
"Sayang sebenarnya minuman apa yang kamu berikan untuk ku".
Indah hanya tersenyum karena tidak mau memberi tahu apa yang tadi dia berikan pada Azam, Indah takut jika Azam akan marah jika tau apa yang telah dia minum.
"Hey kenapa tidak di jawab" ucap Azam lagi lalu Indah berkata "Lebih baik mas tidak perlu tau apa yang tadi aku berikan karena terkadang tidak tau itu lebih baik".
Azam semakin penasaran dengan apa yang dia minum dan entah mengapa minuman beralkohol itu tiba-tiba melintas di benaknya
"Indah jangan bilang yang aku minum tadi adalah minuman beralkohol?"
"Maaf mas" ucap Indah sambil menunduk
"Indah aku lebih baik mati kedinginan dari pada aku harus minum alkohol".
"Maaf mas, ini yang pertama dan yang terakhir kali aku memberi mas alkohol".
"Iya aku maafkan dan ingat kamu juga tidak boleh meminum alkohol lagi saat kedinginan ada banyak cara yang halal yang bisa kamu makan dan minum".
"Iya maaf sekali lagi" ucap Indah menyesal
"Ya sudah, terus gimana ini kepalaku semakin pusing". keluh Azam karena kepalanya semakin sakit.
"untuk sementara mas minum air putih dulu, dan mas coba tidur, sementara aku beli obat dulu sekalian aku juga mau beli bahan makanan".
"Ya sudah jangan lama-lama". ucap Azam.
Indah pun pergi keluar tak lupa dia juga mengunci pintu dari luar takut jika Azam tidak sadarkan diri dan pergi berkeliaran di luar.
Sementara Azam yang melihat Indah pergi mengambil surat yang tadi di berikan dokter yang di letakkan Indah di atas meja dekat kursi yang azam duduki.
__ADS_1
Ada empat amplop dan yang pertama ajam ambil adalah amplop kedua yang di berikan dokter tadi saat di rumah sakit.
Azam membukanya dan ternyata tulisannya tidak di mengerti Azam " Kenapa tulisannya kaya gini sih, sengaja banget agar aku tidak bisa membacanya".
Azam yang tidak bisa membaca surat tersebut langsung melipatnya kembali namun sebelum Azam memasukkan surat tersebut ke dalam amplop, terdengar ponselnya berdering dan saat dia lihat ternyata sebuah panggilan dari kakaknya.
Azam kemudian mengangkat panggilan telpon tersebut dan sang kakak bertanya apa mereka sudah sampai dan Azam pun menjawabnya sudah sampai dengan selamat.
Lumayan lama Azam berbicara dengan kakaknya itu karena keponakannya pun ikut berbicara di sana dan saat Azam ingat jika istri kakaknya itu suka dengan drama dan lagu-lagu orang sana Azam pun berkata
"Boy paman ingin berbicara dengan mamah mu, apa bisa kamu berikan ponselnya pada mamah mu?"
"Bisa om sebentar , mah om Azam mau bicara sama mamah" ucap Boy berteriak
"Halo Zam ada apa?" tanya sang kakak ipar
"lumayan bisa memangnya kenapa?"
"Ok, kalau gitu tolong mbak terjemahkan tulisan yang akan aku kirim ke mbak".
"Ok, tapi tidak gratis ya". ucap sang kakak ipar
"Iya siap" ucap Azam lalu dia menutup telponnya
Azam membuka surat itu lagi dan memotretnya untuk di kirimkan pada kakak iparnya dan setelah menunggu cukup lama kakak iparnya kembali menelponya
"Zam arti tulisan tadi adalah sebuah permintaan maaf dari seseorang yang telah menyalah gunakan propesinya sebagai dokter karena sebuah ancaman dari seseorang dan di situ juga tertulis jika orang tersebut berkata jika yang menjadi pasiennya itu tidak mengidap penyakit kelamin itu, eh emangnya itu surat siapa". ucap sang kakak ipar penasaran
"Terimakasih mbak ternyata mba sangat pintar, tapi maaf mbak di larang kepo" ucap Azam
__ADS_1
"Dasar, oh iya kamu tadi bilang akan mengabulkan semua permintaan mbak kan?".
"Iya tentu saja apapun itu".
"Apapun, nah karena kamu bilang apapun jadi mba ingin kamu jujur itu surat siapa".
Azam terdiam karena menyesal telah mengatakan apa pun yang kakaknya inginkan
"Hei kenapa diam ayo kabulkan permintaan mbak! janji adalah janji dan kamu harus tepati".
"Baiklah itu isi surat milik Indah dari dokter yang pernah memeriksanya delapan tahun lalu" ucap Azam
"Apa?" kaget sang kakak lalu dia berkata lagi "Jadi selama ini Indah berpikir jika dirinya memiliki penyakit itu yang ternyata itu tidak benar".
"Ya mbak dan mbak tau gara gara penyakit itu setiap malam aku merana".
sang kakak yang tau maksud Azam tertawa skencang lalu Azam berkata "Tega sekali mba tertawa di atas penderitaan ku".
kakak iparnya tertawa sangat keras sampai Indara datang bertanya apa yang di tertawakan istrinya dan sangat istri mengatakan semua yang terjadi dan Indara pun tertawa atas penderitaan Azam
Azam yang mendengar tawa kakaknya berkata "tega banget kalian tertawa diatas derita ku".
Indara berkata "Maaf sengaja, mungkin itu karna untuk mu Zam karena dulu kamu menyakiti Indah".
"Ya mungkin" ucap Azam
"Sudah jangan sedih toh kamu masih beruntung karena Indah tidak sakit jadi sekarang kamu bisa melakukannya" ucap Indara lagi
"Kakak benar ya sudah aku mau bersiap" ucap Azam dengan penuh semangat lalu dia mematikan ponselnya.
__ADS_1