
Azam dan Arka tidak langsung pergi karena mereka masih terlibat pembicaraan tapi bukan masalah bisnis melainkan masalah pribadi.
"Oh Iya tuan Arka sepertinya anda sangat mengenal Istri saya?" ucap Azam
"Ya lumayan kenal karena dulu kami pernah bekerja di perusahaan yang sama walau hanya beberapa bulan" ucap Arka
"Oh pantas saja kalian terlihat sangat dekat". ucap Azam mengutarakan isi hatinya
"Apa terlihat begitu?" tanya Arka
"Ya" jawab Azam lalu Arka berkata lagi "Mau sedekat apa pun kami, tetap saja hatinya milik mu dari dulu hingga sekarang" ucap Arka penuh makna
Azam hanya tersenyum menimpali ucapan Arka karena tau arti ucapan Arka lalu Arka yang masih ada keperluan lain pamit pada Azam juga karin namun sebelum pergi Arka berkata "Jaga baik-baik Indah jangan sakiti dia tau jika tidak aku akan mengambilnya dari mu".
Tiba-tiba wajah Azam berubah dan jika saja Arka bukan rekan bisnisnya mungkin Azam sudah bicara panjang lebar pada Arka
Arka tersenyum karena melihat raut wajah Azam yang berubah masam dan setelah itu Arka pamit lagi dan langsung pergi.
Karin yang dari tadi hanya menjadi pendengar setia hanya bisa diam walau dalam hatinya dia penasaran kenapa Arka berbicara seperti itu pada Azam atasannya.
__ADS_1
***
sore tlah tiba dan Azam baru sampai di kediaman Orangtua Indah, dan baru juga Azam menginjakan kakinya di teras rumah tiba-tiba Azam di sambut oleh Putri yang menghampirinya dan langsung meminta di gendong
Azam tersenyum lalu menuruti keinginan purti yang ingin di gendong "Coba mamah yang seperti ini ". ucap Azam pelan, dan itu membuat Putri yang hanya mendengar kata mamah langsung berpikir jika Azam mencari mamahnya
"Papah nyari mamah ya".
Azam tersrnyum dan mengangguk lalu putri berkata "Mamah lagi mandi".
"oh, lalu apa anak papah sudah mandi?" tanya Azam sambil membawa putri masuk kedalam rumah
Putri tersipu karena Azam menyebutnya cantik padahal setiap hari Azam selalu berkata seperti itu tapi tetap saja ucapan Azam mampu membuat Putri tersipu dambtanpa di duga putri berkata "papa juga tampan".
"Wah kamu salah sayang papah belum tampan karena papah belum mandi".
"Oh kalau belum mandi belum tampan ya pah".
"Iya sayang" jawab Azam lalu putri berkata lagi "Tapi menulut putli papah tetep tampan walau belum mandi".
__ADS_1
"Wah apa benar begitu, pantas saja banyak wanita yang suka sama papah ternyata papah belum Madipun tetap tampan". ucap Azam bercanda karena seru menggoda Putri yang entah kenapa di usianya yang masih kecil sudah tau yang mana yang tampan atau tidak padahal Kata Indah dia tidak pernah mengajarkan putri untuk membedakan mana orang yang tampan dan mana yang tidak
Bu Endah menghampiri Azam dan Putri lalu berkata "Putri mainnya sama nenek dulu karena papah harus mandi, banyak kuman di badannya" dan ucapan bu Endah sukses membuat Putri langsung minta turun dari panggkuan Azam
"Wah Wah ternyata putri takut kuman" ucap Azam lalu putri yang kini sudah pindah ke panghkuan Neneknya berkata "Iya putri takut kuman karena kuman bisa bikin putli sakit".
"Ya sudah kalau begitu papah mandi dulu biar kummannya pergi semua " ucap Azam dan putri mengangguk tanda setuju.
Azam pun pergi ke arah kamarnya dan saat baru membuka pintu Azam melihat pintu kamar mandi terbuka dan di sana masih terdengar suara gemericik air.
Azam yang ingat jika tadi siang Indah berkata akan melaksanakan ibadah sholat yang artinya Indah sudah dalam keadaan suci langsung masuk kedalam kamar mandi untuk bergabung dengan Indah
Indah yang sedang membersihkan sabun dari tubuhnya tiba tiba di kagetkan dengan dua tangan yang melingkar di pinggangnya dan saat Indah akan memastikan jika itu Azam tiba-tiba Azam berbisik "Sudah suci bukan jadi apa boleh kita bermain di sini?"
Indah terdiam setelah mendengar ucapan Azam, tapi diamnya Indah bukan karena ucapan Azam tapi karena kaget tiba-tiba tangan Azam sudah berada di bawah dan meremas inti dari tubuhnya Itu.
Indah yang sadar saat itu mereka sedang di dalam kamar mandi berkata "Ayo kita bermain, tapi aku tidak mau di sini".
Namun sayang ucapan Indah tidak di respon oleh Azam karena Azam ingin merasakan bagaimana rasanya bermain di dalam kamar mandi, dan dengan terpaksa Indah pun menurutinya.
__ADS_1