
Mendengar kak Hilma berteriak memanggil namanya sehingga membuat Rama yang masih berbaring didalam kamarnya langsung saja bergegas menuju kesumber suara.
Rama sampai didepan pintu kamar Chayra dan melihat Kakaknya sedang berusaha membangunkan Chayra yang tak sadarkan diri di pangkuannya.
"Lah, Chayra kenapa kak?" tanya Rama yang ikutan panik juga.
"Chayra pingsan, Rama! Sebelumnya tadi ia sempat muntah - muntah dan mengeluhkan kepalanya sakit. Kak tinggal sebentar untuk ambil obat, eh ternyata Chayra sudah tak sadarkan diri didepan kamar mandi." jelas kak Hilma. Kemudian atas perintah kakaknya, Ramapun mengangkat tubuh Chayra ketempat tidur.
"Badannya panas juga lo kak, apa kita bawa Chayra kerumah sakit saja?" tanya Rama memberikan saran.
"Iya, bagusnya sih seperti itu. Kita bawa Chayra kerumah sakit sekarang ya!" putus kak Hilma akhirnya dan setelah itu merekapun membawa Chayra kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, Chayra langsung ditangani oleh dokter dengan intensif didalam ruang IGD. Sedangkan Kak Hilma dan Rama menunggu Chayra diluar UGD dengan perasaan cemas dan khawatir.
"Kak.. Apa perlu kita kabari keluarga Chayra ataupun suaminya kalau Chayra kita bawa kerumah sakit?" tanya Rama tiba - tiba.
"Iya, kak juga berpikiran seperti itu Rama. Bagaimanapun juga Chayra masih berstatus istri sah suaminya itu, meskipun suaminya telah mengusir dia." kata Kak Hilma dengan wajah yang sedih.
"Kenapa kita gak hubungi orang tua Chayranya aja kak?" tanya Rama lagi.
"Jangan Rama, karena Chayra melarang kakak untuk mengabari keluarganya disana karena dia gak mau membebani orang tuanya dengan permasalahannya saat ini, apalagi kondisi Ayah Cahyra saat ini lagi tidak stabil kan? Makanya Chayra takut jika keluarganya tahu terutama Ayahnya akan membuat kesehatan Ayahnya semakin menurun." jelas Kak Hilma.
"Kalau begitu, kita kabari suaminya aja kak." saran Rama lagi.
"Tapi, bagaimana caranya? Kamu mau kerumah suaminya Chayra dan memberitahu dia? Karena kita kan gak punya nomor dia." kata Kak Hilma.
"Tenang kak, Rama tau bisa mendapatkan nomor suami Chayra dari siapa, tanpa Rama harus kerumahnya." ucap Rama dengan tersenyum lebar dan setelah itu mengeluarkan ponselnya.
"Dari siapa emangnya?" tanya Kak Hilma dengan heran, dan belum sempat Rama menjawabnya tiba - tiba saja dokter yang memeriksa keadaan Chayra tadi keluar dan menghampiri Rama dan Kak Hilma.
__ADS_1
"Permisi, apakah ibu keluarga dari pasien yang didalam?" tanya si Dokter kepada kak Hilma.
"Saya gak ada hubungan keluarga sih sebenarnya Dok, tapi kami sudah lama kenal dan saling dekat." Kak Hilma menjawabnya.
"Oh gitu ya, kalau Mas ini siapanya? Suaminya bukan?" kini pandangan Dokter tersebut beralih ke Rama.
"Bukan Dok, Saya temannya." Rama langsung menyanggahnya.
"Bagaimana keadaan Chayra ya dok? Dia baik - baik saja kan?" tanya Kak Hilma dengan khawatir.
"Keadaannya masih sangat lemah, dia harus lebih banyak beristirahat dan jangan kecapean dulu, apalagi akibat perubahan dan penyesuaian hormon saat hamil muda ini sangat mempengaruhi kesehatannya yang terkadang akan merasa mual ataupun sampai muntah..." jelas Dokter tersebut.
"Tunggu... Tunggu.. Dokter bilang apa tadi? Hamil Muda? Jadi, Chayra lagi hamil? Benar begitu Dokter?" tanya Kak Hilma yang kurang yakin dengan apa yang barusan ia dengar.
"Iya, pasien ini lagi hamil. Memanganya Anda tidak tahu ya?" tanya Si dokter. Kak Hilma hanya menggelengkan kepalanya.
