Saat Rasa Itu Hadir

Saat Rasa Itu Hadir
Eps 17 // SETIA MENEMANI


__ADS_3

Dafri tetap setia menunggu Mamanya yang masih terbaring lemah didalam ruang ICU tersebut. Papa Dafri cerita bahwa Mamanya sudah tak sadarkan diri didepan pintu kamar mereka pagi itu. Papa Dafri yang baru keluar dari kamar mandi langsung saja mengangkat tubuh Mamanya dan berusaha untuk membangunkannya namun Mama Dafri sama sekali tidak sadar dari pingsannya maka Papa Dafripun memutuskan membawa Mamanya kerumah sakit.


Saat di IGD, dokter jaga menyimpulkan bahwa Mama Dafri terkena serangan jantung mendadak sehingga membuat ia tidak sadarkan diri. Dan karena kondisi tubuhnya yang semakin tidak stabil maka dokter pun menyarankan agar Mama Dafri dimasukkan kedalam ruang ICU guna untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif lagi.


Sampai sekarang Papa Dafri tidak tahu apa yang menjadi pemicu serangan jantung mendadak pada istrinya itu. Karena sebelum Papa Dafri masuk kekamar mandi untuk mandi, istrinya itu terlihat baik - baik saja dan malahan ia yang sudah bersiap - siap untuk pergi jogging kala itu.


Jam telah menunjukkan pukul 8 malam, Dafri menyuruh Papa dan adiknya untuk pulang dan beristirahat dirumah. Sedangkan Dafri memilih untuk menjaga Mamanya dirumah sakit.


"Chayra, kamu lebih baik ikut pulang juga sama Papa dan Dika. Istirahat saja dirumah." kata Dafri ke Chayra sebelum Papa Dafri pergi.


"Ngak Dafri, aku disini saja nemani kamu." tolak Chayra langsung yang memang tidak ingin meninggalkan Dafri sendiri dirumah sakit.


"Yakin kamu mau disini, gak mau istirahat dirumah saja?" tanya Dafri seraya menatap istrinya itu. Dan Chayra langsung mengangguk kepalanya dengan yakin.


Setelah Papa Dan adik Dafri pulang, tinggallah Dafri dan Chayra berdua disana. Mereka duduk di kursi panjang yang ada didepan ruang ICU tersebut.


"Dafri, kamu makan dulu ya? Ini tadi aku ada beli makanan diluar." ucap Chayra dengan menyodorkan makanan tersebut ke suami itu.


"Aku gak lapar, Chayra. Kamu saja yang makan ya." sahut Dafri dengan menolak halus tawaran dari Chayra.


"Tapi, Dafri.. Sejak tadi siang kan kamu belum makan. Setidaknya kamu makan sedikit saja, jangan sampai kamu pula yang jatuh sakit karena tidak makan." kata Chayra yang masih berusaha membujuk Dafri untuk makan.


"Okelah kalau begitu." jawab Dafri akhirnya dengan helaan nafas yang berat dan seraya mengambil makanan yang disodorkan oleh Chayra.


"Kamu gak makan juga sekalian?" tanya Dafri setelah menyuapkan makanan tersebut kemulutnya.

__ADS_1


"Aku sudah makan roti tadi. Masih kenyang, hehe.." sahut Chayra dengan tertawa kecil.


"Gimana konsepnya nih? Kamu menasihati aku untuk makan agar gak jatuh sakit, sedangkan kamu sendiri juga belum makan kan sejak tadi siang? Cuman makan roti mana mungkin bisa kenyang, Chayra." kata Dafri.


"Nih.. Kita makan sama - sama." lanjut Dafri lagi dengan menyodorkan makanan tadi ke Chaya. Tapi, Chayra tampak ragu - ragu untuk menerimanya.


"Kenapa gak diambil? Kamu gak mau makan bekas aku ya?" tanya Dafri dengan curiga.


"Ngak.. Ngak Dafri, bukan begitu." Chayra langsung menyanggah ucapan Dafri tersebut.


"Kalau begitu, ambillah. Kita makan sama - sama. Atau kamu mau aku suapin?" kata Dafri lagi yang membuat Chayra semakin merasa canggung.


"Ngak perlu Dafri, aku bisa makan sendiri kok." kata Chayra yang kemudian mengambil makanan tersebut dan detik kemudian menyuapkannya ke mulutnya. Merekapun menghabiskan makanan tersebut bersama - sama.


...💦💦💦💦...


