
Chayra terduduk lemas dipinggir ranjangnya, sedangkan Dafri sudah setengah jam yang lalu pergi kerumah sakit menemui Clarissa. Sebelum pergi, Dafri menyuruh Chayra untuk beristirahat dan tidur duluan karena kemungkinan Dafri tidak pulang malam ini.
Chayra kembali mendengus kesal, bagaimana dirinya bisa tidur? Bahkan rasa kantukpun sedikitpun tidak ada. Ya.. Rasa kantuknya dikalahkan dengan rasa penyesalan dihatinya karena sudah mengikuti Dafri untuk kembali lagi kesini.
Jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 malam namun mata Chayra belum juga mampu terpejam. Dia masih terlihat uring - uringan diatas ranjangnya sambil memainkan ponselnya. Sebenarnya matanya sudah lelah menatap layar handphone sejak tadi. Tapi, Chayra tidak tahu harus melakukan apa. Sedangkan pikirannya selalu membawanya ke Dafri dan Clarissa. Sedang apa mereka saat ini dirumah sakit? Sudah dapat dipastikan bahwa Dafri tidur juga diruang rawatan Clarissa atau bahkan disamping wanita itu. Membayangkan hal tersebut, malah membuat dada Chayra terasa terbakar karena api cemburu. Aahh... Chayra langsung menepis rasa yang menyakitkan itu dan menggantinya dengan tekad yang kuat untuk tidak lemah.
Setelah itu, Chayra bermaksud untuk melaksanakan sholat tahajud. Ia ingin mencari ketenangan jiwa, sekalian mengadukan segala rasa yang berkecamuk dihatinya saat ini kepada Allah. Selesai Sholat, ia berdoa panjang dengan membiarkan air matanya yang terus mengalir di pipinya yang mulus. Setelah puas mengadu dan menangis, barulah ia merasa kantuk dan menit kemudian Chayrapun tertidur diatas sajadahnya.
Keesokan harinya, Chayra bangun agak kesiangan. Matahari sudah mulai naik dan Chayra baru sadar bahwa ia belum sholat subuh. Lalu Chayra buru - buru kekamar mandi untuk berwudhu.
Setelah selesai menunaikan sholat subuh walaupun telat, Chayra kemudian turun kebawah dan langsung menuju ke dapur. Disana ia melihat bik Asih yang sudah sibuk berkutat di dapur, Chayra lalu menyapa dan berbicara ala kadarnya dengan wanita paruh baya itu. Dan beberapa saat kemudian, Papanya Dafri datang kedapur. Chayra yang tadi duduk dikursi makan tersebut langsung berdiri sembari tersenyum manis dan kemudian menghampiri Papa mertuanya itu. Ia bermaksud ingin menyalaminya. Namun, Argantara malah tidak mau menerima uluran tangan dari Chayra tersebut.
"Ngapain lagi kamu kesini, Chayra? Bukannya kemarin kamu kabur dari rumah, lalu kenapa tiba - tiba balik lagi?" tanya Argantara dengan nada sinis. Chayra langsung terdiam dengan wajah yang sudah pucat pasi. Chayra bisa menilai dari cara bicara dan gelagat Papa mertuanya ini yang merasa tidak senang dengan kehadirannya kembali kerumah mereka.
"Dafri yang menjemput Chayra, Pa. Dan mengajak Chayra untuk kesini lagi." jawab Chayra apa adanya lalu menundukkan wajahnya.
"Seharusnya kamu punya pendirian yang teguh, Chayra. Kalau sudah niat mau pergi ya pergi saja. Jangan mau diajak ataupun dibujuk Dafri untuk kembali." kata Papa Argantara masih dengan sikapnya yang dingin.
"Chayra, bukan maksud Saya mau menyinggung kamu. Cuman.. Saya memang harus menyampaikan yang sebenarnya. Dafri itu terpaksa menikahi kamu karena desakan Mamanya, dan otomatis Dafri tidak cinta sama kamu. Dafri hanya cinta ke Clarissa. Mungkin saja Dafri membawa kamu kembali kesini karena rasa kasihannya saja sama kamu, dan saya harap kamu bisa sadar dan jangan terlalu lemah jadi wanita." jelas Argantara dengan suaranya yang terdengar lantang dan tegas itu.
"Lagi pula, sejak awal saya memang tidak setuju dengan keputusan Dina menjodohkan Dafri dengan kamu yang dari kalangan kelas bawah. Rasanya tidak pantas, tapi ya.. Keputusan sudah diambil oleh Dina mau tidak mau saya mengikuti saja. Tapi, sekarang sudah berbeda Chayra. Biarlah Dafri memilih wanita yang dicintainya. Dan saya berharap, Kamu dengan kerelaan hati dan kesadaran diri kamu, pergilah dari kehidupan Dafri." kata Argantara.
Lagi - lagi Chayra hanya bisa diam dengan hati yang perih, ternyata Papa mertuanya itu tidak pernah menyetujui Dafri menikah dengan Dirinya bahkan ia terlihat sangat menginginkan Chayra pergi dari Dafri.
Chayra menghela nafas panjang berkali - kali. Apa yang harus ia lakukan saat ini? Haruskah ia kabur lagi dari Dafri?
...****...
