
...💚HAPPY READING💚...
Chayra sudah sampai dirumah. Ia lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya dan setelah sampai ia pun membuka pintu kamar yang memang tidak terkunci.
Setelah Dafri menelpon tadi, Chayra langsung saja meminta Sarah untuk kembali mengantarkannya pulang kerumah. Entah kenapa, mendengar suara Dafri yang lemah speerti tadi itu membuat perasaan Chayra menjadi tidak enak. Belum lagi kata - katanya yang membuat Chayra semakin bingung. Begitu juga Dengan Sarah yang langsung memvonis bahwa Suami Chayra itu lelaki yang aneh.
Chayra membuka pintu kamar perlahan - lahan, setelah pintu terbuka ia mendapati keadaan kamar yang gelap gulita. Chayra langsung saja meraba kontak lampu yang ada didinding tepat disebelah ia berdiri dan kemudian menghidupkan lampu kamar. Saat keadaan kamar sudah kembali terang benderang, mata Chayra mendapati sosok Dafri yang sudah terbaring lemah diatas tempat tidur dengan menutupi tubuhnya menggunakan selimut yang tebal. Chayra lantas mendekati Dafri dan menyentuh sedikit tubuhnya.
"Dafri, kamu kenapa?" tanya Chayra dengan sedikit panik. Setelah mengetahui kedatangan Chayra dan juga mendengar suaranya maka Dafripun membuka matanya yang lagi - lagi tampak kemerahan.
"Chayra, kamu sudah pulang ya?" tanya Dafri dengan suaranya yang parau.
"Iya, sudah. Baru saja sampai. Maaf Dafri, aku pergi keluar gak izin sama kamu dulu tadi." kata Chayra dengan meminta maaf sebelum suaminya itu mengomelinya karena tidak mengabri jika akan keluar rumah.
"Iya, gak apa - apa Chayra. Yang penting kamu baik - baik saja." kata Dafri dengan mengeluarkan suara yang agak serak dan kemudian Dafri merubah posisinya dengan setengah duduk.
"Kamu kenapa, Dafri? Kamu.. Sakit ya?" tanya Chayra seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Dafri.
"Ya Allah, badan kamu sampai sepanas ini. Kamu demam ya Dafri." kata Chayra setengah menjerit karena saking kagetnya ia dengan suhu tubuh Dafri yang menurutnya terlampau panas.
"Mungkin iya, tadi awalnya cuman meriang saja." jawab Dafri.
"Kamu sudah minum obat?" tanya Chayra lagi seraya menatap wajah Dafri yang terlihat sangat pucat.
"Belum" jawab Dafri dengan singkat.
"Kok belum sih, Dafri? Sudah tahu badan kamu panas seperti ini, kok malah dibiarkan aja. Tubuh kamu ini sudah terlampau panas dan membutuhkan obat, bahaya lo kalau dibiarkan saja lama - lama tanpa diberi tindakan." omel Chayra yang merasa geram ke Dafri yang terlalu cuek dengan kesehatannya sendiri.
"Makanya aku suruh kamu pulang, Chayra." Dafri langsung saja memotong omelan Chayra tersebut.
"Aku butuh istri aku untuk merawat aku," lanjutnya lagi yang membuat Chayra tidak jadi untuk melanjutkan omelannya tadi.
__ADS_1
"Ambilkan obatnya di lemari sana, Chayra. Sekalian air hangat untuk mengompres aku. Oke?" ujar Dafri seraya menunjuk kearah lemari. Tanpa berkata apapun, Chayra menuju ke lemari dan mengambil beberapa macam obat yang ada didalamnya.
"Ini kamu minum dulu obat penurun panas dan vitaminnya. Kamu juga butuh vitamin, wajah kamu pucat sekali tu Dafri." kata Chayra sembari menyobek bungkus obat tersebut lalu memberikannya ke Dafri. Dan Dafripun langsung menelan 2 butir obat tersebut.
"Setelah ini, jangan lupa air hangatnya ya." kata Dafri kemudian kembali membaringkan tubuhnya.
"Iya," jawab Chayra dan kemudian berjalan keluar kamar dan menuju kedapur. Dafri melihat kepergian Chayra dengan tersenyum simpul.
Beberapa menit kemudian, Chayra pun datang kembali dengan membawa baskom berisi air hangat dan juga sebuah kain untuk mengompres Dafri.
"Dafri, ini sudah aku bawain air hangatnya." kata Chayra lalu meletakkan baskom itu disampingnya.
"Lalu?" Dafri malah bertanya dengan menaikkan satu alisnya dan juga menatap Chayra dengan penuh arti. Ditatap seperti itu, membuat Chayra jadi salah tingkah lalu menundukkan wajahnya.
