Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
EPISODE 60


__ADS_3

Melihat Clarissa yang perdarahan maka dengan sigap Dafri langsung saja membawanya kerumah sakit. Sepanjang perjalanan kerumah sakit, Clarissa yang berbaring dikursi belakang tiada berhenti merintih bahkan menjerit karena tidak tahan dengan rasa sakit dibagian bawah perutnya sedangkan darah masih terusan mengalir dari sana.


"Kamu tahan ya Clarissa ya, sebentar lagi kita sampai. Oke?" kata Dafri yang berusaha menenangkan wanita itu. Namun, sialnya jalanan saat itu sedang macet sehingga menghambat Dafri untuk menuju kerumah sakit. Dafri mendengus kesal beberapa kali seraya melihat Clarissa dibelakang yang sudah terlihat sangat lemas dan pucat.


Setelah itu, Dafri memilih jalan alternatif dengan membelokkan mobilnya kearah kiri. Dan beberapa menit kemudian, akhirnya merekapun sampai didepan IGD rumah sakit tempat Dafri bekerja.


Sesampainya di IGD, dokter dan perawat jaga siang itu langsung mengambil tindakan pertolongan pertama pada pasien perdarahan. Sedangkan Dafri menyiapkan obat penghenti perdarahan dan juga alat USGnya untuk memeriksakan kehamilan Clarissa apakah masih bisa dipertahankan atau malah sebaliknya.


Clarissa saat itu sudah tidak sadarkan diri lagi, jadi ia tidak tahu saat dirinya sudah dipasangkan infus dan juga sedang diUSG oleh Dafri.


"Ya Allah, sudah tidak bisa dipertahankan lagi." desis Dafri dengan wajah sedih dan pasrahnya lalu melihat kearah dokter jaga di IGD tersebut.


"Jadi harus dikuret ya dok?" tanya si dokter. Dan Dafripun langsung menganggukkan kepalanya dengan lemah.


Setelah itu, dokter jaga memerintahkan kepada perawat untuk menyiapakan ruangan dan alat untuk tindakan kuret yang akan dilakukan oleh Dafri sendiri.


...💦💦💦💦...


Saat Chayra sadar, dia sudah berada diruang perawatan dengan ditemanin oleh Siska yang berada disebelahnya.


"Clarissa dimana, Ma?" tanya Clarissa kepada Mamanya dengan bingung.


"Kamu dirumah sakit sayang," jawab Siska seraya membelai - belai lembut rambut anaknya itu.


"Dirumah sakit? Tapi, kenapa Ma?" tanya Clarissa dengan mencoba mengingat - ingat apa yang telah terjadi.


"Clarissa, kamu yang sabar ya nak ya? Kamu keguguran dan beberapa jam yang lalu baru selesai dikuret." ungkap Siska dengan ekspresi sedihnya.


"Apaa? Clarissa, keguguran Ma??" tanya Clarissa dengan wajah kaget dan paniknya. Siska hanya menganggukkan kepalanya seraya menenangkan Clarissa yang mulai panik dan menangis tersedu - sedu.


Clarissa terlihat histeris, ia sungguh sedih. Bagaimana tidak? Ia baru saja merasakan kebahagiaan karena telah hamil anak dari lelaki yang ia cintai sejak dulu. Padahal Clarissa berharap dengan kehamilannya ini bisa membuat Dafri kembali lagi mencintainya seperti dulu. Tapi, ternyata janin ini hanya sementara dititipkan didalam rahimnya. Clarissa sungguh tidak rela dan belum siap harus menanggung kesedihan ini.

__ADS_1


Siska masih terus menyemangati Clarissa dan menghiburnya. Akan tetapi, Semangat dan kata hiburan saja tidak cukup bagi Clarissa saat ini.


Keesokan harinya, Clarissa sudah diperbolehkan pulang. Dan Dafri datang menjemputnya. Sebelum masuk kedalam ruangan rawatan Clarissa, Siska mengajak Dafri berbicara empat mata dengannya diluar ruangan tersebut.


"Dafri, Mama minta tolong sama kamu ya. Tolong.. kamu hibur Clarissa, beri dia semangat. Clarissa sangat terpukul dengan keguguran yang dialaminya. Jadi, tolonglah.. Kamu beri kan perhatian yang penuh untuk dia. Mama mohon sama kamu.." pinta Siska dengan memohon kepada Dafri.


Dafri diam sejenak, seperti sedang berpikir. Karena memang setelah Clarissa dikuret, dia sama sekali belum berbicara dengan Clarissa. Begitu juga Clarissa, yang lebih banyak diam dan terlihat sangat murung.


"Baiklah, Ma. Nantik Dafri akan menghibur Clarissa." kata Dafri akhirnya lalu iapun masuk kedalam.


Saat sudah didalam, ia melihat Clarissa duduk melamun di tepi jendela. Sampai - sampai Clarissa tidak menyadari Dafri yang telah berdiri di dekat nya.


"Clarissa.." panggil Dafri. Clarissa langsung menoleh dengan wajah yang murung. Namun, sama sekali tidak menyahut saat Dafri memanggilnya.


"Kamu lagi melamum apa Clarissa? Jangan banyak melamun, tidak baik." nasihat Dafri dan kemudian ikut duduk juga disebelah Clarissa.


