan jelingan matanya memandang Dafri dan Clarissa secara bergantian. Dipandangi seperti itu membuat Dafri hanya senyum - senyum saja. Clarissa perhatikan wajah Dafri yang terlihat biasa saja sehingga membuat Clarissa yakin jika Dafri tidak mendengar pembicaraannya tadi dengan Mamanya. Clarissa akhirnya bisa bernafas dengan lega.


Setelah mereka berbasa - basi saling menanyai kabar, kemudian Siska langsung saja membahas mengenai rencana pernikahan Dafri dan Clarissa. Disinggung masalah itu, membuat wajah Dafri berubah seketika.


"Tante, Maaf... Sebelum kita membahas masalah itu, Dafri mau izin sebentar mau ngobrol berdua saja dengan Clarissa. Bisa tante?" tanya Dafri ke Tante Siska.


"Oh, gitu ya.. Bolehlah, tentu boleh. Jadi Tante masuk kekamar dululah ya," kata Siska bermaksud untuk undur diri dari sana, namun Dafri langsung mencegahnya.


"Gak perlu, Tante. Biar Dafri dan Clarissa saja yang keluar. Clarissa, kita bicaranya dimobil aku saja." ujar Dafri dengan menoleh ke arah Calrissa. Dan Clarissa langsung mengiyakan. Merekapun berjalan beriringan menuju keluar tempat mobil Dafri diparkirkan.


"Daf, Mau ngobrol apa sih?" tanya Clarissa yang tidak bisa menahan rasa penasarannya, padahal mereka belum sampai didalam mobil. Dafri tidak menjawabnya, dan malahan kali ini ia berjalan lebih duluan didepan Clarissa. Setelah sampai dimobil, Dafri langsung saja masuk kedalam mobil tanpa membuka pintu yang sebelahnya lagi untuk Clarissa masuk. Clarissa hanya bisa terheran - heran melihat sikap dingin Dafri terhadapnya.


"Daf..?? Ada apa sih?" tanya Clarissa lagi setelah mereka berada didalam mobil.


"Aku mintak kamu jujur sekarang, Clarissa..!!" perintah Dafri dengan gusar.

__ADS_1


"Jujur..?? Jujur.. Tentang apa Dafri?" tanya Clarissa dengan perasaannya yang mulai tidak enak.


"Tentang apa yang sudah kamu lakukan ke Chayra." kata Dafri lagi lalu memandang Clarissa dengan tatapan yang tajam. Clarissa langsung menelan ludahnya saat melihat Dafri menatapnya seperti itu.


"M-maksud.. Kamu.. Apa? Emangnya apa yang aku lakukan terhadap Chayra?" tanya Clarissa berpura - pura tidak tahu.


"Jangan lagi berpura - pura, Clarissa. Aku sudah mendengar semuanya, sekarang aku mintak kamu beri aku satu alasan kenapa kamu melakukan itu semua." kata Dafri lagi dengan meninggikan nada bicaranya.


"Aku.. Aku, Aku gak melakukan apa - apa Dafri." kata Clarissa yang masih saja tidak mau mengakuinya. Clarissa langsung menunduk dengan wajah yang sudah pucat pasi. Dan hatinya semakin yakin bahwa Dafri pasti telah mendengar semua pembicaraannya dengan Mamanya tadi tentang Chayra.


"Aku tanya sekali lagi Clarissa, jika kamu tetap tidak mau berkata jujur. Jangan salah kan aku untuk tidak lagi mempedulikan kamu." ancam Dafri dengan menahan amarahnya yang sudah diubun - ubun. Diancam seperti itu, membuat Clarissa langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi mobilnya Dafri. Ia menghela nafas panjang dan akhirnya mengakui semua yang telah ia perbuat.


"Iya, aku minta maaf Dafri. Kamu pasti sudah dengar pembicaraan aku dengan Mama tadi kan? Aku.. Aku melakukan itu, bukan bermaksud apa - apa. Aku lakukan itu demi hubungan kita, demi Kita Dafri..!!" ujara Clarisaa dengan terbata - bata.


"Kamu memang jahat, Clarissa. Kamu telah membuat aku berpikiran yang tidak - tidak tentang Chayra. Kamu buat aku beranggapan bahwa Chayra sendiri yang kabur dari aku. Tapi, Nyatanya.. kamu yang memaksa Chayra untuk pergi. Tega kamu ya!!" umpat Dafri. Clarissa langsung terdiam.


