
"Clarissa.. Clarissa... Kamu kenapa? Bangun Clarissa..!!" Chayra langsung panik melihat Clarissa yang tiba - tiba saja jatuh pingsan dihadapannya. Chayra kemudian mengangkat kepala Clarissa lalu meletakkanya dipahanya. Ia mencoba kembali membangunkan Clarissa dengan memukul pelan pipi wanita tersebut. Namun, Clarissa sama sekali tak bergeming. Malahan tangan dan wajah Clarissa terasa dingin. Chayra meletakkan ujung jarinya dibawah hidung Clarissa. Masih bernafas.
"Aku harus cepat - cepat bawa Clarissa kerumah sakit." gumam Chayra dan kemudian berteriak memanggil bik Asih yang berada didapur.
"Bik Asih.. Bik Asih.." teriak Chayra dengan berkali - kali memanggil Bik Asih. Dan selang beberapa detik kemudian, Bik Asihpun datang dengan berlari tergopoh - gopoh keatas.
"Iya, Non. Ada apa?" tanya Bik Asih dengan wajah bingungnya.
"Tolong carikan taksi bik, kita harus bawa Clarissa kerumah sakit sekarang." suruh Chayra ke pembantunya itu.
"Lah, memang non Clarissa kenapa Non?" Bik Asih bertanya.
"Saya juga gak tahu, tubuhnya dingin semua ini bik. Cepat bibik cari taksi dan setelah itu bantu saya bawa Clarissa kebawah." kata Chayra. Bik Asih langsung bergegas kebawah.
Beberapa menit kemudian, Bik Asih datang kembali bersama supir taksi. Mereka pun membopong tubuh Clarissa menuju kebawah.
Saat diperjalanan, Chayra mencoba menghubungi Dafri dan mengabari suaminya itu. Namun, telepon darinya tidak kunjung diangkat.
"Apa Dafri lagi ada pasien operasi ya?" pikir Chayra tapi tetap juga mencoba untuk menghubungi nomornya lagi.
Beberapa menit kemudian, merekapun sampai dirumah sakit yang sama dengan tempat Dafri bekerja. Lalu Chayra menurunkan Clarissa dan membawanya masuk ke ruang IGD. Dokter langsung memeriksa Clarissa, sedangkan Chayra kembali menelpon Dafri. Dan akhirnya panggilannya kali ini diangkat oleh Dafri.
"Iya, sayang. Maaf.. Aku lagi diruang operasi tadi. Dan Hp aku tinggal diluar." jelas Dafri sebelum Chayra bertanya.
"Dafri, Clarissa.. Aku bawa kerumah sakit." kata Chayra tanpa menanggapi alasan yang diberikan oleh Dafri barusan.
"Apaa? Emangnya Clarissa kenapa??" Tanya Dafri dengan kaget.
"Clarissa pingsan Dafri, ini lagi diperiksa oleh Dokter diIGD" Jelas Chayra.
__ADS_1
"Oke aku kesana sekarang!" kata Dafri lalu mematikan panggilan tersebut.
Selang beberapa menit kemudian, Dafripun datang dan sudah berada di depan UGD.
"Chayra, gimana ceritanya Clarissa bisa pingsan?" tanya Dafri.
Chayra langsung saja menceritakan semuanya ke Dafri.
"Aduh, Chayra.. Aku kan sudah bilang sama kamu, jangan keluar kamar jika aku gak ada dirumah. Kamu padahal tahu sendirikan kondisi Clarissa sekarang seperti apa?" ujar Dafri terdengar kesal.
"Iya, Maaf Dafri.. Aku juga gak menyangka Clarissa sampai segitunya dengan aku." kata Chayra dengan merasa bersalah.
"Tapi, kamu gak apa - apakan? Clarissa tidak menyakiti kamu kan?" tanya Dafri dengan khawatir seraya memegang bahu Chayra.
"Iya, Aku gak apa - apa kok Dafri." jawab Chayra yang terpaksa berbohong. Karena sebenarnya Clarissa telah menyakiti Chayra dengan mencekiknya. Saat ini saja Chayra masih merasakan nyeri pada bagian lehernya atas cekikan kuat dari Clarissa tersebut. Tapi, Chayra enggan menceritakan tentang itu ke Dafri. Chayra hanya bilang Clarissa hanya memarahinya dengan kata - kata penuh emosi.
"Aku disini saja, Dafri." Chayra langsung menyahutnya.
"Oke. Bentar ya sayang," kata Dafri seraya tersenyum dan setelah itu iapun masuk kedalam sana.
Setelah Dafri masuk kedalam, Chayra kemudian terduduk lemas didepan ruang IGD tersebut sembari memegang bagian lehernya yang mungkin saja meninggalkan bekas merah disana. Didalam hati, Chayra menangis. Ia merasa sedih melihat Clarissa yang begitu sangat membenci dirinya. Belum lagi semua perkataan kasar Clarissa tadi itu seakan terniang - niang kembali di telinganya. Clarissa yang mengatakan bahwa Chayra sudah merebut Dafri dari dirinya. Clarissa mengatakan Chayra yang tidak tahu diri dan semua yang buruk - buruk untuknya.
