Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
Eps. 13 // TERSULUT EMOSI


__ADS_3

"Chayra, kenapa kamu menangis?" tanya Dafri. Chayra saat itu sedang menangis terisak - isak dengan menundukkan kepalanya seraya menekuk kedua kakinya, dan seketika itu juga ia langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara Dafri memanggil namanya.


Chayra lalu menoleh dan mendapati Dafri sudah berdiri dibelakangnya dengan wajah yang bingung, dan Chayra langsung buru - buru menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Dafri, kenapa gak ketuk pintu dulu kalau mau masuk?" tegur Chayra yang merasa gak senang dengan kelancangan Dafri yang main masuk saja kedalam kamarnya.


"Pintu kamar kamu gak ditutup tuh, Makanya aku masuk." kata Dafri membela diri seraya menunjuk kearah pintu kamar Chayra yang memang tidak ditutupnya. Chayra hanya bisa menghela nafas panjang seraya melihat kearah pintu.


"Kamu kenapa Nangis? Ada masalah ya?" Dafri kembali bertanya perihal Chayra yang tiba - tiba menangis.


"Ngak..!! Cuman lagi rindu sama keluarga dikampung," jawab Chayra beralasan.


"Hhhmmm... Gitu ya, kamu sudah nelpon keluarga kamu?" tanya Dafri dan kemudian ikutan duduk disamping Chayra. Melihat Dafri disampingnya, membuat Chayra langsung menggeserkan posisi duduknya sedikit menjauh dari suaminya itu.


"Belum," jawab Chayra.


"Kalau rindu, kamu telpon lah mereka. Mana tahu setelah berbicara dengan keluarga kamu nantiknya, perasaan kamu akan lebih lega dan rasa rindu pun akan sedikit terobati." kata Dafri dengan memberikan saran.


"Iya, nantik aku telpon." jawab Chayra tanpa memandang Dafri.


"Chayra, kamu.. benaran nangis karena rindu keluarga?" tanya Dafri lagi yang seakan tidak yakin dengan jawaban Chayra. Ditanya seperti itu, membuat Chayra langsung mengalihkan pandangannya dengan menatap Dafri yang ternyata juga menatap dirinya. Pandangan mereka beradu persekian detik, sampai akhirnya Chayra kembali mengalihkan pandangannya.


"Dimana Clarissa?" tanya Chayra yang malah mengalihkan pembicaraan dengan bertanya tentang Clarissa.


"Clarissa masih di pantai, kebetulan ada teman lamanya juga yang datang kesini. Jadi, Clarissa masih asyik mengobrol dengan temannya itu." jelas Dafri.


"Ohh.." ucap Chayra.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi lo, Chayra." ujar Dafri kembali mengingatkan Chayra dengan apa yang ia tanyakan.

__ADS_1


"Pertanyaan yang mana?" Chayra pura - pura tidak ingat.


"Kamu nangis tadi bukan karena rindu dengan keluarga kamu kan? Pasti ada sesuatu yang lain yang membuat kamu menangis kan??" ucap Dafri dengan menerka - nerka. Chayra langsung terdiam.


"Chayra, jawab pertanyaan aku!!" pinta Dafri setengah memaksa.


"Kalau pun iya, apa peduli mu Dafri? Oh, aku tahu.. Bukan kamu yang peduli, pasti Clarissa yang menyuruh kamu datang kesini dan menanyai aku kenapa gak nyusul kalian kesana kan?" tanya Chayra dengan nada sinis.


"Iya, memang iya." jawab Dafri dengan mengangguk - anggukkan kepalanya. Mendengar jawaban dari Dafri itu entah kenapa membuat Chayra semakin sakit hati dan akhirnya malah tersulut emosi. Chayra langsung berdiri dan menghadapkan badannya kearah Dafri.


"Lebih baik kamu keluar dari kamar aku sekarang, Dafri..!!" usir Chayra dengan gusar. Dafri kemudian berdiri dan menatap Chayra dengan semakin bingung.


"Kamu ngusir aku?" tanya Dafri dengan menunjuk dirinya sendiri.


"IYAA..!! Kamu keluar, aku pengen sendiri." kata Chayra dan kemudian mendorong tubuh Dafri menuju pintu. Tapi, Dafri yang merasa tidak terima diusir seperti itu malah menahan badannya sehingga sedikitpun tubuhnya tidak bergeser dari tempatnya berdiri. Karena Dafri masih penasaran dengan sikap Chayra menurutnya sangat aneh saat ini.


"Chayra, sebenarnya kamu ini kenapa ha? tadi kamu menangis, dan sekarang kamu marah dan emosi seperti ini. Apa Kamu gak suka Clarissa ada disini?" tanya Dafri akhirnya. Karena Dafri bisa melihat gelagat Chayra agak aneh setelah Clarissa datang.