"Apa kamu tidak pikir bagaimana tanggapan orang tua Chayra terhadap aku? Mereka pasti menganggap aku suami yang tidak bertanggung jawab, yang jahat dan segala hal yang buruk tentang aku. Aku.. Menikahi Chayra dengan cara yang baik - baik Clarissa. Andaipun jika aku harus menceraikan dia akhirnya, biarlah aku menceraikan dia dengan cara yang baik pula. Biar aku yang pulangkan dia ke orang tuanya sebagaimana mestinya, bukan malah membiarkan dia pulang sendirian dengan luka dihatinya. Kamu tidak sadar kah perbuatan kamu ini benar - benar membuat aku kecewa, Clarissa." jelas Dafri dengan berapi - api. Clarissa masih memilih untuk tetap diam dan menundukkan wajahnya. Ia seakan tidak berani menatap wajah Dafri yang memerah karena amarahnya yang sudah memuncak itu.


"Dan satu hal lagi yang membuat aku tidak bisa terima. Kamu memberi dia sejumlah uang untuk ganti rugi kan? Apa maksud kamu melakukan itu, Clarissa? Ganti rugi apa ha? Dengan bertindak seperti itu, sama saja kamu sudah merendahkan Chayra. Jangan kamu kira karena dia berasal dari keluarga yang kurang mampu, jadi kamu bisa seenaknya saja memperlakukan dia seperti itu. Kalian sama - sama perempuan, seharusnya kamu bisa memahami posisi dia. Saling mensupport bukan malah menjatuhkan dia seperti itu." lanjut Dafri lagi dengan menceramahi Clarissa habis - habisan.


"Daf.. Aku minta maaf, aku tahu.. Aku salah. Tapi, kamu harus tahu aku melakukan ini karena aku takut kamu berpaling dari aku, Daf.." rintih Clarissa yang akhirnya mengeluarkan suaranya juga.


"Kamu ingat, disaat aku datang kerumah sakit dan meminta kepastian hubungan kita ini. Tapi, kamu mengelaknya dan beralasan tidak mau membahasnya disana kan? Dan setelah itu, aku tunggu kabar dari kamu. Tapi, kamu gak kunjung memberikan kepastian apapun kan? Apa susahnya saat itu kamu memberi kepastian ke aku dengan mengatakan, IYA AKU AKAN CERAIKAN CHAYRA DAN MENIKAHI KAMU. Tapi, nyatanya apa? Kamu tidak kunjung memberi kepastian apapun, Dafri." kata Clarissa dengan membela dirinya.


"Kamu malah membiarkan Chayra tetap tinggal disana, oke aku tahu kamu lagi berduka. Makanya aku menunggu sampai seminggu, tapi setelah lewat waktu satu minggu... Chayra masih juga disana. Aku tanya ke Chayra, dia bilang kamu belum ada sama sekali membahas masalah itu? Karena itulah aku berinisiatif membuat kesepakatan sama Chayra, Dafri." jelas Clarissa lagi dan kali ini dengan sedikit terisak - isak dengan tujuan untuk membuat Dafri merasa simpati terhadapnya. Tapi, sama sekali tidak mempan. Dafri tetap saja tidak menerima alasan dari Clarissa.

__ADS_1


"Apapun alasan kamu, tetap sudah


membuat aku terlanjur sangat - sangat kecewa, Clarissa." desis Dafri.


"Daf, aku mintak maaf. Aku janji gak akan mengulanginya lagi tapi tolonglah kita sudahi ini semua. Lagi pula, Chayra tidak mempermasalahkannya kan?" kata Clarissa lagi dengan memegang tangan Dafri. Tapi, Dafri langsung menepis tangan Clarissa yang memegangnya.


"Tidak semudah itu Clarissa." tegas Dafri.


"Turun kamu sekarang!!" perintah Dafri tiba - tiba dan Clarissa langsung melotot tidak terima Dafri menyuruhnya untuk turun karena pembicaraan mereka belum selesai.


"Daf.." lirih Clarissa setengah memohon.


"Turun Aku bilang, Clarissa." perintah Dafri lagi dan kali ini setengah membentak.


"Tapi, kamu mau kemana? Bukannya kita akan membahas rencana pernikahan kita dengan Mama?" tanya Clarissa yang melihat Dafri sudah siap - siap akan menghidupkan mobilnya.


"Aku akan mencari Chayra!!" jawab Dafri dengan wajah yang datar. Clarissa langsung meringis seraya menggeleng - gelengkan kepalanya...


...💓💓💓💓...


BERSAMBUNG...


.


.

__ADS_1


__ADS_2