
"Kamu kenapa? Kelihatannya begitu cemas?" tanya Rama ke Clarissa. Karena sejak tadi ia perhatikan gelagat Clarissa yang agak lain, ia telihat sedang ******* - ***** tangannya dengan tatapan kosong dan juga pikiran yang melayang entah kemana
Saat itu Rama dan Clarissa sama - sama berada didepan ruang rawatan Chayra. Rama duduk dikursi tersebut, sedangkan Clarissa hanya mondar - mandir didepannya dengan gelisah.
Clarissa tidak menjawab pertanyaan dari Rama. Pikirannya tengah kalut saat ini, jantungnya pun tidak berhenti berdetak dengan kencang. Sebenarnya Clarissa sedang berusaha mengusir ataupun membunuh rasa cemburu dan amarah yang mulai merasuki dirinya. Clarissa yakin, ia bisa menguasai dirinya dari gangguan mental yang seakan sudah mendarah daging didalam dirinya.
"Hai, kenapa tidak dijawab?" Rama kembali menegur Clarissa yang masih saja mondar - mandir didepannya. Teguran dari Rama kali ini, membuat Clarissa langsung berhenti dan mengalihkan pandangannya kearah Rama.
"Duduklah dulu. Tenangkan diri kamu, kelihatannya kamu gelisah sekali." kata Rama yang masih berkomentar. Clarissa tampak berpikir sejenak, namun setelah itu barulah ia menjatuhkan badannya dengan kasar dikursi sebelahnya Rama.
"Clarissa.. Nama kamu benar Clarissa kan?" tanya Rama untuk memastikan karena memang sebelumnya ia tidak pernah kenal dengan wanita ini.
"Ya." sahut Clarissa dengan singkat.
"Oke, apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Rama penuh selidik. Clarissa langsung membalikkan badannya kearah Rama.
"Maksud kamu apa?" tanya Clarissa dengan gusar.
"Maaf, bukan maksud aku ingin ikut campur urusan kamu dengan Suami kamu dan juga Chayra. Tapi, aku cuman ingin memberikan sedikit pencerahan saja untuk kamu. Ya mudah - mudahan saja bisa diterima." kata Rama dengan tersenyum tipis.
"Pencerahan apa?" tanya Clarissa dengan garang.
__ADS_1
"Posisi kita sama, Clarissa. Aku juga pernah diposisi kamu. Merasa gelisah, cemas, khawatir, bahkan ngilu dan sakit dihati ini. Ya.. Semua itu aku rasakan sesaat setelah mengetahui wanita yang sudah aku lamar, wanita yang sangat aku cintai, malah menikah dan menerima lamaran dari laki - laki lain." cerita Rama dengan penuh kenangan sedihnya.
"Kamu mau tau siapa wanita itu?" tanya Rama seraya menoleh kearahnya.
"Siapa?" tanya Clarissa penasaran.
"Wanita itu adalah Chayra. Ya.. Chayra lah wanita yang sudah aku lamar, wanita yang begitu aku cintai dan berharap bisa menjadi pendampingnya. Aku tahu dari kakak aku bahwa Chayra saat itu sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama terhadap aku, sehingga membuat aku yakin lamaran aku akan diterima olehnya. Namun, ternyata takdir tidak berpihak kekepadaku. Chayra malah dijodohkan dengan lelaki asing yang masuk dalam kehidupannya. Laki - laki itu adalah lelaki yang menjadi suaminya saat ini." ungkap Rama dan kemudian berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.
"Saat itu, aku merasa hati aku hancur sehancur hancurnya. Aku hanya bisa menyaksikan dengan tatapan nanar ketika wanita yang aku cintai menikah dengan laki - laki lain. Berhari - hari aku jalani hidup tanpa adanya semangat. Aku seakan kehilangan gairah untuk hidup. Waktu aku lebih banyak digunakan untuk berandai - andai dan berharap sebuah keajaiban datang didalam kehidupan aku, membawa impian ku bisa hidup bersama Chayra menjadi sebuah kenyataan. Yah.. sampailah suatu hari aku dipertemukan kembali dengan Chayra tanpa sengaja. Aku lihat dia seperti dalam kebingungan dan kegelisahan maka akupun berinisiatif membawanya kerumah kakak aku. Disana, akupun mendengar ceritanya kepada kakak aku tentang kehidupan rumah tangganya yang begitu memilukan dan juga sangat rumit. Chayra ingin pergi dari suaminya, mengalah demi kebahagiaan kamu. Tapi, dari situ pula akupun tahu bahwa ia sangat mencintai suaminya itu. Maka, aku pun seakan disadarkan bahwa impian aku untuk hidup bersamanya pupuslah sudah. Karena dihati Chayra saat ini tidak ada lagi aku, ia hanya setia dan mencintai suaminya itu." tutur Rama panjang lebar dan kemudian mengakhirinya dengan tersenyum tipis.