"Kak, kita harus secepatnya kabarin suaminya Chayra. Pasti Chayra dan juga suaminya gak tahu kalau Chayra lagi hamil." kata Rama sesaat setelah si dokter pergi dari tempat mereka.
"Ee.. Rama telpon Shera dulu ya kak, minta nomor suami Chayra dari dia, karena ternyata Shera berteman baik dengan Clarissa." kata Rama tanpa menanggapi ucapan kakaknya yang tadi.
...💟💟💟💟...
Dafri terduduk lemas diatas sofa kamarnya sedangkan Clarissa masih berdiri didepan Dafri dengan terisak - isak.
"Daf, aku minta maaf karena sudah membuat kamu dan Chayra jadi berpisah seperti ini. Aku yang salah dari awal karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa kalian berdua saling mencintai sehingga tidak ada lagi ruang dihati kamu untuk mencintai aku. Aku yang terlalu terobsesi untuk memiliki kamu, tanpa aku sadar bahwa cinta itu tidak bisa dipaksakan." kata Clarissa dengan sekali - sekali menyeka air matanya.
"Dimana Chayra sekarang, Clarissa?" tanya Dafri dengan menatap Clarissa.
"Chayra sekarang tinggal dirumah kakaknya Rama yang sejak dulu memang sudah kenal dan dekat dengan Chayra." jawab Calrissa.
__ADS_1
"Kamu tahu dimana rumahnya?" Dafri bertanya lagi.
"Iya, aku tahu Daf." jawab Clarissa.
"Bawa aku kesana, Clarissa. Aku gak sabar ingin ketemu dengan Chayra. Kamu tahu sendiri kan bagaimana aku selalu merindukannya?" kata Dafri lalu menghela nafas pendek.
"Iya, aku tahu kalau Kamu merindukannya, Daf. Saking rindunya kamu ke Chayra, setiap malam aku selalu mendapati kamu mengigau memanggil namanya." ungkap Clarissa.
"Sampai kapanpun, tidak ada yang bisa menggantikan Chayra dihati kamu, Daf." lanjut Clarissa lagi masih berusaha tersenyum ikhlas meskipun saat ini ia juga merasakan sakit.
"Clarissa, aku gak tahu harus berkata apa sama kamu. Cuman ucapan terimakasih yang bisa aku berikan ke kamu. Terimakasih sudah mau jujur tentang ini semua, kejujuran kamu sangat berarti bagi aku." ungkap Dafri dengan sungguh - sungguh.
"Ya, Tapi.. kamu gak perlu berterimakasih dengan aku sebenarnya Daf. Karena aku pun sadar bahwa selama ini aku sudah jahat sama Chayra, namun sekalipun Chayra tidak pernah membalas kejahatan yang aku lakukan dengan kejahatan pula, malahan ia memberikan berbagai kebaikan untuk aku. Dia yang rela melepaskan kamu untuk aku, membiarkan dirinya disangka selingkuh demi melihat aku tetap bersama kamu. Yah.. Chayra wanita yang baik, dan dia pantas mendapatkan kamu ditimbang aku yang jahat ini, Daf." kata Clarissa dengan air matanya yang kembali berlinang.
Melihat Clarissa yang rapuh tersebut, kemudian membuat Dafri hanya bisa menenangkannya dengan mengelus - elus punggung Clarissa seraya berkata, "Clarissa, meskipun kita tidak bersama - sama lagi, aku harap.. Kita bisa tetap bersama sebagai sahabat. Bagaimana pun juga kita sudah lama saling mengenal, dan aku masih ingin berhubungan baik dengan aku sebagai seorang teman ataupun sahabat." ucap Dafri dengan wajah yang serius.
"Ya, sebagai teman ataupun sahabat." lirih Clarissa berusaha tersenyum dengan ikhlas.
Beberapa saat kemudian, terdengar deringan dari ponselnya Clarissa. Dan Clarissa langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Dari siapa, Clarissa?" tanya Dafri yang melihat ekspresi Clarissa langsung berubah saat mendengar seseorang tersebut mengatakan sesuatu.
"Daf, Chayra.. Chayra..." lirih Clarissa dengan mata yang melotot kaget.
...💦💦💦💦...
BERSAMBUNG...
.
__ADS_1
.
.