Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
Eps 31 // KELUARGA CHAYRA


__ADS_3

"Ayra, Sudah bangun kamu Nak?" tanya Sukma, Ibunya Chayra. Wanita separuh baya itu masuk kedalam kamar Chayra yang memang tidak dikuncinya. Melihat Ibunya masuk, membuat Chayra langsung tersenyum tipis.


"Sudah bangun kok buk, sejak tadi malahan." lirihnya dengan suara yang agak berat.


"Bagaimana keadaan kamu? Sudah mendingan belum?" tanya Sukma lagi seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Chayra.


"Alhamdulillah, sudah mendingan buk." jawab Chayra lalu tersenyum lebar.


"Oya, sarapan sudah ibu siapkan di dapur. Ibu dan Ayah berangkat kepasar dulu mau jualan. Shakila sudah berangkat sekolah diantar Arman, kalau Arman sudah pulang jangan lupa kamu ajak Arman sekalian untuk sarapan ya. Arman paling susah sekali kalau disuruh sarapan, kamu tahu sendiri kan adik kamu itu ada riwayat magh." jelas Sukma panjang lebar.


"Oke, Buk. Siap, nanti Chayra ajak Arman sarapan juga." kata Chayra, setelah itu ibunya pun keluar dari kamar Chayra.


Hari ini adalah hari ke tiga Chayra berada dirumah orang tuanya setelah ia pergi meninggalkan rumah keluarga besar Dafri. Clarissa lah yang membantu Chayra untuk pulang kerumah orang tuanya, ia yang membelikan tiket dan memberikan sejumlah uang untuk belanja Chayra selama diperjalanan.


"Kamu ganti nomor handphone kamu dengan yang ini ya, dan kamu hapus juga nomor Dafri dari handphone kamu" perintah Clarissa ketika mereka sudah sampai dipelabuhan saat itu. Clarissa menyodorkan nomor baru tersebut, dengan ragu - ragu Chayra menerimanya.


"Terimakasih ya Chayra, kamu sudah mau mengalah dan pergi meninggalkan Dafri. Kamu wanita yang baik, semoga saja kamu mendapatkan lelaki yang terbaik juga nantinya." ucap Clarissa ketika itu dan kemudian iapun memeluk Chayra dengan erat.


Chayra pulang tanpa memberi kabar sebelumnya kepada Ibu dan Ayahnya, tentu saja dengan kedatangan dirinya yang mendadak itu membuat kedua orang tua dan juga adik - adiknya merasa heran. Chayra yang pulang seorang diri tanpa ada Dafri disisinya.

__ADS_1


Saat itu pula, Chayra yang tidak ingin berlama - lama melihat gurat kebingungan yang terpancar dari wajah keluarganya maka Chayrapun menceritakan semua yang telah terjadi pada pernikahannya dengan Dafri. Ia ceritakan sedetil mungkin tanpa dikurangi ataupun ditambahnya sedikitpun. Chayra cerita kan apa adanya. Keluarga Chayra sungguh kaget luar biasa setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh Chayra tersebut. Terlebih Ibu Chayra yang seakan merasa bersalah karena dirinya yang sudah mendesak Chayra untuk menikah dengan Dafri, karena sejumlah utang yang tidak mampu ia bayar ke Mamanya Dafri.


"Ayra, sungguh malang sekali nasib kamu sayang.. Maafkan ibu yang telah memaksa kamu menikah dengan Dafri, jika ibu tahu dari awal kalau Dafri itu sudah beristri, pasti lah ibu tidak akan membiarkan kamu menikah dengannya." kata Sukma dengan rasa bersalahnya itu.


"Tidak apa - apa buk, ini bukan salah ibuk. Mungkin memang seperti inilah takdir yang telah ditetapkan oleh Allah untuk Chayra, tidak apa buk. Chayra ikhlas, Chayra ridho dengan semuanya." kata Chayra mencoba untuk tegar. Kendatipun lisannya mengatakan hal itu, namun.. siapa yang bisa mendengar isi hati Chayra sebenarnya? Tentu saja Chayra tidak cerita kepada keluarganya bahwa separuh hatinya masih tertinggal disana. Keluarganya hanya tahu bahwa Chayra yang masih suci dan belum pernah sama sekali disentuh oleh Dafri. Dan mereka bersyukur juga untuk itu semua. Tidak mungkin juga Chayra menceritakan kejadian dimalam terakhir kebersamaannya dengan Dafri yang malah membuahkan suatu penyesalan teramat dalam bagi dirinya.


Tepat Dihari kepulangan Chayra kerumah orang tuanya, Chayra langsung jatuh sakit. Ia tiba - tiba demam dengan suhu tubuh yang lumayan tinggi dan sampai mengigil. Tentu saja orang tua dan juga adik - adiknya panik, mereka berniat untuk membawa Chayra ke klinik terdekat namun Chayra menolaknya dan meminta ibunya untuk membelikannya obat penurun panas saja.


