Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
EPISODE 61


__ADS_3

"Hai, Chayra...!!" sapa Clarissa dengan hangat. Yah.. Bukannya Dafri yang mengangkat telpon darinya, melainkan Clarissa. Chayra terdiam sejenak, pikirannya menduga - duga dan juga penasaran mengapa handphonenya Dafri ada pada Clarissa? Dimana Dafri saat ini?


"Clarissa? Kamu.. Bagaiamana keadaan kamu?" tanya Chayra dengan menanyai keadaan Clarissa setelah 1 hari dikuret.


"Tidak baik, Chayra. Aku baru saja kehilangan janin aku, bagaimana mungkin aku bisa baik - baik saja kan?" katanya dengan suara yang sumbang.


"Iya, Aku turut prihatin dan berduka yang sedalam nya dengan apa yang menimpa kamu ya Clarissa. Semoga kamu diberi kesabaran dan keikhlasan." ungkap Chayra dengan merasa empati terhadap Clarissa.


"Oh ya? Kamu benaran merasa prihatin dan berduka? Bukan malah sebaliknya?" tanya Clarissa dengan penuh selidik. Chayra langsung menelan ludah ketika mendengar pertanyaan sinis dari Clarissa tersebut.


"Ya jelas tidak, Clarissa. Waktu aku dapat kabar dari Dafri bahwa kamu keguguran dan janinnya tidak bisa dipertahankan lagi, jujur aku khawatir dan juga ikutan sedih. Karena tidak terbayang jika aku diposisi kamu, merasa kehilangan sesuatu yang kita harapkan." ujar Chayra dengan kesungguhan hatinya. Tapi, sepertinya apapun yag dikatakan oleh Chayra, selalu salah dan buruk saja dimata Clarissa. Wanita itu malah beranggapan apa yang Chayra ucapan tidak sesuai dengan cerminan dihatinya.


"Jangan terlalu mendramatisir, Chayra! Aku tahu, kamu sebenarnya gak sedih aku keguguran, malah sebaliknya.. Kamu merasa senang kan? Karena dengan begitu, cepat atau lambat Dafri pasti akan kembali meninggalkan aku. Itu yang kamu harapkan kan, Chayra??" katanya lagi dengan menuduh Chayra sesuka hatinya.


"Ya Allah, Clarissa.. Aku gak pernah berpikiran seperti itu. Kamu selalu salah menilai aku, aku tegaskan.. Aku gak pernah sekalipun berharap yang tidak baik tentang kamu." kata Chayra membela dirinya, meskipun ia tahu pembelaannya itu tidak berarti apa - apa karena anggapan Clarissa terhadapnya selalu buruk.


"Ya.. Ya.. Ya.. Teruslah bermuka dua seperti itu, Chayra. Mungkin kamu bisa berbesar hati saat ini karena Dafri masih berpihak ke kamu. Tapi, kamu jangan terlalu berharap bisa memiliki Dafri seutuhnya. Bagaimana pun saat ini, aku masih istri sahnya Dafri. Dan aku punya hak yang sama atas Dafri." kata Clarissa yang semakin menekan Chayra.


"Dan tidak tutup kemungkinan juga hati Dafri akan berpaling lagi ke aku. Gak ada yang tahu bukan? Kamu ingat gak bagaimana dulu Dafri sangat mencintaiku dan selalu mengucapkan kata setia kepadaku. Tapi, apa Yang terjadi? Ternyata Dafri bisa juga berpaling dari aku dan memilih kamu, dan sekarang.. Mungkin saja hal itu akan terulang lagi Chayra. Apalagi aku ini pernah sebelumnya mengisi hati Dafri. Kemungkinan itu sangat besar malahan." ujar Clarissa dengan tertawa kecil.


Chayra hanya bisa mengelus - elus dada mendengar kata - kata ketus yang keluar dari mulutnya Clarissa, dan sama sekali Chayra tidak ingin membalasnya atau balik menghujatnya. Karena Chayra tahu saat ini Clarissa masih amat terpukul akan kehilangan janinnya. Maka sebisa mungkin Chayra menganggap itu hanya angin lalu saja.


"Clarissa, aku bisa bicara dengan Dafri?" tanya Chayra setelah beberapa detik Clarissa berhenti menghujatnya.


"Dafri lagi tidur." kata Clarissa. Sudah jelas sekali dari nada bicaranya bahwa wanita itu tidak ingin Chayra berbicara dengan Dafri.

__ADS_1


"Clarissa, aku bisa mintak tolong? Nantik kalau Dafri sudah bangun tolong bilangin ke Dafri kalau aku menelponnya ya." pinta Chayra ke Clarissa.


"Oke, Tapi kalau ingat ya? Karena aku lebih sering lupa dari pada ingatnya." kata Clarissa lalu tanpa berbasa - basi lagi, ia langsung saja menutup telpon tersebut.


Setelah itu, Chayra hanya bisa tersenyum kecut. Chayra pun yakin bahwa Clarissa pasti tidak akan memberitahu Dafri bahwa ia menelpon lelaki itu. Entahlah.. Chayra tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana, hubungannya dengan Dafri begitu rumit selagi ada Clarissa diantara mereka.


Ternyata memang benar, setelah malam tiba Dafri tidak juga kunjung mengabarinya sehingga membuat Chayra merasa galau dan tidak bisa tidur. Maka Chayrapun mengirim pesan singkat ke Dafri, dan ternyata juga tidak dibaca - baca.


