
Setelah sholat subuh dan curhat dengan ibunya tadi, tanpa sengaja Chayra malah tertidur diatas ranjangnya. Karena biasanya Chayra sangat jarang sekali tidur lagi setelah sholat subuh. Mungkin saja karena kelelahan berpikir dan menunggu kabar dari Dafri sejak tadi malam sehingga membuat ia pun tertidur pulas sampai jam 9 pagi.
Chayra dibangunkan oleh suara deringan hp yang berada tepat disebelahnya. Chayra yang tersentak langsung melihat jam dinding dihadapannya yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Chayra lantas terduduk dengan mengucapkan istighfar berkali - kali. Setelah itu, barulah ia meraih hpnya yang sudah berhenti berdering.
Dengan Rasa penasaran Chayra memeriksa siapa yang menelpon dirinya barusan, dan ternyata nama Dafri lah yang tertera disana. Chayra kemudian menghubungi Dafri kembali dengan tangan yang bergetar.
"Assalamualaikum, Sayang.. Chayra.." Hanya cuma beberapa Detik Chayra menunggu, akhirnya Dafri mengangkat telpon darinya. Mendengar suara Dafri memanggil namanya, membuat perasaan Chayra sedikit lega meskipun ia ingin sekali menumpahkan kekesalan dihatinya terhadap lelaki itu. Tapi, Chayra berusaha untuk menahannya dulu dan mendengar alasan apa yang akan diberikan oleh suaminya itu.
"Maaf sayang, Aku baru bisa menelpon kamu sekarang. Karena.. Ada suatu hal yang harus aku selesaikan. Oya, bagaimana kabar ayah kamu? Sudah mulai membaikkan? Jadi kapan kamu akan pulang kesini lagi sayang?" tanya Dafri bertubi - tubi.
Chayra masih diam. Hanya helaan nafas pendek yang keluar dari mulutnya. Chayra masih tidak puas hati karena belum mendengar apa alasan Dafri hilang satu harian tanpa memberi kabar kepada dirinya. Katanya ada suatu hal yang harus diselesaikan. Tapi, apa suatu hal itu? Mengapa itu terdengar seperti dirahasiakan darinya.
"Chayra? Kamu masih disana kan?" tegur Dafri karena mendapati Chayra belum berucap sepatah katapun, bahkan salam darinya pun belum dijawab oleh Chayra.
"Ya, aku masih disini kok." jawab Chayra akhirnya dengan nada datar.
"Chayra, kamu ngambek ya karena aku gak ngabari kamu sejak semalam?" tanya Dafri yang menyadarinya hal tersebut dari cara bicara wanita itu yang terdengar agak lain.
"Kamu kemana saja, Dafri?" akhirnya Chayra bertanya juga. Ia seakan tidak tahan jika terus - terusan menyimpan didalam hatinya, karena semakin disimpan semakin membuat dirinya tertekan.
"Nantik aku ceritakan ke kamu jika kamu sudah pulang kerumah Chayra." kata Dafri dengan misterius.
"Tapi, Kenapa harus tunggu aku pulang dulu? Apa bedanya antara beri tahu sekarang ataupun nantik?" tanya Chayra dengan semakin penasaran.
"Akan lebih baik jika disampaikan secara langsung ditimbang melalui telpon ini, Sayang. Makanya, aku tanya kapan kamu pulang? Kalau bisa, secepat mungkinlah sayang karena aku sudah rindu berat sama kamu." kata Dafri tapi kali ini setengah berbisik.
__ADS_1
"Aku gak tahu kapan pulang," kata Chayra masih dengan nada kesal karena belum mendapat jawaban yang seperti dia inginkan dari Dafri.
"Chayra, dengarkan aku ya.. Aku tahu kamu pasti menduga yang tidak - tidak tentang aku saat ini, tapi.. Satu hal yang harus kamu ketahui sayang, bahwa aku sangat mencintai kamu sampai kapanpun. Tapi, Saat ini aku sedang melakukan sesuatu hal yang penting juga yang tidak bisa aku beritahu kamu sekarang. Aku mohon, kamu jangan berpikiran buruk tentang aku dulu ya Chayra. Oke sayang?" ujar Dafri Dengan setengah memohon. Namun, Chayra tidak serta merta langsung mengiyakannya. Cahyra masih penasaran dengan hal penting yang dimaksud Dafri itu apa.
"Sayang, sebentar ya? Nantik aku telpon kamu lagi ya." tiba - tiba Dafri mengakhiri telepon mereka saat itu. Padahal Chayra belum mengiyakan atau menjawab sepatah katapun, tapi Dafri langsung saja memutuskan hubungan telpon mereka. Tentu saja hal barusan itu kembali membuat hati Chayra bertanya - tanya dengan sangat penasaran.
"Ada apa dengan Dafri? Kenapa sikapnya terlihat aneh?" batin Chayra yang seakan menjerit sejak tadi.
...💓💓💓💓...
"Sudah diminum obatnya?" tanya Dafri kepada Clarissa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku gak mau minum obat itu, Daf!" kata Clarissa lalu duduk dipinggir ranjangnya dengan wajah jengkel.