"Maka dari itulah, Clarissa.. Dari kejadian ini aku mencoba untuk belajar ilmu ikhlas, ikhlas untuk melepaskan dan merelakan orang yang kita cintai hidup bahagia dengan orang yang dicintainya. Karena tidak selamanya rasa cinta itu harus dibalas dengan rasa cinta juga. Yang terpenting, kita harus ikut bahagia juga melihat orang yang kita cintai menemukan kebahagiaannya dengan pasangannya. Jangan simpan lagi sifat sifat ketidakrelaan itu, karena semakin disimpan dihati akan semakin menyiksa diri kita. Aku harap, kamu bisa juga melakukan hal yang sama seperti aku ya Clarissa. Aku yakin, setelah ini pasti hati kamu akan lebih tenang. Karena rasa keikhlasan lah yang akan membuat hati dan jiwa kita lebih tenang." lanjut Rama lagi dengan kata - kata yang dilontarkannya itu mampu menyejukkan hati Clarissa yang tadinya sempat galau dan gelisah.
...πΊπΊπΊπΊ...
"Chayra," panggil Clarissa dengan suaranya yang lantang. Dua wanita cantik itu terlihat saling pandang, yang satu dengan tatap bingung dan yang satunya dengan tatapan yang tegas.
"Kamu salah, Chayra! Salah besar malahan." kecam Clarissa dengan melototkan matanya.
"Apa yang ada dipikiran kamu saat ini, adalah sebuah kesalahan. Bisa - bisanya kamu berpikiran bahwa akulah yang lebih berhak mendapatkan dan merasakan ketulusan cinta dari Dafri. Padahal baik aku maupun kamu, kita sama - sama tahu Chayra, bahwa Dafri hanya mencintai kamu.. Ya.. Hanya kamu," kata Clarissa dengan tertawa kecil.
"Sudahlah Chayra, cukuplah.. Jangan lagi berbuat sesuatu yang membuat aku semakin merasa bersalah sama kamu. Jangan berkorban apapun lagi untuk aku, demi melihat kebahagiaan aku, demi menjaga kesehatan mental aku. Jangan Chayra!! Berhentilah memikirkan perasaan orang lain diatas perasaan kamu sendiri. Apalagi perasaan orang yang kamu jaga itu, tidak pernah sekalipun berbuat baik sama kamu.." kata Clarissa dan kemudian berhenti sejenak untuk mengatur helaan nafasnya yang mulai naik turun.
__ADS_1
"Malahan... Orang itu selalu berniat jahat ke kamu Chayra. Aku, ya.. Aku yang sudah beberapa kali berniat untuk menghabiskan nyawa kamu, aku yang berambisi untuk menghilangkan kamu dari muka bumi ini." lanjut Clarissa lagi dan kali ini mulai terisak -- isak.
"Clarissa.." lirih Chayra dengan memanggilnya karena melihat Clarissa yang mulai down.
"Aku belum menyelesaikan ucapan aku, Chayra. Dan.. Kamu gak perlu khawatir, aku sudah mulai bisa mengontrol emosi aku kok, " katanya seraya tersenyum lebar.
"Chayra, seseorang sudah memberi pencerahan ke aku tentang ilmu ikhlas dan sabar. Ikhlas untuk merelakan dan melepaskan orang yang kita cintai bersama orang ataupun wanita yang ia cintai. Dan aku yakin, aku bisa mengaplikasikannya. Yah.. Aku yakin," kata Clarissa kembali tersenyum lebar seraya menghapus butiran halus yang sudah mengalir di pipinya.
"Tapi, Clarissa..."
"Aku dan Dafri sudah bercerai, Chayra!" potong Clarissa yang tidak memberi kesempatan sedikitpun bagi Chayra untuk mengeluarkan suaranya.
"Mulai detik ini, Dafri seutuhnya milik kamu, Chayra. Kamulah istri Dafri satu - satunya, tidak ada wanita lain yang berhak memilikinya selain kamu." sambung Clarissa lagi masih dengan senyuman manis yang tergambar diraut wajahnya.
...π·π·π·π·...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1
.