
Pagi telah tiba dan Azam sudah bersiap untuk pergi bekerja, lalu Azam berkata pada Indah "Jika nanti putri sudah di perbolehkan pulang kamu pulang kerumah mamah, untuk sementara kita tinggal lagi di sana, oh iya kira-kira barang apa yang ingin kamu ambil di apartemen biar sekalian aku ambilkan".
"Iya, oh itu Zam alat makeup aku tolong kamu bawa semua, kalau untuk baju dan yang lain di rumah mamah masih ada".
"Iya siap, ingat kalau ada apa-apa kabari aku!".
"Siap mas" ucap Indah dan Azam yang mendengar Indah memanggilnya mas langsung membalikan tubuh Indah yang baru saja membelakanginya.
"Kamu bilang apa barusan aku ingin dengar lagi?". ucap Azam yang benar-benar ingin mendengar Indah menyebutnya mas lagi bukan Azam.
"ucapan yang mana?" ucap Indah yang berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang di inginkan Azam
"Sayang aku ingin mendengarnya lagi aku mohon!" ucap Azam sambil memasang wajah imutnya
"Itu muka jangan di buat seperti itu aku geli " ucap Indah yang memang tidak suka jika Azam memasang wajah imutnya
"Geli, yang geli itu enak tau".
"Hus kalau ngomong itu lihat situasi dan kondisi tidak enak kalau putri denger".
"Iya tapi kamu ngakuin kan kalau yang geli geli itu enak".
__ADS_1
"Azam, sudah sana berangkat nanti kamu telat".
"Aku tidak akan berangkat kalau kamu belum memanggil ku mas".
"Oh jadi ngancem ceritanya" ucap Indah dan Azam mengangguk lalu indah berkata lagi "Baiklah mas Azam cepat berangkat".
Azam tersenyum bahagia karena Indah mau memanggilnya mas lalu Azam mengecup bibir Indah sekilas dan langsung pergi.
"Dasar" ucap Indah tersenyum sambil menatap kepergian Azam.
***
Azam mengambil amplop tersebut dan membereskan surat-surat yang lain setelah semuanya rapi Azam duduk di pinggir tempat tidur lalu membuka isi amplop tersebut
Azam semakin penasaran dengan isi amplop tersebut karena tanggal bulan dan tahun yang tertera di sana sudah lumayan lama.
Azam membacanya dan betapa kagetnya Azam saat tau isi surat tersebut, seketika pikiran buruk melintas di pikirannya tapi Azam yang tau Indah bukan wanita nakal langsung menepis pikiran buruk tersebut dan berpikir jika Indah tertular oleh suaminya, tapi saat melihat taun surat itu di buat Azam berpikir lagi jika Indah tidak mungkin di tulari suaminya karena di taun tersebut Indah masih kuliah.
Lama Azam berpikir menebak kenapa Indah bisa memiliki penyakit tersebut sampai tidak tersa jam sudah menunjukan pukul sembilan dan ponsel ya mulai berdering.
Azam langsung mengangkat ponselnya lalu berkata " Ada apa Rin?".
__ADS_1
"Bos kenapa belum sampai kantor, sebentar lagi ada rapat penting" ucap Karin
"Iya aku segera kesana" ucap Azam sambil memasukkan surat yang baru dia baca kedalam tas kerjanya.
Azam sampai di kantor tepat sebelum rapat akan di mulai karena dia berangkat dari apartemennya menggunakan motor, itu dia lakukan agar bisa lebih cepat sampai dan berhasil walau dengan nafas yang masih tidak beraturan.
Rapat sudah selesai dan Azam kini sedang berada di ruangannya dia melanjutkan lamunannya yang tadi sempat terganggu dan sampai sekarang Azam belum juga mendapatkan jawaban.
Tok tok tok suara pintu di ketuk lalu Azam berkata "Masuk".
Karin pun masuk lalu Berkata "Maaf bos sudah menggangu Anda tapi saya ingin bertanya apa saya harus ikut keluar kota?".
Azam yang lupa jika nanti sore harus keluar kota berkata "Aku lupa Rin, oh iya kamu tidak perlu ikut aku sendiri saja dan kamu tolong urus yang di sini ".
"Baiklah" ucap Karin tapi dia belum juga pergi dari ruangan Azam karena ingin bertanya tentang indah dan anaknya dan itu membuat Azam berkata "Ada apa? kenapa kamu belim kembali kemeja mu".
"Itu Bos tentang Indah, kenapa dia tidak masuk apa putri masih sakit?".
"Oh iya maaf saya lupa memberi tahu kamu kalau mulai hari ini dia tidak akan bekerja lagi di sini dan untuk putri dia sudah membaik dan sekarang dia sudah di rumah neneknya lagi".
Ingin Karin bertanya lebih, bertanya kenapa Indah harus berhenti bekerja jika putri sudah sembuh tapi hubungan dia dengan Azam tidaklah sedekat itu dan Karin pun keluar dengan sebuah pertanyaan yang tidak bisa dia ungkapkan.
__ADS_1