
Akhirnya tibalah dihari pernikahan Dafri dan Clarissa yang diadakan dikediaman keluarga Clarissa sendiri. Seperti yang sudah disepakati bersama, acara pernikahan mereka tidak begitu mewah dan dhadiri oleh keluarga besar dan sahabat terdekat dari kedua belah pihak saja.
Namun, Chayra tidak turut hadir didalam acara tersebut. Ia lebih memilih untuk tetap dirumah bersama bik Asih.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tapi mata Chayra tidak juga bisa terpejam. Meskipun ia sudah mengantuk tapi pikirannya tetap membawanya untuk memikirkan tentang pernikahan Dafri dan Clarissa malam ini.
Dafri belum juga mengabari Chayra, berkali - kali Chayra memeriksa hpnya dan berharap ada panggilan masuk ataupun chat masuk dari suaminya itu tapi ia hanya bisa menelan kekecewaan karena apa yang ia harapkan tidak kunjung terwujud.
Chayra menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskan nafasnya perlahan - lahan. Ia mencoba mengatur rasa perih dihatinya yang semakin kuat ia rasakan. Didalam hati, Chayra berusaha menguatkan dirinya agar tidak larut dalam kesedihan.
"Chayra, bukan baru sekali ini kamu dikecewakan Dafri. Awal pernikahan dengannya kamu sudah merasa kecewa juga kan? Seharusnya kamu bisa lebih kuat lagi Chayra, jangan terlalu lemah" lirih Chayra dengan berbicara pada dirinya sendiri.
Setelah itu, Untuk mengusir segala rasa dihatinya saat ini maka iapun kembali meniatkan diri untuk bermunajat kepada RabbNya. Mengadukan segala kegundahan jiwanya yang kembali bergemuruh. Chayra melaksanakan sholat sunah witir 3 rakaat dan setelah selesai, iapun lalu berdzikir dan berdoa panjang.
Setelah selesai sholat dan berdoa panjang, maka Chayrapun mulai perlahan - lahan merasakan kelegaan dihatinya. Dan bersamaan dengan itu pula, handphone Chayra berdering kencang sehingga memecahkan keheningan dimalam itu. Chayra bergegas mengambil handphonenya, didalam hati ia bertanya - tanya juga siapa gerangan yang telah menelpon malam - malam begini?
Saat ia meraih handphone itu, mata Chayra langsung berbinar - binar saat nama Dafri terpampang disana. Dengan tangan bergetar, Chayra lantas menerima panggilan tersebut.
"Assalamualaikum... Chayra, Sayaang?? Kamu belum tidur?" tanya Dafri dengan suara yang lembut.
"Wa"alaikumusalam, belum Dafri.." jawab Chayra.
"Oya, bagaimana acaranya? Lancar - lancar saja kan?" lanjut Chayra lagi dengan bertanya.
"Ya begitulah, lancar - lancar saja. Kamu kenapa belum tidur sayang? Apa karena gak ada aku disamping kamu ya yang nemanin sehingga kamu gak bisa tidur?" goda Dafri masih dengan nada yang sama. Chayra hanya menanggapinya tertawa kecil.
"Sayang, kalau kamu sudah ngantuk tidurlah duluan ya. Sebentar lagi aku akan pulang." kata Dafri lagi yang membuat Chayra langsung mengerutkan keningnya. Dafri bilang ia akan pulang, padahal dia baru saja menikah dengan Clarissa. Tidak mungkinlah Dafri meninggalkan Clarissa sedangkan malam ini adalah malam penggantin bagi mereka. Pikir Chayra didalam hatinya.
"Dafrii... Gak mungkin kamu pulang, bagaimana dengan Clarissa?" akhirnya pertanyaan itu terucap juga dari lisannya Chayra.
"Ya biar saja dia dirumahnya, Aku akan tetap pulang malam ini nemanin kamu." kata Dafri dengan bersikeras.
"Tapi, Dafrii.. Kamu jangan begitu, apa kata Mama Clarissa dan Papa kamu nantik? Pasti mereka akan marah dan.. Takutnya mereka malah mengira aku yang menyuruh kamu untuk pulang malam ini." kata Chayra yang masih mencegah Dafri untuk pulang.
__ADS_1
Mendengar larangan dari Chayra itu, membuat Dafri berpikir sejenak dan akhirnya ia membenarkannya juga. Ia tidak ingin Chayra yang akan kena batunya dan disalahkan oleh mereka semua.
"Oke, Malam ini aku nginap disini. Tapi, besok pagi - pagi aku akan pulang. Kamu tungguin aku besok pagi ya sayang.." kata Dafri yang diiyakan langsung oleh Chayra.
"Kamu percaya sama aku kan Chayra? Aku janji tidak akan pernah sekalipun menyentuh Clarissa. Aku akan pegang janji aku ini." lanjut Dafri lagi.
"Dafrii, aku gak pernah menyuruh kamu berjanji seperti itu ya." kata Chayra mengingatkan Dafri.
"Iya, aku tahu sayang... Tapi aku akan tetap berjanji. Karena aku tidak ingin mengkhianati kamu. Kamu pegang kata - kata aku ini ya?" ujar Dafri. Lagi - lagi Chayra hanya mengiyakannya.
