
Lalu dengan berlari kecil Chayra naik keatas tangga menuju kamarnya Dafri. Sesaat kemudian ia pun sudah sampai di depan pintu kamar. Dan kemudian Chayra langsung saja membuka pintu tersebut tanpa mengetuknya dahulu. Dan betapa kagetnya dirinya saat pintu telah terbuka lebar, Chayra melihat sebuah pemandangan yang seakan mengiris - ngiris hatinya.
Chayra melihat Dafri tengah menggendong Clarissa. Awalnya Chayra sempat berpikiran negatif melihat pemandangan sekilas tersebut. Namun, Chayra perhatikan lagi baik - baik dan ternyata Dafri menggendong Clarissa yang sedang tak sadarkan diri dan membawanya ketempat tidur. Chayra langsung saja bergegas masuk ke dalam sana.
"Dafri.. Clarissa kenapa?" tanya Chayra setelah berada disamping Dafri. Melihat Chayra yang tiba - tiba saja sudah berada disampingnya, sontak saja membuat Dafri sangat kaget.
"Chayra, kamu.. Kapan sampai? Kenapa gak beritahu aku kalau mau kesini?" Dafri langsung menyodorkan pertanyaan seraya menyentuh lembut lengan Chayra dan membawanya agak jauh dari tempat tidur.
"Maaf, Dafri. Sebenarnya Aku mau bikin kejutan untuk kamu. Tapi, malah aku yang terkejut melihat kamu.. Menggendong Clarissa." jelas Chayra dengan suara yang pelan.
"Aduuh Sayang, kamu seharusnya gak melakukan itu. Aku benar - benar kaget Lo lihat kamu yang tiba - tiba saja sudah berada disini. Seharusnya kamu kabari aku kalau mau berangkat kesini." kata Dafri dengan menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Iya, maaf Dafri. Aku benar - benar mintak maaf." lirih Chayra dengan merasa bersalah.
"Ya sudah, Ngak apa - apa. Lain kali.. Jangan diulangi lagi, oke?" kata Dafri seraya tersenyum lebar. Chayra hanya menganggukkan kepalanya.
"Jadi, sebenarnya kamu senang tidak dengan kedatangan Aku ini, Dafri? Atau malah sebaliknya...?!" tanya Chayra dengan hati - hati, Chayra sempat juga melirik sekilas kearah Clarissa yang matanya masih terpejam. Entah wanita itu sedang tidur ataupun pingsan, Chayrapun tidak tahu karena Dafri belum menjelaskan apa - apa ke dirinya.
"Tentu senang donk sayangku.." jawab Dafri dengan cepat seraya menarik tubuh Chayra kedalam pelukannya. Cukup lama juga Chayra berada didalam pelukan suaminya itu, dan saat itu pula Dafri tiada berhenti membisikkan kata rindu dan sayang yang terdengar hangat di telinganya Chayra.
"Dafrii.. Clarissa kenapa?" setelah Dafri selesai mengatakan untaian kata sayang dan rindunya itu, Chayrapun bertanya lagi. Karena Chayra bertanya seperti itulah, sehingga membuat Dafri langsung melepaskan pelukannya.
"Clarissa kelelahan." jawab Dafri dengan wajah seriusnya. Chayra langsung mengerutkan keningnya mendengar jawaban singkat dari suaminya itu.
"Kelelahan? Karena apa?" tanya Chayra akhirnya.
__ADS_1
Dafri menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan dari Chayra
"Ini lah yang ingin aku ceritakan sama kamu, sayang. Dan.. Karena kamu sudah ada di sini, aku akan ceritakan ke kamu apa yang sebenarnya terjadi pada Clarissa." kata Dafri masih dengan wajah yang serius.
"Apa? Apa yang terjadi pada Clarissa, Dafrii??" tanya Chayra yang seakan tidak sabar menunggu cerita dari suaminya itu.
"Sabar sayang kuu... Aku akan cerita, tapi tidak disini." ujar Dafri seraya tersenyum manis melihat raut penasaran yang tergambar diwajah istrinya itu.
"Jadi dimana?" tanya Chayra lagi.
"Yuk kita ke kamar baru kamu saja ya," kata Dafri dan kemudian mengandeng tangan Chayra menuju kesana. Dengan sebelumnya, Dafri menutup pintu kamarnya perlahan - lahan. Ia juga pastikan lagi bahwa Clarissa benar - benar sudah tidur dan tidak menyadari akan keberadaan Chayra disana.
...💓💓💓💓...
Setelah mereka berada didalam kamar yang satunya lagi, Maka Chayrapun langsung saja kembali menyodorkan pertanyaan yang sama ke Dafri.
Dafri kemudian mengajak Chayra untuk duduk ditepi ranjang tersebut. Chayra mengikuti ajakan Dafri dan duduk disamping suaminya itu.
