Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
Eps 12 // MEMBERI KEPERCAYAAN


__ADS_3

Chayra akhirnya pergi juga menyusul Dafri dan Clarissa ke pantai. Sesampainya disana, Chayra berhenti sejenak dibawah pohon kelapa. Ia melihat ke sekelilingnya yang sore itu lumayan ramai pengunjung yang datang ke pantai. Namun, Chayra tidak melihat keberadaan Dafri dan Clarissa disekitar sana. Chayra kemudian mencoba menghubungi Dafri kembali, namun nomor handphonenya malah tidak aktif. Chayra hanya bisa menggerutu didalam hati sembari duduk dibawah pohon kelapa tersebut.


Beberapa menit kemudian, ada seorang laki - laki yang kebetulan lewat didepan Chayra dan ketika melihat Chayra duduk sendirian disana, ia pun menghampiri Chayra.


"Hai.. Kamu.. Bukannya lagi sama suami kamu dipinggir pantai sana.." kata lelaki itu ke Chayra. Chayra yang awalnya tidak menyadari kehadiran lelaki itu, sedikit terkejut dengan sapaannya yang tiba - tiba itu. Chayra langsung menoleh kearah lelaki asing itu dan rasa kaget nya semakin menjadi setelah tahu siapa yang menyapanya. Dia adalah laki - laki yang sempat memegang tangan Chayra dan menggodanya waktu itu.


Chayra hanya diam saja, sedikitpun tidak berniat menanggapi ucapannya.


"Tapi, Tunggu - tunggu... Kalau bukan kamu yang bersama suamimu disana itu, jadi... Berarti.. Suami kamu selingkuh donk." katanya yang menyimpulkan sendiri apa yang telah ia lihat.


Chayra langsung melototkan matanya kearah lelaki sok tahu itu, Namun bukannya pergi lelaki tersebut masih berupaya memanas - manasi Chayra.


"Wow... Kelihatannya dia lelaki yang setia, tapi ternyata dia lebih brengsek dari pada aku ya, Hahahah..." katanya lalu tertawa dengan terbahak - bahak.


"Kamu mau tahu apa yang dilakukan suami kamu itu disana dengan wanita selingkuhan nya? Mereka bermesra - mesraan, berpelukan bahkan.. sampai berciuman, Woow.. Pasti kamu sakit hati kan? Hahahha..." lanjutnya lagi masih dengan suara tawanya yang keras itu.


Telinga Chayra seakan panas mendengar perkataan dari lelaki itu, ia pun langsung saja berdiri dan kemudian berlari kecil kembali menuju ke Villa.


"Woii.. Kenapa lari kearah sana, suami kamu itu diujung pantai situ.." ucapnya lagi seraya menunjuk kearah berlawanan dari tempat Chayra pergi. Tapi, sedikitpun Chayra tidak menoleh. Ia tetap berlari menuju ke villa.

__ADS_1


...💓💓💓💓...


"Daf, Chayra kok belum datang juga ya? Coba kamu telpon dia lagi." kata Clarissa dengan menyuruh Dafri menelpon Chayra. Saat itu mereka baru saja keluar dari sebuah warung yang ada didekat pantai. Dafri langsung saja menuruti perkataan Clarissa lalu mengambil handphone yang ada disakunya.


"Handphone aku mati ternyata, sayang.." ucap Dafri setelah memeriksa hpnya yang ternyata habis baterai.


"Owalah, Chayra mungkin gak lihat kita disini. Dia nelpon kamu pun pasti gak bisa karena hp kamu mati. Dimana ya Chayra? Apa dia kembali lagi ke Villa?" tanya Clarissa dengan matanya dengan sigap menyelusuri sekeliling pantai tersebut.


"Hhmm.. Mungkin lah sayang," jawab Dafri dengan cuek.


"Apa kita kembali ke villa aja nyusul Chayra?" usul Clarissa tiba - tiba.


"Clarissa.. Sudahlah, biar saja Chayra dirumah. Kita nikmati saja dulu kebersamaan kita berdua disini. Karena sudah lama juga kan kita gak menghabiskan waktu berdua? Mumpung kita disini, jauh dari mama kita. Kalau disana, kita bertemunya cuman sebentar itupun dengan rasa was - was. Takut ketahuan oleh Mama kita berdua." kata Dafri dan kemudian mengenggem lembut tangan Clarissa.


Dafri lalu menghentikan langkah kakinya dan kemudian menghadapkan badannya kearah Clarissa. Ia tatap wajah kekasihnya itu dengan tatapan teduh.


