Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
EPISODE 72


__ADS_3

Dari lisannya Bik Asih Clarissa pun tahu bahwa Chayra sudah diusir Oleh Dafri dari rumahnya Dafri. Tapi, Bik Asih tidak tahu penyebabnya apa sampai - sampai Chayra diusir.


"Bibik kurang tahu juga non Clarissa, mau tanya ke Non Chayra Saat itu, Bibik merasa segan apalagi melihat wajah Non Chayra yang sedih seperti menahan tangis." cerita Bik Asih.


"Tapi, tadi Bibik sempat lihat Non Chayra dijemput seorang laki - laki menggunakan mobil. Ngak tahu siapa." lanjut Bik Asih lagi yang membuat Clarissa langsung tercengang. Chayra dijemput laki - laki? Emang siapa? Setahu Clarissa, Chayra tidak memiliki keluarga dikota ini. Dan tidak mungkin juga lelaki bermobil yang dimaksud bik Asih itu adalah adiknya Chayra, karena Chayra bukan berasal dari keluarga yang kaya.


Setelah mengobrol singkat dengan Bik Asih tentang Chayra, maka Clarissa pun kembali masuk kedalam kamar Dafri. Clarissa sangat penasaran apa yang terjadi sebenarnya, dan ia ingin menanyai langsung ke Dafri.


Sesampainya dikamar, ia mendapati Dafri sudah bangun dan terduduk lesu diatas tempat tidurnya, matanya merah, wajah dan rambutnya tampak berantakan. Dafri terlihat seperti orang yang sedang frustasi. Clarissa lantas mendekati Dafri dan duduk disampingnya.


"Daf...!" panggil Clarissa dengan menyentuh lembut Pundak Dafri. Dan Dafri seketika itu langsung menoleh ke samping.


"Ya." sahut Dafri akhirnya dengan suara yang serak seperti habis menangis.


"Kamu kenapa? Kamu.. Habis menangis ya?" tanya Clarissa dengan hati - hati.


"Yah." Dafri hanya menjawab dengan satu kata itu saja, dan kini pandangannya lurus menatap kedepan.


"Ada apa, Daf? Kamu gak mau cerita sama aku, Sebenarnya ada apa?" tanya Clarissa lagi masih dengan rasa penasaran dihatinya seraya kembali menyentuh pundaknya Dafri.

__ADS_1


"Aku mau menenangkan diri aku Clarissa, lebih baik kamu jangan ganggu aku dulu." kata Dafri dengan nada dingin. Tapi, bukan Clarissa namanya jika ia langsung menerima begitu saja permintaan Dafri tersebut. Nyatanya, Clarissa masih tetap mendesak Dafri untuk bercerita.


"Aku dengar dari Bik Asih, Katanya kamu mengusir Chayra dari rumah kamu ya, Benarkah begitu Daf?" tanya Clarissa penuh selidik. Dafri langsung menatap Clarissa dengan tatapan tajamnya.


"Oh, Kamu sudah tahu." kata Dafri dengan datar dan kemudian kembali mengalihkan pandangannya.


"Iya, Tadi aku mencari Chayra ke kamarnya. Tapi, ternyata.. Kamarnya sudah kosong dan kebetulan Bik Asih datang lalu cerita tentang kamu yang ngsuir dia." jelas Clarissa.


"Ngapain kamu kekamar Chayra? Kamu mau cari gara - gara lagi ya dengan dia, Clarissa?" tanya Dafri dengan gusar.


"Bukan, Dafri. Aku Cuman.."


"Tapi, Dafrii..." Clarissa tidak lagi meneruskan kalimatnya ketika ia melihat Dafri yang sudah keluar dari kamarnya dengan langkah cepat.


Clarissa menghela nafas panjang, dia sungguh masih penasaran kenapa Dafri menjadi begitu marah dan seperti membenci Chayra. Seharus nya Clarissa senang dengan situasi saat ini. Dengan begitu, tidak ada lagi yang menjadi penghalang baginya untuk memiliki Dafri seutuhnya. Yah.. Bukankah itu yang menjadi prioritas Clarissa selama ini? Memisahkan Dafri dari Chayra? Tapi, entah kenapa.. Dibalik kesenangan yang seharusnya ia rasakan itu, ada sekelebit rasa bersalah dan sebuah rasa yang... Clarissa sendiri tidak tahu itu apa. Yang jelas saat ini, Clarissa ingin tahu apa alasan Dafri mengusir Chayra dari rumah ini. Clarissa bertekad untuk mencari tahu.


