
Chayra masuk kedalam kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu. Ia menarik nafas berkali - kali dan berharap dengan begitu hati dan perasaannya yang sempat terenyuh tadi bisa terkontrol kembali.
Pertanyaan serta pernyataan yang dilontarkan oleh Dika tadi benar - benar membuat Chayra tidak berkutik sama sekali, ia hanya diam mendengar setiap untaian kalimat yang begitu mengguncang jiwanya.
"Memang benar dulu Bang Dafri pernah berpacaran lama dengan kak Clarissa. Tapi, itu kan dulu. Sekarang sudah ada kak Chayra, istrinya bang Dafri. Jadi Dika mintak kak Chayra jangan diam aja, bahaya kak .. Takutnya mereka CLBK pulak kalau dibiarkan berdua - duaan seperti itu." ujar Dika memperingati Chayra.
"Dika bukan bermaksud untuk ikut campur ya kak, cuman Dika kasihan saja sama kakak. Dika lihat kak cuman diam aja tanpa sedikit protes atau marah sama bang Dafri." lanjut Dika lagi yang masih mengompor - ngompori Chayra.
"Ya.. Tapi mudah - mudahan saja bang Dafri tidak tergoda dengan mantan kekasihnya itu. Karena selain cantik, kak Clarissa orangnya juga baik dan lembut. Cuman ada perselisihan diantara Mama dan Mamanya kak Clarissa saja sehingga hubungan mereka tidak direstui." Dika masih saja tetap mengoceh sampai akhirnya karena merasa dicuekin, Dika pun pergi meninggalkan Chayra.
Setelah itu, karena tidak ingin terus - terusan larut dalam kegaluan atas ucapan Dika tadi maka Chayra pun menyibukkan diri dengan memberes - bereskan pakaiannya yang belum sempat ia keluarkan dari kopernya kemarin. Dan beberapa saat kemudian, Dafri masuk kedalam kamar tanpa mengucapkan salam. Ia langsung saja membaringkan tubuhnya keatas tempat tidur dengan posisi telentang dan kedua tangannya berada dibawah kepalanya.
Chayra hanya melihat sekilas kearah Dafri, tanpa menyapa ataupun berkata apapun kepada Dafri, ia kemudian kembali melanjutkan kegiatannya tadi. Dafri dibuat heran dengan sikap Chayra yang malah diam saja melihat dirinya masuk. Padahal Dafri berharap Chayra datang menghampirinya dan menawarinya sesuatu ataupun sekedar menyapanya.
Dafri kemudian duduk dan memandang Chayra yang masih sibuk dengan apa yang ia kerjakan itu, sedikitpun ia tidak menoleh kearah Dafri sehingga membuat Dafri tidak tahan untuk tidak memanggil namanya.
"Chayra," panggil Dafri akhirnya yang tidak tahan melihat Chayra malah mencuekkan dirinya.
"Ya..?" sahut Chayra dengan melihat Dafri sebentar namun setelah itu kembali mengalihkan wajahnya ke baju - baju miliknya tersebut.
"Kamu ngapain?" tanya Dafri akhirnya dengan gusar.
"Emang menurut kamu aku lagi ngapain, Dafri?" Chayra malah balik bertanya dengan nada dingin.
__ADS_1
Dafri sedikit tersentak mendengar jawaban dari Chayra tersebut.
"Aku kan cuman bertanya, kenapa jawabnya ketus begitu?" protes Dafri.
"Ngak ketus kok, biasa aja." jawab Chayra kali ini dengan nada yang datar.
"Ya sudah, lanjutkan lah kerjaan kamu itu." ucap Dafri dan kemudian kembali membaringkan badannya. Chayra hanya mengangkat bahunya dengan cuek.
Setelah selesai membereskan semua bajunya, Chayra kemudian berjalan kearah pintu luar, sedikitpun ia tidak memandang Dafri saat melewati lelaki itu. Dafri hanya bisa menatap kepergian Chayra dengan heran dan juga bingung.
Lama Dafri menunggu Chayra yang tidak kunjung kembali kedalam kamarnya, Dafri semakin dibuat penasaran dengan sikap Chayra yang tiba - tiba menjadi berubah seperti itu. Maka diapun memutuskan untuk keluar menyusul dan mencari Chayra.
Saat Dafri keluar dari kamar, matanya langsung saja menangkap sosok Chayra yang sedang tertidur diatas sofa yang berada diruang TV tepat disebelah kamar mereka. Dafri kemudian beregegas menghampiri istrinya itu.
"Kenapa kamu tidur disini, Chayra?" desis Dafri dengan suara yang pelan, dan kemudian Dafri mengangkat tubuh Chayra. Namun, sedikitpun Chayra tidak bergeming karena sudah saking nyenyaknya ia tertidur. Dafri lalu menggendong Chayra dan membawanya kekamar mereka.
