Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
Eps 14 // PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

...πŸ’HAPPY READINGπŸ’...


Setelah pertengkaran kecil yang terjadi antara Chayra dan Dafri sore itu, Chayra tidak lagi keluar dari kamarnya. Awalnya Dafri sempat beberapa kali memanggil Chayra dan menyuruhnya untuk membuka pintu. Namun, Chayra sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari Dafri itu hingga akhirnya Dafri pun tidak lagi memanggilnya.


Setelah sholat maghrib, Chayra yang masih menggunakan mukenanya dan berbaring diatas sajadah langsung saja tertidur dengan lelap. Chayrapun tertidur sampai jam menunjukkan pukul 12 malam, barulah ia sadar dan terbangun.


Setelah sadar, Chayra beristighfar berkali - kali karena teringat belum sholat isya. Iapun langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Selesai sholat, Chayra merasakan perutnya agak perih. Ia kelaparan, sejak siang Chayra belum makan sama sekali. Pikirannya yang galau dan hatinya yang sakit membuat dirinya menjadi lupa untuk makan. Maka, dengan langkah yang gontai Chayra akhirnya keluar dari kamar dan turun kebawah untuk mencari makanan di dapur.


Sesampainya di dapur, Chayra lalu makan makanan apa saja yang ada di dapur untuk mengganjal perutnya yang kelaparan. Saat sedang makan itulah, Chayra kembali teringat dengan Dafri dan Clarissa.


Jika mengingat kejadian tadi sore itu, sebenarnya membuat Chayra malu apabila bertemu dan bertatap muka dengan Dafri lagi. Bagaimana tidak? Ia seakan sudah meruntuhkan harga dirinya dengan menunjukkan kelemahannya sebagai seorang wanita dihadapan Dafri. Chayra sungguh menyesal karena tidak bisa mengendalikan dirinya sehingga bersikap berlebihan seperti itu. Apakah yang ada dibenak Dafri saat ini? Chayra merasa dia telah mempermalukan dirinya sendiri.


Setelah selesai makan, Chayra kemudian kembali keatas menuju kamarnya. Namun, langkah kakinya berhenti didepan kamar Dafri. Chayra langsung tersenyum kecut, dengan hati yang menduga - duga. Apakah Clarissa nginap disini atau tidak? Karena tadi Dafri sempat bilang kalau ada temannya Clarissa juga yang datang ke kota ini. Apakah Clarissa menginap ditempat temannya itu? Ataukah tidak? Jika tidak, berarti dia menginap di sini.. Di kamarnya Dafri? Mereka tidur bersama di kamarnya Dafri?? Mata Chayra seakan melotot jika apa yang di pikirannya itu adalah sebuah kebenaran. Chayra tak menyangka saja sudah sejauh dan sebebas itu hubungan mereka yang padahal mereka belum berstatus suami istri. Sama saja mereka telah melakukan perbuatan dosa besar jika memang benar mereka tidur bersama. Namun, sebisa mungkin Chayra tidak mempedulikan hal tersebut. Chayra benar - benar bertekad tidak lagi ikut campur urusan yang berhubungan dengan Dafri dan juga Clarissa. Apa yang mereka lakukan, Chayra akan tutup mata dan hatinya. Ia tidak ingin lagi terlihat lemah, Ia harus tegar. Hatinya sangat berharga untuk tidak disakiti lagi oleh suaminya sahnya itu.


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


Semalaman Dafri tidak bisa tidur. Saat ia memejamkan mata, ketika itu pula wajah Chayra dan semua ucapan yang dilontarkan wanita itu seakan menari - nari di benaknya. Ia kemudian kembali membuka mata untuk sekian kalinya dan melirik jam dinding kamar nya yang sudah menunjukkan pukul 4 subuh.


Dafri lalu bangkit dan duduk ditepi ranjangnya, ia melirik sekilas disebelahnya ada seorang wanita cantik yang sedang tertidur pulas. Yah.. Wanita itu adalah Clarissa, wanita yang sangat ia cintai.

__ADS_1


Dafri kemudian mengelus lembut rambut Clarissa seraya menyelimuti tubuh Clarissa.


Berkali - kali Dafri menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, dengan begitu ia berharap bisa melupakan sejenak pikirannya yang tidak berhenti memikirkan Chayra. Namun, hal itu tidak berefek apapun. Pikirannya malah semakin membawanya untuk memikirkan Chayra. Sampai waktu subuh pun, Dafri tidak juga bisa tidur. Maka, setelah adzan subuh dan selesai sholat, Dafri memutuskan untuk keluar rumah dan berolahraga dengan berlari - lari kecil di tepi pantai. Dafri sengaja tidak membangunkan Clarissa dan mengajaknya, karena ia ingin sendiri saat ini. Mengusir pikirannya yang suntuk itu.


