
Karin masuk kedalam ruangan Azam sambil membawa segelas kopi hitam dan meletakannya di atas meja lalu dia berkata " Bos kenapa Indah bersikap seperti itu".
"Maksud mu cuek tidak perduli dengan hubungan palsu kita?" tanya Azam
"Iya dia bersikap acuh tapi tadi pas aku ikuti dia ke toilet disana dia menangis dan berkata iya ini lebih baik".
"Ya itulah dia yang sekarang, berbeda dengan Indah sepuluh tahun lalu, dia sekarang tidak seceria dulu entah apa yang membuatnya berubah dulu dia sangat ceria, manja apa-apa minta bantuan ku suka mencari perhatian ku kurang lebih sama sifatnya dengan mu" ucap Azam sambil mengingat masalalunya dengan Indah
"Apa? dulu dia seperti aku". tanya Karin yang tidak percaya
"Ya dia malah lebih parah dari mu, dia sangat agresif tapi hanya pada ku, tapi sekarang kamu bisa melihat sikapnya kadang ceria kadang juga sangat dingin bahkan sekarang dia lebih sering bersikap dingin" ucap Azam sambil menghela nafasnya
"Terus gimana bos apa kita lanjutkan sandiwara kita?".
"Kita lanjutkan saja, dan kita lihat sampai kapan dia bisa berpura-pura ihlas seperti itu".
"Baiklah, oh iya saya akan memanggil bos mas jika di dekat Indah karena sepertinya dia tidak rela jika saya memanggil bos dengan kata mas".
"Terserah kamu saja yang penting kamu bisa membuat Indah cemburu".
"Siap Bos, kalau begitu saya permisi" ucap Karin dan dia langsung keluar dengan wajah bahagia, bahagia yang tidak di buat-buat karena dia bisa sering berinteraksi dengan bosnya, Karin memang menyukai Azam tapi tidak berniat untuk memiliki karena rasa sukanya bukan rasa cinta tapi rasa suka seperti rasa suka pada seorang idola.
__ADS_1
Indah yang melihat Karin terlihat bahagia tiba-tiba dadanya terasa sesak "Kenapa sekarang rasanya seperti ini, bukankah ini yang ku mau".
"Hey bengong aja lagi mikirin pak suami ya" ucap Karin
"Ah kamu kalau ngomong suka bener" ucap Indah
"Kenapa emangnya pak suami lagi ngambek?". tanta Karin
"bukan lagi ngambek tapi dia sudah ngelakuin apa yang aku suruh dan ternyata rasanya lumayan bikin sesak tapi mungkin setelah terbiasa tidak akan sesak lagi".
"Oh kirain lagi ngambek, emang kamu nyuruh dia ngelakuin apa?".
Indah yang mendapat pertanyaan dari Karin hanya tersenyum tanpa mau menjawab.
"Aamiin" jawab Indah lalu dia berkata lagi dalam hati "Semoga, tapi jika rasanya seperti ini terus aku tidak yakin bisa bertahan dalam waktu satu minggu".
"Rin apa tidak bisa jika kamu panggil si bos dengan panggilan lain jangan mas aku kurang nyaman".
"Ko kamu bilang gitu, memang kurang nyamannya karena apa?".
"Tidak tau tapi aku kurang suka aja, tapi jika kamu tidak mau menggantinya pun tidak apa-apa".
__ADS_1
"Maaf ya kali ini aku tidak bisa nurutin keinginan mu".
"Iya tidak apa-apa, eh iya ini kamu ada jadwal keluar kota sama si bos dan yang lain?"
"Iya empat hari lagi kami berangkat dan kebetulan itu kampung halaman ku sekalian pulkam dan ngenalin mas Azam ke pada orangtua ku".
Deg jantung Indah tersentak karena kaget mendengar ke inginkan Karin yang akan memperkenalkan Azam pada keluarganya.
Indah yang merasakan sesak di dadanya memunggungi Karin dan menepuk-nepuk dadanya sambil berkata dalam hati "hati kenapa kamu seperti ini, kumohon jangan seperti ini, aku bisa mati karena cemburu".
Karin yang melihat Indah menggerakkan tangannya seperti sedang memukul-mukul dadanya langsung menepuk pundak Indah lalu berkata "Indah kamu sedang apa?".
Indah kaget? pasti dia hampir menengok tanpa mengusap jejak air matanya yang tadi menetes
"Iya ada apa Rin" ucap Indah sambil menghapus jejak air matanya
"Kamu lagi apa? kenapa menghadap ke arah sana?" tanya Karin
"Oh ini aku sedang membersihkan sisa makanan di gigi aku, kayanya tadi tidak terjangkau sikat gigi".
"Ih dasar jorok, kalau belum bersih mending kamu pergi ke toilet sana" ucap Karin yang sengaja berkata seperti itu agar Indah bisa leluasa menangis di sana.
__ADS_1
"Tidak perlu, lagi pula sudah bersih ucap Indah langsung menatap layar komputernya dan Karin yang kepo berkata "Itu mata kamu kenapa memerah".
"Oh ini mungkin perih karena belum terbiasa berada di balik komputer lagi setelah beberapa bulan hanya mondar mandir membawa berkas".