"Lepas Dafri..!!!" kata Chayra yang berusaha melepaskan tangannya yang dipegang kuat oleh Dafri.


"Aku gak akan lepaskan tangan kamu sebelum kamu jujur sebenarnya ada apa" kata Dafri dengan suara yang lantang.


"Apa - apaan sih, kamu. Aku bilang itu bukan urusan kamu." ketus Chayra.


"Akan jadi urusan aku, Chayra. Jika itu ada hubungan nya dengan Clarissa." jawab Dafri.


"Oh, iya. Aku lupa, yang terpenting bagi kamu sekarang kan cuman Clarissa." Chayra kembali berujar dengan nada sinis. Mendengar ucapan sinis dari Chayra itu membuat Dafri hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya dengan rasa tidak suka.


"Aku gak suka kamu menyudutkan Clarissa seperti itu, Chayra. Kamu gak tahu bagaimana baiknya Clarissa sama kamu dan mau menerima kamu sebagai temannya bukan sebagai saingannya." kata Dafri yang lagi - lagi membela Clarissa mati - matian.

__ADS_1


"Nah, kalau kamu tahu dia lebih baik dari aku. Kenapa bukan dia saja yang kamu nikahi. Kenapa harus aku?" kata Chayra dengan ngotot.


"Dia?? Dia.. Dia... kamu bilang, dia punya nama... panggil namanya, jangan pakai Dia.. Dia.." ujar Dafri yang mulai emosi juga melihat Chayra seakan tidak menghargai Clarissa.


"Sudahlah, aku gak mau berdebat sama kamu, Dafri. Maaf jika kata - kata aku ada yang salah, dan aku mintak tolong kamu keluar sekarang dari kamar aku." kata Chayra akhirnya yang memilih untuk mengalah. Karena ia pun seakan sadar tidak seharusnya dia bersikap marah dan emosi berlebihan seperti ini.


"Oke aku akan keluar tapi sebelumnya aku tegaskan sama kamu ya Chayra. Kamu tolong hargai Clarissa. Jaga perasaannya." ucap Dafri sebelum meninggalkan kamar Chayra. Mendengar penegasan dari Dafri itu kembali membuat Chayra tersulut emosi.


"Kenapa hanya peduli dengan perasaan Clarissa. Bagaimana dengan perasaan aku, Dafri?? Sedikitpun kamu gak memikirkan perasaan aku sebagai istri sah kamu??" tanya Chayra dengan nafas yang sudah naik turun. Dafri yang tadi sudah mulai melangkah kearah pintu, kini berhenti dan kembali menoleh ke Chayra.


Dafri menatap erat - erat wajah Chayra yang sudah memerah karena menahan amarah yang siap akan meledak lagi.


"Kenapa aku harus jaga perasaan kamu, Chayra? Bukannya kita sudah sepakat diawal kalau pernikahan ini hanyalah sandiwara saja, karena kita sama - sama tidak menginginkan pernikahan ini, kan?" kata Dafri dengan suara yang pelan.


"Memang benar, tapi setidaknya kamu juga harus mikirin perasaan aku Dafri. Bagaimanapun aku ini manusia, yang juga punya hati dan perasaan. Apalagi seorang wanita yang sangat lemah, kamu mungkin bisa cuek dan bisa bersikap biasa saja. Tapi, aku tidak Dafri..!!" kata Chayra yang kali ini tidak bisa menahan air matanya yang akhirnya tumpah lagi membasahi pipinya.


"Chayra, aku gak paham.. Kamu.."


"Kamu memang gak akan pernah bisa memahami perasaan aku, Dafri. Jadi percuma saja aku bicara panjang lebar, kamu gak akan paham, kamu gak akan ngerti apa yang aku rasakan." Chayra langsung memotong perkataan Dafri dengan suara yang terisak - isak.


"Perasaan apa maksud kamu Chayra?? Perasaan apa yang harus aku pahami??" Dafri kembali bertanya - tanya, tapi Chayra seakan kehabisan kesabaran karena Dafri yang sedikitpun tidak paham apa maksudnya.


"Bukan apa - apa. Keluarlah kamu sekarang," kata Chayra lalu menghapus air matanya.


"Jangan bilang kalau kamu sudah punya rasa terhadap aku, Chayra." desis Dafri dengan menatap tajam kedua bola matanya Chayra yang sudah kembali berkaca - kaca itu. Chayra terdiam dengan hampir seluruh badannya bergetar hebat. Dan detik kemudian, ia pun kembali mendorong tubuh Dafri hingga keluar dari kamarnya. Setelah itu, dengan secepat kilat Chayra menutup pintu kamarnya lalu menguncinya.


...💗💗💗💗...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


.


__ADS_2