Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
EPISODE 83


__ADS_3

Dua hari belakangan ini Dafri tampak uring - uringan didalam kamarnya. Dan sudah selama itu pula ia tidak masuk kerja. Beban pikiran yang ia rasakan saat ini yang membuat Dafri tidak fokus bekerja sehingga ia meminta izin kepada direktur rumah sakit agar memberinya izin selama 2 hari.


Dafri menunggu kabar dari Chayra dengan hati yang galau, ia berusaha menahan diri untuk tidak menyusul Chayra kerumah kak Hilma. Karena ia tahu Chayra butuh waktu berpikir saat ini dan tidak ingin terlalu didesak oleh Dafri, karena jika semakin didesak akan berpengaruh pada kesehatan Chayra yang masih sangat rentan. Dafri memaklumi hal itu, makanya ia bisa bersabar selama dua hari menunggu kabar dari istrinya itu.


Tapi, hari ini Dafri seakan tidak tahan lagi untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti. Kesabaran Dafri sudah habis, ditambah lagi rasa rindunya terhadap Chayra semakin memuncak. Dafri tidak bisa menahan diri dan akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Chayra melalui via telpon.


Dafri menunggu Chayra mengangkat telpon darinya dengan hati yang harap - harap cemas. Namun, satu kali panggilan dari Dafri tidak kunjung diangkat oleh Chayra. Maka Dafri mencoba untuk menghubungi lagi namun masih tetap tidak diangkat juga oleh Chayra sehingga membuat pikiran Dafri semakin kusut.


"Chayra.. Pliss.. angkat telpon aku," desis Dafri yang masih terus - terusan menghubungi nomor Chayra.


Setelah itu, Dafri langsung terduduk lemas dengan menyandarkan punggungnya ke tempat tidur. Dafri merasa tidak ada harapan baginya, karena Chayra pun seperti mengabaikan telepon darinya. Menyadari akan hal itu, Dafri langsung menghela nafas dengan berat. Pupus sudah harapannya untuk bisa kembali lagi dengan Chayra. Dafri mengeluh didalam hati, kenapa begini jadinya? Disaat tidak ada lagi halangan yang menimpa hubungan mereka, kenapa Chayra semakin menjauh dan seakan sulit untuk digapai? Padahal.. Clarissa sudah mau mengalah, Dafri pun telah menceraikan Clarissa. Tapi, kenapa hal ini tidak membuat Chayra bisa kembali kepangkuannya? Apa yang ada dibenak Chayra saat ini? Apakah.. Chayra tidak lagi mencintainya??


"Tidak.. Tidak.. Tidak..." Dafri langsung menyanggah pikiran - pikiran buruk yang terlintas di benaknya itu.


"Chayra hanya butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri, Bukan berarti dia tidak mencintai aku. Apalagi, saat ini Chayra lagi mengandung buah cinta kami. Ya.. Aku harus bisa sedikit lagi bersabar menunggu kabar darinya." ujar Dafri yang berbicara kepada dirinya sendiri.


Kemudian Dafri kembali menghembuskan nafas namun kali ini agak panjang dan dalam. Dan bersamaan dengan itu pula, terdengar suara ketukan dari pintu luar kamar Dafri. Sebenarnya Dafri malas sekali untuk membuka pintu dan melayani seseorang yang ada diluar sana. Ia sedang tidak ingin diganggu saat ini. Makanya ia tidak menghiraukannya.


Namun, bunyi ketukan pintu tersebut tidak berhenti malahan semakin kencang dan kuat sehingga membuat Dafri agak kesal.


"Kenapa Bik???" tanya Dafri, dia yakin itu pasti Bik Asih karena siapa lagi jam segini dirumah selain pembantunya itu, sedangkan Papanya pasti sudah berangkat kekantor pagi tadi.


Akan tetapi, tidak ada jawaban apapun dari luar kamarnya. Namun, bunyi ketukan itu terus saja berlanjut. Kemudian, dengan malas - malasan akhirnya Dafri berjalan menuju pintu dan detik kemudian meraih gagang pintu dan membukanya dengan wajah yang gondok. Saat pintu terbuka, Dafri langsung tersentak kaget saat melihat seraut wajah seseorang yang dirinduinya sudah muncul di depan pintu.


"Chayra.." lirih Dafri memanggil nama Chayra. Dafri memejamkan matanya sejenak, setelah itu membuka matanya kembali. Ia ingin memastikan atas apa yang ia lihat, apakah benar - benar Chayra yang berdiri di hadapannya saat ini atau mungkinkah ia sedang berhalusinasi saja karena sejak tadi ia tiada henti memikirkan istrinya itu.

