
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 wib, tapi sedikitpun Dafri belum memejamkan matanya. Sedangkan Clarissa sudah sejak tadi tidur dikursi panjang tersebut.
Dafripun kembali teringat Chayra, kemudian ia mengambil handphonenya dan memeriksa chat masuk.
'Maaf baru balas, aku sudah dirumah kok, Dafri.'
Ternyata Chayra sudah membalas chat Dafri, setelah itu Dafri berpindah tempat agak jauh dari Clarissa karena ia ingin menelpon Chayra.
"Chayra, Kamu baru sampai dirumah jam segini? Emang sejak tadi kamu kemana saja?" tanpa mengucap salam dan berbasa basi dulu, Dafri langsung saja menyemprot Chayra setelah wanita itu mengangkat telpon darinya.
"Maaf Dafri, aku lupa ngabari kamu kalau aku tadi kerumah teman aku. Kebetulan ada teman dekat aku yang baru pindah dikota ini, dan tadi dia yang jemput aku dirumah sakit terus diajaknya aku kerumahnya." jelas Chayra apa adanya.
"Teman? Laki - laki atau perempuan?" tanya Dafri lagi dengan nada dingin.
"Perempuan." sahut Chayra diseberang sana.
"Oh, Ya sudah.. Lain kali jangan lupa ngabari aku. Bukan apa - apa, orang tua mu sudah mempercayai kamu sama aku jadi aku merasa bertanggung jawab untuk memastikan kamu dalam keadaan baik - baik saja." ujar Dafri dengan datar.
"Iya, baik Dafri." sahut Chayra.
Setelah itu, Dafri mengakhiri telepon singkatnya dengan Chayra dan menyuruhnya untuk beristirahat. Kemudian Dafri kembali lagi ke tempatnya semula dan saat ia menoleh kesana ternyata Clarissa sudah terbangun dari tidurnya.
"Kamu nelpon siapa barusan, Daf?" selidik Clarissa penuh rasa curiga.
"Chayra." jawab Dafri dengan jujur.
__ADS_1
"Untuk apa?? Memastikan dia baik - baik saja? Iya?" tanya Clarissa dengan lebih menekankan kata - katanya. Walaupun suara Clarissa terdengar pelan dan lembut, tapi Dafri bisa merasakan ada sebuah rasa cemburu terdengar disana.
"Clarissa, bagaimanapun Chayra masih istri aku. Jadi aku merasa memiliki tanggung jawab untuk memastikan dia dalam keadaan baik - baik saja. Gak lebih dari itu. Kamu jangan berpikiran yang aneh - anehlah." kata Dafri memberikan penjelasan.
"Entahlah Dafri, perasaan aku mengatakan kalau kamu melakukan itu bukan didasari rasa tanggung jawab saja tapi lebih dari itu." kata Clarissa berpendapat.
"Apa maksud kamu, Clarissa?" tanya Dafri dengan bingung.
"Aku rasa kamu paham maksud aku, Dafri." ketus Clarissa dan kemudian kembali membaringkan badannya dengan posisi membelakangi Dafri.
Dafri lalu mendengus dengan kesal. Sebenarnya ia cukup paham apa yang di risau kan Clarissa saat ini. Tapi, Dafri seakan bingung dalam bersikap sedangkan dirinya juga harus bertanggung jawab atas Chayra.
"Clarissa.. Kamu mau lanjut tidur lagi?" panggil Dafri. Namun Clarissa tidak menjawab pertanyaan Dafri.
"Clarissa, kamu tau tidak Mama bilang apa ketika ia sadar sebentar waktu kemarin itu?" ucap Dafri yang memulai lagi pembicaraan dengan Clarissa.
"Awalnya Mama bertanya ke aku, apakah aku masih mencintai kamu? Setelah itu, Mama bilang.. Jika aku masih mencintai kamu, Mama menyuruh aku kembali lagi ke kamu dan meninggalkan Chayra." kata Dafri. Mata Clarissa langsung berbinar - binar setelah mendengar perkataan dari Dafri tersebut.
"Benarkah begiu, Daf?" tanya Clarissa dengan senyuman yang mulai mengembang di bibirnya.
"Ya, benar. Namun, belum sempat aku bertanya mengapa Mama tiba - tiba berkata begitu, Mama malah kembali tidak sadarkan diri." kenang Dafri dengan wajah yang sedih.
"Daf.. Berarti ini sinyal yang bagus bagi hubungan kita, Tante Dina sudah mulai bisa menerima aku. Aku senang mendengarnya, Dafri." ucap Clarissa dengan tersenyum lebar.
"Iya, Tapi.. aneh saja bagi aku sayang. Pasti Mama punya alasan kenapa tiba - tiba merestui hubungan kita. Karena kamu tahu sendiri kan bagaimana Mama sangat menentang sebelumnya, tidak mungkin bisa berubah total jika tidak ada sesuatu yang mendasarinya." ucap Dafri dengan menduga - duga.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, gak penting mencari tahu apa alasan Mama kamu itu. Yang terpenting sekarang.. Tidak ada lagi yang menjadi penghalang cinta kita ini. Lakukan yang Mama kamu suruh itu Daf, Kita menikah ulang dan sebelum itu.. Kamu ceraikan Chayra!!" kata Clarissa dengan senyuman manisnya itu kembali mengembang di bibirnya.