"Apa Dafri sudah tidur? Dan.. Apa mungkin dia menemani Clarissa sepanjang malam?" Chayra bertanya - tanya pada dirinya sendiri.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Namun Chayra masih tampak ragu - ragu antara akan menghubungi Dafri lagi atau tidak.


"Bagaimana jika Clarissa lagi yang mengangkat telponnya?" pikir Chayra didalam hati, jika memang benar apa yang dipikirkannya itu maka siap - siap saja dia akan merasa kecewa bahkan sakit hati atas ucapan dari Clarissa nantiknya.


Tapi, hati Chayra masih belum tenang sebelum tahu ada apa sebenarnya disana? Kenapa Dafri seharian ini tidak menelponnya? Tidak mungkinkah sepanjang hari handphone ditinggalkan dikamarnya? Lalu kemana dia? Apakah kerja di rumah sakit dan handphonenya tertinggal di rumah? Ya.. Mungkin saja seperti itu. Chayra masih mencoba untuk berpikiran positif dan lebih bersabar menunggu kabar dari Dafri sampai esok hari.


Tut...


Tut...


Tut...


Beberapa kali Chayra melakukan panggilan kenomor Dafri. Tapi tidak juga diangkatnya sehingga membuat perasaan Chayra semakin tak karuan. Pikiran buruk pun mulai menyelimuti hatinya, apalagi ia teringat akan kata - kata Clarissa yang menyudutkannya tadi.


Berkali - kali Chayra menghembus nafas panjang dan juga mengatur getaran dihatinya yang semakin tidak beraturan. Chayra takut, takut Dafri benar - benar berpaling lagi ke Clarissa seperti yang telah diakatakan oleh Clarissa tadi. Hati manusia siapa yang tahu kan? Apalagi manusia yang masih labil, sangat mudah hatinya untuk berbolak - balik. Bisik - bisikan halus itu seakan menggoda dan merasuki Chayra sejak tadi.

__ADS_1


Dalam keadaan galau saat itu, Chayra sampai tidak sadar jika Ibunya sudah masuk kedalam kamarnya. Karena melihat kegelisahan di wajah Chayra maka ibunya pun menghampiri Chayra dengan pandangan heran.


"Chayra.. Kamu kenapa Nak? Ada masalah?" tanya ibu Chayra dengan risau.


"Ee.. Ibuk, kapan masuk buk?" tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Chayra yang keget dengan kedatangan ibunya itu malah balik bertanya.


"Ibu sudah sejak tadi berdiri didepan kamar kamu, Chayra. Oya, Ibu perhatikan wajah kamu murung dan gelisah saja. Ada apa Chayra?" tanya Ibunya lagi. Chayra terdiam sejenak, didalam hati ia menimbang - nimbang, haruskah ia bercerita ke ibunya tentang kegalauan hatinya saat ini? Sebenarnya Chayra tidak ingin membebani ibunya dengan permasalahannya. Akan tetapi, Chayra saat ini membutuhkan seseorang untuk tempat bertanya atau sekedar mendengar kegundahan hatinya. Tidak dipungkiri, ia juga butuh saran dan nasihat terbaik dari ibunya itu.


"Apa Kamu ada masalah dengan suami kamu?" tebak Ibunya lalu menatap Chayra dengan rasa curiga. Chayra yang tak Ingin berbohong kepada ibunya, maka ia pun akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Masalah apa, Chayra?" tanya Ibunya lagi. Dan CHayrapun menceritakan semuanya kepada ibunya.


"Ya Allah, Chayra. Kenapa kamu baru cerita sekarang kalau Dafri menikahi wanita itu lagi? Kenapa kamu membiarkan diri kamu menanggung beban seberat ini sendirian saja sayang," kata Ibu Chayra seakan tidak rela melihat anaknya terus - terusan dikecewakan oleh suaminya sendiri.


"Memangnya sampai kapan kamu akan kuat bertahan di poligami seperti ini, Chayra? Apalagi kamu tahu, kalau wanita itu tidak menyukai kamu. Malahan sebaliknya ia menganggap kamu sebagai musuh dan saingannya." sambung ibu Chayra dengan gurat kerisauan diwajahnya.


"Chayra juga gak tahu sampai kapan Chayra bisa bertahan, Bu. Saat ini Chayra hanya bisa pasrah dan berusaha untuk ikhlas meskipun terkadang sakit juga yang Chayra dapatkan. Apalagi dari semalam sampai subuh ini, Dafri tidak juga memberi kabar apapun ke Chayra. Chayra khawatir.. Takut, jika perasaan dia berubah terhadap Chayra ataupun tiba - tiba saja dia berniat untuk meninggalkan Chayra dan lebih memilih Clarissa sebagai istri satu - satunya." jelas Chayra dengan terisak - isak.


"Kamu yang sabar ya sayang, anggap saja ini ujian dalam rumah tangga kalian. Semoga saja, Allah memberi sesuatu yang terbaik atas buah kesabaran kamu itu nantiknya. Ya?" kata Ibu Chayra dengan memberikan kata - kata penyemangat untuk Chayra.


"Ya, Semoga saja buk." lirih Chayra dengan penuh harapan...


...💟💟💟💟...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


.


.


__ADS_2