
Chayra mengikuti langkah kaki buru - buru suaminya itu dari belakang, yang ia lihat wajah Dafri berubah seketika saat mereka baru saja sampai diparkiran mobil. Chayra melihat ada sebuah mobil lain yang terparkir juga disana. Tapi, Chayra tidak tahu itu mobil milik siapa. Malahan Chayra berpikir ada tamu penting yang datang kerumah mereka sehingga membuat Dafri terburu - buru untuk masuk.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki Dafri berhenti diambang pintu utama yang tidak tertutup, langkah Chayrapun ikut terhenti disana. Dan seketika itu pula Chayra melihat Dafri seakan terpana melihat pemandangan yang ada dihadapannya, Chayra yang penasaran ikut melihat juga kearah pandangan suaminya itu. Mata Chayra langsung terbelalak kaget saat mendapati tiga orang yang dikenalnya sudah duduk manis dikursi tamu tersebut.
Mereka bertiga yang dimaksud itu adalah Papa Dafri, Mama Clarissa dan juga Clarissa. Mereka terlihat sedang melakukan pembicaraan yang sangat serius, namun saat melihat Chayra dan Dafri masuk, pembicaraan merekapun terhenti.
Argantara menatap tajam kearah Dafri dan Chayra yang masih mematung didepan pintu. Dan dengan jelingan mata tajam milik Argantara itu lalu menyuruh Dafri dan Chayra untuk masuk dan bergabung dengan mereka semua.
Dafri yang paham langsung saja masuk dan ikut duduk diseberang tamu yang tak diundang itu. Sebelumnya Dafri tidak lupa menggandeng tangan Chayra saat menuju kesana. Didalam hati Dafri tak berhenti bertanya - tanya, apa tujuan Clarissa dan Mamanya datang kerumahnya? Dafri yakin ada sesuatu yang sudah mereka rencanakan.
"Dafrii... Papa mau bicara serius sama kamu," Ujar Argantara membuka pembicaraan.
"Dengan kamu juga Chayra." lanjut Argantara lalu mengalihkan pandangannya kearah Chayra. Dilihat seperti itu, membuat Chayra hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Bicara apa, Pa?" tanya Dafri dan sekilas ia melirik kearah Clarissa yang tertunduk lesu dengan sekali - sekali mengusap sisa - sisa air matanya. Melihat Clarissa menangis seperti itu, sedikitpun tidak membuat Dafri iba. Malahan ia yakin Clarissa pasti sedang bersandiwara saja didepan Papanya.
"Clarissa sudah menceritakan semuanya pada Papa. Kalian ternyata sudah menikah sirih kan, jauh sebelum kamu menikahi Chayra." ujar Argantara dengan suara yang lantang. Dafri tersentak, ia sama sekali tidak menyangka Clarissa menceritakan perihal rahasia pernikahan siri yang pernah mereka lakukan itu.
"Iya, Benar Pa. Dafri mintak maaf karena sudah merahasiakan ini semua ke Papa maupun ke Almarhuma Mama." kata Dafri dengan wajah yang bersalah.
"Maaf saja tidak cukup, Dafri." potong Argantara langsung dan kali ini dengan menaikkan nada bicaranya.
"Kamu juga harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan." tekan Argantara lagi. Pernyataan dari Papanya itu, membuat Dafri merasa bingung. Dia benar - benar tidak paham maksud dari kata tanggung jawab yang dilontarkan oleh Papanya itu.
"Kamu masih memiliki tanggung jawab yang penuh ke Clarissa." sambung Argantara lagi dan kali ini melihat kearah Clarissa yang sejak tadi hanya menunduk.
"Pa... Dafri sudah menceraikan Clarissa, jadi Dafri rasa tidak ada lagi yang harus Dafri tanggung jawabkan ke Clarissa." kata Dafri yang mulai memahami arah pembicaraan Papanya.
"Cih.. Mudah sekali mulut kamu itu berujar ya Dafri. Papa tidak pernah mengajari kamu menjadi orang yang tidak bertanggung jawab seperti ini. Bersikaplah gentleman sebagai seorang laki - laki, Dafri. Kamu sudah berani berbuat, maka kamu harus berani juga bertanggung jawab." kata Argantara yang semakin menekan Dafri.
__ADS_1
Dafri bertambah bingung dengan Perkataan Papanya yang semakin menyudutkannya.
"Apa yang harus Dafri tanggung jawabkan, Pa? Emangnya apa yang telah Dafri perbuat ke Clarissa?" tanya Dafri dengan begitu ekspresifnya ke Argantara.
"Kamu yang berbuat malah kamu yang bertanya, aneh sekali kamu ini Dafri. Kamu sudah menghamili Clarissa, dan pantaskah kamu menceraikan dan meninggalkan dia ha?" kata Argantara dengan membesarkan suaranya sehingga menggema didalam ruang tamu tersebut.
Dafri langsung menyandarkan badannya, seluruh tubuhnya terasa lemas setelah mendengar ucapan Papanya yang terakhir itu.
"Clarissa hamil?" tanya Dafri dengan suara yang pelan. Dan kemudian ia memandang kearah Clarissa dan juga Mamanya yang sejak tadi hanya diam mendengar perdebatan sengit antara Dafri dan Argantara.