"Sayang.. Aku benar - benar salut dengan kebesaran hati kamu, sedikitpun kamu tidak ada rasa cemburu dengan Chayra bahkan kamu mau berteman baik dengan dia. Peduli dengan dia, dan memikirkan perasaan dia." kata Dafri dengan memberi kata pujian untuk Clarissa. Dipuji seperti itu, membuat Clarissa langsung tersenyum dengan manis.


"Kenapa aku harus cemburu, Daf? Sedangkan hati kamu sudah aku miliki sepenuhnya," lirih Clarissa dengan tangan kirinya menyentuh bagian dada Dafri.

__ADS_1


"Aku kenal kamu sudah lama. Dafri yang ku kenal bukanlah laki - laki yang mudah jatuh cinta dengan wanita lain. Dafri yang ku kenal adalah sosok yang setia, dan aku percaya kamu bisa menjaga hati kamu." ucap Clarissa masih dengan senyuman manis dan ikhlas yang tergambar diparasnya yang cantik jelita itu.


"Terimakasih sudah memberikan kepercayaan penuh kepada aku, Clarissa." ucap Dafri dan kemudian kembali membawa tangan Clarissa didalam genggamannya. Clarissa hanya mengangguk dan kemudian menyandarkan kepalanya dipundak Dafri.


...💕💕💕💕...


Chayra membuka pintu kamarnya dengan kasar dan kemudian dengan nafas yang tersengal - sengal, ia langsung saja menghempaskan badannya keatas kasur.


Chayra benar - benar bingung dengan dirinya sendiri. Mengapa begitu sakit hatinya saat mendengar apa yang di katakan oleh laki - laki itu tadi tentang Dafri dan Clarissa. Bukannya wajar jika mereka melakukan itu, karena mereka memang pasangan yang saling mencintai. Bukan seperti dirinya yang terpaksa dan dipaksa untuk mencintai? Namun, sesuatu yang dipaksa dan awalnya terpaksa.. Apakah mungkin akan berubah menjadi suatu kerelaan??


Tidak.. Tidak... Chayra langsung membuang jauh pikiran aneh yang menguasainya itu. Ia tidak boleh lemah. Dia yang sudah menyetujui kesepakatan awal dengan Dafri bahwa mereka tidak akan serius menjalani pernikahan ini. Dan diapun tahu bahwa Dafri tidak mungkin tertarik dengannya karena lelaki itu sudah ada kekasih yang sangat ia cintai.


"Tidak seharusnya aku lemah seperti ini, tidak boleh Chayra... Ayo Chayra, kamu harus bisa menjaga hati kamu. Jangan lagi kamu menggunakan perasaan kamu, bersikaplah masa bodoh dengan apa yang dilakukan Dafri. Jangan sedikit - sedikit kamu menggunakan perasaan kamu, Chayra!!" ucap Chayra dengan berbicara pada dirinya sendiri. Chayra berusaha menyemangati dirinya untuk tidak lagi menggunakan hati dalam menyikapi apapun itu tentang Dafri dan juga Clarissa.


Kendatipun demikian, sekuat - Kuatnya ia melawan rasa yang berkecamuk di dadanya ini, tetap saja membuat butiran - butiran halus malah mengalir perlahan - lahan di pipinya yang mulus. Menyadari hal itu, Chayrapun langsung buru - buru menghapusnya.


"Ya Allah, kenapa aku harus nangis? Air mata apa ini?" jerit Chayra dengan merasa geram terhadap dirinya sendiri. Tidak seharusnya ia mengeluarkan air mata sia - sia seperti ini, menangisi sesuatu yang sangat jauh dari jangkauannya. Entahlah.. Chayra seakan tidak bisa mengendalikan dirinya.


Chayra berusaha sekuat hatinya untuk meredam emosi perasaannya yang masih sangat labil ini. Berkali - kali air matanya mengalir, dan berkali - kali pula ia menghapusnya dengan tarikan nafas yang sudah tidak beraturan lagi. Dan Bersamaan dengan itu pula, Chayra yang saat itu duduk dibawah kasur dan menghadap jendela kamarnya, tidak sadar ketika seseorang telah masuk kedalam kamarnya dan malahan kini telah berdiri tepat dibelakangnya dengan wajah yang bingung dan penuh tanda tanya...

__ADS_1


...💢💢💢💢...


BERSAMBUNG...


__ADS_2