"Chayra, Clarissa mengalami gangguan mental" lirih Dafri seraya menatap erat mata Chayra yang sudah terbelalak kaget.
"Gangguan mental? Maksudnya, seperti apa?" Chayra kembali bertanya. Dan kini Dafri mengalihkan pandangannya dengan menatap lurus kedepan. Kemudian akhirnya Dafripun menceritakan semua yang terjadi pada Clarissa. Dan Chayrapun mendengarnya dengan seksama.
Beberapa menit kemudian, Dafripun telah selesai menjelaskan panjang lebar mengenai gangguan mental yang dialami oleh Clarissa tersebut. Wajah Chayra yang bingung tadi kini berubah menjadi sedih dan iba.
"Ya Allah, Dafrii..! Kasihan sekali Clarissa." ucap Chayra dengn bersandar lemas ditempat tidurnya. Chayra tidak tahu harus berkata apa lagi karena penjelasan dari Dafri barusan itu benar - benar membuat hati dan perasaannya jadi tak menentu.
__ADS_1
"Ya begitulah Chayra, dan tadi itu sebelum kamu masuk kedalam kamar, Clarissa baru saja mengamuk dan hampir melukai dirinya sendiri. Aku rasa tingkat gangguan mentalnya sudah semakin parah. Apalagi Clarissa yang tidak minum obat secara teratur." lanjut Dafri lagi dengan menghela nafas pendek.
"Karena itulah Chayra, aku menyarankan kamu untuk tidak pulang dulu kesini. Aku gak mau saja kamu nantinya akan dijadikan pelampiasan amarahnya Clarissa yang meledak - ledak itu." ujar Dafri seraya membelai Chayra dari bagian belakang kepala Chayra hingga ke punggungnya.
"Tapi, Dafrii.. Sebenarnya Aku ingin juga membantu kamu untuk memulihkan kesehatan mentalnya Clarissa. Bagaimanapun Clarissa sudah aku anggap sebagai saudara aku sendiri, dan aku tidak tega melihat dia menderita seperti ini." kata Chayra masih dengan ekspresi sedihnya.
"Iya, aku tahu Chayra. Aku tahu bagaimana tulusnya kamu dengan Clarissa, hati kamu yang ikhlas menerima segala perlakuan yang tidak baik dari Clarissa. Sedikitpun tidak ada dendam yang bersemayam dihati kamu untuknya. Aku tahu itu. Kamu wanita yang baik, wanita yang kuat, wanita yang apa adanya. Karena itulah perasaan cinta dan sayang aku ke kamu semakin hari semakin bertambah saja dan sedikitpun tidak pernah terlintas dipikiran aku untuk berpaling dari kamu.." kata Dafri dengan memuji Chayra.
"Dafrii.. Jangan berlebihan memuji aku seperti itu. Karena aku sebenarnya juga lagi belajar untuk menjadi wanita yang baik ataupun istri yang baik untuk kamu. Walaupun, jujur.. Sebenarnya Beberapa hari ini sempat terlintas dipikiran aku hal - hal yang buruk tentang kamu." kata Chayra seraya menatap erat wajah suaminya itu.
"Kamu yang tidak memberi kabar aku satu harian semalam itu benar - benar membuat Hati aku galau, gelisah, risau, khawatir dan segala macam yang tidak bisa lagi aku ungkapkan dengan kata - kata. Yang jelas, aku takut.. Aku takut Kamu akan meninggalkan aku Dafri. Ya.. Itu yang aku takutkan saat itu, takut jika kamu tidak lagi mencintai aku." lanjut Chayra lagi dan kali ini malah menyembunyikan wajahnya dari Dafri.
"Hei, Chayra.. Sayang.. Maaf kan aku. Aku benar - benar mintak maaf karena gak sempat mengabari kamu semalam. Tapi, percayalah itu bukan disengaja. Aku terlalu sibuk mengurusi pekerjaan dan juga tingkah Clarissa yang terkadang sangat menguras tenaga dan menyita waktu luang aku. Maaf ya sayang??" kata Dafri seraya memegang wajah istrinya itu dengan kedua tangannya itu.
"Iya.. Aku juga minta maaf karena sudah suudzon sama kamu, Dafri." kata Chayra lalu tersenyum tipis.
"Kamu tidak perlu mintak maaf, karena kamu gak salah sayang ku.." kata Dafri dan kemudian kembali menarik Chayra kedalam pelukannya.
Sedang asyiknya mereka saling berpelukan seperti itu, tiba - tiba saja pintu kamar tersebut dibuka dengan kasar oleh seseorang yang sudah berdiri diambang pintu sana dengan wajah sangarnya. Chayra dan Dafripun sama - sama tersentak kaget melihat seseorang tersebut..
...💦💦💦💦...
BERSAMBUNG..
.
__ADS_1
.