...💓💓💓💓...


Chayra pergi dari rumah Dafri, sebenarnya Dafri tidak menyuruh Chayra untuk pergi. Namun, Chayra cukup tahu diri karena Dafri sudah mengatakan dia yang tidak mau melihat Chayra dihadapannya lagi. Lantas apa? Bukankah itu sama saja Dafri mengusir Chayra dari rumahnya.

__ADS_1


Maka, pagi itu juga Chayra mengemasi pakaiannya. Chayra hanya pamit secara langsung dengan Bik Asih, sedangkan Dafri sudah pergi entah kemana tapi Chayra menduga bahwa Dafri balik lagi kerumah sakit menemani Clarissa. Ya . . Biarlah, Chayra berusaha untuk berbesar hati dan mengikhlaskan Dafri hidup bahagia dengan Clarissa. Kemudian, Chayra mengirim pesan singkat ke Dafri untuk pamit dan juga mengucapkan kata maaf karena sudah mengecewakannya.


Setelah berjam - jam pesan itu dikirimnya, akan tetapi belum ada sama sekali balasan dari Dafri. Jangankan untuk membalas, membuka pesan singkat dari Chayra itu saja tidak ia lakukan. Padahal Chayra tahu, Dafri saat itu tengah online. Betapa pedihnya hati Chayra karena ia sudah berhasil membuat Dafri menjadi tidak peduli terhadapnya.


Kemudian Chayra yang sudah berada di jalanan sekitar komplek, lalu iapun menyetopkan sebuah taksi yang kebetulan lewat didepannya. Chayra masuk kedalam taksi tanpa memberitahu si supir tujuan dia mau kemana. Chayra hanya menyuruh si supir untuk keliling - keliling saja dulu. Setelah itu, Chayra lalu memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini?


Awalnya Chayra sempat berpikiran untuk kembali pulang lagi kerumahnya, tinggal bersama ibu, Ayah dan juga adik - adiknya. Itu akan lebih baik menurut Chayra. Namun, Chayra langsung merubah pemikirannya itu tatkala teringat akan kesehatan Ayahnya yang belum normal. Dan pastinya Chayra tidak ingin membuat kedua orangtuanya terutama Ayahnya menjadi sedih atas apa yang menimpanya saat ini. Chayra tidak ingin membebani pikiran Ayah dan ibunya. Maka, Chayra putuskan untuk tidak pulang. Lantas, kemanakah dia akan pergi? Tiba - tiba saja nama Kak Hilma langsung terlintas dipikirannya. Maka, Chayra langsung saja menghubungi wanita shaliha itu.


Melalui hubungan telpon, Chayra cerita ke kak Hilma tentang dirinya yang sudah diusir dari rumah suaminya itu. Kak Hilma yang merasa prihatin langsung saja menyarankan Chayra untuk tinggal dirumahnya saja. Awalnya Chayra menolak karena tidak enak malah merepotkan kak Hilma. Namun, Kak Hilma semakin mendesak Chayra dan bersikeras menyuruh Chayra untuk tinggal dirumahnya saja. Dan akhirnya, sekarang Chayra sudah berada dirumah Kak Hilma.


Siang itu Chayra tinggal seorang diri dirumah kak Hilma karena kak Hilma pergi mengajar, begitu juga suaminya yang seorang dosen disebuah universitas saat itu juga tidak ada dirumah. Sedangkan Anak kak Hilma berada di sekolah nya sampai sore hari.


Chayra menghabiskan waktunya dengan menonton televisi, meskipun tidak ada hal yang menarik yang ia tonton disana tapi tetap saja Chayra melototkan matanya menatap layar televisi tersebut. Sampai akhirnya, tiba - tiba saja dari pintu luar terdengar langkah kaki seseorang yang berjalan masuk kedalam. Tentu saja mendengar hal itu membuat Chayra langsung berdelik ngeri. Chayra takut juja seseorang yang masuk kedalam rumah kak Hilma tanpa mengucapkan salam itu adalah orang jahat ataupun perampok. Chayra langsung saja bergegas menjauh dari sana tapi naas saat ia akan berlari menjauh, saat itu pula dia malah bertabrak dengan seseorang yang ia curigai sebagai perampok tersebut...


...💓💓💓💓...


BERSAMBUNG...


.

__ADS_1


.


__ADS_2