
Setelah menempuh satu setengah jam perjalanan akhirnya sampai juga mereka di sebuah danau yang sangat indah. Di sekeliling danau tertanam berbagai macam bunga. Fyth yang melihat itu senang bukan main, bahkan dengan tidak sabar segera keluar dari mobil begitupun Davin. Karena terlampau senang Fyth tanpa sadar memeluk tubuh Davin dengan erat.
" Terimakasih, ini tempat terindah yang pernah ku datangi " kata Fyth masih dengan memeluk Davin, Bahkan menghirup aroma tubuh Davin yang begitu memabukkan namun nyaman. Entah mengapa Fyth sangat suka sekali.
Davin tersenyum tipis menikmati pelukan itu sesaat sebelum angkat bicara, " Apakah nyaman nona ? " Tanya Davin seraya mengangkat dagu Fyth. Sungguh Davin gemas sekali melihat tingkah Fyth.
Fyth menjadi salah tingkah, " Tidak, nyaman apa ? Tidak hangat sama sekali " ucap Fyth acuh seraya pergi ke arah kursi pinggir danau.
Davin menggelengkan kepalanya, sepertinya ia harus memiliki stok kesabaran tinggi untuk menghadapi gadis tengilnya itu. Davin melihat sekeliling, sangat sepi sesuai permintaannya. Ya, Davin sudah memboking seluruh taman dari semalam bahkan tak tanggung-tanggung disewanya selama seharian penuh. Davin hanya ingin menikmati waktu berdua bersama sang pujaan tanpa gangguan orang lain.
Davin menghampiri Fyth dan duduk di sampingnya. Di pandangnya dengan intens wajah sang penarik hati. Betapa indah ciptaan tuhan satu ini, semakin memandangnya semakin dibuat tak karuan detak jantungnya. " Apakah ini yang namanya jatuh cinta ? " Kata Davin dalam hati.
Davin membayangkan dirinya menarik tangan Fyth dan mendudukkannya diatas pangkuan. Dilingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang Fyth dengan erat. Di tatapnya lamat-lamat wajah penakluk hatinya itu.
Fyth yang terduduk diatas pangkuan Davin tersenyum sangat manis, bahkan kini dipandanginya wajah tampan Davin. Jemari lentiknya menyentuh setiap inci wajah dihadapannya ini. Terus menyentuh dan membelai wajah tampannya.
Davin yang merasakan sentuhan lembut jemari Fyth sontak menutup matanya sesaat untuk menikmati sensasinya. Dibuka perlahan kedua matanya, ditatap intens wajah cantik didepannya kini. Pandangan keduanya beradu, sangat dalam. Perlahan pandangan Davin turun dan jatuh tepat pada bibir mungil Fyth.
Davin mendekatkan wajahnya perlahan, seraya menutup kedua matanya. Fyth seolah terhipnotis ikut hanyut dalam tatapan itu, Wajah Davin yang semakin dekat seperti sebuah sinyal yang memberikan aba- aba agar ia mulai menutup matanya. Kedua benda kenyal itu bertemu, saling memagut dan membelitkan lidahnya masing-masing.
" Sangat manis.. " kata Davin dalam hati dengan ******* lembut bibir mungil itu. Hingga....
" Plak.... " Fyth menampar pipi Davin dengan kesal.
Sesaat sebelumnya,,
Fyth menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya sembari menutup mata. Sangat tenang, tentram dan nyaman. Andai waktu bisa berhenti sejenak.
Cukup lama saling terdiam, akhirnya Fyth membuka suara. " Apa yang mau pak Davin bicarakan dengan saya ? " Ucap Fyth seraya membuka matanya. Tak kunjung mendapat jawaban Fyth menoleh ke arah Davin.
Fyth mengerutkan keningnya, " Ada dengan ini orang, gila ya senyum-senyum sendiri " kata Fyth dalam hati. Karena terlampau kesal Fyth menampar pipi Davin guna menyadarkannya.
Davin terkejut bukan main, " Sial, halusinasi ternyata" kata Davin dalam hati. Davin mengusap kasar wajahnya, lalu menoleh ke arah Fyth. " Apa ? " jawab singkat Davin.
" Apa ? Bagus, anda tanya apa ? Anda ini mengajak saya kemari mau bicara apa bapak Davin yang terhormat. Saya tanya diam saja, malah senyum-senyum sendiri " Dengus Fyth.