"Sembuh? Sembuh apa yang kamu maksud Daf? Aku tau kalau kamu dan mama sudah bekerja sama dalam memberi obat yang tak berguna itu ke aku kan.." kata Clarissa Dengan marah.
"Clarissa, apa yang aku dan Mama kamu lakukan ini adalah baik. Demi kesembuhan dan kepulihan mental kamu lagi." kata Dafri.
"Apa? Mental? Kenapa dengan mental aku? Aku tidak gila, Dafri..! Jadi aku gak butuh obat kejiwaan itu." ketus Clarissa dan kemudian membaringkan badannya.
"Clarissa, ini bukan obat kejiwaan. Dan tidak ada juga yang menganggap kamu seperti itu. Kamu saja yang sudah salah paham sama aku dan Mama kamu." jelas Dafri lalu mengambil obat tersebut yang terletak diatas meja.
"Ini, kamu minum ya?" kata Dafri dengan menyodorkan obat tersebut ke wanita itu. Sedangkan Clarissa tidak langsung mengambilnya, matanya dengan tajam menatap benda kecil itu dengan rasa tidak suka dan beberapa saat kemudian malah mengambil obatnya lalu membuangnya kesembarang arah. Tentu saja hal itu membuat Dafri marah.
"Clarissa, kamu apa - apaan sih? Ini sama saja sedikitpun kamu tidak menghargai usaha aku dan Mama kamu untuk membuat kamu sembuh." kata Dafri dengan gusar.
__ADS_1
"Bukan obat itu yang bisa membuat aku sembuh, Daf. Bukan obat itu yang aku butuhkan. Yang aku butuhkan dan sebagai obat saat ini adalah.. Kamu, Ya.. Kamu. Kamu lah yang aku butuhkan saat ini, Daf. Tidakkah kau mengerti??" ujar Clarissa seraya memukul pelan dada bidang lelaki itu.
"Iya, Clarissa. Makanya aku ada disini saat ini. Menemani kamu, dan membantu kamu karena aku peduli sama kamu." kata Dafri dengan suara yang tegas.
"Peduli saja gak cukup, Daf. Aku juga butuh Cinta dan kasih sayang dari kamu, apakah bisa kamu berikan ha?" tanya Clarissa dengan melotot gusar.
"Sudahlah, kalau kamu gak mau minum obatnya. Sekarang kamu istirahat saja, besok pagi - pagi kita kontrol kerumah sakit." kata Dafri tanpa menanggapi ucapan Clarissa itu. Tapi, bukannya mengiyakan anjuran dari Dafri tersebut, Clarissa malah kembali meledak - ledak lagi. Dia marah, emosi, dan mengeluarkan kata - kata yang tidak pantas didengar. Dafri hanya menggelengkan kepalanya sembari berusaha menenangkan Clarissa yang kembali depresi. Sedikitpun Dafri tidak membalas ucapan dan perbuatan darinya, karena Dafri tahu apa yang terjadi pada diri Clarissa sebenarnya.
Akhirnya setelah beberapa menit Clarissa kembali mengekspresikan dirinya yang meledak - ledak tadi, iapun merasa kelelahan dan akhirnya tertidur. Dafri membawanya ketempat tidur dan membaringkannya disana. Sebelum Dafri meninggalkan Clarissa, Dafri kembali mengambil obat yang baru lagi dan kemudian memasukkan kedalam mulut Clarissa.
"Setidaknya obat ini harus tetap rutin diminum." ujar Dafri kepada dirinya sendiri.
Setelah itu, Dafri keluar dari kamar tersebut. Dafri kemudian ingin menelpon Chayra, dan menjelaskan semua yang telah terjadi. Karena jika menunggu Chayra pulang kerumah, akan sangat lama. Ia takut Chayra akan berpikiran yang aneh - aneh tentang dirinya. Kemudian Dafri mencari nama Chayra pada handphonenya, namun belum sempat ia memencet tombol memanggil pada nama Chayra, tiba - tiba saja malah ada panggilan masuk dari nomor yang lain. Ternyata adalah Mamanya Clarissa yang menelpon Dafri.
"Dafri, Bagaimana Clarissa? Apakah dia mau minum obatnya?" serbu Siska langsung dengan bertanya ke Dafri.
"Awalnya dia menolak Ma, dan Clarissa sempat marah dengan emosi yang kembali meledak - ledak. Tapi, setelah dia tertidur barulah Dafri masukkan obat itu ke mulutnya." jelas Dafri apa adanya.
"Oohh.. Gitu ya, Gak apa Dafri. Yang penting obatnya sudah diminumnya. Oya, terimakasih banyak ya Dafri, kamu sudah mau membantu Mama untuk kesembuhan mental Clarissa lagi. Terimakasih sudah mau peduli dengan Clarissa, biarpun Mama berharap kamu bukan hanya sekedar peduli. Tapi, juga memberikan cinta lagi ke dia. pasti akan cepat membuat Clarissa kembali pulih." Kata Siska dengan suara yang sedih. Sedangkan Dafri hanya diam saja...
...💦💦💦💦...
BERSAMBUNG..
.
__ADS_1