
Segala hal - hal buruk sudah merasuki didalam pikiran mereka berdua. Apalagi Melihat gelagat dan cara bicara mertuanya itu, membuat Chayra yakin bahwa sebentar lagi dirinya akan diusir dari rumah ini. Chayra hanya bisa tertunduk pasrah meratapi nasibnya, karena ia tahu bahwa dirinya bukanlah menantu idaman lelaki paruh baya itu.
Sama halnya dengan Dafri yang juga merasa sangat galau. Padahal Dafri baru saja ingin memulai kehidupan baru dengan Chayra, dan ia juga baru mulai merancang apa - apa yang akan mereka perbuat kedepannya. Apalagi sekarang ini Chayra tengah mengandung buah hati mereka. Seharusnya ini menjadi moment kebahagian bagi Papanya karena sebentar lagi akan memiliki cucu pertama. Tapi, bisakah ia menerima cucunya nantik jika ia masih tidak bisa menerima Chayra sebagai menantunya?
Argantara yang sejak tadi melihat mereka dengan wajah yang tidak senang, kemudian perlahan - lahan berjalan mendekati mereka. Jantung Chayra semakin berdetak kuat, entah kenapa ia merasa takut jika berhadapan langsung dengan Papa mertuanya itu. Entah apa yang akan diperbuatnya setelah ini, apakah akan mengusir dirinya? Atau malah memarahinya? Chayra hanya bisa menduga - duga didalam hatinya.
Akhirnya Argantara sudah berada tepat di hadapan mereka berdua. Argantara lalu menoleh kearah Chayra yang sejak tadi hanya mampu menundukkan wajahnya.
"Lihat kesini, Chayra!! Jangan menunduk." perintah Argantara dengan setengah membentak. Dafri langsung memasang wajah protes karena tidak Terima Chayra dibentak seperti itu oleh Papanya.
"Iya, Pa. Maaf." jawab Chayra dengan langsung mengangkat wajahnYa dan kemudian melihat dengan takut - takut kearah mertuanya itu.
"Dan.. Kamu Dafri,.." kini pandangan Argantara beralih ke Dafri, kemudian ia berhenti sejenak berusaha untuk menarik nafas panjang. Entah apa yang ingin Papanya sampaikan, Dafri seakan tidak peduli jika Papanya memaksa dia untuk meninggalkan Chayra.
"Selamat.. Papa ucapkan selamat untuk kamu Dafri." ujar Argantara tiba - tiba yang membuat Chayra dan Dafri langsung melongo dengan ekspresi kebingungan. Mereka benar - benar tidak paham ucapan selamat yang dilontarkan oleh Argantara tersebut.
"Selamat ya Dafri..." ucap Argantara lagi dan kali ini dengan menyalami tangan Dafri.
"Maksud Papa apa? Selamat apa ini pa?" Dafri akhirnya bertanya juga masih dengan wajah yang bingung.
"Selamat untuk kalian berdua, karena nasib baik berpihak kepada kalian. Selamat..!!" tutur Argantara dengan suara yang sudah mulai melunak, tidak lagi seperti tadi yang agak keras.
Dafri dan Chayra langsung saling pandang, mereka heran dengan perubahan sikap Argantara yang awalnya garang, tiba - tiba berubah lembut seperti ini.
"Pa, Papa mengucapkan selamat kepada kami.. Itu berarti, Papa.. tidak lagi marah Dafri dan Chayra.. Akhirnya.. kembali bersatu?" tanya Dafri dengan kalimat yang terputus - putus karena saking antusiasnya ia bertanya untuk menyakinkan dirinya dan juga Chayra.
"Iya, Dafri." jawab Argantara lalu tersenyum dengan lebar.
Rasanya Chayra ingin lansgung sujud syukur saat itu juga tatkala melihat senyuman lebar yang ditampakkan oleh mertuanya itu, senyuman tulus yang menggambarkan bahwa ia tidak lagi menjadi penghalang pernikahannya dengan Dafri.
__ADS_1
"Papa sadar kalian memang saling mencintai, dan.. Tidak ada lagi alasan bagi Papa untuk menentang rumah tangga kalian ini. Sedangkan Clarissa saja sudah mau mengalah demi kebahagiaan kalian berdua, kenapa Papa tidak?" lanjut Argantara. Setelah mengatakan hal itu, Dafri langsung memeluk erat Papanya dengan mengucapkan kata terimakasih yang tak terhingga, begitu juga Chayra yang tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya sehingga ia mengeluarkan air mata kebahgiaan yang mengalir deras dipipinya.
...🌺🌺🌺🌺...
3 Bulan kemudian...
Adzan subuh membangunkan Chayra dari tidurnya yang lelap. Saat membuka mata, pandangan Chayra langsung tertuju pada wajah tampan milik suaminya itu. Chayra langsung tersenyum manis seakan bahagia dihadapkan oleh pemandangan yang mempesona subuh ini.
