Sahabat Ku Cinta Pertama Dan Terakhir Ku

Sahabat Ku Cinta Pertama Dan Terakhir Ku
Bukan marah tapi kesal


__ADS_3

Malam sudah tiba putripun sudah tertidur, dan Azam yang melihat Indah belum tidur berkata "Indah kamu juga langsung tidur!.


"Aku belum mengantuk, oh iya sekarang kamu sudah tidak marah lagi?".


"Kapan aku marah" ucap Azam sambil mengalungkan tangannya di leher Indah


"Azam jangan bercanda masa iya sudah hampir lima hari kamu tidak mau bicara pada ku kamu bilang Kapan kamu marah".


"Aku beneran tidak marah hanya saja aku malas ngomong sama kamu". ucap Azam sambil menekan hidung Indah yang lumayan mancung


"Karena marahkan" ucap Indah melanjutkan ucapan Azam


"Bukan marah hanya kesal saja".


"Yah itu sama saja Zam, jadi sekarang sudah tidak kesal lagi?" tanya Indah yang mengganti kata marah dengan kata kesal


"sudah tidak, aku sudah bisa menerima dan ihlas jika memang aku tidak di perolehan melakukan itu, setidaknya aku masih bisa menikmati yang lain?".

__ADS_1


Indah melepaskan tangan Azam dan dia langsung berdiri dan memeluk "Terimakasih sudah mau memaafkan aku, dan mengerti jika aku tidak bisa memberi mu itu".


"Iya sama sama, oh iya aku ingin kamu berhenti bekerja, kamu tinggal di rumah dan jaga putri dengan baik jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari karena terlalu sibuk bekerja, apa lagi kamu tidak mungkin mempunyai anak lagi bukan". ucap Azam dan Indah yang mendengarkan ucapan Azam langsung mengeratkan pelukannya dengan air mata bahagia yang menetes dan membasahi dada Azam.


Azam yang tau Indah sedang menangis mengusap punggungnya dan berkata "Sudah jangan menangis terus".


Indah mendongak melihat Azam yang sedang menatapnya lalu berkata "Terima kasih Zam".


"Sama-sama, jujur awalnya aku benar-benar marah dan berencana melakukan apa yang kamu inginkan tapi saat membayangkan jika setelah aku menikah lagi kamu pergi aku tidak rela jika harus kehilangan mu".


"Oh jadi kamu beneran ada niat nikah lagi" ucap Indah menggoda Azam


Indah tersenyum lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Azam dan dia berterimakasih lagi.


"Iya sama sama, ayo kita duduk pegal juga rasanya jika terus berdiri".


"Baru beberapa menit sudah tidak kuat berdiri pantas saja kamu tidak suka mengikuti kegiatan pramuka ternyata ini alasannya".

__ADS_1


"kamu masih ingat saja kalau aku tidak suka mengikuti kegiatan itu". ucap Azam


"Tentu saja aku ingat karena gara gara kamu aku juga tidak pernah mengikutinya walau sebenarnya aku sangat ingin ikut bergabung dengan mereka tapi karena kamu memilih basket ya aku milih jadi pemandu sorak".


"Segitu cintanya kamu sama aku sampai rela mengikuti semua yang aku lakukan".


"Iya, lucu juga kalau inget masa lalu, sampai segitunya aku sama kamu padahal jika di pikir-pikir masih banyak yang lebih tampan dari kamu dan pastinya mereka tidak akan menolak ku di depan umum".


"Maaf untuk yang itu" sesal Azam


"Tidak apa-apa, mungkin jika kamu jujur dari dulu aku tidak mungkin punya putri".


"Oh iya ngomong ngomong tentang Putri kemana ayahnya tidak mungkin bukan jika kamu tidak tau kemana mantan suami mu".


"Aku tidak tau Azam karena aku" dan ucapan Indah terhenti karena putri bangun ingin minum.


"Ini sayang" ucap Indah sambil memberikan minum untuk putri dan setelah itu Indah membantu Putri untuk tidur lagi dan tanpa terasa Indah ikut tertidur.

__ADS_1


Azam yang melihat Indah tertidur hanya bisa berdecak karena masih penasaran dengan apa yang ingin di katakan Indah padanya tadi, dan Azam yang juga sudah mulai mengantuk memilih ikut tidur menyusul Indah dan putri.


__ADS_2