__ADS_1


Tapi, saat mata Dafri kembali terbuka, sosok Chayra masih tetap ada dihadapannya. Ternyata ia sedang tidak berhalusinasi, Chayra datang menemuinya. Dafri langsung tersenyum bahagia.


"Chayra, kamu.. Datang menemui aku?" tanya Dafri dengan mata yang berbinar - binar, tidak dapat diungkapkan dengan kata - kata rasa bahagianya saat itu.


"Iya, Dafri. Aku datang menemui kamu," jawab Chayra dengan tersenyum manis.


"Ya Allah, Alhamdulillah.. Aku benar - benar gak menyangka Chayra, aku bahagia sekali melihat kamu datang kesini," ungkap Dafri dengan penuh rasa syukur.


"Kamu gak mau menyuruh aku masuk ya Dafri? Apa kita ngobrol di depan pintu ini saja?" tanya Chayra dengan nada bercanda.


"Ya ampun, maaf Chayra. Karena saking bahagianya, aku jadi lupa menyuruh kamu masuk." kata Dafri.


"Silahkan masuk istriku tersayang.." lanjut Dafri lagi dengan membungkukkan badannya. Chayra lalu masuk kedalam kamar dengan tersenyum lebar.


Kemudian, Chayra langsung menuju ke sofa dan duduk disana. Dafri juga ikut duduk di sampingnya Chayra.


"Alhamdulilah, sudah agak mendingan Dafri. Makanya aku bisa datang kesini." jawab Chayra.


"Kamu kenapa gak kabari aku kalau mau kesini? Kan aku bisa jemput kamu, Sayang?" tanya Dafri lagi.


"Aku sengaja gak memberitahu kamu, Dafri. Aku.. " Chayra berhenti berucap, ia lantas memandang Dafri dengan tatapan sayunya. Melihat tatapan Chayra yang seperti itu, Dafri langsung memegang kedua tangan Chayra dengan lembut.


"Chayra, apakah kedatangan kamu kesini sebagai tanda bahwa kamu mau kembali lagi dengan aku?" tanya Dafri dengan mata yang berkaca - kaca, dan juga sorot matanya yang penuh harap dan keinginan yang kuat untuk bisa bersama lagi dengan wanita yang ia cintai itu. Ditanya seperti itu, Chayra langsung menundukkan wajahnya.


"Chayra, aku sangat berharap rumah tangga kita kembali utuh lagi. Tidak ada kata perpisahan ataupun perceraian. Aku mohon.. Aku ingin kita tetap bersama - sama." pinta Dafri masih memegang tangan Chayra dan matanya itu tidak lepas dari menatap wajah Chayra.

__ADS_1


"Aku masih sangat - sangat mencintai kamu, Chayra. Dan aku berharap.. Kamu juga masih merasakan perasaan yang sama dengan aku." sambung Dafri lagi tapi kini agak terisak - isak. Dafri seakan tak mampu membendung kepiluan di hatinya, ia malah takut kedatangan Chayra ini hanya untuk mengucapkan kata perpisahan kepadanya. Dafri tidak ingin itu terjadi.


"Chayra, katakanlah sesuatu. Kamu jangan diam saja sayang," ujar Dafri setengah memohon dan seakan tidak sabar karena Chayra hanya diam saja dengan wajah yang menunduk.


"Dafriii..." akhirnya Chayra mengeluarkan suaranya dan juga mengangkat sedikit wajahnya lalu melihat Dafri dengan pandangan yang serius.


"Aku datang kesini, untuk mempertemukan kamu dengan seseorang.." kata Chayra dengan misterius.


"Maksud kamu apa, Chayra? siapa yang ingin dipertemukan dengan aku? " Dafri bertanya dengan bingung. Chayra langsung tersenyum tipis dan kemudian membawa tangan Dafri ke bagian perutnya.


"Calon debay kita, dialah yang ingin bertemu dengan Ayahnya.." jawab Chayra dan kemudian tersenyum lepas. Dafri langsung menghela nafas dengan lega. Melihat senyuman lepas Chayra itu sudah dapat ia simpulkan bahwa Chayra akan tetap menjadi miliknya seutuhnya. Dafri langsung memeluk Chayra dengan erat...


...💕💕💕💕...


BERSAMBUNG...


"MasyaAllah, terimakasih kepada para pembaca yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini...


Maaf atas keterlambatan Updatenya ya...


Jangan lupa like dan komennya dan tunggu kelanjutannya ya..


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2