__ADS_1
Malam saat Dafri sampai di rumah sakit, ternyata Clarissa sudah tidur. Yang ada disana cuman Mama Clarissa yang menemaninya. Awalnya Siska mau membangunkan Clarissa namun Dafri mencegahnya dan membiarkan wanita itu tidur dengan lelapnya sampai esok pagi.
Pagi sekali Siska pamit pulang sebentar, maka tinggallah Dafri seorang diri menjaga Clarissa. Dafri yang baru keluar dari kamar mandi saat itu mendapati Clarissa yang ternyata sudah bangun dari tidurnya.
"Dafri...??" jerit Clarissa dengan ekspresi yang kaget melihat Dafri ada didalam kamar rawatannya.
"Kamu sudah bangun, Clarissa? Bagaimana keadaan kamu?" tanya Dafri seraya berjalan ketempat tidurnya Clarissa.
"Alhamdulillah, sudah agak mendingan. Ternyata aku terkena vertigo, Daf. Makanya kepala aku sakit banget, badan terasa oyong sehingga membuat aku kemarin sampai pingsan." ucap Clarissa yang menjelaskan kondisi tubuhnya.
"Kamu.. Kapan sampai kesini?" lanjut Clarissa lagi dengan bertanya.
"Tadi malam sekitar jam 10 malam aku sampai disini, tapi kamu sudah tidur." jawab Dafri.
"Oh.. Kenapa gak bangunkan aku, Daf?" tanya Clarissa lagi. Kini Dafri sudah duduk disamping wanita itu.
"Daf.. Kamu gak marah lagi kan sama aku?" tanya Clarissa dengan tatapan teduhnya itu menatap Dafri.
"Ngak, Clarissa." jawab Dafri singkat lalu membalas senyum Clarissa.
"Jadi, apa yang terjadi saat kamu menemui Chayra dirumahnya?" tanya Clarissa dengan penasaran.
"Ya intinya Chayra tidak menyalahkan kamu atas perginya dia dari rumah aku. Malahan dia membela kamu habis - habissan, meskipun aku tahu.. Sebenarnya bukan seperti itu lah yang sebenarnya. Dia tetap menghargai kamu dan tidak ingin menjatuhkan kamu, Clarissa." jelas Dafri terkesan malah mengagung - agungkan Chayra. Tentu saja hal itu membuat Clarissa merasa tidak senang.
"Ya.. Mungkin saja dia berbuat demikian agar terlihat baik dimata kamu, Daf." kata Clarissa dengan nada meremehkan. Mendengar pernyataan Clarissa barusan itu, membuat wajah Dafri langsung berubah agak lain.
"Clarissa.. Seharusnya kamu bersyukur dan berterimakasih dengan Chayra yang sudah baik sama kamu. Chayra sama sekali tidak menyalahkan kamu, tapi kamu bisa - bisanya malah menuduh dan berpikiran buruk tentang dia. Aku gak habis pikir kenapa kamu jadi berubah begini, Calrissa." kata Dafri terdengar kesal.
__ADS_1
"Kamu yang berubah, Dafri...!!" tuduh Clarissa dengan jengkel.
"Sekarang aku tanya sama kamu, kenapa kamu malah peduli dengan Chayra dan lebih memikirkan perasaan dia? Sampai - sampai kamu nekat menyusul dia kerumah orang tuanya yang jaraknya lumayan jauh dari rumah kamu, Kenapa Dafri?" tanya Clarissa dengan gusar.
"Ayo.. Jawab pertanyaan aku ini, Dafri. Dan Kenapa sampai detik ini kamu belum juga menceraikan dia? Padahal tidak ada lagi kan yang memaksa kalian untuk terus bersama." sambung Clarissa lagi.
"Kamu belum menceraikan Chayra kan Dafri?" tekan Clarissa dengan bertanya.
"Kenapa diam saja, Dafri? Aku butuh jawaban kamu, aku butuh kepastian tentang kelanjutan pernikahan kita ini." kata Clarissa yang masih melanjutkan ocehannya itu.
"Kamu terlalu banyak bicara, Clarissa. Apa kamu mau vertigo kamu itu kambuh lagi, nantik kita bahas masalah ini setelah kamu keluar dari rumah sakit. Sekarang kamu istirahatlah, aku mau cari sarapan dulu diluar." kata Dafri dan kemudian berjalan menuju pintu. Namun, belum sampai Dafri didepan pintu, Clarissa kembali memanggil Dafri.
"Iya, apa lagi Clarissa..??" tanya Dafri dengan menoleh kebelakang.
"Aku mau kamu jujur sama aku Daf," pinta Clarissa dengan mata yang sudah mulai berkaca - kaca.
"Jujur tentang apa, Clarissa?" tanya Dafri dengan mengerutkan keningnya tanda bingung.
"Aku ingin kamu jujur, apakah.. Saat ini, kamu sudah mulai.. mencintai Chayra??" tanya Clarissa dengan perlahan - lahan namun pasti kata - kata itu terlontar dari mulutnya. Dafri tersentak sesaat dengan pertanyaan dari Clarissa tersebut, dan dengan menghela nafas panjang akhirnya lelaki itupun menjawabnya. Menjawab sesuatu yang tentu saja membuat hati Clarissa terluka..
...💓💓💓💓...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1