Setelah sampai didalam kamar, Dafri meletakkan tubuh mungil Chayra dengan perlahan - lahan keatas tempat tidurnya. Dan lagi - lagi Dafri pandangi wajah Chayra erat - erat. Entah mengapa ia seakan senang melakukan hal itu, dan tanpa disadarinya seuntai senyuman malah tergambar diwajahnya. Sebuah senyuman yang sudah lama tidak terlihat diwajahnya semenjak Mamanya dirawat di rumah sakit.
Kemudian, entah bisikan dari mana lagi yang membuat tangan Dafri tiba - tiba menyentuh bagian kepala Chayra hingga turun kepipinya yang mulus. Dafri lakukan itu berulang - ulang kali dengan posisi setengah badannya dan juga wajahnya menghadap langsung ke wajahnya Chayra. Cukup lama juga Dafri melakukan itu dan kali ini malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Chayra. Sampai akhirnya, Chayra pun menggeliatkan tubuhnya dan perlahan - lahan Chayra membuka matanya yang masih terasa berat. Saat mata Chayra terbuka sedikit, samar - samar ia melihat wajah seseorang dihadapannya. Chayra pikir ia sedang bermimpi, namun Chayrapun tersadar bahwa itu bukan mimpi karena ia merasakan tubuhnya sedikit terhimpit dengan tubuh seseorang itu. Chayra lantas membuka matanya lebar - lebar dan seketika itu pula ia melihat Dafri tepat dihadapannya.
Chayra sungguh kaget luar biasa, begitu juga dengan Dafri yang kaget melihat Chayra yang sudah terbangun.
"Agghhh...." Dengan reflek Chayra langsung berteriak dan kemudian kedua tangannya malah menolak tubuh Dafri agar menjauh darinya.
__ADS_1
Sebuah tolakan yang kuat dari Chayra itu membuat tubuh Dafri terjatuh kelantai.
"Dafri, kamu mau ngapain?" tanya Chayra yang sudah terduduk dengan jantung yang mulai berdebar - debar kencang.
"Ng.. Ngak, Ngak gapain - ngapain, CHayra." Dafri langsung menjawabnya dengan cepat dan kemudian iapun berdiri dengan ekspresi wajah yang serba salah.
"Tapi, barusan itu tadi.. Apa?" tanya Chayra lagi yang tidak puas dengan jawaban Dafri.
"Tadi itu, Maaf Chayra aku terpaksa menggendong kamu dari luar masuk kekamar karena aku gak enak bangunkan kamu. Aku lihat kamu tidur pulas sekali, makanya tanpa membangunkan kamu aku langsung saja Bawa kamu kesini." jelas Dafri dengan suara yang agak bergetar karena sebenarnya ia sungguh tidak menyangka Chayra akan terbangun disaat dirinya dalam posisi seperti tadi. Dafri seakan menyesali dirinya yang entah mengapa melakukan perbuatan yang tidak seharusnya ia lakukan kepada Chayra. Dafri benar - benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Dorongan dan bisikan untuk melakukan hal itu begitu besar didalam hatinya.
"Lagi pula, kamu kenapa pakai tidur disofa luar segala? Kalau Papa atau Dika melihatnya bagaimana? Pasti mereka mengira aku yang mengusir kamu dari kamar, Chayra." kata Dafri lagi yang kini malah menghakimi Chayra.
"Aku.. Iya, tadi cuman tertidur aja." jawab Chayra dengan ragu - ragu karena sebenarnya bukan itu alasannya. Padahal Chayra saja yang tidak ingin tidur satu kamar dengan Dafri malam ini, karena hatinya yang masih saja tidak terima melihat kemesraan suaminya itu dengan Clarissa tadi. Ketidakrelaan itu lah yang ingin ia usir jauh - jauh dari hatinya.
"Ya sudah, lain kali kalau sudah ngantuk langsung saja masuk kamar dan tidur. Jangan kelayapan kemana - mana lagi," omel Dafri dan kemudian berjalan menuju ke sofa dan detik kemudian mengambil posisi tidur disana. Sedangkan Chayra hanya diam lalu kembali membaringkan tubuhnya juga ditempat tidur.
Setelah itu, Chayra memiringkan badannya dengan posisi membelakangi Dafri, sehingga lelaki itu dengan leluasa kembali melihat kearahnya dengan pandangan penuh arti dan juga seuntai senyuman manis kembali menghiasi wajahnya yang tampan itu.
...💞💞💞💞...
BERSAMBUNG...
.
__ADS_1