
Saat Chayra telah sadar dari pingsannya, matanya langsung menangkap sosok Rama yang berada disampingnya. Chayra sempat kaget dan kemudian langsung terduduk.
"Chay, kamu sudah sadar? Baring aja dulu, jangan langsung duduk ya." ucap Rama yang mencegah Chayra untuk duduk.
"Aku dimana ya Ram?" tanya Chayra seraya melihat ke sekelilingnya.
"Kamu dirumah sakit." jawab Rama.
"Rumah sakit? Tapi, kenapa?" tanya Chayra yang mencoba memulihkan ingatannya yang masih belum stabil.
"Kamu pingsan, Chay. Kak Hilma yang mendapati kamu terletak tak sadarkan diri didepan pintu kamar mandi." jelas Rama seadanya.
"Oh, Iya ya.." lirih Chayra yang sudah mulai ingat dengan apa yang telah terjadi sebelum ia jatuh pingsan, dimana dirinya yang merasa mual hingga muntah beberapa kali dan setelah itu diiringi dengan rasa sakit dikepala dan juga perut bagian bawahnya. Awalnya Chayra mengira bahwa ia hanya masuk angin saja, tapi rasa kram dibagian bawah perutnya membuat Chayra malah berpikiran bahwa ini bukan sekedar masuk angin semata.
Nyeri perut yang ia rasakan itu lebih mirip ketika ia tengah datang bulan. Chayra terkadang setiap datang bulan juga sering mengalami dismenore dihari pertama sampai dengan hari ketiga haid. Kram bagian bawah perut sampai menjalar kepinggang, seperti itulah yang ia rasakan kemarin sebelum pingsan. Dan malahan dua kali lipat lebih sakit dari biasanya yang ia rasakan saat sedang haid.
"Chay,.." panggilan dari Rama membuyarkan lamunan Chayra tentang kram pada perutnya tadi malam.
"Iya, Rama." sahut Chayra dengan menoleh kearah laki - laki itu.
"Kamu lapar? Ini sudah disiapkan sarapan untuk kamu. Mau aku ambilkan?" tanya Rama seraya melirik ketempat mapan yang berisi makanan sarapan pagi untuk Chayra.
"Hhhmm.. Iya, bolehlah." jawab Chayra akhirnya. Dan Rama pun berdiri untuk mengambilkan sarapan pagi Chayra tersebut.
"Oya, Ram. Kak Hilma mana ya?" tanya Chayra yang sejak awal ia sadar tidak melihat kak Hilma didalam ruangan tersebut.
"Kak Hilma ada urusan sebentar ke sekolah anaknya, Chay. Makanya Kak Hilma mintak tolong aku yang jagain kamu disini." jelas Rama lalu menyodorkan makanan tersebut.
"Kamu bisa makan sendiri? Atau, mau aku suapin?" tawar Rama yang langsung ditanggapi dengan gelengan kepala Chayra.
__ADS_1
"Ngak usah, Ram. Aku makan sendiri saja." tolak Chayra dengan halus.
Keadaan hening sesaat, Chayra tampak menyuapkan makanan tersebut perlahan - lahan dengan pandangan kosong. Sedangkan Rama, memperhatikan Chayra dengan pandangan begitu dalam. Seperti ingin mengungkapkan sesuatu.
"Chay," Rama memanggil Chayra, dan pandangan Chayra yang tadi lurus kedepan kini beralih ke sampingnya dimana Rama masih setia duduk disana.
"Iya," sahut Chayra yang sedang mengunyah makanannya.
"Kenapa, Rama?" tanya Chayra lagi karena Rama tidak melanjutkan ucapannya.
"Hhhmmm... Ngak, aku cuman mau bilang kamu makan yang banyak ya. Habiskan makanannya, karena kebutuhan makanan kamu saat ini bukan untuk diri kamu saja, tapi sudah untuk berdua." ujar Rama blak - blakan. Mendengar ucapan Rama barusan itu, membuat Chayra berhenti mengunyah dan lalu menatap Rama dengan kening yang berkerut bingung.
"Maksud kamu apa, Ram?" akhirnya Chayra melontarkan pertanyaan yang sudah bergejolak di benaknya. Rama langsung tercengang dan sadar bahwa ia sudah keceplosan. Ramapun jadi salah tingkah, dan mau tidak mau harus memberitahu Chayra tentang kehamilannya.
"Rama..!!" Chayra memanggil Rama dengan setengah menjerit karena Chayra seakan tidak sabar mendengar penjelasan dari Rama atas ucapan ambigu yang barusan ia sampaikan itu.
