Sahabat Ku Cinta Pertama Dan Terakhir Ku

Sahabat Ku Cinta Pertama Dan Terakhir Ku
Jangan menangis terus


__ADS_3

Putri yang tadi di suruh Indah bermain di ruang tv ternyata tidak melakukan apa yang di perintahkan, karena tadi putri duduk di pinggir dinding pembatas antara ruangan keluarga dengan ruang tamu putri duduk di sana untuk mendengarkan pembicaraan para orangtua karena dia tau mereka sedang membicarakan dirinya.


Memang Putri sekarang baru akan menginjak umur empat tahun tapi pemikiran putri kadang-kadang melebihi pemikiran anak-anak yang seuisianya, dan kepintarannyapun terbilang sangat pintar karena di usianya yang baru akan menginjak empat tahun itu dia sudah mengerti tiga bahasa yang biasa di ucapkan Indah dulu saat di luar negri.


Ya saat di sana Indah menggunakan tiga bahasa dan putri yang sering mendengarkan ucapan Indah dengan sendirinya mengerti dan mengikuti ucapan Indah dan Indah yang melihat kelebihan putri langsung mengarahkan putri agar bisa seperti dirinya dan semakin lama penguasaan bahasa putri pun semakin baik.


Putri hanya diam mendengarkan ucapan para orangtua dan putri sedikit bingung dengan ucapan para orangtua tersebut namun putri tetap mendengarkan mereka berbicara sampai selesai.


putri berpura-pura sedang memainkan bonekanya setelah dua orang asing itu pergi

__ADS_1


Indah yang tau jika waktunya bersama putri hanya satu hari lagi langsung menghampiri putri memeluk dan menangis di pelukan putri


ingatan tentang putri sejak masih bayi sampai sekarang datang silih berganti dan itu membuat dadanya terasa sesak ingin rasanya Indah menjerit meluapkan rasa sesak yang kini menghimpit dadanya.


"Kenapa, kenapa, kenapa" Itulah yang keluar dari mulut Indah selama menangis di pelukan putri


Putri hanya bisa mengusap punggung sang mamah karena dia juga tidak tau harus berbuat apa.


putri yang awalnya berusaha tegar kini ikut menangis, sementara para pekerja yang mendengar tuan mereka menangis langsung menuju sumber suara dan setelah sampai mereka hanya bisa diam dan ikut menangis walau tidak mengeluarkan suara seperti ketiga orang yang sedang berpelukan tersebut.

__ADS_1


"Semoga mereka bisa ihlas" ucap sang sopir dan diaaminkan oleh seorang pembantu di rumah tersebut.


Indah dan bu Endah berhenti menangis saat Putri terbatuk, karena tenggorokannya kering dan dengan sigap pembantu mengambil air minum untuk putri lalu dia kembali lagi untuk mengambil dua gelas air minum untuk Indah dan bu Endah.


Indah menatap Putri dan tangis yang tadi sudah berhenti kini pecah kembali tapi kali ini Indah menangis sambil memeluk bu Endah, karena jika memeluk putri takut putri terbatuk lagi tapi karena ingat jika hari itu hari terakhir dirinya bersama putri Indah pun berpindah dan memeluk putri lagi dengan sangat erat tapi tidak sampai membuat Putri sesak.


"Mamafkan mamah sayang, mamah benar benar tidak bisa mempertahankan kamu karena kamu bukan anak yang di buang, andai kamu di buang mungkin mamah bisa memperjuangkan mu tapi kamu" ucap Indah terhenti karena dia sudah tidak sanggup menahan tangisannya lagi.


dan seharian itu Indah terus di dekat Putri dan dia terus menangis, berhenti sesaat dan dia menangis lagi sedangkan sang ibu yang lebih tegar tidak bisa berbuat apa-apa begitu juga putri dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tadi putri pernah mengajak Indah bermain tapi bukannya berhenti menangis Indah justru menangis lebih kencang

__ADS_1


posisi Indah dan pitri saat ini seperti terbalik putri seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya yang terus menangis karena mainannya di ambil orang.


"Mah jangan nangis terus, lihat mata mamah sudah sangat merah, dan bengkak, apa mamah tidak takut jika air mata mamah akan habis" ucap Putri dan putri berjata seperti itu karena sering di bihongi indah jika terlalu lama menangis air matanya akan kering


__ADS_2