
Azam mencoba tidur namun sayang tidak bisa karena bagian tubuhnya tidak mau tertidur begitu saja tanpa mengeluarkan laharnya terlebih dulu, Azam membulak balikan badannya mencari posisi yang nyaman agar juniornya bisa ikut Azam akhirnya menyerah dan membuka selimut yang tadi menutupi seluruh bagian tubuhnya.
Masih dengan aksi mogok bicara Azam turun dari ranjang menuju kamar mandi tapi niatnya terhenti saat Indah berkata "dosa kalau di keluarkan sendiri" ucap Indah yang kini sudah duduk dan pandangannya mengarah pada Azam.
Azam menoleh dan dia bicara dalam hati sambil menatap mata Indah "so tau" dan Azam kembali melanjutkan niatnya untuk mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin walau malas jika harus mandi tengah malam dengan air dingin tapi tidak ada cara lain dari pada tidak bisa tidur.
Sebenarnya Azam bisa saja mengeluarkannya sendiri tapi dia tidak mau melakukan hal itu karena tidak menyukainya.
Indah hanya bengong karena Azam tetap memilih diam dan memilih mengguyur tubuhnya dengan air, indah berpikir Azam sedang mandi karena terdengar suara seseorang yang sedang mandi setelah beberapa menit Azam masuk kedalam kamar mandi
__ADS_1
Indah mengingat lagi kejadian terakhir saat Azam masih mau berbicara, dan indah ingat jika sebelum dia di suruh pergi oleh Putri Azam masih berbicara dengannya dan Azam mogok bicara setelah selesai menemani Putri.
"Tunggu apa dia marah karena melihat ku berbicara dengan Arka" ucap Indah yang baru mengingat Arka, Indah tersenyum karena berhasil mengingat apa yang membuat Azam tiba-tiba mogok bicara
Indah menunggu Azam selesai mandi sambil membaringkan tubuhnya dan setelah Azam selesai juga sudah bersiap untuk tidur Indah duduk lalu berkata
"Dia Arka rekan kerja ku dulu, dan kami berteman karena dia berasal dari negara yang sama, saat itu aku merasa bertemu dengan sadaura sendiri, jadi kami lumayan dekat sampai dia mengira jika aku menyukainya karena saat itu aku tidak mau berteman dengan laki-laki dan dia adalah teman laki-laki pertama yang cukup dekat dengan ku"
"Oh jadi karena itu mas mogok bicara pada ku, dengar mas masa iya aku berbicara sambil memasang wajah masam dan kenapa aku memukul lengannya itu karena dia berkata jika nanti aku sudah bercerai dengan mu aku bisa menghubunginya" ucapan Indah berhenti karena Azam berkata "Apa dia sudah gila mendoakan kehancuran rumah tangga orang lain"
__ADS_1
"Nah mas saja marah saat mendengarnya, begitu juga aku walau aku tau apa yang dia ucapannya itu hanya sebuah candaan". jelas Indah
Azam yang merasa jika itu bukan sebuah candaan berkata "Apa kamu menyimpan no ponselnya?".
"Tidak untuk apa? dia itu seperti angin bagi ku".
"Baguslah, lalu apa dia meminta no mu?" tanya Azam lagi yang takut jika itu bukan sebuah candaan
"Tidak mas, dia juga sudah menikah dan memiliki satu anak laki-laki jadi tidak ada alasan bagi mas untuk cemburu, dan lain kali kalau ada apa-apa itu bicara jangan cuman diam". ucap Indah yang tidak memberi tahu jika istri Arka sudah meninggal karena takut Azam berpikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Skurlah, ya sudah ayo tidur karena besok kita harus bangun cepat karena harus berangkat kerja sangat pagi".
Indah mengiyakannya dan membaringkan tubuhnya lagi dan mencoba untuk menutup mata dan tanpa permisi Azam meraih tubuhnya lalu mendekapnya erat dan berkata "sangat dingin aku butuh dirimu untuk menghangatkan tubuhku". Indah mengangguk tanda setuju dan merekapun tertidur dengan Azam yang memeluk tubuh Indah dari belakang.