Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
Eps 28 // TIDAK SUCI LAGI


__ADS_3

Saat Chayra membuka mata, ia mendapati dirinya sudah berada diatas tempat tidur. Seketika itu pula Chayra lalu membalikkan badan kerarah kiri, dan matanya langsung terbelalak kaget ketika melihat sosok Dafri tepat berada disampingnya dan lelaki itu tampak masih tertidur dengan pulas. Chayra langsung terduduk dengan tarikan nafas yang agak kuat. Mata Chayra kini menyelusuri dibawah tempat tidur, dan ia melihat bajunya gamis yang ia pakai tadi berserakan dilantai. Chayrapun tersentak dan kemudian melihat kedalam tubuhnya yang tertutupi selimut. Ternyata.. Tubuhnya sudah polos. Tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh Chayra.


Chayra panik. Benar - benar panik dengan badan yang mulai bergetar hebat. Apa yang terjadi? Chayra kemudian mencoba mengingat kejadian malam tadi yang terjadi begitu cepat, sehingga ia tidak mampu untuk mencegahnya. Ya.. Chayrapun tersadar, bahwa dirinya sudah memberikan tubuhnya ke lelaki yang ada disampingnya saat ini. Chayra hanya bisa berteriak didalam hati, menyesali kebodohan dan keterlenaan yang malah menghancurkan dirinya sendiri. Chayra hanya bisa menangis tanpa suara.


Chayra lalu memandang Dafri yang masih saja tidur tanpa rasa bersalah, air matanya yang tak tertahankan itu airnya tumpah juga. Dan kemudian ia pun berlari menuju ke kamar mandi dengan tubuh polosnya yang masih tertutupi selimut.


Didalam kamar mandi, barulah Chayra lepaskan semua beban yang menyesakkan hati dan jiwanya.


"Ya, Allah.. Seharusnya ini tidak boleh terjadi, ini tidak boleh terjadi..!!!" desis Chayra dengan menangis terisak - isak.


Chayra sungguh tidak menyangka bahwa Dafri akan melakukan hal itu, dimana dia yang sudah menyentuh Chayra, bahkan menidurinya..!! Dan.. Yang lebih parah lagi, Chayra sendiri tidak mampu mencegah semua itu. Andai saja dia menolak dengan tegas atas apa yang hendak diperbuat oleh lelaki itu, pasti ini semua tidak terjadi. Chayra lantas menarik - narik rambutnya dengan geram, seakan menghukum dirinya sendiri atas kesalahan besar yang baru saja ia perbuat.


Namun, Sesal tiada guna lagi. Semuanya sudah terlanjur basah, Chayra sudah tidak suci lagi. Meskipun tidak ada dosa sama sekali atas perbuatan mereka itu, karena memang mereka masih berstatus suami istri yang sah. Tidak salah memang.. Yang salah saat ini adalah bagaimana Chayra bisa pergi meninggalkan Dafri sedangkan separuh jiwa dan tubuhnya sudah ia berikan ke lelaki itu? Lelaki yang memiliki istri selain dirinya, dan yang jelas sangat mencintai istri pertamanya itu. Sedangkan dirinya, hanya sebagai benalu diantara mereka berdua. Istri yang tidak dianggap dan tidak dicintai.


Tapi, kenapa Dafri bisa sampai tega melakukan hal itu jika tidak ada cinta dihatinya untuk Chayra? Apakah ini yang dinamakan hawa nafsu semata? Benarkah demikian? Kalau benar, Chayra merasa dirinya hanya sebagai pelampiasan nafsu Dafri saja. Membayangkan hal itu, membuat hati Chayra semakin sakit, sangat sakit..!!


Setelah itu, Chayra berdiri lalu mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin yang mengalir pada shower kamar mandi tersebut. Dan Air mata kesedihan ikut mengalir juga bersamaan dengan derasnya air yang membasahi seluruh tubuhnya.


Setelah selesai mandi dan membersihkan diri, Chayra keluar dari kamar. Ia melihat Dafri masih tidur, Chayra langsung bergegas menggunakan pakaiannya. Karena waktu subuh sudah masuk, Chayra langsung saja menunaikan sholat subuh.


Didalam sholatnya, Chayra kembali menangis. Apalagi ia teringat bahwa hari ini adalah hari terakhir yang diberikan Clarissa untuk Chayra pergi meninggalkan Dafri. Jika saja kejadian malam tadi itu tidak terjadi, pasti Chayra bisa pergi tanpa beban tapi kini tidak bisa lagi. Chayra benar - benar dibuat putus asa.


