
...β€HAPPY READINGβ€...
Keluarga Dafri berduka. Setelah lebih kurang satu minggu lamanya Mama Dafri koma dan dirawat diruang ICU rumah sakit, akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya tepat dipukul 12 malam.
Semua bersedih dan merasa kehilangan sosok Mama Dafri yang dikenal akan keramahan dan kebaikannya. Begitu juga dengan yang Chayra rasakan, meskipun ia belum lama mengenal mertuanya itu. Namun, Chayra telah menyayanginya seperti ibunya sendiri.
Kini jenazah Mama Dafri sudah dibawa kerumah mereka. Dan di pagi harinya, begitu ramai orang - orang yang berdatangan untuk melayat dan mengucapkan belasungkawa kepada Dafri dan beserta keluarga besarnya.
Pagi itu, Dafri tampak duduk disamping jenazah Mamanya dengan menundukkan wajahnya. Semalam ia sudah menangis, dan pagi ini ia cukup tegar dengan tidak lagi mengeluarkan air mata. Cuman dari raut wajahnya masih terpancar rasa kehilangan yang begitu dalam.
Chayra berada disamping Dafri, ia berusaha memberi kekuatan kepada suaminya itu untuk bisa sabar dan menerima dengan ikhlas semua takdir yang telah ditetapkan olehNya. Ada beberapa kali Chayra menyentuh lembut tangan Dafri seakan memberikan ketenangan kepadanya ketika orang - orang mendekati Dafri dan mengucapkan kata - kata duka.
Tapi, Dafri tidak banyak mengeluarkan suara. Ia hanya mengangguk ataupun sekedar tersenyum tipis. Chayralah yang mewakili memberikan ucapan terimakasih kepada tamu yang sudah datang untuk bertakziah kerumah Dafri.
Setelah itu, Siang harinya jenazah Mama Dafri dikebumikan ditempat pemakaman yang tidak begitu jauh dari rumah mereka.
Saat jenazah Mama Dafri akan dikebumikan, tangis Dafri dan Dika pun pecah. Mereka seakan tidak rela melihat tubuh Mama mereka dimasuki kedalam liang tanah. Tapi, apalah daya yang bisa dilakukan mereka selain pasrah dengan ketentuan yang telah ditetapkanNya.
Air mata tiada henti mengiringi kepergian Dina untuk selamanya. Kepergian yang meninggalkan duka yang sangat dalam bagi mereka semua. Kehilangan akan tetap dirasakan tapi doa dan kasih sayang tidak akan pernah hilang dan terlupakan. Kematian adalah sesuatu yang pasti. Setiap yang bernyawa pasti akan Mati.
...ππππ...
"Dafri, ini aku bawakan makan malam untuk kamu. Kamu pasti lapar kan karena sejak siang tadi belum makan sama sekali." kata Chayra yang membawa mapan berisi makanan dan meletakkannya diatas meja bulat yang kebetulan ada didalam kamar mereka.
Dafri yang lagi berbaring setengah duduk diatas ranjangnya, lalu memandang sekilas ketempat Chayra meletakkan mapan tersebut.
__ADS_1
"Kamu saja yang makan Chayra, aku gak lapar." jawab Dafri dengan datar.
Mendengar jawaban dari Dafri tersebut, membuat Chayra langsung berjalan mendekati suaminya.
"Makanlah walaupun sedikit Dafri, aku tahu kamu masih sangat sedih dan terpukul dengan kepergian Mama. Tapi, larut dalam kesedihan sampai tidak makan - makan juga tidak baik, sama saja kamu menyiksa diri kamu sendiri." kata Chayra yang berusaha memberikan pencerahan kepada Dafri.
"Ya sudah, bawa makanannya kesini." kata Dafri akhirnya. Chayra langsung tersenyum dan kemudian bergegas mengambil makanan tersebut. Lalu Dafri menyuapkan makanan tersebut sebanyak tiga kali suapan setelah itu kembali memberinya ke Chayra yang ada disampingnya.
"Sudah selesai?" tanya Chayra dengan mengerutkan keningnya.
"Yang penting makan kan, walaupun hanya tiga kali suapan." jawab Dafri dan kemudian membaringkan tubuhnya.
"Ya. Oke, nantik kalau kamu masih mau melanjutkan makannya lagi, beritahu saja aku. Biar aku ambilkan, ini makanannya aku letakkan dimeja." kata Chayra sembari berjalan menuju kemeja tadi. Namun, Dafri tidak memberi jawaban apa - apa.