"Ee.. Chayra, maaf sebelumnya aku gak bermaksud mau memberitahu kamu perihal ini. Niat aku sih, biar saja kak Hilma yang memberitahunya. Tapi, aku malah keceplosan dan.."
"Memberitahu.. Tentang kehamilan kamu, Chayra! " jawab Rama akhirnya.
Chayra langsung tersentak kaget mendengar perkataan Rama tersebut, sehingga Piring berisi makanan yang sejak tadi ia pegang sampai terlepas dan jatuh kelantai. Tangan dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Nafasnya seakan sesak dan tidak beraturan.
"A-apa? Kamu jangan bercanda, Rama. Ngak Lucu!!!" ketus Chayra dengan mencoba mencairkan suasana yang mulai tegang dan berharap ini cuman candaan dari seorang Rama semata.
"Aku gak sedang bercanda, Chayra!! Kamu memang lagi mengandung. Kalau kamu gak percaya, kamu tanya saja sama dokter saat ia visit nantik." ucap Rama yakin dengan wajah yang seriusnya.
"Ngak, Ram. Ngak mungkin aku hamil." bantah Chayra seraya mengeleng - gelengkan kepalanya. Hati dan pikirannya masih menolak mentah - mentah kabar yang sama sekali tidak diharapkannya ini.
"Kenapa gak mungkin, Chayra? Kamu kan wanita yang sudah bersuami. Jadi ya wajar saja kalau kamu hamil." kata Rama.
__ADS_1
"Iya, tapi.. Aku.. Gak mau hamil anaknya Dafri. Apalagi jika mengingat Aku dan Dafri akan bercerai. Aduhh.." Chayra langsung mendengus seraya memegang bagian kepalanya. Ia tampak sedang berpikir keras, apa yang harus ia lakukan saat ini? Apa maksud Allah menitipkan janin ini di rahimnya setelah hubungannya dengan Dafri akan berakhir?
"Mungkin Allah punya rencana lain untuk kalian berdua, Chayra. Dengan kehamilan kamu ini, mungkin saja membuat suami kamu itu tidak jadi menceraikan kamu." kata Rama menarik kesimpulan.
"Tidak.. Tidak.. Rama, Suami aku gak boleh Tahu tentang kehamilan ini." kata Chayra dengan wajah yang panik. Tentu saja dia tidak ingin Dafri tahu, jika lelaki itu tahu pasti usahanya dalam menyatukan Dafri dan Clarissa akan sia - sia. Dafri pasti akan kembali mempertahankannya lagi. Chayra tidak ingin itu terjadi.
"Tapi, terlambat Chayra. Aku dan kak Hilma sudah memberitahu suami kamu bahwa kamu dirawat disini." kata Rama dengan wajah yang bersalah.
"Apaa?? Rama, kenapa kamu kasih tahu suami aku sih?" tanya Chayra dengan nada kesal.
"Chayra, suami kamu wajib tahu mengenai keadaan kamu." kata Rama.
"Tapi, tentang kehamilan kamu kami belum memberitahunya." lanjut Rama lagi dan Chayra langsung menghela nafas dengan lega.
"Ya memang harus begitu, jangan beritahu Dafri tentang kehamilan aku, Ram. Biar saja aku menjalani kehamilan ini sendiri, aku gak mau Dafri ikut campur atas kehamilan aku ini." kata Chayra dengan mata yang mulai berkaca - kaca.
"Ya gak bisa gitu donk, Chayra. Cepat atau lambat, suami kamu pasti akan mengetahuinya. Dan ia juga punya hak atas janin yang kamu kandung itu Chayra" ucap Rama mengingatkan.
"Bisa saja jika aku benar - benar menghilang dari kehidupan dia," lirih Chayra lalu menyeka setetes air mata yang sudah turun kepipinya.
"Karena itu, aku mohon sama kamu dan kak Hilma agar merahasiakan kehamilan aku dari Dafri. Kamu bisa merahasiakannya kan Rama?" pinta Chayra dengan memohon.
"Tapi, aku gak bisa menjaminnya Chayra.."
"Tolonglah Rama, aku gak mau Dafri tahu bahwa aku mengandung anaknya!!" potong Chayra dengan setengah berteriak. Dan bersamaan dengan itu Pula, 2 orang masuk kedalam ruang rawatan Chayra dengan langkah buru - buru. Chayra dan Rama menoleh berbarengan kearah pintu.
...🌺🌺🌺🌺...
BERSAMBUNG...
__ADS_1
.
.