
Dengan langkah buru - buru Dafri dan Clarissa berjalan menuju kekamar rawatan Chayra. Saat telah didepan pintu, ia mendengar suara Chayra dan Rama sedang berbicara sesuatu. Dan sekilas Dafri mendengar Chayra berkata bahwa ia tidak ingin Dafri tahu bahwa ia sedang mengandung anaknya Dafri. Dafri langsung terpana dengan apa yang ia dengar, dan dia sangat yakin jika dia tidak salah dengar. Kemudian Dafri pun langsung saja menyerobos masuk kedalam.
Saat sudah didalam kamar, Chayra dan lelaki disebelahnya itu langsung memasang wajah kaget melihat kedatangan mereka berdua.
"Chayra, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Apa yang sakit?" tanya Dafri yang sudah bergegas menuju ketempat tidurnya Chayra. Rama yang berada disebelah Chayra sejak tadi, langsung saja bergeser. Sedangkan Clarissa masih berdiri mematung didepan pintu.
"Dafri, Kamu dan Clarissa.. Kenapa ada disini?" Chayra malah balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Dafri barusan.
"Kami kesini mau menjenguk kamu, Chayra. Kamu kenapa? Dan..Kenapa pergi tanpa beritahu aku?" tanya Dafri dengan suara memelas, dan sorot matanya itu memandang Chayra dengan sangat teduh, bahkan mulai berkaca - kaca. Ia seakan ingin menumpahkan rasa rindunya terhadap istrinya itu, namun belum bisa ia lakukan karena ada Rama dan Clarissa didalam ruangan tersebut.
Tapi, Rama tampaknya sadar diri dan paham dengan situasi yang ada dihadapannya saat ini. Maka ia pun berjalan kearah pintu, bermaksud untuk keluar dan sekaligus ia memberi kode ke Clarissa agar keluar juga bersama dirinya. Dan Clarissa mengikuti langkah Rama menuju keluar ruangan.
"Chayra, sayang.. Aku minta maaf, kamu baik - baik saja kan sayang?" tanya Dafri setelah Rama dan Clarissa tidak ada lagi didalam sana. Dafri meraih tangan Chayra dan mengenggamnya dengan lembut setelah itu menciumnya beberapa kali. Melihat perlakuan Dafri terebut, membuat Chayra langsung saja menarik tangannya agar lepas dari genggaman Dafri.
"Aku baik - baik aja kok Daf, kamu gak perlu risau." jawab Chayra dengan nada dingin dan tersenyum tipis, kemudian Chayra menggeserkan tubuhnya agak jauh dari Dafri. Melihat Chayra yang menjauh darinya, membuat Dafri kembali teringat akan perbincangan Chayra dan Rama sebelum ia masuk tadi.
"Chayra, aku mohon kamu jujur sama aku. Kamu.. Hamil? Kamu hamil anak aku kan? Benar begitu, Chayra? Karena tadi aku gak sengaja mendengar pembicaraan kamu dengan laki - laki itu, kamu bilang kalau kamu gak ingin aku tahu bahwa kamu sedang mengandung anak aku kan?" tanya Dafri kemudian menatap wajah Chayra dengan erat. Chayra sempat tersentak sesaat, ternyata Dafri tadi mendengar pembicaraannya dengan Rama. Namun, Chayra tidak ingin begitu saja mengakuinya. Ia kemudian dengan cepat menyanggah.
"Kamu ngomong apa, Dafri? Aku hamil? Kamu mengada - ngada ya!" ujar Chayra dengan tertawa kecil lalu menggeleng - gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku hamil." sambung Chayra lagi dengan mengalihkan wajah dan pandangannya kearah lain.
"Kamu bohong, Chayra!" tuduh Dafri dengan sorot mata yang tajam.
"Aku gak bohong, kamu salah dengar mungkin." ujar Chayra tapi masih tetap mengalihkan pandangannya dari Dafri.
"Jika benar kamu gak bohong, coba lihat aku sini Chayra! Tatap mata aku, jangan melihat kemana - mana." pinta Dafri. Chayra hanya bisa menelan ludahnya mendengar permintaan Dafri tersebut. Tanpa berani menatap wajah Dafri yang sejak tadi mencari - cari kebohongan dari sorot matanya. Karena Chayra yakin akan terlihat jelas bahwa ia sedang berbohong.