Setelah itu, karena malam yang sudah semakin larut juga maka Chayra pun bersiap untuk tidur. Sebelumnya Chayra kekamar mandi untuk berwudhu. Rutinitas yang biasa ia lakukan sebelum tidur, dan saat keluar dari kamar mandi Chayra melihat Dafri yang sudah tertidur lelap diatas ranjangnya. Maka Chayra secara pelan - pelan mengambil bantal juga selimutnya untuk dibawa ke sofa. Biasanya Dafri yang tidur disofa dan Chayra yang tidur diatas tempat tidur. Tapi, karena Dafri sudah terlanjur tidur disana dan tidak mungkin juga Chayra membangunkannya. Maka Chayra pun tidak keberatan malam ini harus tidur disofa.
"Tetaplah disini, Chayra." kata Dafri lalu perlahan - lahan membuka matanya yang sudah merah dan basah. Ternyata Dafri menangis lagi. Chayra hanya bisa menatap bingung dengan pernyataan Dafri barusan itu.
"Aku sangat butuh sandaran malam ini, tetaplah disamping aku Chayra." lanjut Dafri lagi. Dan Chayrapun masih tetap diam ditempatnya.
...ππππ...
Tiga hari sudah berlalu setelah kepergian Mama Dafri meninggalkan mereka semua. Namun, suasana berduka masih saja menyelimuti keluarga Argantara. Baik Argantara maupun Dafri belum memulai aktifitas mereka seperti biasanya, Mereka masih berdiam diri saja dirumah. Dan malam ini akan diadakan acara tahlilan dirumah Dafri, keluarga besar beserta sanak saudara lainnya datang kerumah Dafri untuk mendoakan almarhumah Mama Dafri.
Clarissa tampak hadir juga dalam acara malam itu, meskipun ia duduk lumayan jauh dari Dafri dan Chayra. Namun, Pandangannya tidak lepas melihat kearah Chayra dan Dafri yang sibuk menanggapi ucapan belasungkawa dari keluarga dan tetangga yang datang.
__ADS_1
Setelah acara selesai maka tamu beserta keluarga Dafri yang lainnya pun pulang satu persatu. Kini tinggallah keluarga inti saja dan juga Clarissa yang masih duduk diteras depan rumah Dafri. Melihat Clarissa berada disana, Dafripun menghampirinya.
"Clarissa, kamu belum pulang?" tanya Dafri kepada kekasihnya itu dan kemudian ikut duduk juga disampingnya.
"Aku belum mau pulang" sahut Clarissa lalu tersenyum tipis. Ia pandangi wajah Dafri yang masih tampak murung dan sedih, lalu kemudian Clarissapun memegang tangan Dafri dengan lembut seraya berujar.
"Daf, kamu yang kuat ya. Kamu ikhlaskan Mama kamu karena beliau sudah tenang disana. Boleh sedih, tapi jangan larut dalam kesedihan." nasihat Clarisaa.
"Yah, InshaAllah aku sudah ikhlas. Mudah - mudahan aku bisa melalui hari - hari aku tanpa Mama." kata Dafri dengan mata yang berkaca - Kaca.
"Aku yakin kamu bisa, Daf. Kamu tidak sendirian kok, masih ada Papa kamu, Dika dan juga aku. Aku akan selalu berada disisimu, menemani dalam sedih dan dukamu. Oke?" ucap Clarissa dengan suara yang lembut sehingga mampu menyejukkan hati Dafri.
"Oke, Sayang. Terimakasih atas dukungannya." kata Dafri dan kemudian juga memegang tangan Clarissa.
Mereka masih melanjutkan obrolan mereka, dan tanpa mereka sadari sejak tadi Chayra memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Meskipun Chayra tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, namun Chayra bisa menyaksikan dengan jelas bagaimana kemesraan yang mereka tunjukkan itu. Apalagi Clarissa yang selalu menempel dan mendekatkan dirinya ke Dafri. Clarissa yang lebih agresif, tapi Dafri sama sekali tidak merasa risih. Lagi - lagi Chayra hanya bisa tersenyum kecut, mana mungkin Dafri bisa risih sedangkan Clarissa itu juga istrinya. Jangankan hanya duduk berdekatan, lebih dari itu saja sudah mereka lakukan.
Tidak ingin berlama - lama berada disana dan menyaksikan sesuatu yang membuat dadanya semakin sesak, maka Chayrapun memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Tapi, sebuah ucapan yang tiba - tiba dari Dika membuat Chayra tidak jadi pergi.
"Kak Chayra, kenapa kakak membiarkan bang Dafri berduaan dengan kak Clarissa disana? Apa kakak tidak cemburu melihat mereka berpegangan seperti itu?" tanya Dika. Pertanyaan spontan dari Dika tersebut membuat Chayra hanya bisa menelan ludahnya, karena Chayra tidak tahu harus menjawab apa.
...β€β€β€β€...
BERSAMBUNG..
JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTARNYA YA, DAN TERIMAKASIH SUDAH SETIA MEMBACA...
__ADS_1
.
.