Tapi, syukurlah hari ini keadaannya mulai membaik. Meskipun badannya berangsur - angsur pulih, namun tidak dengan hati dan pikirannya yang masih saja memikirkan Dafri. Chayra akui, Memang tidak mudah dan secepat itu ia bisa melupakan Dafri. Apalagi setelah sesuatu yang terjadi diantara mereka malam Itu. Jika kembali mengingatnya, hanya bisa membuat hatinya menjadi ngilu.


Terkadang timbul dibenak Chayra sebuah harapan, dimana Chayra yang berharap Dafri datang mencarinya kesini. Tapi, itu hanyalah sebuah harapan kosong semata. Buktinya setelah tiga hari kepergiannya, Dafri juga tidak menyusulnya kesini. Chayra hanya bisa tersenyum kecut seakan mengejek angan dan harapannya yang diluar jangkauan itu.


Beberapa saat kemudian, disaat pikiran dan hati Chayra yang masih sibuk berkelana memikirkan Dafri, tiba - tiba Chayra mendengar suara motor yang memasuki halaman rumahnya. Cahyra yakin itu Arman yang sudah pulang dari mengantar Shakila. Chayrapun bangkit dan keluar dari kamarnya. Setelah berada diluar, ternyata bukan Arman yang datang melainkan Farhan, adik pertama Chayra yang sudah berkeluarga dan juga memiliki seorang anak. Chayra dan Farhan umurnya cuman beda satu tahun.


Farhan menatap Chayra dengan sinis, seakan meremehkan. Yah.. Diantara adik - adiknya yang lain, hanya Farhanlah yang selalu bersikap tidak baik dengan dirinya. Chayra juga tidak tahu kenapa, sejak dulu dia tidak pernah akur dengan Farhan.


"Bodoh sekali kau, Chayra!!" gumamnya dengan suaranya yang menggelegar itu. Dan Farhan memang tidak pernah memanggil Chayra dengan sebutan Kakak.


"Bodoh kenapa, Farhan?" tanya Chayra dengan bingung karena Farhan yang tiba - tiba saja mengatakan dirinya bodoh.

__ADS_1


"Iya, Bodoh..!!! Kenapa kau gak bertahan saja dulu tinggal dengan suami kau itu, dia kan belum menceraikan kau. Setidaknya kau bisa meloroti harta dia dulu, anggap saja sebagai ganti rugi karena sudah ditipu mentah - mentah dengan dia. Ini tidak, pulang dengan tangan kosong." ujarnya masih dengan nada suara yang sama. Chayra hanya bisa geleng - geleng kepala mendengar perkataannya itu. Namun, tidak berniat untuk menanggapi perkataan Farhan tersebut.


"Kamu sudah sarapan? Tadi ibu masak kan nasi goreng, kamu makan lah dulu kalau belum sarapan." kata Chayra yang mengalihkan pembicaraan mereka.


"Kenyang aku melihat kebodohan kau, Chayra!!" umpat Farhan dan kemudian menuju ke dapur, ia membuka pintu kulkas dan mengambil minuman mineral didalamnya setelah itu membanya ke ruang tengah.


"Kau tau tidak beberapa hari ini rentenir kembali datang kerumah?" tanya Farhan lagi, Chayra langsung menggelengkan kepalanya dengan wajah yang penuh tanda tanya.


"Ternyata utang yang dibayarkan oleh Mertua kau itu belum semuanya dibayarkan. Mertua kau itu mintak waktu sebulan lagi untuk melunasi semuanya, dan naasnya dia malah meninggal duluan sebelum sempat melunaskan utang - utang itu." jelas Farhan dengan geram. Chayra langsung tercengang mendengar perkataan Farhan tersebut.


"Benarkah begitu, Farhan? Tapi, Ibu dan Ayah gak bilang apa - apa mengenai ini." ucap Chayra.


"Sengaja Ayah dan Ibu gak beritahu kamu, karena mereka gak ingin membebani kamu, Chayra. Walaupun sebenarnya mereka juga kebingungan untuk mencari uang dari mana. Makanya, aku bilang kau itu bodoh tadi. Seharusnya kau bertahan saja dulu disana, kau manfaatin keluarga suami kau itu, setidaknya sampai utang - utang itu lunas baru kau pergi dari dia." kata Farhan yang menghakimi Chayra.


Chayra terdiam, masalah barupun timbul lagi. Apa yang bisa ia lakukan sekarang selain harus mencari cara untuk melunasi utang - utang tersebut. Chayrapun bertekad harus bekerja keras sejak sekarang..!!


...💕💕💕💕...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2