
Setelah dari rumah Clarissa tadi, Dafri langsung pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah, Dafri bergegas kekamar dan kemudian menyiapkan beberapa pasang baju yang akan dibawanya berangkat keluar kota. Ya.. Dafri akan pergi menyusul Chayra kerumah orang tuanya.
Sebenarnya Clarissa sudah matian - matian melarang Dafri untuk pergi ketempat Chayra. Namun, Dafri yang sudah tersulut emosi dan amarah saat itu tidak lagi mempedulikan larangan dari Clarissa.
"Untuk apa kamu kesana, Daf? Coba kamu beri satu alasan yang logis ke aku, kenapa kamu harus kesana? Jika hanya ingin meminta maaf, kenapa tidak melalui telepon saja. Ini aku beri nomor Chayra yang baru." kata Clarissa saat itu. Tapi, Dafri hanya bungkam. Baginya tidak perlu alasana apapun lagi yang harus ia berikan, yang terpenting saat ini adalah ia harus bertemu dengan Chayra. Ya, Harus!! Tekad Dafri sudah benar - benar bulat.
Setelah selesai menyiapkan barang bawaannya, Dafri lalu bergegas kebawah lagi. Namun, saat dibawah Dafri malah berpapsan dengan Argantara.
"Mau kemana kamu, Dafri?" tanya Argantara dengan penasaran.
"Kerumah orang tuanya Chayra." jawab Dafri datar.
"Untuk apa lagi Dafri? Bukannya kamu akan menceraikan Chayra, Tidak perlu repot - repot kamu kesana. Tinggal kirim kan saja surat cerainya." ujar Argantara. Mendengar ucapan Papanya itu membuat Dafri langsung mendengus kesal.
"Dafri tidak akan pernah menceraikan Chayra, Pa." tegas Dafri lalu tanpa menunggu tanggapan dari Argantara selanjutnya, iapun berlalu dari sana.
Lebih kurang 5 jam perjalanan menggunakan kapal, akhirnya Dafri sampai dikota tempat Chayra tinggal. Awalnya Dafri agak kesulitan mencari alamat rumah orang tua Chayra, karena memang dia hanya baru sekali saja sampai dirumahnya Chyara. Yaitu disaat ia dan orang tuanya melamar Chayra.
Namun, akhirnya Dafri sampai juga dirumah sederhana Milik keluarga Chayra setelah ia bertanya dengan beberapa orang yang ia jumpai saat diperjalanan.
Dafri kini sudah berdiri didepan teras rumah Chayra. Dengan agak ragu - ragu, Dafri melangkahkan kakinya menuju kedepan pintu masuk yang tidak tertutup rapat. Dafri hendak mengetuk pintu tersebut, namun diurungkannya niat tersebut saat mendengar pembicaraan dua orang yang berada didalam sana dan salah satunya adalah Chayra. Maka, Dafripun memilih untuk mendengarkan sejenak pembicaraan mereka dahulu sebelum akhirnya ia mengetuk pintu tersebut.
Beberapa menit kemudian, setelah Dafri rasa cukup untuk menguping pembicaraan Chayra dan adiknya, maka diapun masuk kedalam.
"Kamu tidak perlu cari pinjaman ke siapa - siapa, Chayra. Karena.. Akulah yang akan melunasi utang - utang orang tuamu.." ujar Dafri tiba - tiba, tanpa mengucapkan salam ataupun kalimat pembuka yang lainnya, ia pun berkata demikian. Sehingga membuat kedua kakak beradik didalam rumah tersebut menoleh berbarengan dengan ekspresi yang kaget.
Chayra sampai terbelalak kaget melihat Dafri yang sudah berdiri tegap didepan pintu masuk rumahnya. Ia yang sama sekali tidak menyangka Dafri akan datang menyusulnya kesini.
__ADS_1
"Dafri...?" lirih Chayra masih dengan ekspresi tidak percaya yang ia tunjukkan.
"Iya, Chayra.." sahut Dafri dan kemudian berjalan mendekati mereka berdua. Dan kini Dafri sudah berdiri dihadapan mereka dengan tatapan teduh.
"Chayra, aku mintak maaf karena baru bisa datang sekarang menemui kamu." kata Dafri setelah berada diantara mereka berdua.
"Ee.. Bang Dafri, silahkan duduk dulu." ucap Arman dengan mempersilahkan Dafri untuk duduk, setelah ia berhasil meredakan keterkagetannya juga atas kedatangan Dafri. Dafripun langsung duduk di kursi ruang tamu rumah Chayra tersebut.
"Kamu kenapa datang kesini, Dafri?" tanya Chayra dengan suara yang pelan namun terdengar ketus. Dafri bisa menangkap rasa tidak suka dari nada bicaranya Chayra.
"Aku kesini mau menjelaskan ke orang tua dan keluarga kamu Chayra tentang apa yang sebenarnya terjadi, karena aku gak mau dibilang lelaki yang tidak bertanggung jawab dengan membiarkan kamu pulang sendirian kerumah orang tuamu tanpa ada aku yang menemani ataupun mengantarkan kamu." jelas Dafri dengan menatap dalam - dalam wajah Chayra. Chayra melihat sekilas kearah Dafri, tapi setelah itu ia mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat seakan tidak mau melihat lelaki itu dalam durasi yang lama.