"Chayra, kamu belum pernah merawat orang sakit ya? Kamu punya adik kan? Kalau adik kamu sakit demam, apa yang kamu lakukan?" tanya Dafri masih dengan tatapan mautnya itu.
"I-Iya, aku tahu. Biar aku kompreskan.." jawab Chayra akhirnya. Lalu ia pun mengompres dahi Dafri dengan air hangat tersebut.
"Pijit..??" Cahyra mengulang kata tersebut yang terdengar agak aneh di telinganya.
"Iya, badan aku sakit - sakit semua ni. Sepertinya perlu dipijit." kata Dafri dengan memejamkan matanya. Ia sekaan sedang menikmati tangan Chayra yang berulang kali menyentuh dahinya itu.
"Aku, Aku gak bisa mijit." jawab Chayra dan kemudian menyudahi mengompres dahi Dafri. Dan setelah itu, ia pun hendak beranjak dari sana namun Dafri langsung memegang pergelangan tangan Chayra.
"Mau kemana, Chayra?" tanya Dafri yang kini matanya sudah terbuka kembali. Dan lagi - lagi Dafri menatap Chayra dengan tatapan mautnya itu. Sebuah tatapan yang mampu membuat irama jantungnya menjadi tidak beraturan.
"Aku.. aku.. Mau, kekamar mandi." jawab Chayra beralasan.
"Oh, silahkan. Tapi, setelah itu.. Kesini lagi ya? Aku masih membutuhkan kamu." lirihnya lalu melemparkan sebuah senyuman termanis yang pernah Chayra lihat. Chayra seakan terpana persekian detik namun buru - buru ia tepis. Chayra bergegas masuk kedalam kamar mandi dengan perasaan yang tidak menentu.
Cukup lama Chayra berada didalam kamar mandi, sampai akhirnya Dafri menyusul Chayra dan mengetuk pintu kamar mandi tersebut.
__ADS_1
"Kamu ngapain didalam, Chayra? Kenapa lama sekali?" tanya Dafri. Chayra lantas membuka pintu kamar mandi tersebut.
"Ngak ngapain - ngapin kok, Maaf." kata Chayra.
"Ya sudah, bisa kita lanjutkan lagi?" tanya Dafri yang masih saja meminta Chayra untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin ia lakukan.
"Bisa Chayra??" tanya Dafri yang kali ini lebih menekankan kata - katanya yang terkesan setengah memaksa.
"Kalau kamu gak jawab, berarti aku anggap kamu bisa, yuk kita keatas tempat tidur." ajak Dafri seraya menarik tangan Chayra. Dan Chayra seakan pasrah dirinya dibawa kembali keatas tempat tidur.
Setelah itu, Dafri berbaring dan kemudian tanpa rasa segan dan malu sedikitpun ia lalu membuka bajunya didepan Chayra. Dan setelah itu menelungkupkan badannya. Chayra benar - benar dibuat terpana, dan badannya pun seakan panas dingin karena ulah Dafri itu.
"Ayolah Chayra.." pinta Dafri dengan setengah memohon karena Chayra yang tidak kunjung menyentuh punggungnya.
Lalu akhirnya, Dengan perlahan - lahan Chayra menyentuh punggung Dafri dan setelah tangannya berada diatas sana, Chayra kemudian sedikit menekan tangannya. Dan Chayra ulangi beberapa kali dengan berpindah - pindah tempat.
"Lumayan enak, kamu pintar mijit juga ternyata ya Chayra." puji Dafri dengan memejamkan matanya. Chayra hanya diam saja.
"Oke, sekarang tambah kekuatannya sedikit lagi Chayra. Agak lebih kencang ya." pinta Dafri dan lagi - lagi Chayra hanya bisa menuruti kemauan suaminya itu. Sampai akhirnya, tanpa diduga Dafri malah tiba - tiba membalikkan badannya. Dan kini posisinya sudah telentang dengan mata yang terbuka lebar menatap Chayra. Pandangan mereka beradu persekian detik, karena tidak tahan ditatap seperti itu, maka Chayra mengalihkan pandangannya dan kemudian iapun berdiri hendak menjauh dari Dafri. Namun, Naasnya.. Dafri dengan cepat menarik tangan Chayra sehingga membuat tubuh wanita itu terjatuh diatas dada bidangnya Dafri.
Jantung Chayra langsung berdetak kencang, karena posisinya yang begitu dekat dengan Dafri. Chayra kemudian berusaha mengangkat tubuhnya agar kembali keposisi semula. Namun, sia - sia karena tangannya masih dipegang erat oleh Dafri, lelaki itu seakan menahan dirinya agar tetap berada diatas sana.
"Dafri,.." lirih Chayra. Dan belum sempat Chayra melanjutkan perkataannya, sebuah kecupan manis malah mendarat di bibirnya Chayra..
...💋💋💋💋...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1