Clarissa masih diam dengan pandangan menatap lurus kedepan. Dafri sebenarnya tidak tahu harus memulai menghibur Clarissa dari mana. Ia bingung dan takut saja salah dalam bersikap. Dia juga tidak mau Clarissa nantik malah salah paham jika ia memberi perhatian yang berlebihan.


"Aku sudah berusaha memberikan obat penguat yang bagus untuk kandungan kamu dan berharap ia bisa bertahan dan berkembang dengan normal kembali. Tapi, Allah ternyata berkehendak lain sehingga membuatnya gugur dalam waktu yang secepat ini. Baik kamu maupun aku bisa apa selain hanya bisa pasrah menerimanya?" lanjut Dafri lagi.


"Aku tahu kamu pasti sangat sedih dan merasa kehilangan, dan aku pun juga merasakan hal yang sama Clarissa.." kata Dafri namun berhenti sejenak ketika pandangan Clarissa kini beralih kearahnya.


"Kamu bohong Dafri..!! Kamu gak merasakan apa yang aku rasakan saat ini." ketus Clarissa dengan tatapannya yang tajam itu menatap Dafri.


"Jangan sok peduli dengan kesedihan aku ini, Dafri. Padahal aku tahu, kamu sebenarnya senang kan aku keguguran?" tuduh Clarissa dengan terisak - isak.


"Karena dengan begitu kamu bisa kembali mencampakkan aku dari hidup kamu kan?" lanjut Clarissa lagi dan kali ini tidak bisa menahan air mata nya yang akhirnya tumpah juga.


"Clarissa, aku gak suka kamu berpikiran begitu tentang aku ya." sanggah Dafri langsung dengan wajah yang tak senang.


"Buanglah sifat suudzon yang ada dipikiran kamu itu jauh - jauh. Kamu lagi ditimpa kemalangan dan musibah seperti ini, tidak mungkinlah aku merasa senang. Apalagi kemalangan itu ada kaitannya juga dengan aku." sambung Dafri lagi dengan menggebu - gebu.

__ADS_1


"Niat hati aku ingin menghibur kamu, Clarissa. Tapi, aku malah menerima sebuah tuduhan yang tidak mengenakkan." ujar Dafri dengan rasa kesal dihatinya.


"Ya sudahlah, lebih baik kamu bersiap - siap sekarang, karena Sebentar lagi kita akan pulang." kata Dafri, dan kemudian ia berdiri lalu berjalan meninggalkan Clarissa. Namun, belum sampai Dafri didepan pintu, Clarissa kembali memanggil Dafri.


"Dafrii..." lirih Clarissa dengan berlinangan air mata.


"Aku mintak maaf..!" lanjutnya lagi dengan terisak - isak dan nafas yang naik turun. Melihat Clarissa seperti itu, membuat Dafri sedikit iba dan kembali menghampirinya.


"Ya.. Aku juga mintak maaf. Kamu tenangkan diri kamu, dan jangan menangis berlebihan." kata Dafri seraya menyentuh pundak wanita itu.


"Tapi, kamu tidak akan meninggalkan aku kan Daf? Kamu tidak akan menceraikan aku kan?" tanya Clarissa tiba - tiba dengan nafas yang tersengal - sengal. Matanya pun menatap Dafri dengan penuh harap. Mendengar pertanyaan dari Clarissa tersebut, membuat Dafri hanya bisa menarik nafas panjang tanpa memberi jawaban apapun.


...💟💟💟💟...


Chayra baru saja selesai menyuapkan ayahnya makan dan juga memberikannya obat. Setelah itu, Chayra keluar dari kamar Ayahnya dan membiarkan Ayahnya itu untuk istirahat dan tidur.


Chayra kemudian masuk kedalam kamarnya. Didalam kamar, ia memeriksa handphonenya yang sejak tadi terletak saja ditempat tidur. Chayra berharap ada panggilan atau chat masuk dari Dafri. Akan tetapi, harapannya pupus sudah saat mengetahui bahwa tidak ada satu panggilan masuk maupun chat dari Dafri. Padahal sebelum - sebelumnya hampir setiap saat Dafri tidak pernah absen untuk menghubunginya. Tentu saja hal ini membuat Chayra menjadi curiga juga penasaran. Apa yang sedang dilakukan suaminya itu sehingga ia tidak punya waktu untuk menghubungi Chayra hari ini?


Terakhir Dafri memberi kabar ke Chayra bahwa kandungan Clarissa tidak bisa dipertahankan lagi dan harus dikuret. Mendengar hal itu, membuat Chayra merasa prihatin dan juga sedih dengan apa yang menimpa Clarissa. Dan setelah itu, Dafri tidak memberi kabar apapun lagi ke Chayra. Ia bilang bahwa akan segera mengabari jika telah selesai melakukan tindakan kuret tersebut. Namun, sampai saat ini kabar tersebut tidak kunjung tiba.


Karena tidak ingin menduga - duga hal yang aneh, maka Chayrapun memutuskan untuk menghubungi Dafri. Chayra menelpon Dafri sampai lebih dari tiga kali panggilan, namun tidak kunjung diangkat juga oleh suaminya itu. Dan.. Saat panggilan yang kesekian kalinya, akhirnya panggilan dari Chayra diterimanya. Akan tetapi, bukan Dafrilah yang menerima panggilan tersebut melainkan suara seorang perempuan yang menyapanya diseberang sana..


...💓💓💓💓...


BERSAMBUNG...


..


.


.

__ADS_1


__ADS_2