__ADS_1
Davin menghela nafasnya, seraya mengangkat kedua bahunya.
" Aku tak mengerti harus mulai darimana. Namun... " Jeda Davin sejenak menatap ke arah danau, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Fyth kembali. " Aku rasa aku jatuh cinta " lanjutnya.
Fyth menatap datar Davin, entah mengapa hatinya tidak nyaman saat mendengar hal itu. Apakah selama ini dosen menyebalkannya itu menyukai orang lain. Lalu apa arti dari ciuman saat itu, dalam hati Fyth mengumpat penuh kesal.
Davin yang melihat perubahan mood dari mimik wajah pujaannya itu bingung, apa dia salah bicara.
Fyth memilih tidak berkomentar dan menatap ke arah danau. Pikirnya, sudah tak ada lagi yang di bicarakan. Fyth bangun dari duduknya dan ingin pergi dari tempat itu.
Sontak Davin yang melihat itu, segera mencekal pergelangan tangan Fyth. " Mau kemana ? " Tanya Davin.
" Pulang " jawab singkat Fyth.
Davin yang menyadari perubahan sikap Fyth, segera menarik tangan Fyth dan mendudukkannya diatas pangkuan. Direbahkan kepalanya di bahu Fyth, lalu berkata " Biarkan begini untuk sesaat.. " ucap Davin lirih seraya menghirup aroma tubuh Fyth.
Fyth hanya diam dan membiarkannya. Dirinya sudah terlampau lelah untuk berdebat. Diliriknya wajah dosennya itu, Fyth akui bahwa Davin cukup tampan. Namun sayang menyebalkan.
Lama dalam posisi seperti itu, Davin mengangkat kepalanya, mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium Fyth. Fyth yang awalnya terheran apa yang mau dilakukan dosen ini justru terhanyut dalam tatapan mata indahnya. Semakin dekat, tinggal 1 cm lagi telfon di saku Davin berdering. Sontak Davin mendengus kesal, segera ia alihkan pandangannya ke arah danau, dalam hati memaki orang yang menelponnya. Davin juga heran, Kenapa dirinya selalu tak bisa menahan diri saat berhadapan dengan gadis ini.
🐿️🐿️
Anila dan Indri bersiap pergi meninggalkan kampus. Sungguh mereka tak bersemangat sama sekali tanpa kehadiran si bontot. " Menurutmu kemana si bontot ndri ? " Tanya Anila seraya mencari ponselnya dalam tas.
" Entahlah, aku juga menghubungi ponselnya sedari tadi namun tak dijawabnya satupun" jawab Indri dengan mengangkat kedua bahunya.
" Mana sih ini ponsel, " sebal Anila yang tak kunjung menemukan ponselnya.
" Tak bawa mungkin " kata Indri.
" Cantik, kalo aku tak bawa ponsel lalu tadi di perpustakaan aku menelepon dengan apa ? buku gitu !? " ujar Anila.
" Hehehe " kekeh Indri.
" Coba kau telfon ponselku ndri " pinta Anila.
__ADS_1
" Nih nyambung... " kata Indri begitu ponselnya terhubung, " Lah, di reject Nil " lanjutnya.
Anila dan Indri sontak saling pandang, " Jambret... " ucap Anila dan Indri bersamaan. Anila tidak tahu jika ponselnya tadi terjatuh dan beruntung anak buah Raffa yang bertugas menjaganya menemukan. Lalu apakah ponsel dikembalikan ke sang nona ?? Tentu tidak, kini ponselnya sudah berada di tangan sang boss, Raffa.
Raffa dengan iseng membuka semua galeri foto Anila, senyum tak pernah pudar tiap kali men-scroll fotonya satu persatu. Bahkan Raffa mentransfer semua foto Anila ke dalam ponselnya. Sungguh Raffa di buat tergila-gila oleh sosok gadis yang bernama Anila Floresyia Nugraha.
🐿️🐿️🐿️
Visual para pemain Se Anting versi author 😍😍
Aurora Fythania Pratama
Davindra Raksa Aditama
Anila Floresyia Nugraha
Raffandra Aura Pratama
Indrinia Maudya Anggara
Artama Zaleon Sinaga
Cucokkan guyss 😘😘
__ADS_1