Sahabat Ku Cinta Pertama Dan Terakhir Ku

Sahabat Ku Cinta Pertama Dan Terakhir Ku
Indah yang tidak normal


__ADS_3

Keesokan paginya Azam bangun terlebih dahulu dan dia langsung membersihkan dirinya karena seperti yang di katakan Indah jika dia akan mulai bekerja hari ini.


dan baru juga Azam melepas semua pakayannya tiba-tiba Indah menerobos masuk kedalam kamar mandi sambil berkata "Mas aku numpang gosok gigi".


Azam hanya bengong tidak melanjutkan aktivitasnya lagi karena kaget Indah masuk dan dia tidak merasa risih atau apapun itu saat melihat dirinya benar-benar tanpa busana karena akan mandi.


Indah yang tau Azam hanya bengong berkata "Mas jangan bengong terus nanti kita makin telat".


Azam yang sekarang menghadap dinding berkata "Indah ini baru jam lima pagi kenapa kamu seheboh ini bukankah jam kerja itu biasanya masuk jam delapan" ucap Azam sambil mencoba melanjutkan aktivitasnya lagi.


"Iya memang kita masuk pukul delapan tapi jarak dari sini kekantor kamu itu sangat jauh butuh waktu sekitar dua jam perjalanan itu juga kalau tidak macet nah kalau macet bisa lebih,"Ucap Indah sambil menuangkan pasta gigi


lalu stelah selesai Indah berkata lagi "ya sudah aku sudah selesai Mas cepet mandinya" ucap Indah dan dia keluar dari dalam kamar mandi

__ADS_1


Indah yang baru keluar memegang dadanya karena tidak biasanya jantungnya itu berdebar dengan cepat saat melihat Azam seperti tadi


"ada apa dengan jantungku kenapa debarannya sangat kencang apa mungkin ini epek malam pertama" Ucapnya sambil berlalu menjauh dari pintu kamar mandi.


Sementara Azam yang mendengar Indah sudah keluar langsung mengunci pintu tersebut agar indah tidak lagi masuk dan membuatnya merasa tegang sampai yang di bawahan juga ikut tegang.


Azam melanjutkan aktivitas mandinya sambil mengingat gosip yang semalam dia lihat di Internet, gosip tentang dirinya yang tidak normal


"Aku heran kenapa aku bisa di gosipkan tidak normal padahal jantungku berdebar dengan keras setiap berdekatan dengan Indah atau Indah berbohong" ucap Azam sambil membasuh tubuhnya


"Aku yakin itu gosip saja" ucap Azam yang kini yakin jika itu hanya gosip belaka karena dia yakin jika dirinya masih normal


Azam terus memikirkan alasan yang lebih masuk akal sampai dia ingat saat melihat wajah datar Indah saat melihat dirinya yang tadi tanpa berpakayan

__ADS_1


"Tunggu apa mungkin dia yang tidak normal?" ucap Azam lagi dan dia terus memikirkan semua bukti yang memperkuat dugaan jika indahlah yang tidaklah normal saking dalamnya berpikir Azam sampai merasakan sakit di kepalanya sampai dia keluar dari kamar mandi pun rasa sakit itu tak kunjung hilang


Indah yang sedang mempersiapkan baju kerja Azam langsung membantu Azam berjalan karena dia melihat Azam yang seperti menahan rasasakit terlihat dari tangannya yang sedang memegang kepalanya


Azam yang merasa kepalanya semakin sakit kini berjalan sedikit oleng dan beberapa kali Azam srperti akan terjatuh namun Indah berhasil menahannya namun sayang saat Azam yang akan terjatuh lagi Indah tiba tiba saja melamun dan burug azam terjatuh dan Indah yang tadi tidak siap ikut terjatuh menimpa Azam


Indah jatuh tepat di tubuh Azam dan Azam tidak sengaja menyentuh bagian dada indah dengan kedua tanganya


Azam memejamkan matanya karena rasa sakit di kepalanya juga karena menikmati posisi mereka saat ini, lumayan lama mereka dalam posisi ini karena Indah juga sedang menikmati posisi tersebut


Azam yang sudah tidak merasa sakit kepala lagi ingin meremas sesuatu yang dia sentuh namun sayang saat itu juga Indah bangkit dan itu membuat Azam sangat kecewa.


Indah membantu Azam duduk dan berkata "Mas tidak apa-apa apa kepalanya masih sakit?" tanya Indah dan Azam menggeleng

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu ayo duduk di pingginggir tempat tidur biar ku bantu memakai pakayan" ucap Indah dan Azam menurut saja.


"Nah sudah selesai tinggal menyisir rambut mas" ucap Indah sementara Azam masih saja diam karena memikirkan jika yang tidak normal itu adalah Indah apalagi barusan Indah menakaikan kain segitiga miliknya terlihat biasa saja.


__ADS_2