
Assalamualaikum, Hai Para pembaca setia..
Ini bukan lanjutan cerita dari novel Saat Rasa Itu Hadir ya.. Ini sekedar promosi cerita saya yang baru dengan judul "Jalan Menuju CahayaMu.."
Silahkan mampir jika berkenan ya.. ini cuplikan salah satu Bab nya..
PENJELASAN AAMIR
"Naisha.. Naisha.. Cukup.. Mau sampai kapan kamu memukuli aku?" cegah Aamir karena setelah menampar nya tadi, Naisha malah semakin membabi buta dengan memukul dadanya berkali - kali. Aamir yang tidak tahu apa salahnya, tentu saja tidak Terima diperlakukan seperti itu oleh Naisha.
"Hei.. Laki - laki sok alim, ternyata otak kamu mesum juga ya!" umpat Naisha dengan menunjuk - nunjuk ke arah Aamir.
"Naisha, apa maksudnya? Kenapa tiba - tiba begitu marahnya sama aku? Apa salah aku emangnya?" tanya Aamir dengan wajah tak berdosanya itu.
"Cih.. Pakai tanya lagi apa salah kamu. Gak sadar diri kamu ya! Bisa - bisanya kamu bertanya apa salah kamu, setelah kamu melakukan pelecehan terhadap aku ha?" kecam Naisha lalu mendorong tubuh Aamir dengan kasar.
"Astaghfirullah, Naisha. Mana ada aku melecehkan kamu, apa yang membuat kamu tiba - tiba menuduh aku melakukan itu?" tanya Aamir dengan pandangan tak senang karena sudah dituduh yang tidak - tidak oleh Naisha.
"Ini lihat, pakaian yang aku pakai? Kamu yang gantikan?" tanya Naisha dengan membesarkan matanya yang bulat itu.
"Iyaa, Karena..."
"Berani kamu macam - macam sama aku ya, Aamir." belum sempat Aamir menyelesaikan kalimatnya, Naisha malah memotong ucapan Aamir tersebut.
__ADS_1
"Kamu sudah menyentuh aku tanpa seijin aku, menggantikan pakaian aku, otomatis kamu melihat tubuh aku, apa lagi yang kamu lakukan ke aku Aamir?" tanya Naisha dengan menyipitkan matanya.
"Gak ada, Naisha." jawab Aamir cepat dengan menggeleng - geleng kan kepalanya.
"JANGAN BOHONG, AAMIR!!" Bentak Naisha dengan menghentakkan kakinya berkali - kali ke lantai kamarnya.
"Demi Allah, aku gak melakukan apapun selain menggendong kamu dan menggantikan pakaian kamu, Naisha." tegas Aamir.
"Dan.. Aku melakukan itu, karena kamu pingsan. Makanya aku gendong kamu dan bawa kamu kekamar, dan masalah pakaian kamu ini.. Aku menggantinya karena kamu sempat muntah beberapa kali dan mengenai baju kamu, Naisha. Makanya aku berinisiatif menggantinya. Gak ada maksud apa - apa." jelas Aamir dengan sejujur - jujurnya.
"Benar seperti itu?" selidik Naisha lagi.
"Iya, Benar. Demi Allah aku gak melakukan apa - apa lagi, cuman mengganti baju kamu aja Naisha." jawab Aamir dengan menghela nafas pendek.
Aamir tidak menyangka Naisha akan semarah ini terhadapnya, hanya karena ia menggendong dan mengganti pakaian wanita itu. Naisha menganggap hal itu sebuah pelecehan. Yah.. Pelecehan? Aamir kembali menghembuskan nafas panjang, dari segi mana pelecehannya sedangkan mereka sudah berstatus pasangan suami istri yang sah. Pikir Aamir didalam benaknya.
Lagi pula, jika Aamir mau dia bisa melakukan lebih dari itu. Sebab tidak ada dosa sama sekali, karena Naisha halal untuknya. Tapi, untungnya Aamir tidak mau gegebah dalam bertindak. Aamir tidak ingin memulai sesuatu dengan keterpaksaan, apalagi ia tahu Naisha masih sangat membencinya. Wanita itu mau menikah dengan dirinya cuman karena desakan dari Pak Marwan saja. Yah.. Aamir menyimpulkan hal itu. Dia harus sadar diri. Kendati pun demikian, Aamir tidak mungkin menyerah begitu saja. Ini pilihan dia, dan dia pun tahu apa konsekuensi atas pilihannya itu. Aamir hanya perlu bersabar dan berusaha lagi untuk melembutkan hati Naisha.
Beberapa menit kemudian, Naisha keluar dari kamar mandi sudah dengan berpakaian rapi. Kemudian dia berjalan ke meja riasnya tanpa sedikitpun melihat kearah Aamir yang masih berada di dalam kamar.
"Naisha, bisa kita bicara sebentar?" tanya Aamir yang kini sudah berdiri di samping Naisha.
Naisha memberhentikan sejenak aktifitasnya dan kemudian menatap Aamir dengan mata yang tajam.
__ADS_1
"Mau bicara apa?" tanya Naisha dengan garang.
"Maaf, jika pernyataan aku ini akan membuat kamu marah dan tersinggung. Tapi, aku merasa bertanggungjawab untuk mengatakannya" ujar Aamir.
"Sudahlah, Aamir. Jangan berbasa - basi, ngomong aja langsung. Aku gak punya waktu mendengar celotehan kamu itu ya!" kata Naisha dengan geram.
"Begini, Naisha. Tadi malam itu.. Kamu mabuk ya? Kamu minum minuman beralkohol?" tanya Aamir dengn pelan dan hati - hati. Ditanya seperti itu, Naisha langsung tertawa terbahak - bahak sehingga membuat kening Aamir berkerut heran. Ia tidak tahu bagian mana yang lucu atas pertanyaannya itu.
"Kenapa emangnya? Ngak pernah lihat orang mabuk ya? Dasar kampungan banget sih kamu, Aamir!!" ledek Naisha yang masih belum berhenti menertawakan Aamir.
"Ya mungkin aku memang kampungan, Naisha. Belum pernah dan inshaAllah tidak akan pernah mendekati hal - hal berbau maksiat seperti itu. Dan, aku sangat bersyukur akan itu semua. Cuman masalahnya.. sekarang aku dihadapi dengan keadaan dimana istri aku terjebak didalam kehidupan gelap itu. Aku gak mau kamu tersesat lebih jauh lagi, Naisha. Jadi.. Aku mohon, izin kan aku masuk kedalam hidup kamu dan merubah hidup kamu menjadi baik." ungkap Aamir dengan sungguh - sungguh.
"Apa? Hahahahhahahaha.. Pernyataan konyol apa ini Aamir? Kamu mau merubah hidup aku? Coba saja kalau kamu bisa, sebelum kamu melakukan itu.. Aku sudah duluan membuat hidup kamu menderita. Paham?" ketus Naisha dan setelah itu beranjak dari sana dan meninggalkan Aamir yang terdiam membisu.
💕💕💕💕
BERSAMBUNG..
.
.
.
__ADS_1