"Maaf, Arman rasa.. Arman permisi dulu kedalam, Bang Dafri dan kak Chayra silahkan lanjutkan dulu pembicaraannya." tiba - tiba saja Arman pamit dan mengundurkan diri dari sana, ia yang tidak ingin tetap berada disana untuk mendengar langsung pembicaraan diantara kakak dan abang iparnya tersebut. Dafri langsung saja mengiyakannya dengan senang hati, sedangkan Chayra menatap protes kearah Arman. Tapi, Arman tetap saja berlalu dari sana.
"Chayra, maafkan aku karena sudah salah paham sama kamu. Aku pikir kamu yang kabur dari aku dan tidak lagi menginginkan pernikahan kita ini berlanjut. Tapi, ternyata aku salah. Aku sudah tahu semuanya, Clarissa lah yang sudah menyuruh kamu untuk pergi meninggalkan aku kan Chayra?" tanya Dafri dengan suara yang tertahan. Chayra masih bungkam. Ia sama sekali tidak bergeming.
"Tapi, yang aku herankan kamu kenapa mau mengikuti perintah Clarissa untuk pergi meninggalkan aku, Chayra?" tanya Dafri. Mendengar pertanyaan dari Dafri itu, lantas membuat Chayra langsung menarik nafas panjang setelah itu menghembuskannya dengan kasar.
"Karena aku menginginkannya juga, Dafri." jawab Chayra lalu tersenyum tipis. Kening Dafri langsung berkerut mendengar jawaban dari Chayra.
"Maksud kamu, bagaimana?" Dafri akhirnya bertanya.
"Dafri, seharusnya kamu gak usah repot - repot mencari aku kesini. Karena.. memang begitulah seharusnya bukan? Kita bakalan berpisah juga. Mama kamu sudah meninggal, jadi tidak ada lagi yang membuat kita harus tetap bersama. Clarissa sudah melakukan hal yang benar Dafri. Kalau aku jadi Clarissa pasti aku akan melakukan hal yang sama juga." kata Chayra dengan menguatkan hatinya. Karena sesungguhnya apa yang ia ucapkan barusan itu tidaklah sesuai dengan isi hatinya yang sebenarnya.
Dafri terdiam sejenak, ia merasa bingung dan heran kenapa Chayra malah membenarkan apa yang telah diperbuat oleh Clarissa.
"Jadi, kamu.. merasa tidak terpaksa melakukan apa yang Clarissa suruh itu?" tanya Dafri lagi dengan tidak yakin.
__ADS_1
"Iya, Dafri. Aku melakukannya dengan sukarela." jawab Chayra lalu menundukkan wajahnya. Karena ia tidak ingin terlihat sedang berbohong, pasti raut wajahnya saat ini terlihat tidak sesuai dengan apa yang ia ucapkan.
"Chayra.. Kamu mau berpisah dari aku?" tanya Dafri lagi dan kali ini lebih menekankan kata - katanya. Chayra tidak langsung menjawabnya.
"Jawab Chayra!!" pinta Dafri setengah memohon.
Lagi - lagi Chayra hanya bisa menghela nafas panjang, pertanyaan dari Dafri tersebut membuat dia seakan tertekan.
"Dafri... Kamu ingat apa yang pernah kamu katakan saat dimalam pernikahan kita?" tanya Chayra yang akhirnya mengeluarkan suara juga.
"Yang mana?" Dafri malah balik bertanya. Chayra lalu memutar bola matanya sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan dari Dafri.
"Yang aku ingat, kamu pernah bilang begini.. 'Pernikahan ini hanya sementara. Sampai suatu saat nantik kita bisa menyakinkan kedua orang tua kita bahwa pernikahan yang terjalin tanpa rasa cinta dan rasa kasih sayang sebelumnya, tidak akan berlangsung lama'.. Ingatkan kamu pernah berkata seperti itu? Dan memang terbukti sekarang Dafri, waktu itu sudah tiba. Tidak ada lagi yang memaksa kita untuk tetap bersama. Jadi, aku rasa kamu sudah bisa menyimpulkan apa jawaban aku." kata Chayra dengan nada dingin.
Dan kali ini Dafri yang dibuat terdiam dengan kalimat panjang Chayra barusan. Setelah itu, Dafri memperbaiki posisi duduknya dan mencondongkan badannya kearah Chayra. Sehingga jarak mereka menjadi dekat. Dafri menatap Chayra dengan tajam, Chayra pun membalas tatapan Dafri itu dengan ragu - ragu.
"Setelah apa yang terjadi dimalam itu, Apakah tidak timbul sebuah rasa dihati kamu terhadap aku, Chayra??" tanya Dafri dengan setengah berbisik, agar tidak ada orang lain yang mendengar kalimat intim yang barusan ia ucapkan itu.
"Tidakkah kamu berpikir, aku bisa melakukan itu.. Karena... adanya sebuah rasa??" sambungnya lagi. Chayra hanya bisa terpana dengan debaran yang kencang didadanya...
...💟💟💟💟...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1