Chayra tidak tahu sampai kapan ia bisa bertahan menghadapi perlakuan Clarissa yang semena - mena ini terhadapnya. Sebenarnya Chayra ingin melawannya, ataupun membalas setiap kata kasar yang keluar dari mulut Clarissa itu. Tapi, Chayra berusaha menahan diri untuk tidak melakukan semua itu. Bukan berarti dia takut dan pasrah. Akan tetapi, karena masih ada sebuah rasa kepedulian Chayra terhadap Clarissa. Apalagi setelah ia tahu bahwa Clarissa terkena gangguan mental yang membuat dirinya mudah marah dan emosi berlebihan.
Tapi, balik lagi pertanyaan ini diajukan didalam hatinya. Sampai kapan? Sampai kapan ia bisa bertahan dan memaklumi semua perbuatan jahat Clarissa itu terhadapnya. Dan juga.. Sampai kapan ia mampu menjalani rumah tangga yang seperti ini bersama Dafri? Meskipun Chayra tahu hati Dafri berpihak kedirinya, tapi tidak Serta merta membuat Chayra merasa bangga dan berbesar hati. Karena ia tidak bisa bahagia diatas penderitaan orang lain. Ya.. Clarissa pasti sangat menderita melihat Dafri lebih memilih Chayra ditimbang dirinya. Lalu.. Apa? Haruskah Chayra yang mengalah dan membiarkan suaminya itu menjadi milik Clarissa seutuhnya?
Chayra masih sibuk dengan Pikirannya yang masih bercabang - cabang memikirkan tentang ini semua. Sampai - sampai, ia tidak sadar ketika seseorang sudah berdiri dihadapannya dengan tatapan marah.
"Chayra..!!!" Panggil wanita tersebut dengan suara yang keras. Chayra yang terkejut karena namanya dipanggil langsung saja mengangkat kepalanya dan melihat seorang wanita yang sudah berdiri didepannya ini. Wanita itu ternyata adalah Siska, Mamanya Clarissa.
__ADS_1
"Iya tante," jawab Chayra lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu apakan anak saya ha? Sampai - sampai ia pingsan seperti itu?" tanya Siska seraya mendorong sedikit bahu Chayra.
"Saya.. Saya gak melakukan apa - apa, Tante." jawab Chayra.
"Ngak mungkin Clarissa bisa pingsan kalau kamu gak apa - apa kan dia ha? Pasti kamu tolak dia kan? terus dia terjatuh ataupun kepalanya terbentur?" tuduh Siska dengan garang. Chayra langsung mengeleng - gelengkan kepalanya.
"Gak Tante, itu sama sekali tidak benar. Saya.."
"Memang kurang ajar kamu ya, maunya kamu mati saja kenak tusuk pisau waktu itu. Biar gak ada lagi yang menjadi penghalang rumah tangganya Clarissa dan Dafri." potong Siska langsung dengan melototkan matanya. Chayra hanya diam saja, ia seakan tidak mempunyai kuasa untuk membalas semua hujatan dari Mamanya Clarissa tersebut.
Siska masih terus mengintimidasi Chayra dengan perkataan - perkataan yang tentunya sangat menyakiti hati Chayra. Karena tidak tahan mendengar hujatan tersebut, maka Chayra pun memutuskan pergi dari sana. Chayra berlari kecil meninggalkan Siska dan menuju keluar halaman rumah sakit. Setelah berada diluar, Chayra akhirnya menumpahkan air matanya yang sejak tadi ia tahan. Chayra menangis sesegukan. Ia sungguh sedih, sangat - sangat sedih.
Chayra yang merasa galau dan sedih kemudian terus berjalan tanpa arah dan tujuan, dan kini ia sudah berada dipinggir trotoar. Chayra berhenti sejenak disana dengan sesekali menghapus sisa - sisa air matanya. Chayra tidak tahu harus pergi kemana. Mau balik lagi kedalam rumah sakit, Chayra seakan enggan selagi masih ada Mamanya Clarissa didalam sana. Chayra tidak tahan jika harus mendengar bentakan dan cacian yang keluar dari mulut wanita itu terhadapnya.
Maka, Chayra putuskan untuk pulang saja kerumahnya. Awalnya Chayra ingin menelpon Dafri, cuman diurungkan niatnya itu karena ia tahu saat ini Dafri sedang mendampingi Clarissa. Dan dia tidak mau Dafri malah menyusulnya dan meninggalkan Clarissa. Pasti Mamanya Clarissa akan semakin meradang dan marah terhadapnya.
Setelah itu, Chayra mencari taksi yang akan lewat dijalan tersebut. Namun, ketika ia mencari - cari.. Tiba - tiba saja, sebuah mobil putih berhenti tepat didepan Chayra. Si pemilik mobil langsung membuka kaca mobilnya dan memanggil nama Chayra.
"Chayra.. Kamu Chayra kan??" tanya si pemilik mobil tersebut.
...💟💟💟💟...
BERSAMBUNG..
.
.
__ADS_1