Sesampainya di pantai, Dafri langsung saja berlari - lari kecil menyelusuri tepian pantai tersebut. Namun, ketika itu langkah kakinya melambat saat melihat sosok wanita yang ia kenali sedang berjalan pelan ditepian pantai. Biarpun dia membelakangi Dafri, tetap Dafri mengenali nya.


"Chayra..." spontan saja suara Dafri keluar dengan menyebut nama Chayra. Wanita yang di panggilannya itupun, langsung membalikkan badannya.


Mereka saling pandang persekian detik. Sampai akhirnya, Chayra mengalihkan wajahnya dengan menunduk.


"Kamu ngapain subuh - subuh disini, Chayra? Dipantai masih sepi, kalau tiba - tiba kamu diganggu orang jahat lagi bagaimana?" ucap Dafri langsung. Meskipun ia mengomeli Chayra namun terdengar jelas dari nada bicaranya bahwa ia juga mengkhawatirkan Chayra.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Dafri itu, Chayra kembali membalikkan badannya dan kemudian berjalan pelan menjauh dari Dafri. Dafri dengan cepat langsung memegang tangan Chayra.


"Gak kemana - mana" jawab Chayra lalu menepis tangan Dafri yang memegang pergelangan tangannya.


"Bisa kita bicara sebentar, Chayra?" tanya Dafri dengan menatap Chayra dengan tatapan teduh. Chayra yang tadi banyak menunduk kini mengangkat kepalanya sedikit dan sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala tanda setuju.


Dafri kemudian membawa Chayra duduk disebuah kursi panjang yang ada didekat warung yang masih tutup.


"Chayra, aku mau mintak maaf sama kamu." lirih Dafri setelah mereka berdua duduk dikursi tersebut. Dafri menoleh kearah Chayra yang lagi - lagi hanya menunduk. Karena Chayra seakan malu untuk menampakkan wajahnya ke arah Dafri.

__ADS_1


"Aku minta maaf karena tidak mempedulikan kamu dan tidak memikirkan perasaan kamu. Mungkin aku yang terlalu cuek dan sibuk memikirkan tentang aku dan Clarissa saja. Maaf ya Chayra, aku harap kamu tidak lagi marah dan sakit hati atas sikap aku ini." kata Dafri yang masih melanjutkan perkataannya. Chayra masih memilih diam dan mendengar baik - baik kalimat yang akan diucapkan oleh Dafri selanjutnya.


"Chayra, kamu mau memaafkan aku kan?" tanya Dafri dengan tatapan yang tidak lepas dari Chayra.


"Kalau kamu diam berarti kamu masih marah sama aku." kata Dafri menyimpulkan sendiri situasi tersebut.


"Gak Dafri..." akhirnya Chayra mengeluarkan suara juga. Ia balik menatap Dafri seraya tersenyum tipis.


"Kamu gak salah. Aku lah yang salah karena sudah bersikap berlebihan, aku yang tidak bisa mengontrol emosi aku. Maaf Dafri, apapun yang telah aku katakan semalam itu, tidak lebih dari rasa emosi aku semata. Bukan dari cerminan hati aku." ucap Chayra dengan sungguh - sungguh.


"Benarkah begitu?" Dafri bertanya dengan menaikkan satu alisnya. Chayra lalu mengangguk.


"Oke, Chayra. Jika memang begitu, aku bisa memakluminya." kata Dafri dan kemudian menatap lurus kedepan. Keadaan hening beberapa saat, mereka sibuk dengan pikiran masing - masing sampai akhirnya Chayra kembali berujar.


"Dimana Clarissa, Dafri??" tanya Chayra tiba - tiba.


"Clarissa... Dia masih tidur." jawab Dafri dengan melihat sekilas kearah Chayra dan kemudian kembali menatap kedepan.


"Clarissa.. Tidur dikamar kamu?" Chayra bertanya dengan suara yang pelan dan dengan hati - hati, karena ia tau pertanyaannya ini akan menyinggung Dafri.


"Iyaa, gak ada salahnya kan aku tidur dengan istri sah aku??" kata Dafri dengan datar. Chayra langsung tersentak mendengar jawaban dari Dafri tersebut..

__ADS_1


...πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“...


BERSAMBUNG...


__ADS_2