"Chayra, aku sudah tau semuanya dari Clarissa. Kamu berpura - pura kan dengan mengatakan mencintai laki - laki yang bernama Rama itu? Kenapa kamu melakukan itu semua, Chayra? Mengapa kamu mau mengalah dan membiarkan diri kamu pergi dari aku?" tanya Dafri. Chayra mengangkat wajahnya sebentar dan melihat Dafri yang sejak tadi tidak lepas menatap Chayra dengan tatapan teduhnya.
"Jangan bohongi diri kamu, Chayra. Aku tahu kamu masih sangat mencintai aku. Begitu pula dengan aku yang sedikitpun tidak bisa berpaling dari kamu." lanjut Dafri lagi.
"Katakanlah sesuatu Chayra, jangan diam saja." pinta Dafri dengan memohon karena Chayra belum juga mengeluarkan sepatah katapun.
"Dafri.. Biarlah keadaan seperti ini dulu, aku juga gak tahu harus bagaimana. Yang jelas, untuk kembali lagi bersama kamu tidak mungkin lagi aku lakukan." jawab Chayra akhirnya.
"Kenapa tidak mungkin, Chayra? Kita saling mencintai, ditambah lagi jika kamu benar - benar sedang mengandung anak aku, dan itu sudah cukup menjadi penguat hubungan pernikahan kita akan utuh kembali." ujar Dafri dengan mata yang berbinar - binar. Ia membayangkan jika benar Chayra hamil dan pastinya dia akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
"Saling mencintai tidak mesti harus bersama, Dafri. Karena itulah Mulai saat ini, kita harus sama - sama belajar untuk saling melupakan dan juga saling melepaskan," tutur Chayra dengan menguatkan hatinya agar terlihat teguh dan yakin dengan apa yang ia ucapkan tersebut.
__ADS_1
"Tidak Chayra, tidak bisa begitu. Sekarang ini, aku tanya sama kamu.. Kenapa, Apa yang memberatkan kamu untuk kembali lagi bersama aku, Chayra?" tanya Dafri dengan rasa geram dihatinya. Chayra langsung terdiam.
"Apa karena Clarissa? Kamu masih berpikiran untuk mengalah demi Clarissa?" lanjut Dafri lagi dengan bertanya.
"Dafriii... Clarissa lebih dulu mengenal kamu dari pada aku, Clarissa lebih dulu mencintai kamu dari pada aku. Dan Terlepas apa yang pernah Clarissa perbuat ke aku, menurut aku itu wajar saja bagi seorang wanita yang berjuang untuk mendapatkan keutuhan cintanya kembali. Aku yang salah, karena telah membuat kamu jatuh cinta ke aku dan akhirnya melupakan cinta kamu ke Clarissa. Seharusnya, aku bisa lebih menjaga sikap aku agar kamu tidak berpaling dari Clarissa." jelas Chayra yang masih saja ingin mengalah dan pergi dari Dafri.
"Aku gak ngerti dengan pola pikirmu ini, Chayra. Cinta itu tidak bisa dipaksakan, Chayra. Anggaplah dulu aku pernah mencintai Clarissa, tapi itukan dulu.. Jauh sebelum aku mengenal kamu. Dan sekarang, dihati aku cuman ada kamu. Hanya kamu Chayra, tidak kah kamu bisa merasakan bahwa aku benar - benar tulus mencintai kamu." kata Dafri dengan lebih menekan kata - katanya.
"Ngak, Dafri. Clarissa lah yang lebih berhak merasakan ketulusan cinta dari kamu, bukan aku." lirih Chayra yang masih tetap dengan pendiriannya.
"Kamu salah, Chayra!!" tiba - tiba saja sebuah suara nyaring menyanggah ucapan Chayra. Dafri dan Chayrapun menoleh berbarengan ke sumber suara yang berada diambang pintu masuk.
...🥀🥀🥀🥀...
BERSAMBUNG..
.
.
__ADS_1
.