Dafri kembali melihat Chayra yang tertidur pulas disebelahnya. Lama ia pandangi wajah Chayra yang tetap terlihat manis saat tidur. Dan kemudian, karena tahu posisi tidur Chayra yang kurang nyaman maka Dafripun memindahkan kepala Chayra di pahanya dan kemudian menyelimuti tubuh Chayra menggunakan jaket miliknya.


Setelah itu, entah dorongan dari mana yang membuat Dafri malah mengelus - elus lembut dahi wanita itu hingga kebagian belakang kepalanya. Dafri sama sekali tidak mengerti akan apa yang ia lakukan, yang jelas ia merasa senang dan nyaman melakukan hal tersebut. Beberapa saat kemudian, tiba - tiba saja tubuh Chayra menggeliat dan kemudian berpindah arah dari yang awalnya tidur telentang kini berpindah mirring ke sebelah kanan. Dan bersamaan dengan itu pula Chayra memegang tangan Dafri dan membawanya ke dalam pelukannya. Dafri sedikit terpana menerima perlakuan dari Chayra meskipun Dafri tahu bahwa Chayra belum sadar dari tidurnya. Kendatipun demikian, Dafri tidak memindahkan tangannya dan membiarkan tangannya tetap berada didalam pelukan wanita itu.


Beberapa saat kemudian, Dafri yang masih terjaga perlahan - lahan merasa kantuk yang tak tertahankan. Ia menguap beberapa kali sampai akhirnya, lelaki itupun juga tertidur bersama Chayra disebelahnya.


Saat menjelang waktu subuh, Suster yang bertugas diruang ICU saat itu membangunkan Dafri dan Chayra.


"Iya, Sus.. Kenapa?" tanya Dafri dengan sedikit kaget dan cemas. Chayra juga terbangun dan kemudian duduk dengan mata yang masih mengantuk.

__ADS_1


"Ibu Dina sudah sadar dan dia ingin bertemu sama anaknya yang bernama Dafri." jelas suster tersebut.


"Iya, saya Dafri.. Anaknya," sahut Dafri cepat dengan rasa bahagia yang tergambar diwajahnya setelah tahu Mamanya sadar.


"Kalau begitu, silahkan masuk kedalam. Tapi, sendiri saja ya." kata suster itu lagi dengan melihat kearah Chayra yang awalnya ingin masuk kedalam juga. Dan tanpa berkata apa - apa kepada Chayra, Dafripun langsung buru - buru masuk kedalam ruang ICU tersebut.


Setelah Dafri masuk kedalam sana, adzan subuh pun berkumandang. Maka Chayra memutuskan turun kebawah untuk menunaikan sholat subuh di musholla yang kebetulan ada dirumah sakit tersebut.


Sedangkan didalam ruang ICU, Kini Dafri sudah berdiri disamping Mamanya yang masih terlihat sangat lemah. Melihat kedatangan Dafri, membuat Dina tersenyum tipis dengan menggerakkan tangannya kearah Dafri. Dan Dafripun langsung memegang tangan Mamanya dengan lembut lalu menciumnya dengan hangat.


"Dafriii..." lirih Mamanya dengan suara yang serak memanggil nama Dafri.


"Iya, Ma. Ini Dafrii..." sahut Dafri dengan tersenyum tipis dan mata yang mulai berkaca - kaca.


"Daf.. Mama, Mama... minta, ka..mu..." Dina mengeluarkan suara tertatih - tatih dan bersusah payah menyelesaikan kalimatnya.


"Ma, jangan banyak bicara dulu ya. Mama tenang ya. Dafri disini kok temanin Mama" kata Dafri yang tidak tega melihat Mamanya yang masih susah untuk mengeluarkan suaranya. Namun, Dina masih tetap melanjutkan perkataannya yang belum selesai. Ia seperti ingin menanyakan sesuatu hal yang penting ke Dafri.


"Tidak, Dafri.. Mama.. Mau ka..mu jujur, apa.. ka..mu..masihh.. Mencintai Clarissa??" tanya Dina dengan suara yang nyaris hilang namun tetap terdengar jelas juga Oleh Dafri.


Dafri sungguh kaget dengan pertanyaan yang diajukan oleh Mamanya itu, Pertanyaan yang tidak mungkin ia jawab. Dan Dafri memilih untuk diam dan tidak menjawabnya.


"Ji..ka kamu masih.. mencintainya, kembalilah.. dengan Clarissa.. Tinggalkan Chayra.." sambung Dina lagi dan setelah itu nafasnya Dina tiba - tiba sesak. Ia bernafas dengan megap - megap, Dafri yang panik langsung memanggil perawat yang tadi..


...🖤🖤🖤🖤...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


.


__ADS_2