Sedang asyiknya mereka berbincang - bincang melalui telpon, tiba - tiba terdengar suara Clarissa yang memanggil Dafri dengan begitu manjanya. Chayra langsung terdiam dan berniat mengakhiri panggilan mereka. Tapi, Dafri tidak menyahut panggilan dari Clarissa. Ia masih tetap berbicara dengan Chayra.
"Dafri, Clarissa memanggil kamu tuh. Kita sudahi dulu telponannya ya." kata Chayra dengan menegur Dafri yang masih sibuk berbicara.
"Hhhmmm.... Biar sajalah Chayra, aku masih ingin berbicara sama kamu." kata Dafri yang masih enggan mengakhiri telponan mereka.
"Dafrii.. Aku mau istirahat, kita sambung besok ya." kata Chayra lagi, dan Dafripun akhirnya mengiyakannya dan mengakhiri panggilan tersebut.
"Dafri, kamu telponan dengan siapa tadi?" tanya Clarissa dengan tatapan penuh curiga.
Clarissa hanya bisa melihat Dafri dengan tatapan kesal.
Beberapa saat kemudian, Dafri keluar dari kamar dengan sudah mengganti pakaiannya. Clarissa dengan gayanya yang centil itu langsung saja menghampiri Dafri.
"Dafri sayang... Kamu capek? Mau aku pijitin tidak?" tawar Clarissa yang sudah berdiri didepan Dafri.
"Gak." jawab Dafri singkat dan padat lalu menuju ke sofa dan berbaring disana. Clarissa belum menyerah, ia masih melancarkan usahanya dan kembali mendekati Dafri.
"Kamu kenapa tidur disana Dafri sayang??" tanya Clarissa dan kali ini malah menyentuh tubuh lelaki itu. Dafri buru - buru langsung menepis tangan Clarissa dari badannya dengan kasar.
"Jangan menggoda aku, Clarissa..!!" ketus Dafri dengan melotot marah.
"Kalau kamu mau tidur, tidur lah diatas kasur sana. Biar saja aku tidur disini." kata Dafri dan kemudian membalikkan badannya.
__ADS_1
"Dafrii... Bisa gak sih kamu sedikit saja mempedulikan aku, kita sudah menikah. Aku ingin kita tidur bersama - sama, bukan malah tidur berpisah seperti ini." kata Clarissa yang sudah mulai tersulut emosi atas sikap Dafri yang masih belum bersahabat terhadapnya.
"Ngak bisa lagi, Clarissa. Kita memang sudah menikah, tapi kamu jangan berharap lebih ke Aku. Hati aku tidak lagi untuk kamu. Jadi tolonglah kamu mengerti. Oke?" kata Dafri dan kemudian kembali membalikkan badannya dengan membelakangi Clarissa. Namun, Clarissa masih belum bisa menerimanya. Ia tetap mendesak Dafri untuk tidur bersamanya.
"Dafri, tolonglah.. Sampai kapan kita seperti ini. Aku lagi mengandung anak kamu, Daf. Mulailah belajar menerima aku lagi, mencintai aku lagi seperti aku yang selalu mencintai kamu." pinta Clarissa dengan memohon. Wanita itu kini duduk bersimpuh dibawah lelaki itu.
"Clarissa.. jika kamu terus - terusan mendesak aku seperti ini, jangan salahkan aku yang pergi sekarang juga dari rumah kamu." ancam Dafri dengan gusar.
Karena ancaman dari Dafri tersebut akhirnya membuat Clarissa menyerah untuk sementara. Ia pun beranjak dari sana dan kembali ke tempat tidurnya dengan hati yang dongkol.
Tapi, sesampainya ditempat tidur... Clarissa masih belum puas hati. Ia memutar otaknya bagaimana caranya untuk mendapatkan perhatian dari Dafri. Setelah beberapa menit berlalu, Clarissa akhirnya menemukan ide yang bagus.
"Daf.. Dafriii..." panggil Clarissa. Tapi, Dafri sama sekali tidak bergeming sepertinya lelaki itu sudah tertidur dengan pulas.
Kemudian Clarissa menuju ketempat Dafri sembari memegang bagian perutnya, wajahnya dibuat meringis seperti menahan sakit. Ya.. Chayra berpura - pura merasa nyeri pada bagian perutnya untuk membuat Dafri menjadi khawatir terhadapnya.
"Dafrii.. Perut aku sakit, kamu bangun donk..!!" kata Clarissa dengan menarik - narik lengan baju Dafri agar lelaki itu segera bangun.
"Dafri, aku kesakitan ini.." kata Clarissa setengah menjerit. Dafri lalu membuka matanya yang memerah karena menahan kantuk.
"Kenapa kamu masih mengganggu tidur aku, Clarissa?" tanya Dafri dengan kesal.
"Perut aku sakit, Daf. Kamu peduli donk sedikit," kata Clarissa masih dengan memegang perutnya.
"Sakit kenapa? Kamu lapar? Makanlah sana." kata Dafri dengan cuek.
"Bukan karena lapar, Daf. Ini kandungan aku yang sakit, nyeri banget ni Daf." rintih Clarissa dengan wajah meringisnya.
"Kamu serius? Ya sudah, kita kerumah sakit sekarang!!" putus Dafri akhirnya dan kemudian ia bergegas dan bersiap untuk pergi. Sedangkan Clarissa hanya terdiam mematung ditempatnya.
...❤❤❤❤...
BERSAMBUNG...
__ADS_1
.
.