Setelah selesai sholat dan berdoa, Chayra lalu mendengar handphonenya bergetar. Ada sebuah panggilan masuk. Siapa gerangan yang menelponnya subuh - subuh begini? Chayra kemudian bergegas menuju ketempat Handphonenya terletak. Dan ternyata, nama Clarissa yang terpampang nyata disana.

__ADS_1


Deg..!


Perasaan Chayra semakin tidak enak setelah tahu Clarissa yang menelponnya. Kendatipun demikian, Chayra tetap mengangkat telpon tersebut.


"Chayra.." panggil Clarissa dengan suara yang dingin.


"Iya, Clarissa." sahut Chayra dengan suara yang bergetar.


"Dafri belum bangun kan?" tanya Clarissa.


"Belum." jawab Chayra singkat.


"Oke, kamu kemasi pakaian kamu sekarang juga. Aku akan bantu kamu untuk pergi dari kota ini, sebentar lagi aku akan kesana jemput kamu. Tapi ingat, sebisa mungkin jangan bising agar Dafri tidak terbangun." jelas Clarissa dengan memperingati Chayra.


...💔💔💔💔...


Sinar matahari masuk melalui celah - celah kamar Dafri dan kemudian dengan cepat menyerpa bagian wajahnya. Dafri langsung menggeliat dengan wajah yang meringis dan kemudian perlahan - lahan ia membuka matanya yang masih terasa sangat berat.


Dafri langsung menyipitkan matanya ketika sinar matahari tersebut kembali menyorotinya sehingga membuat matanya seakan silau. Dan ketika itu pula, ia teringat akan sesuatu dan Dafripun langsung terduduk dengan nafas yang tersengal - sengal.


"Dimana Chayra?" tanya Dafri kepada dirinya sendiri seraya melihat kesekeliling kamarnya yang tidak ada siapapun selain dirinya sendiri.


Dafri kemudian berjalan kekamar mandi dan berharap Chayra ada disana. Saat akan berdiri, iapun tersadar bahwa dirinya tidak berpakaian sama sekali. Dafri langsung tersentak lalu mencoba mengingat apa yang telah ia lakukan ke Chayra malam tadi.

__ADS_1


"Apa yang telah kau lakukan ke Chayra, Dafri? Ya Tuhan.." desis Dafri dan kemudian dengan memukul - mukul tempat tidurnya.


Setelah itu, Dafri berjalan kekamar mandi. Tapi tidak ditemukannya Chayra disana, dan langkah kaki Dafri berhenti saat melewati lemarinya yang setengah terbuka. Dafri membuka lebar lemari tersebut dan ia kaget ketika melihat tidak ada satupun baju Chayra berada didalam sana. Dengan wajah yang panik, Dafri langsung saja mencari ponselnya dan menelpon Chayra.


'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif,,'


"Tidak Aktif,.." lirih Dafri masih dengan wajah yang panik.


"Kemana Chayra? Mengapa dia membawa baju - bajunya? Apa dia marah karena tadi malam aku sudah.. Aahhh... Jika benar begitu, seharusnya dia tahu aku melakukan itu karena sebenarnya sudah ada sebuah rasa..." ujar Dafri yang masih bertanya dan berbicara pada dirinya sendiri.


Dafri lalu terduduk lemas dipinggir ranjangnya, berkali - kali ia mencoba menghubungi nomor Chayra. Tapi, tetap saja nomornya itu tidak kunjung aktif. Dafri sungguh dibuat penasaran dengan kepergian Chayra yang sangat mendadak ini, dia sama sekali tidak memberitahu Dafri. Apakah hatinya begitu terluka karena Dafri yang sudah berani menyentuhnya, sehingga membuat ia pergi menjauh? Tapi, tidak seharusnya dia pergi begitu saja. Tidakkah Chayra bisa merasakan bahwa sebenarnya hati Dafri sudah terpaut terhadapnya.


Dafri menghela nafas berkali - kali, otaknya terus berpikir. Menduga - duga ke manakah Chayra pergi? Namun, tiba - tiba saja terdengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dafri langsung segera bergegas membuka pintu tersebut.


"Chayra...!!" Saat pintu terbuka, dan tanpa melihat dulu siapa yang datang, lisan Dafri langsung saja menyebut nama Chayra dengan begitu lembut. Sedangkan seseorang yang sudah berdiri didepan pintu sana, hanya bisa melipatkan kedua tangannya didada dengan ekspresi wajah yang tidak senang.


...🤎🤎🤎🤎...


BERSAMBUNG...


"TERIMAKASIH SUDAH MENGIKUTI ALUR CERITANYA, SEMOGA SUKA.. JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA.."


.

__ADS_1


__ADS_2