Dafri tidak memberi jawaban apa - apa, tidak mengiyakan ataupun menyanggahnya. Dafri seakan sedang berpikir keras didalam hatinya, apakah semudah itu di menceraikan Chayra meskipun Mamanya sudah menyuruhnya melakukan hal itu? Tapi, bukankah ini yang menjadi rencana awalnya dulu? Apalagi yang perlu ia pertimbangkan sedangkan kesempatan sudah didepan mata, karena Baik dirinya maupun Chayra memang sama - sama tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Pikiran Dafri terus - terusan mempengaruhi dirinya untuk mengambil keputusan itu segera. Namun, tidak dengan hatinya yang malah menolak bahkan menentangnya.
"Jadi.. Kapan kamu akan ceraikan Chayra, Daf?" pertanyaan yang diajukan Clarissa tiba - tiba itu langsung membuyarkan gejolak hati dan pikiran Dafri yang saling bersahut - sahutan.
"Aku.. Aku mau fokus dengan kesembuhan Mama dulu, Clarissa. Aku belum memikirkan itu." jawab Dafri akhirnya dan kemudian mengalihkan pandangannya dengan menunduk.
Clarissa langsung tersenyum kecut. Hatinya seakan belum puas sebelum Dafri memberikan kepastian kapan ia meninggalkan Chayra. Sebelum semuanya terlambat, Clarissa ingin Dafri segera menceraikan Chayra. Kemungkinan terburuk itu tetap ada bagi Clarissa. Karena siapa yang bisa menjamin hati dan perasaan seseorang itu tidak bisa berubah? Tidak Ada..!! Yang namanya hati manusia itu sebenarnya sangat lah gampang untuk berubah - ubah.
...💟💟💟💟...
Sedangkan ditempat kediamannya Dafri, Chayra yang sudah membaringkan tubuhnya sejak tadi diatas ranjang kamarnya namun tidak juga bisa tertidur. Chayra masih memikirkan ucapan Clarissa yang menyuruh dirinya untuk pergi meninggalkan Dafri jika kemungkinan terburuk terjadi pada Mamanya Dafri. Dan perkataan Clarissa itu dikaitkan Chayra dengan pertemuan singkatnya tadi bersama sahabat dekatnya yang bernama Sarah.
Sarah adalah teman dekat Chayra sejak masih SMP. Selain mereka bertetangga, mereka juga sekolah di SMP dan SMA yang sama. Namun, ketika sudah kuliah mereka memilih jurusan yang berbeda tapi tetap di universitas yang sama. Sarah sekarang berprofesi sebagai seorang perawat, dan ia pindah ke kota yang sama dengan Chayra saat ini karena suaminya yang berpindah tugas dan mau tidak mau dia pun mengikiti suaminya dan kemudian resign dari tempat kerjanya yang disana.
Sarah mengajak Chayra kerumahnya, kebetulan saat itu suami Sarah lagi keluar. Maka tinggallah mereka berdua. Disaat itulah Chayra bercerita kepada Sarah tentang keadaan rumah tangganya yang sebenarnya. Awalnya Chayra tidak ingin bercerita, namun karena saking dekatnya mereka berdua sehingga Sarah bisa melihat dari gelagat dan pancaran sinar mata Chayra bahwa dia sedang tidak baik - baik saja. Sarah terus menggali dan mendesak Chayra sehingga akhirnya membuat Chayra bercerita tentang rumah tangganya.
"Ya Allah, Chay... Kasihan kali nasib pernikahan kamu. Menikah dengan laki - laki yang sudah beristri dan kamu tidak tahu sebelumnya. Bagaimana kalian bisa membangun rasa cinta jika suami mu itu mencintai istri sirinya, sama saja kamu menjadi orang ketiga dalam pernikahan mereka. Kenapa kamu mesti bertahan setelah tahu kenyataan ini, Chay? Kalau aku jadi kamu, sudah lama aku meninggalkan lelaki itu. Apa lagi yang harus ditunggu atau pun mau dipertahankan? Tidak ada Chay, yang ada setiap saat akan membuat hati kamu sakit dan batin kamu tersiksa. Menikah dengan orang yang tidak mencintai kita saja sudah sangat menyakitkan apalagi tahu bahwa dia mencintai wanita lain." jelas Sarah dengan ekspresi geramnya saat itu.
Chayra hanya diam saja saat itu, meskipun didalam hati ia membenarkan setiap ucapan yang dilontarkan oleh Sarah.
Chayra kembali merenungi, meresapi, dan mengkaitkan semuanya. Tindakan apa yang harus ia ambil. Andaikan memang umur Mama Dafri tidak panjang, kemungkinan besar Dafri pasti akan mencampakkannya juga. Ya..Jika benar begitu, kenapa bukan dirinya saja yang pergi duluan sebelum lelaki itu benar - benar meninggalkannya?? Paling tidak, rasa sakit itu nantiknya tidak sebesar rasa sakit saat dirinya dicampakkan oleh Dafri.
Disaat Chayra merenungi semuanya, disaat itu pula sebuah panggilan masuk dari ponselnya. Ternyata Dafri yang menelpon, Chayra langsung saja mengangkat telpon dari Dafri tersebut. Dan ia mendengar suara Dafri yang agak berat memanggil namanya, setelah itu.. Aterdengar Sebuah tangisan yang mulai pecah..
__ADS_1
...💓💓💓💓...
BERSAMBUNG...