"Dafri.. Bangun.. Kita sholat subuh dulu yuk.." bisik Chayra tepat di telinganya Dafri. Bisikan merdu dari istrinya itu langsung membuat tubuh Dafri menggeliat dan kemudian dengan perlahan - lahan ia membuka matanya yang masih terasa berat.
"Sudah subuh ya sayang?" tanya Dafri sambil menguap pelan. Dan sesaat kemudian, mereka bergantian masuk ke kamar mandi untuk berwudhu dan setelah itu merekapun sholat dengan berjamaah.
Beberapa menit kemudian, Setelah mereka selesai melaksanakan sholat dan ibadah subuh yang lainnya, mereka kemudian berbincang - bincang sejenak menjelang pagi hari.
"Sayang, kebetulan 3 hari ini aku dapat jatah libur. Kemana kita bagusnya ya? Aku pengen mengajak kamu jalan - jalan keluar kota rencananya," ujar Dafri.
"Hhmm.. Bagaimana jika kita kerumah orang tua aku, Dafri? Karena sudah lama juga aku gak bertemu dengan mereka, kita bisa nginap disana 2 hari." kata Chayra yang memberi usul.
Maka langsung saja Chayra dan Dafri menyiapkan baju dan perlengkapan lainnya untuk dibawa ke kampung halaman Chayra yang membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam dengan menggunakan jalan darat.
Sebelum pergi mereka tidak lupa meminta izin kepada Argantara.
"Kalian hati - hati dijalan ya, dan Dafri.. Kamu jaga Chayra dan cucu Papa baik - baik ya, jangan ngebut - ngebut bawa mobilnya." pesan Argantara sebelum mereka berangkat.
"Siap, Papa." jawab Dafri.
Akhir - akhir ini Chayra merasakan kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh Papa mertuanya itu kepadanya semakin hari semakin bertambah saja. Chayra bahagia, akhirnya tidak ada lagi orang yang tidak senang dengan pernikahannya dengan Dafri. Kehidupan rumah tangganya bersama Dafri 3 bulan belakangan ini berjalan dengan normal dan sangat baik. Dan Chayra berharap akan seperti ini selanjutnya, walaupun nantinya akan ada rintangan dan ujian di tengah jalan, Chayra selalu berdoa agar dirinya dan Dafri bisa mengatasi semua permasalahan dengan saling menguatkan dan saling mendukung satu sama yang lain. Mereka bertekad akan membuang segala ego yang menguasai diri mereka nantinya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka berangkat dan saat dipertengahan jalan menuju kerumah Orang tua Chayra, mereka berhenti sejenak untuk makan siang di sebuah rumah makan yang ada disana.
__ADS_1
Saat sedang makan itulah, tiba - tiba saja ada seseorang yang menepuk bahu Dafri dari belakang seraya memanggil nama Chayra dan Dafri.
"Dafri, Chayra.." panggilnya dengan suara yang pelan. Sontak saja Dafri dan Chayra menoleh kebelakang dengan bersama. Dan betapa kagetnya mereka berdua setelah tahu siapa yang memanggil mereka yang ternyata adalah Rama.
"Rama? kebetulan sekali kita ketemu disini, kamu dari mana? dan mau kemana?" tanya Chayra ke Rama.
"Iya, kebetulan sekali ya.. Aku mau pulang kerumah ibu, kamu dan Dafri mau pulang krumah orang tua kamu juga ya?" tebak Dafri.
"Yup, benar Rama. Kami rencana mau nginap disana selama 3 hari," jawab Dafri.
"Wah.. Bisa donk nantik kalian mampir kerumah aku. Chayra, bawa Dafri kerumah ya, jangan lupa. Aku tunggu. Rumah aku tidak jauh kok dari rumahnya Chayra, Daf." kata Rama dengan berbicara bergantian dengan Chayra dan Daftri.
"Oke, Ram. Tenang saja. Tapi, ngomong - ngomong kamu pulang karena ambil cuti atau ada acara lain Ram?" tanya Chayra lagi. Ditanya seperti itu, Rama langsung salah tingkah sembari tersenyum simpul.
"Apa jangan - jangan," Chayra langsung menyipit kan matanya dengan curiga, karena melihat gelagat Rama yang mulai lain.
"Iya, Chayra.. Aku mau menjemput orang tua aku untuk aku bawa kerumah Clarissa." jawab Rama dengan malu - malu.
"Kamu mau melamar Clarissa??" tanya Chayra dengan antusias. Rama langsung mengangguk kepalanya.
"Wow.. Gerak cepat juga kamu ya Ram," celetuk Dafti seraya menyalami Rama dan mengucapkan selamat.
Setelah itu, Rama ikut bergabung bersama Chayra dan Dafri. Mereka makan bersama - sama dengan saling mengobrol.
...🌺🌺🌺🌺...
BERSAMBUNG..
.
__ADS_1
.
.