"Tidak...Tidak... Tidak..., Ini pasti cuman sandiwara kamu saja kan Clarissa? Kamu sengaja berbohong kan? Sudah terbaca Clarissa, Aku tidak sebodoh itu bisa langsung mempercayainya." elak Dafri dengan menggeleng - gelengkan kepalanya. Dia sangat yakin Clarissa telah berbohong.
"Bohong kamu bilang, Dafri? Lalu ini apa..." akhirnya Siska mengeluarkan suara juga, ia melemparkan sebuah surat keterangan dokter yang menuliskan tentang kehamilan Clarissa dan juga melampirkan hasil USG atas nama Clarissa.
Dafri mengambil kertas tersebut dan membaca nama dokter yang memeriksa kehamilan Clarissa. Kebetulan ia kenal dengan dokter tersebut, dan seketika itu pula ia langsung menelpon Dokter itu dan bertanya kepadanya.
"Kenapa, Dafri? Sudah dengar semua dari dokter Riki kan? Sudah puas kamu, dan masih juga menganggap Clarissa telah berbohong?" kata Siska dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi, Clarissa... Bukannya kamu pernah bilang kalau kamu memakai KB karena kamu tidak ingin hamil?" kata Dafri dengan melihat kearah Clarissa.
"Memang iya, Tapi.. KB tidak 100% efektif Dafri, Pasti ada juga tingkat kegagalannya. Seharusnya kamu lebih paham itu," jawab Clarissa seadanya. Dan Dafripun terdiam kembali.
"Sudahlah Dafri, terima saja kenyataan. Janin yang dikandung Clarissa saat ini adalah anak kamu, Calon cucu Argantara. Jadi kamu harus menikahi Clarissa lagi dan membawanya tinggal dirumah ini." tegas Argantara akhirnya.
"Dan kamu Chayra..." kini Pandangan Argantara beralih ke Chayra yang duduk disamping Dafri dengan wajah yang syok setelah mendengar dengan jelas apa yang telah terjadi.
"Kamu cuman punya dua pilihan sekarang, kamu bercerai dari Dafri atau.. Kamu harus siap menerima kenyataan untuk di madu oleh Dafri." kata Argantara Dengan tegas.
Chayra hanya diam, dengan menundukkan wajahnya. Ia seperti sedang menahan air mata yang akan tumpah dari sana.
__ADS_1
...🧡🧡🧡🧡...
"Chayra, Sayang.. Kamu dengarkan aku dulu ya." kata Dafri ke Chayra yang langsung menumpahkan air matanya saat mereka telah berada didalam kamar.
"Aku akan cari tahu tentang kehamilan Clarissa, karena aku yakin ini hanya jebakan dari mereka saja untuk memisahkan kita. Kalau bisa, biar aku sendiri yang melakukan USG Itu agar jelas semuanya didepan mata aku." kata Dafri dengan yakin.
"Dafrii.. Sudahlah, Gak perlu lagi kamu mencari tahu. Karena percuma, buktinya sudah jelas Dafri. Kamu harus bisa menerimanya, bagaimanapun anak yang dikandung Clarissa itu adalah anaknya kamu. Kamu gak bisa mengelak lagi" kata Chayra lalu menghapus air matanya.
Dafri hanya diam dengan menundukkan kepalanya, ia juga bingung harus bagaimana saat ini? Sedangkan Papanya tetap ngotot menyuruh dirinya untuk segera menikahi Clarissa.
"Chayra, maafkan aku. Tapi, aku benar - benar gak tahu harus melakukan apa. Aku bingung. Biarkan aku berpikir dulu ya." kata Dafri dengan memelas.
"Hal yang harus kamu lakukan saat ini adalah... Menikah dengan Clarissa, Dafri. Kamu harus bertanggung jawab karena dia sudah mengandung anak kamu." kata Chayra dengan menyentuh bahu Dafri. Walaupun ia sebenarnya merasakan tak rela, tapi Chayra tidak mau juga bersikap egois. Clarissa pasti sangat membutuhkan Dafri saat ini, ditimbang dirinya.
"Tidak Chayra, jika memang Clarissa mengandung anak aku. Oke, aku akan bertanggung jawab atas anak itu, tapi bukan berarti aku harus menikahi dia lagi Chayra." kata Dafri menolak dengan tegas apa yang disarankan oleh Clarissa itu.
"Ya gak bisa begitu, Dafri. Baik keluarganya Clarissa maupun Papa pasti mereka ingin kamu tetap menikah dengan Clarissa." kata Chayra yang menyanggah pendapat Dafri.
"Aku gak cinta lagi dengan Clarissa, Chayra. Bagaimana aku bisa menikahinya?" kata Dafri.
"Jangan bicara seperti itu, Dafri. Diantara kamu dan Clarissa saat ini ada sesuatu yang tak akan bisa dipisahkan, yaitu anak. Sampai kapan kamu akan tetap berhubungan dengan Clarissa. Dan tidak tutup kemungkinan juga, rasa cinta itu akan kembali muncul..." kata Chayra berusaha untuk tegar. Dafri lagi - lagi hanya bisa terdiam.
...💦💦💦💦...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1